Untukmu Pecinta Ilmu (Representasi "Ayyuhal Walad" Imam Ghazali) - IKPM KAIRO

Kamis, 06 Oktober 2016

Untukmu Pecinta Ilmu (Representasi "Ayyuhal Walad" Imam Ghazali)


Ilmu adalah harta yang mulia, baik dihadapan Allah SWT maupun manusia. Setiap orang diwajibkan untuk mencari ilmu sebagai bekal hidupnya, karena dengan ilmu seseorang akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat. ‘’Kanzun fi Daraini’’ ilmu diibaratkan sebagai harta karun di dunia dan akhirat kelak.

Bagi para pecinta ilmu, Negeri Kinanah bak syurga bagi para pemburu ilmu. Tak asing lagi bagi seorang azhary untuk bersua dengan harta karun ulama (kutub turats) yang mana harus kita dapati petanya dengan didasari niat berjuang menuntut ilmu Allah SWT. Imam Al-Ghazali merupakan sosok ulama besar yang memiliki perhatian terhadap para pecinta ilmu. Perhatian ini terwujud dalam puluhan karyanya yang membuka jalan bagi seorang tholibul ilmy agar  tidak tersesat dan dapat memanfaatkan dan mengaplikasikan ilmu-ilmu mereka dengan baik.

Berkaitan dengan hal ini Imam Al-Ghazali mewariskan pedangnya dalam tuangan nasehat untuk para pejuang ilmu dalam bukunya yang berjudul ‘’Ayyuhal Walad’’. Risalah singkat namun syarat akan makna ini merupakan bentuk jawaban atas kegelisahan dan keraguan seorang muridnya. Berbagai ilmu yang diperoleh dan pengalaman yang terkumpul seakan menjadi bumerang bagi dirinya, karena ragu akan manfaat dari ilmu tersebut. Kitab ini dikenal juga dengan nama ‘’Ar-Risalah al-Waladiyah’’ yang pada text aslinya tertulis  dalam bahasa persia.

Diantara untaian wasiat Imam al-Ghazali kepada muridnya adalah selalu mengisi waktu dengan belajar dan beribadah kepada Allah SWT, dan kemudian mengamalkan ilmu yang talah diperoleh baik untuk dirinya maupun orang lain. Dalam beribadahpun Imam al-Ghazali menambahkan  bahwa seorang pencari ilmu harus melandaskan ilmu dalam beribadah agar ibadah yang dilakukan diterima oleh Allah SWT. Maka dari itu selayaknya pencari ilmu harus memperbanyak bangun di tengah malam untuk belajar dan solat tahajjud serta ibadah yang lainnya.

Sebagai MASISIR, kita memahami betul bagaimana gaya hidup negeri Cleopatra ini. kitapun tidak memungkiri kehidupan malam yang begitu panjang terlebih di musim panas. Para pecinta ilmu Allah SWT memiliki taktik gerilya sebagai salah satu strateginya dalam mengalahkan musuh demi mencapai ilmu yang terbentang di sepanjang Nil. Hendaklah kita menela’ah dan menerapkan suatu kebiasaan yang positif sesuai dengan salah satu nasehat Imam Ghazali dalam belajar dan beribadah.
Tertulis dalam bab lain pada kitab Imam Ghazali yang sedang kami bahas, bahwa seorang yang berilmu terlihat dari tindakan dan ucapannya, maka setiap ucapan dan tindakan tersebut harus sesuai dengan ketentuan syari’at, karena ilmu dan amal yang tidak didasarkan kepada syari’at hanya akan mengantarkan seseorang kepada kesesatan. Nau’udzubillah.

Selanjutnya Imam al-Ghazali mengatakan bahwa bagi setiap orang yang menempuh jalan ibadah kepada Allah wajib menjalankan empat perkara. Empat perkara tersebut adalah memegang keyakinan yang benar, melakukan taubat Nasuha, mencari keridha’an, dan mempelajari ilmu syari’at yang bisa menjadi pedoman untuk menjalankan perintah Allah dan ilmu lainnya yang bisa menyelamatkan diri.

Seseorang yang menempuh jalan ibadah kepada Allah harus memiliki guru yang membimbing dan mendidiknya dengan akhlak dan budi pekerti yang luhur. Oleh karena itu guru yang ia pilih harus yang meneladani perilaku Rasullullah dan memiliki tingkatan Riyadhoh an-Nafs yang tinggi, yaitu tidah berlebih-lebihan dalam hal makan, berbicara dan tidur serta selalu memperbanyak ibadah sholat sunnah, shodaqoh, dan puasa sunnah. Disamping itu, Imam Ghazali juga mengakatan bahwa seorang murid harus memiliki adab atau etika yang luhur pada gurunya dengan senantiasa memuliakan dan menghormati gurunya secara dhohir, batin.

Pada bagian akhir pembahasan kitab ini Imam Ghazali memberikan delapan nasehat kepada para pecinta ilmu sebagai ringkasannya. Yang pertama adalah tidak mengajak orang lain persoalan yang sudah dimengerti dan dipahami dengan baik, karna hal ini akan menimbulkan unsur riya’, dengki, sombong, dan permusuhan. Yang kedua adalah, hendaknya para pencari ilmu tidak menasehati dan mengingatkan orang lain sebelum dia sendiri melakukannya, karena hal ini merupaka bahaya yang besar.

Yang ketiga adalah, hendaknya para pencari ilmu tidak terlalu sering bergaul dengan para pemimpin dan penguasa. Dan yang keempat, hendaknya para pencari ilmu tidak menerima pemberian dari para penguasa meskipun diketahui kehalalannya, karena hal ini akan menimbulkan sikap toma’ (berharap secara berlebihan). Nasehat kelima adalah, seorang pencari ilmu harus selalu berinteraksi dengan Allah SWT (beribadah) secara baik dan benar serta bisa mendapatkan ridlo Allah SWT. Selanjutnya yang keenam adalah, memperlakukan orang lain dengan baik sepertihalnya memperlakukan dirinya sendiri. Dan yang ketujuh adalah seorang pencari ilmu harus banyak yang bisa membaca ilmu yang bisa memperbaiki hati dan mensucikan jiwanya. Dipenghujung nasehat Imam Ghazali yang kedelapan, seorang pencari ilmu tidak mengumpulkan harta dunia melebihi kadar kecukupan hidupnya.

Betapa indahnya ilmu di syurga para pecinta ilmu ini jika disertai dengan peta yang menjadi pedoman arah pemanfaatan ilmu tersebut. Alangkah baiknya kita mengkaji nasehat para ulama’ bagi para pencari ilmu dengan semangat membaja, memperbanyak membaca, menggunakan umur dan waktu kita semaksimal mungkin dan jihad hawa nafsu sehingga kita menjadi orang yang paling pelit menyia-nyikan waktu. Nasehat tersebut bak siraman rohani kita agar tetap istiqomah dan fi sabiilillahi hatta narji’a. Amiin.(NussiAnnasani)

Tidak ada komentar: