Top Ad unit 728 × 90

Home

Esensi dan Substansi Makna Ujian


Dulu ketika ujian pondok sudah mulai dekat, beragam respon teman-teman saya mempersiapkan materi ujian. Di sela-sela jam pelajaran salah satu guru kami berpesan: sekiranya ujian diniatkan karena Allah maka insyaallah hasilnya akan berkah. Kemudian beliau menambahkan: ketika kamu menghadapi ujian hanya memfokuskan bagaimana menjawab soal agar kamu naik kelas atau mendapat rangking satu. Maka ada satu hal yang kamu lewatkan. Kamu kehilangan proses yang sudah banyak merubah cara hidupmu, cara berpikirmu. Kelas kami sempat hening untuk beberapa saat. Mungkin kami sama-sama sedang mengukur diri. Sejauh mana ujian menjadi prioritas masing-masing.
Pasalnya, berbagai macam motivasi yang ada dalam benak kami untuk memacu semangat menghadapi ujian. Ada yang percaya diri memasang target nilai tertinggi. Karena biasanya beberapa santri yang meraih nilai tertinggi berhak mendapat beasiswa uang sekolah dan uang makan selama setengah tahun penuh. Ada pula yang menancapkan target sederhana. Yang penting ujian nanti saya bisa menjawab soal secukupnya. Tidak perlu muluk-muluk. Cukup naik kelas saja.
Tentu akan ada perbedaan secara implementasinya antara kedua santri tersebut. Yang pertama, ia akan mengeluarkan segala usaha agar target besarnya tercapai. Karena jelas itu tidak mudah. Namun bagi santri yang kedua, ia tidak perlu berjuang siang malam untuk hanya sekedar bisa naik kelas. Cukup menguasai dan mengulangi pelajaran seperlunya. Yang jelas, keduanya mulai berbenah ketika kata ujian sudah mulai banyak digaungkan.
Ada lagi teman saya yang sedari awal memang tidak terlalu terpengaruh dengan berita semakin dekatnya ujian. Dia tetap saja sama seperti hari biasa. Dia berkeyakinan, ujian tidak boleh menjadikannya gagal paham akan maksud dan tujuan belajar itu sendiri. Tanpa atau dengan ujian, ia akan tetap belajar seperti itu.
Menarik jika kita perhatikan keberagaman respon di atas. Tentu semua itu ditentukan indivunya, sejauh mana ia memahami hakikat ujian itu sendiri. Apakah ia menganggapnya sebagai awal. Awal bagi perubahan prilakunya, pola pikirnya. Apakah ia menjadikannya sebagai akhir. Titik akhir dari perjuangannya selama ini. Dimana seseorang akan mendapatkan hasil dari jerih payahnya.
Jika saja ujian itu adalah akhir. Maka semua peluh dan pengorbanan yang dilakukan bertujuan untuk mencapai titik akhir tersebut -baca ujian-. Maka berhasil atau tidaknya pencapaian seseorang sangat bergantung dengan nilai dan hasil dari tujuan akhirnya. Kala nilai ujian belum memuaskan, bisa dikatakan ia telah gagal. Sebaliknya, saat hasil ujian memuaskan, maka ia telah sukses melewati ujian tersebut. Target pencapaian dan hasil menjadi sangat dominan dalam skala ini. 
Namun jika ujian dimaknai sebagai awal. Proses awal dari  kesuksesan sebenarnya. Maka substansi ujian bukan dari sejauh mana target itu dapat diraih. Bukan pula sebaik apa hasilnya menjadi titik akhir. Melainkan dari seberapa sadar ia meyikapi perubahannya waktu sebelum ujian dengan saat ujian tiba. Ia menyadari proses perbaikan yang ia lewati untuk menghadapinya. Berbagai kelalaian yang dulu biasa dilakukan perlahan tergantikan dengan hal-hal positif. Hingga hal itu tidak dilupakannya begitu saja. Akan berbekas dalam rutinitasnya. Perlahan menjadi kebiasaan baru. Bahkan jauh setelah ujian itu terlewati.
Jika substansi ujian hanya bergantung  sebaik apa hasilnya. Maka layaklah dikatakan nabi Nuh as telah gagal mengemban risalah kenabian. Bagaiamana tidak. Selama kurang lebih 950 tahun lamanya beliau berdakwah, hanya 80 orang yang mau menerima ajaran tauhid yang ia bawa. Bahkan salah satu riwayat mengatakan 10 orang. Ditambah anaknya sendiri mengingkari dakwah ayahnya. Tentu tidaklah demikian adanya. Nabi nuh as tidak dikatakan gagal hanya dikarenakan sedikit pengikutnya. Beliau Pun tidak gagal karena tidak bisa membawa keluarganya sendiri. Proses yang ia lalui teramat panjang dan melelahkan. Dan ia menjalaninya dengan tetap sabar dan tawakkal. Ia tetap istiqomah berdakwah meski tau umatnya enggan menerima. Semata-mata ia lakukan untuk menjalankan tugas dari Rabb nya. Sedari awal memang diniatkan untuk menjalankan perintah. Bukan mencari banyak peserta.
Ujian tanpa target tentu akan kurang berwarna. Bisa jadi malah menjerumuskan kita ke dalam dekadensi usaha secara total. Namun target tanpa niat yang benar. Ibarat berlari menuju garis finis, namun tidak tau untuk apa ia berlari. Dan yang tidak kalah penting adalah, pengamalan hal-hal positif selama proses ujian berlangsung hingga terealisasikan menjadi kebiasaan baik yang kian melekat. Sehingga tidak menjadi orang yang lupa cara berenang setelah lama bermain dalam laut.  Maka, penyatuan relasi dari semuanya agar berimbang menjadi titik tertinggi pemaknaan ujian secara hakikat total. Kala niat telah benar, langkah kian mantap, target pun jelas, dan proses menjadi pelajaran berarti. Niscaya hasil tidak akan pernah menghianati. Pun jikalau itu terjadi. Makna kesuksesan sejatinya masih tetap diraih kala faktor lain tidak terlewati.
Namun dalam praktiknya, tidak akan mudah begitu saja memang. Karena sesuatu yang dilakukan dengan niat yang benar biasanya akan menemui jalan yang terjal. Mengingat iblis paling tidak suka kala musuhnya mengerti hakikat peran Tuhan dalam setiap perbuatannya. Ia tidak bisa tinggal diam begitu saja. Ada satu hal lucu yang dilakukan almarhum KH. Bisri Musthofa kala menulis sesuatu. Ia menyebutnya menipu iblis. Saat menulis beliau tidak masukan niat-niat untuk menegakkan syariat Allah . hanya sekedar ingin cepet selesai. Lalu dikasihkan kepada editor.. Ketika akan diserahkan, baru beliau niatkan seutuhnya karena Allah swt. Dengan begitu, ia rasa tulisannya akan cepat selesai karena iblis tidak datang untuk banyak mengganggu, namun tetap tidak kehilangan esensi dari nilai dakwahnya.

Allahu A’lam Bissowab…(GusTain)
Esensi dan Substansi Makna Ujian Reviewed by Albi Ramadhan on 09.27.00 Rating: 5

Tidak ada komentar:

All Rights Reserved by IKPM KAIRO © 2014 - 2015
Designed by Themes24x7

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.