Top Ad unit 728 × 90

Home

Sejarah Nusantara : Antara Nativisasi dan Deislamisasi

                      
            “Sejarah  itu adalah alat ideologisasi, karena hampir seluruh ideologi mengantarkan ilmunya dengan sebuah sejarah. Seperti kelompok syiah, khawarij, komunis, dan lain sebagainya. Dari sinilah mengapa sejarah menjadi suatu hal yang penting untuk diketahui dan dipelajari.” Begitulah kata Dr.Tiar Anwar Bachtiar, ketua PP Pemuda Persatuan Islam (PERSIS) dan seorang Doktor sejarah lulusan Universitas Indonesia, dalam memulai sesi perkuliahan Sekolah  Pemikiran Islam  (SPI) Fatahillah angkatan ke-4 di Institute for Studies Islamic Thought and Civilizations (INSISTS), Jakarta.      

Nativisasi diambil dari kata native, yang berarti  asli, orang asli ataupun pribumi. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Nativ-isme bermakna sikap atau paham suatu negara atau masyarakat terhadap suatu kebudayaan sendiri berupa gerakan yang menolak pengaruh, gagasan atau kaum pendatang. Maka, nativisasi, layaknya kata bertambahkan “isasi” lainnya, yaitu upaya menyebarkan sebuah  “isme” atau paham-paham, seperti islamisasi dan liberalisasi. Dalam istilah para sejarawan,  nativisasi diartikan sebagai  satu cara  pandang yang melihat bahwa sejarah Indonesia menafikan unsur-unsur asing yag ada, dan sebuah usaha mengembalikan unsur-unsur asli yang ada di sebuah Negara atau Masyarakat.

              Pembicaraan yang dikerucutkan dalam pembahasan nativisasi adalah, pengembalian  produk asli  budaya leluhur Indonesia, yaitu Hindu, Budha, dan Animisme. Sementara produk-produk seperti Islam, Kristen dan Yahudi adalah produk luar yang diimpor ke Indonesia. Namun, dalam menyikapi hal ini, Dr.Tiar menegaskan bahwa nativisasi itu sendiri sebenarnya tidak mempunyai pijakan epistimologi yang komperhensif. Lebih tegas lagi beliau berkata “Jadi yang ia katakan sebagai produk asli pun sebenarnya tidak ada yang asli dari Indonesia itu sendiri. Hindu, Budha dan Animisme pun merupakan barang impor dari luar. Namun, karena yang pertama kali menginjakkan kakinya di Nusantara ini adalah paham tersebut, maka itu semua dikatakan asli dari Indonesia. Dan setiap kebudayaan mempunyai sifat dinamis yang akan selalu berubah, maka kebudayaan akan mati  dengan seiring berkembangnya zaman”. Seperti budaya memakai pakaian adat, penyembahan di Candi-candi, dan tradisi adat lainnya yang sudah tidak selaras lagi dengan berkembangnya zaman.

            Menurut Dr.Tiar Anwar, Nativisasi, tidak lain dan tidak bukan adalah misi dari para orientalisme Barat yang ingin men-sekularkan rakyat muslim di Indonesia, sehingga mereka tidak kenal lagi, bahwa dulu Indonesia pernah dibela dan diperjuangkan  oleh para pejuang muslim dan da’i-dai serta ulama. Tokoh tokoh orientalisme seperti Thomas Stanford Rafless, seorang tokoh orientalis yang menulis buku “The History of Java”, dan dialah yang mengembangkan teori hindu pertama kali di Indonesia. Adalagi William Rasden dengan bukunya “The History of Sumatra”, yang memisahkan antara “adat” dengan “agama”, dan berpendapat bahwa adat adalah karakter orang Sumatra, yang mana itu bertentangan dengan ajaran agama yang ada (khususnya Islam).

            .  Para orientalis tersebut membuat suatu gagasan dan melakukan berbagai penelitian mengenai sejarah di Indonesia, lalu membuat itu semua terlihat lepas dari agama. Karena menurut mereka Islam adalah satu ajaran yang merusak dari berjalannya misi kristenisasi di Indonesia. Dan kristenisasi adalah satu dari tiga faktor  tujuan mereka datang ke Nusantara ini. adapun tiga faktor itu,  3G ; gold (kekayaan), glory (kekuasaan), gospel (penyebaran agama kristen)

            Dalam peristiwa perang Diponegoro (1825-1830), misalnya,  mereka membuat sejarah dari penyebab khusus perang ini adalah ; pemasangan patok oleh Belanda untuk pembangunan jalan yang melintasi  Makam leluhur pangeran Diponegoro. Pemasangan patok itu tanpa izin, sehingga sangat ditentang oleh pangeran Diponegoro (lihat, Sugiharsono, et al, Ilmu Pengetahuan Sosial SMP/MTS Kelas VIII Ed.4,Jakarta: Pusat Pembukuan, Departemen Pendidikan Nasional, 2008, hal.62) sebab ini membuat seakan-akan Diponegoro berperang hanya untuk  perebutan sebuah “makelar tanah”, dimana itu merupakan hal yang kurang cocok dijadikan sebab utama dari perang tersebut.

Dalam buku  “Sejarah Nasional Indonesia Prespektif baru”, yang disusun oleh Dr.Tiar, yang mana merupakan sebuah terobosan baru dari buku sejarah dalam prespektif Islam dan telah merivisi beberapa buku sejarah dari tingkat menengah. Dibuat kutipan besar bahwa “Pangeran Diponegoro pejuang muslim yang tangguh. Bukan hanya tanah Nusantara yang diperjuangkan, melainkan pembelaan terhadap Agama Allah lebih utama”. Ia menyatakan dengan terang bahwa perlawanannya tersebut adalah perang sabil (jihad di Jalan Allah SWT.) menghadapi kaum kafir. (selengkapnya lihat, Tiar Anwar Bahtiar dkk, Sejarah Nasional Indonesia Prespektif baru, Jakarta  Andalusia Islamic Education & Management Service (AEIMS).hal.90)

            Beliau, Raden Mas Ontowiryo, dikenal dengan Pangeran Diponegoro, putra sulung Sultan Hamengkubuwono III. Ia lahir pada 11 November 1785 di Yogyakarta dari seorang selir bernama R.A Mangkarawati. Walaupun dari keturunan raja, Diponegoro lebih tertarik pada kehidupan keagamaan dan hidup bersama rakyat daripada tinggal di Keraton. Oleh sebab itu, ia lebih memilih menimba ilmu di Pesantren di daerah Tegalrejo. Beliau adalah ulama dan seorang mujahid. Oleh karena itu,  penyebab terjadinya perang adalah bahwasanya Diponegoro melihat kristenisasi mulai menyebar di Tanah Jawa, dan umat islam sangat terdesak oleh  penjajahan Belanda. Jadi bukan hanya karena makelar tanah. Nantinya, dampak dari pengabaian nilai keislaman pada peristiwa ini adalah lupanya para pelajar, umat muslim khususnya, dengan sosok keislaman pangeran Diponegoro.  


             Bentuk deislamisasi lainnya adalah Penamaan kapitan Patimura dengan “Thomas Matulesi” yang identik  dengan nama orang  kristen. Adapun sebenarnya, ia  adalah Ahmad Lusy, akrab dengan panggilan Mat Lusy, seorang muslim yang taat dan pemberani dari daerah Maluku.  Ia adalah seorang  pahlawan dan mujahid. Pada saat itu kerajaan Maluku. adalah kepulauan dengan kerajaan-kerajaan islam terbanyak. Daerah tersebut pernah diberi julukan oleh orang Arab sebagai  jaziirot al-mulk . Pattimura dengan semangat jihadnya memipin perang rakyat maluku terhadap belanda dan berhasil merebut Benteng Duurstede di Sapura dari tangan penjajah.

Berbicara mengenai  perjuangan pahlawan, mayoritas hanya mengetahui bagaimana para pahlawan-pahlawan tersebut berperang, lantas ia menang atau kalah, dan terakhir mereka wafat, lalu di singkan ke berbagai derah. Karena memang ini adalah salah satu misi dari sekularisasi yang ada dalam pengkajian sejarah. Bisa dilihat bagaimana sejarah mengupas dengan jelas tentang silsilah candi, macam-macamnya, hingga kerajaan hindu dan budha secara mendetail. Sebaliknya, dimana sejarah banyak mengungkap bagaimana peran Muhammadiyyah, Nahdahatul Ulama, para ulama dan Pesantren-pesantrennya, Kerajaan-kerajaan islam, dan berabagai peninggalannya secara menyeluruh. Walaupun ada, itu mungkin tidak sebanyak yang diawal. Buya Hamka pernah berkata bahwa “Orang Indonesia lebih mengenal siapa itu Gajah Mada, daripada Raden Fatah”. Inilah sebuah deislamisasi sejarah.   

            Dalam memasukkan pemahaman nativisasi sejarah, simbol atau icon yang selalu ditunjukkan untuk mewakilkan  Indonesia dimata Dunia adalah sebuah candi. Apa karena Candi Borobudur merupakan salah satu dari tujuh keajaiban Dunia yang ada?. Inilah dampak yang terjadi dari sebuah nativisasi sejarah. Orang seakan melihat Indonesia dahulu berjaya dan berkuasa ditangan  Majapahit, Sriwijaya, Mataram, serta kerjaan-kerajaan lain, yang mana itu tidak ada unsur keislaman. Sehingga mereka lupa dengan perjuangan-perjuangan para da’i dari kerajaan islam, ulama-ulama yang berusaha menyatukan Nusantara, serta para kyai yang ikut andil di barisan terdepan dalam mengusir penjajah di Nusantara ini.

            Kita tidak menafikan semua sejarah yang ada, Tentang eksistensi kerajaan hindu budha di Nusantara ini, ataupun segi segi perjuangan pahlawan yang lainnya. akan tetapi setidaknya kita lebih beradab dalam  mendudukkan sesuatu. Lebih tepatnya, sebagai orang islam, kita harus lebih bisa memproporsionalkan sesuatu. Tau akan kerajaan hindu budha, lantas kita tidak tau kerajaan islam yang lebih banyak membawa perubahan pada Nusantara ini. Mengetahui kisah para raja Hindu dan budha, namun tidak mengenal kisah, bahkan nama-nama ulama yang ada pada kerajaan islam dan pahlawan di Nusantara. 


            Teringat nasehat Dr.Tiar di akhir perkuliahan, “Kalian semua, serta seluruh rakyat Indonesia harus mengetahui sejarah yang benar, kalaupun sudah terlanjur disampaikan kepada mereka hal-hal yang menyimpang, maka satu-satunya jalan adalah dengan membenahi “guru sejarahnya”. Sejarah perlu banyak dikaji dan ditelaah dari berbagai sumber. Dan nantinya sumber yang kuat itulah yang akan menegakkan sebuah penulisan sejarah”. Wallahu a’lam bissowab. (BanaFatahillah)
Sejarah Nusantara : Antara Nativisasi dan Deislamisasi Reviewed by Albi Ramadhan on 08.37.00 Rating: 5

Tidak ada komentar:

All Rights Reserved by IKPM KAIRO © 2014 - 2015
Designed by Themes24x7

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.