Top Ad unit 728 × 90

Home

SINTESA PARA PENGEMBARA


Oleh : Vivi Nofiyantika

عَنْ ابْنِ عُمَرْ رضي الله عَنْهُمَا قَالَ : أَخَذَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم بِمَنْكِبَيَّ فَقَالَ : كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ.[رواه البخاري]

Dari Ibnu Umar radhiallahuanhuma berkata : Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam memegang pundak kedua pundak saya seraya bersabda : Jadilah engkau di dunia seakan-akan orang asing atau pengembara “ (HR. Bukhori)

  Hadits di atas menerangkan bahwa Rasulullah SAW telah memerintahkan umatnya untuk menjadi “pengembara”. Namun perlu ditelaah kembali, kehidupan pengembara ditinjau dari sisi yang mana? Apakah mereka yang senang berpergian tanpa tujuan dan tanpa tempat tinggal, lalu pantas disebut pengembara? Atau yang rela menghambur-hamburkan hartanya  hanya demi turun naik gunung setiap harinya? Barometer apa yang mengukur kehidupan manusia yang mulai memasuki fase pengembaraan seperti yang digambarkan hadits di atas?

  Hidup bersahaja dengan alunan ritme zuhud yang menemani setiap langkah adalah intisarinya, usaha pertama manusia meninggalkan kehidupan dunia dan keduniaan adalah dengan zuhud. Layaknya pengembara, yang berhati-hati betul agar tidak tersesat, mengenali lingkungan agar tidak tersakiti olehnya, agar apa-apa yang dilakukannya itu tidak mengundang murka Sang Empunya kehidupan. Sebagaimana pengembara, yang menjauhi keramaian dunia dan mendekat pada ciptaan-cipataan Allah agar mengetahui keagungan-Nya. Karena nyatanya kehidupan dunia itu lebih banyak menyilaukan, hingga melebur di mata kita, antara yang benar-benar bercahaya dan yang sebenarnya redup.

  Kebanyakan para sufi dalam memulai perjalanan spiritualnya adalah dengan berdzikir di tempat-tempat yang jarang diucap dzikir di atasnya. Di lereng gunung, di kaki bukit, di pinggiran sungai, di tepi rawa, di tempat yang belum terjamah oleh kedhaliman dan kemunkaran manusia. Menemukan Allah dalam keheningan dunia. Cukup gamblang dilukiskan bagaimana memahami hakikat hidup manusia,  hakikat “orang besar” di dunia sebagaimana yang telah disinggung dalam tajuk utama, dan hakikat penciptaan. Menjadi mereka yang memikirkan apa yang dilupakan orang lain, yang tidak selalu berpikir akan hal-hal yang lumrah, dan yang paling mengerti siapa yang pantas dianggap besar. Jauh sekali dari gambaran orang-orang berkostum besar yang sebenarnya kecil, KH. Hasan Abdullah Sahal menyebutkan, “Banyak orang bertitel tanpa kualitas, banyak orang berkualitas tanpa titel”.  Seorang yang hidup layaknya pengembara tidak akan mengejar titel, karena itu tidak ada gunanya dalam hidup mereka, alam tak akan menanyakan almamatermu saat kau mulai berinteraksi dengannya.

  Di sinilah sintesa (himpunan nilai-nilai) dari kualitas hidup para pengembara yang seharusnya dijadikan acuan dalam menjalani kehidupan. Memprjelas apa yang sebelumnya syubhat, agar tak ada salah jalur dan salah kaprah dalam meniti jalan-jalan hidup. Jika diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, maka kehidupan ala pengembara  inilah yang seharusnya menjadi perhatian bagi para perindu Rabb-nya. Agar ketika kakinya melangkah lebih dekat kepada alam, bertambahlah iman dan kerinduannya kepada Allah dan Rasul-Nya melalui ciptaan-ciptaan-Nya. Apalagi jika diterapkan dalam majelis langgar, dimana kegiatan belajar mengajar oleh guru yang dan murid yang berakhlak pengembara. Maka, akan tercipta siklus penuh barakah, dimana setiap masing-masing menjadikan ridho Allah sebagai tujuan hidupnya.

Nilai ini pula yang sering digaungkan oleh KH. Hasan Abdullah Sahal dalam pidatonya kepada anak didiknya dimanapun mereka berada, bahwa “Di atas hanya Allah, dan di bawah hanya tanah”. Dengan sangat simbolis beliau menjelaskan bagaimana akhlak pengembara yang seharusnya dijadikan miliu dalam bersikap ala santri. Di atas hanya Allah, agar tidak takut pada apapun selain Allah, sehingga ketaatannya pada Allah akan jauh lebih besar dibanding kepada selain Allah. Dan di bawah hanya tanah, adalah agar anak didiknya tidak menghinakan apapun atau siapapun. Syekh Yusri pernah mengatakan dalam pidatonya di bulan Ramadhan, bahwa mereka yang membanding-bandingkan siapa yang lebih baik amalannya antara dirinya dan orang lain, sungguh mereka telah mengikuti madzhab syetan yang merasa dirinya lebih baik dari Adam sehingga enggan bersujud kepadanya. Naudzubillahimin dzalik.

Pahamilah hakikat hidup ini, hingga tidak hina ketika dihadapkan pada al-mizan nantinya. Budayawan nusantara, Emha Ainun Nadjib menyebutkan dalam salah satu majelisnya, “Lebih baik mengaku iblis daripada mengaku malaikat,” karena bukan orang sholeh mereka yang masih menyebut diri sendiri sebagai “sholeh”. Wallahu a’lam bish-showab.


SINTESA PARA PENGEMBARA Reviewed by Albi Ramadhan on 16.08.00 Rating: 5

1 komentar:

All Rights Reserved by IKPM KAIRO © 2014 - 2015
Designed by Themes24x7

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.