Top Ad unit 728 × 90

Home

Mengenal Keutamaan Rasulullah SAW dalam Kitab “Bidayat al-Suul”


Jika pada abad ke-7 Imam Jamaluddin al-Isnawi mengarang “Nihayat al-Suul” (akhir Permohonan), maka ketahuilah, bahwa satu abad sebelum itu – sekitar tahun 600 H, Imam al-‘Iz ibn Abdil Azis bin Abdissalam (577-660 H) menulis buku yang berjudul “Bidaayat al-Suul” (awal permohonan). Meski terlihat seperti judul yang berkelanjutan, namun keduanya bukanlah kitab yang mempunyai isi dan kandungan yang sama, karena pembahasannya pun kerap berbeda. Nihayat al-Suul dibentuk untuk memperjelas isi kandungan dari Minhaj al-Wusuul milik Imam Baidowi pada ilmu ushul, sementara Bidayat al-Suul ditulis sebagai buku tersendiri yang menjelaskan keutamaan yang diberikan oleh Allah pada Rasulullah SAW.

Pada Jum’at (14/04), setelah menunaikan shalat jumat tepatnya, rekan-rekan azheema – ikhwan dan akhwat –  berkumpul dan menyatu dibawah atap teduh milik Masjid Sidi Rifai guna mengkaji buku yang berjudul Bidayat al-Suul (lengkapnya : Bidayat al-Suul fii Tafdhiil al-Rasuul) milik Imam al-‘Iz ibni Abdil Azis. Tepat dihadapan kami, Al-Ustadz Zia ul Haq, duduk sebagai mentor yang  menjelaskan pada kami setiap pemikiran Imam al-‘Iz bin Abdussalam yang terkandung dalam kitab tersebut. Dengan diiringi alunan sholawat, majlis kami terasa lebih dihujani naungan barakah.

Walaupun tidak sebesar kitab-kitab lain miliknya, Bidayat al-Suul merupakan kitab kecil  yang tidak kalah bermanfaat bagi setiap yang mempelajarinya. “Buku ini adalah buku yang membahas tentang keutamaan Rasulullah SAW, yang mana mempunyai ruh yang kuat”, ujar ustadz Zia. 
Setelah menulis muqoddimah berupa basmalah, hamdalah, dan solawat atas nabi, Imam al-‘iz langsung mengawali kitabnya dengan menyebutkan dua ayat pada al-Quran yang menunjukkan pada keutamaan Rasulullah secara khusus dan umum. Kedua ayat inilah yang nanti akan menjadi pembahasan utama pada buku ini.  

Untuk yang pertama, ia menyebutkan ayat yang menunjukan adanya keutamaan dan karunia Allah atas Rasulnya secara umum dan jelas (sorikh). Ayat tersebut adalah : “...dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. Karunia Allah yang dilimpahkan kepadamu itu sangat besar” (QS al-Nisaa : 113). Secara tidak langsung disini dikatakan bahwa setiap rasul mendapatkan keutamaan dan karunia disisi Allah SWT.

Adapun ayat kedua menerangkan bahwa karunia dan keutamaan Allah yang diturunkan pada setiap nabinya dibedakan sesuai derajatnya – “Rasul-rasul itu kami lebihkan sebagian dari mereka atas sebagian yang lain. diantara mereka ada yang Allah berkata-kata (langsung dengan dia) dan sebagiannya Allah meninggikannya beberapa derajat” (QS al-Baqarah : 253). Inilah mengapa dalam ayat tersebut disebutkan kisah Nabi Musa yang hendak bertemu Allah dan juga Nabi Isa yang diberikan mukjizat.

Disinilah titik pembahasan yang akan diuraikan oleh Imam al-‘Iz pada kitab Bidayat al-Suul – yaitu pada keutamaan yang diberikan oleh Allah kepada Nabi Muhammad SAW dari para nabi lainnya. Sekitar empat puluh lebih disebutkan oleh penulis, dari banyaknya aspek yang menjadikan Rasulullah SAW lebih utama dari para nabi lainnya. Sekurangnya pada tulisan ini akan diringkas menjadi  lima faktor :



      1)  Nabi Muhammad adalah sosok yang dipilih oleh Allah untuk menjadi  pemimpin seluruh keturunan nabi Adam. Sesuai yang termaktub dalam hadis sohih : “Ana sayyidu waladi adam wala fakhr”. Imam al-‘Iz mengatakan bahwasanya karakter pemimpin  adalah ia yang mempunyai sifat dan akhlak yang tinggi nan mulia. Dan ini dapat dirasakan pada diri Rasulullah SAW. Yang dikuatkan oleh firman Allah, “fainnaka la’ala khuluqin ‘adzhim”.  

     2)      Nabi Muhammad adalah satu-satunya nabi yang dipanggil oleh Allah dalam al-Quran dengan panggilan “ya ayyuhannabiyyu” atau “yaa ayyuharrasuulu”. Tidak pernah Allah memanggil langsung dengan namanya, seperti “ya Muhammad” atau “yaa Ahmad”. Ini semua berbeda dengan para nabi lainnya, yang dikhitob oleh Allah  secara langsung. Seperti ayat-Nya yang berbunyi :  “ya yahya khudz al-Kitaaba biquwwah”, “yaa Muusa inni anallah”, “yaa Nuuhu ihbith bisalaamin”, “yaa Zakariyya inna nubasyyiruka...”, dan banyak ayat lainnya, yang sama seperti ini.

Seperti yang kita ketahui, bahwasanya kedudukan orang yang dipanggil dengan sebutan nama atau sifat yang diagungkan, akan lebih mulia dibandingkan yang hanya dipanggil sebatas namanya.  Dan ini sudah menjadi kebiasaan yang tampak  pada kita – mereka yang dipanggil dengan sifat-sifat yang baik, adalah untuk meninggikan kedudukannya diantara manusia lainnya.

     3)      Rasulullah mampu melakukan perbuatan, yang mana hal itu merupakan mukjizat dari apa yang telah dilakukan oleh nabi sebelumnya. Ketika Nabi Sulaiman mampu berbicara dengan bangsa hewan dan jin, maka Rasulullah bisa berbicara dengan seluruh ciptaan Allah, bukan hanya jin dan hewan.  Diceritakan bahwa Rasulullah pernah mendengar tangisan sebuah batang pohon yang akan ditebang dari asalnya, lantas berbincang dengannya. Bahkan Rasulullah pernah menjawab salam dari sebuah batu yang tidak berbicara. Jikalau nabi Isa mampu menyembuhkan orang yang buta, maka Rasulullah dapat mengembalikan kembali mata yang terlepas dari bola mata, lalu menyembuhkannya secara utuh ketika menolong salah satu umatnya dalam sebuah peperangan.  

    4)    Umat nabi Muhammad merupakan setengah dari penduduk Surga, sementara sisanya akan ditempati para umat dari para nabi terdahulu. Bahkan dikatakan bahwa Allah akan memasukan 70.000 umat Nabi Muhammad ke Surga tanpa hisab, dan setiap satu dari 70.000 tersebut akan menarik 70.000 orang pula. Lalu, dari banyaknya umat Rasulullah tersebut,  maka banyak pula pahala dan ganjaran dari perbuatan baik yang dilakukan oleh seluruh umatnya untuknya. Ini sesuai dengan pesan Rasulullah yang mengatakan  bahwasanya barang siapa yang menunjukan pada suatu kebaikan, maka baginya pahala orang yang mengerjakan tersebut.
Diceritakan, bahwasanya pada saat malam Isra Mi’raj, Nabi Musa menangis sedih karena melihat banyaknya umat Nabi Muhammad yang masuk ke dalam surga dibanding umatnya. Dan Imam al-‘Iz mengatakan bahwa nangis ini bukanlah karena adanya sifat dengki, melainkan sifat sedih dan iba.

    5)   Nabi Muhammad adalah salah satu syafaat pada hari kiamat kelak. Rasulullah bersabda : “al-Wasiilatu manzilatun fi al-Jannati laa yanbagi an takuuna illa li’abdin min ‘ibaadillahi ta’aala, wa arju an akuuna hua, faman saala li al-Wasiilata, hallat ‘alaihi al-Wasiilah”.

Setelah mengetahui sedikit dari banyaknya karunia dan keutamaan yang diberikan oleh Allah SWT pada Rasul-Nya, al-Ustadz Zia mengatakan bahwasanya kecintaan kita haruslah tambah pada Rasulullah SAW, dan kita tidak bisa serta merta menafikan segala kemulian yang diberikan kepada para nabi lainnya  –sesuai dengan firman Allah yang berbunyi, “la nufarriqu baina ahadin min rusulih”.

Semoga semua keagungan nabi Muhammad SAW dari seluruh ahlaknya yang mulia, membuat kita semakin ta’dzim dan menyontoh panutan kita semua. Tentu masih ada keutamaan lain yang belum disebutkan di samping lima poin ini. Dan selengkapnya bisa merujuk langsung pada kitab Bidayat al-Suul fi Tafdhii al-Rasuul dan juga banyak hadis sohih yang termaktub diatas.  Wallahu a’lam bisshowab. (FatahillahBN)

Bersama al-Ustadz Zia ul Haq, Lc di Masjid Sidi Rifai

Mengenal Keutamaan Rasulullah SAW dalam Kitab “Bidayat al-Suul” Reviewed by fatahillahbn on 19.37.00 Rating: 5

Tidak ada komentar:

All Rights Reserved by IKPM KAIRO © 2014 - 2015
Designed by Themes24x7

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.