Memetakan Dasar Ilmu Syariah bersama Syekh Musthafa al-Azhari - IKPM KAIRO

Selasa, 02 Mei 2017

Memetakan Dasar Ilmu Syariah bersama Syekh Musthafa al-Azhari



                Dalam membantu penjelasan dari seluruh pemetaan ilmu syariah, serta berbagai dasar-dasar pembelajaran pada ilmu shari’ah, rekan-rekan azheema, yang diwakili oleh al-Ustadz Zia Ul Haq, mengundang Syekh Musthafa Ridho al-Azhari, pada Sabtu (29/04) untuk membedah secara singkat kitab karangannya yang berjudul “al-Turūq al-Manhajiyyah fī Tahshīl al-‘Ulūm al-Shar’iyyah”. Majlis ini diadakan di Masjid Sidi Rifai, dan dihadiri oleh anggota rekan-rekan angkatan kedatangan 2016.

                Setelah penjelasan panjang tentang pemetaan seluruh ilmu, beliau menjelaskan terkait definisi dari ilmu shariah sendiri. Pada pendefinisian ilmu Shari’ah, ia membuatnya pada dua bagian. Pertama, yaitu semua kumpulan hukum-hukum yang diturunkan pada Nabi-Nya melalui perantara wahyu (majmu’āt al-ahkām allati nuzilat ‘an al-Nabiy min tharīq al-Wahyi). Kedua, yaitu sesuatu yang mengantarkan pada pemahaman hukum-hukum tersebut (wa mā yuwassilu ilā fahmi hādzihī al-ahkām). Dan inilah nanti yang akan membagi ilmu pada dua, maqaasid dan wasaail.

                Bagian pertama mencangkup hukum-hukum kepercayaan (i’tiqādiyyah), seperti ilmu aqidah, lalu pekerjaan (amaliyyah), seperti ilmu fiqih dan yang terakhir tabiat (wijdāniyyah), seperti ilmu tasawuf. Dan Syekh Musthafa menjelaskan bahwasanya hukum dalam al-Quran tidak lepas dari perintah untuk mengesakan Allah, beribadah kepada-Nya, dan pensucian diri atau tazkiyāt al-Nafs.  

                Adapun yang kedua, yaitu ilmu wasail, atau ilmu yang mengantarkan kita pada pemahaman hukum dan tujuan tersebut. Menurut penulis buku Sayyiduna tersebut, ilmu wasail dapat kita bedakan menjadi empat. Ada yang memperkokoh keabsahan lisan, seperti ilmu nahwu, ketajaman dalam berfikir, seperti ilmu mantiq, ketelitian dalam suatu kepercayaan, seperti ilmu mustolahul hadis, dan intisari pada kesimpulan sebuah dalil syariah, layaknya ushul fiqih.

                “Mana yang harus lebih didahulukan, ilmu maqasid atau wasail?”, tanya salah seorang tolabah.  Syekh Musthafa mengatakan untuk terus membarenginya secara bersamaan. Namun akan lebih baik jika didahulukan dengan ilmu wasail, karena akan membantu banyak ketika masuk pada ilmu maqasid. “akan susah bagi mereka yang mempelajari fiqih, tanpa mempelajari bahasa”, ujar beliau.

                Selanjutnya beliau menjelaskan apa-apa yang menjadi asas atau rukun dari sebuah ilmu, yaitu murid (al-Thālib), guru (al-Ustādz), buku (al-Kitāb), metodologi pembelajaran (manhajiyyat al-Ta’allum), dan lingkungan belajar (al-Biiat al-Ilmiyyah). Dalam penjelasan tentang belajar dengan guru, beliau menegaskan betapa pentingnya belajar dengan guru, sebagai sebuah sanad. “al-Ulūm al-Shar’iyyah mabniyyun ‘alā al-Musyāfahat wa al-Talaqqi” (Ilmu-ilmu syariah haruslah didasari dengan dialog dan talaqqi), atau belajar dengan guru, tegas beliau.

                Ibnu Mubarok mengatakan : “al-isnādu min al-Dīn lau lā al-isnādu laqāla man syaa mā syaa” (sanad adalah bagian dari agama, kalau tidak adanya sanad maka semua orang bisa berkata apapun).

                Diakhir, beliau menjelaskan secara singkat tentang manhajul ilmi, yang mana merupakan metodologi yang dipakai oleh Azhar sebagai manhaj yang wasati. Ia adalah pandangan menyeluruh yang dibangun dari berbagai prosedur – dari keseluruhan faktor ilmu, alat-alat ilmu, dan bagaimana agar bisa mendapatkannya. “ketika kita sudah paham sebuah manhaj ilmi, maka kita akan terjauh dari sifat-sifat yang menjadikannya bersifat keras”, tutup Syekh Musthafa.

Banin Azheema Bersama Syekh Musthafa Ridho al-Azhari 

Banat Azheema bersama Syekh Musthafa Ridho al-Azhari



Tidak ada komentar: