Top Ad unit 728 × 90

Home

Mengapa Harus Masjid Al Azhar?


Jika membicarakan masalah masjid, Mesir mungkin bisa menjadi rujukan yang representatif untuk role model masjid Rasulullah baik dari segi nilai sejarah maupun nilai sosial. Belum lagi karena saking banyak jumlahnya serta beraneka ragam bentuk dan corak khas dinastinya, Mesir sampai dijuluki dengan ‘Negeri 1000 Menara’. Hemm, Julukan tersebut tersebar bukan isapan jempol semata, karena terbukti hingga kini masjid-masjid tersebut masih tak kurang dari kegiatan, baik ketika shalat berjamaah maupun ketika terdapat pengajian-pengajian.

Adapun Masjid Al Azhar merupakan salah satu dari puluhan bahkan ratusan masjid bersejarah di Mesir. Sebenarnya banyak masjid yang lebih besar dan lebih indah bahkan lebih tua dari masjid Al Azhar namun sejarah dan peran Masjid Al Azhar dibanding masjid lainnya tampaknya tak akan dapat tertandingi. Sebut saja masjid Amru bin Al Ash atau yang lebih dikenal masyarakat setempat dengan Masjid ‘Athiq, yang dibangun oleh Sahabat Amru bin Al Ash pada abad 21 H, dan Masjid Shulthon Hasan yang dibangun pada masa Dinasti Turki Usmany, yang keindahannya dapat disandingkan dengan Masjid Agha Sophiya di Turki, atau Masjid Imam Husein masjid disemayamkannya Jenazah Kepala Imam Husein.

Walaupun seindah apapun masjid-masjid tersebut, namun menurut opini penulis masjid ini akan tampak berbeda dengan masjid lainnya dari berbagai sisi. Berikut keistimewaan Masjid Al Azhar As Syarief, Mesir dibanding masjid bersejarah Mesir lainnya.

Masjid Lintas Madzhab
Masjid Al Azhar mulai dibangun pada 24 Jumadil Awal 359 H (7 Mei 970 M) dan selesai dibangun pada 7 Ramadhan 361 H ( 23 Juni 972 M) oleh Dinasti Fathimiyyah dibawah perintah Jauhar Ashoqly. Sebagaimana namanya Dinasti Fathimiyyah menyandarkan nama dinastinya pada anak perempuan Nabi Muhammad SAW yaitu Fathimah Az Zahra, dan sudah menjadi rahasia umum bahwa Al Azhar pada saat itu bermadzhab Syi’ah. 

40 tahun kurang lebih Dinasti Fathimiyyah leluasa menyebarkan ideologi Syi’ah di Mesir. Al Azhar saat itu mengambil peranan penting sebagai Masjid Kerajaan, shalat Jum’at yang dihadiri oleh Khalifah diadakan di masjid ini. Disana pula dilaksanakan berbagai perayaan keagamaan, diantaranya Maulid Nabi Muhammad SAW, Maulid Ali bin Abi Thalib, Maulid Fathimah Zahro dan peringatan hari Asyura dan berbagai perayaan keagamaan lainnya. Khalifah Mu’iz li Dinillah kerap menjadi Imam disana, tak pelak Azhar menjadi salah satu tiang tinggi tersebarnya Syi’ah. Dilain sisi Al Azhar juga menjadi tiang peradaban keilmuan ketika itu, diantara ulama yang tersohor yang mengajar dan berpengaruh kala itu adalah Ibnu Kals.

Namun dikarenakan kondisi perpolitikan yang kurang stabil, Dinasti Fathimiyyah harus rela takluk pada Panglima Shalahudin Yusuf bin Ayub pada Muharram 567 H ( September 1171 M) segala perombakan luar dalam dilakukan oleh Sholahudin, setelah kurang lebih dua abad menduduki Mesir. Perombakan dimulai pada corak keagamaan, baik dari sisi aqidah maupun syari’ah. Sholahudin adalah seorang Sunni yang bermadzhab Syafi’i, dan sangat getol dalam menyebarkan madzhabnya. Maka dari itu, hal pertama yang dilakukan Sholahudin adalah menon-aktifkan aktifitas yang dilakukan di Masjid Al Azhar mulai dari Sholat Jum’at hingga  perayaan-perayaan keagamaan.

Beberapa hal penting juga dilakukan Sholahudin untuk membersihkan Mesir dari pengarush Syi’ah adalah mencopot Qhodi Syi’ah dan menggantinya dengan Qodhi Sunni, juga penon-aktifan halaqah-halaqah belajar Syi’ah dan menggantinya menjadi halaqah Sunni. Dari masa Dinasti Shalahudin inilah madrasah-madrasah fiqh empat madzhab diperkenalkan di Mesir, tentunya dengan tetap mengedepankan madzhab Syafi’i. walaupun kegiatan ajar-mengajar memang sangat minim terjadi di Masjid Al Azhar bahkan hampir tidak ada kegiatan belajar mengajar disana. 

Bukan berarti dengan ditutupnya Al Azhar pada masa pemerintahan Shalahudin kegiatan keilmuan di Mesir terhenti, Shalahudin mengambil inisiatif untuk membuka kelas dan madrasah lainnya disekitar Kairo dan Fusthat. Begitupun raja-raja selanjutnya yang gemar membuka madrasah-madrasah demi menyebarnya ruh keilmuan di Mesir, sebut saja Madrasah Jauhariyyah, Madrasah ‘Aini, dan Madrasah Thibrisiyyah.

Singkatnya, pengalaman Al Azhar dengan perbedaan madzhab menjadikannya lebih dewasa dalam menyikapi permasalah sekarang. Walaupun kini Allah SWT telah berkehendak menjadikan Al Azhar sebagai menara menyebarnya fiqh empat Madzhab, namun hal ini tidak sertamerta  menafikan bahwa Al Azhar sangat lentur dalam menyikapi perbedaan khususnya pada madzhab selain yang empat. Nilai-nilai plurallitas sangat terjaga di Mesir, hal ini menjadi tanda bahwa peran Al Azhar sangat signifikan dalam menjaga harmoni masyarakat mesir bahkan dunia.

Masjid Akademis Klasik yang Otoritatif
Sejak awal didirikan tepatnya pada masa Nabi Muhammad SAW, masjid sudah menjadi simbol keilmuan bagi agama islam. Disanalah Nabi Muhammad SAW menyebarkan nilai-nilai Islam, disana pula Rasulullah bermusyawarah dan menentukan berbagai hal. Begitupula dengan Masjid Al Azhar, umurnya yang kini telah lebih dari sepuluh abad telah melahirkan ribuan bahkan jutaan ulama yang tersebar di jagat raya. Sebut saja Ibn Khaldun, Bapak Sosiologi ini juga sempat mengajar di Masjid Al Azhar disela-sela rihlah ilmiyah-nya menapaki negeri-negeri  beliau datang ke Mesir pada tahun 784 H,dan mengajar berbagai ilmu. Diantara para ulama tersohor lainnya yang telah menginjakan kaki di Masjid Al Azhar adalah Taqiyyudin  Ahmad Al Maqrizi Syaikh Muarrikh Misry, beliau adalah murid dari Ibnu Khaldun, Ibnu Hajar Al Asqolani, pengarang Kitab Fathul Bari, Badru-d-Din Mahmud Al Ainy, pengarang Kitab Umdatul Qori, Jalaludin As Suyuthi, salah satu pengarang dari Kitab Tafsir Jalalain, dan masih banyak lagi.

Sistem halaqa Talaqqy (sorogan) merupakan ciri dari majelis-majelis ilmu yang terdapat di Masjid Al Azhar.  Masyarikh hadir dengan buku dan murid dengan khusyuk memperhatikan dan mencerna setiap kata yang keluar dari mulut Syeikh. Metode pembelajaran talaqqy ini merupakan asal dari metode pengajaran islam secara keseluruhan. Berawal dari Malaikat Jibril yang langsung memberikan wahyu pada Rasulullah SAW hingga turun pada Sahabat, tabiin dan terus sampai ilmu tersebut sampai pada ulama-ulama kita pada zaman ini.

Sistem pembelajaran musannadah ini telah berhasil Al Azhar pertahankan dari semenjak dibangunnya Al Azhar hingga zaman ini. Hal ini amat sangat penting dalam khazanah keilmuan Islam, dimana pemahaman Sang Murid harus sesuai dengan metode dan sistem yang telah ditetapkan oleh syari’at. Ibu Mubarak Berkata: “Jika tidak ada sanad, akan berkata siapapun dia apapun yang akan dikatakannya”.  Dari metode ini pula Al Azhar kokoh berdiri pada asas yang dalam dan mengakar bahwa pemahaman yang benar tentang agama merupakan cikal bakal tercitanya kondisi masyarakat yang baik.

Dalam sistem halaqah talaqy ini Setiap guru (Syeikh) telah uji layak dan kecapakan sesuai standar operasional ketat yang ditetapkan Al Azhar, diantaranya ketakwaan dan akhlaq mulia, telah menguasai ilmu-ilmu alat, wasail dan maqashid serta telah memiliki sanad yang jelas untuk mengajarkan pada para murid. Praktek realnya kini dapat ditemukan di Masjid Al Azhar sendiri. Setiap majelis ilmu telah disusun rapih dengan sistem penjadwalan yang teratur, tenaga pengajar telah ahli dibidangnya, hingga hierarki keilmuan murid telah diatur sedemikian rupa agar memudahkan para murid yang datang dari berbagai negeri mengikuti sistem pengajaran di Masjid Al Azhar.

kegiatan talaqqi di Masjid Al Azhar

Masjid Rujukan Masyarakat Dalam Hukum
Sudah menjadi keharusan bagi seorang untuk ulama selalu hadir ditengah masyarakat, perannya sebagai sumber hukum dan penjelasan merupakan yang sangat substansial bagi masyarakat umum. Karena Nabi Muhammad SAW telah berpesan bahwa ulama adalah pewaris para Nabi. Nabi diutus sebagai pengajar maka ulama berkewajiban untuk mengajarkan perihal agama pada masyarakat setempat. Masjid sebagai asas ketakwaan merupakan rujukan bagi setiap umat muslim dalam mengatasi setiap perkara.

Begitupun Masjid Al Azhar, dengan maksud mengimbangi gencarnya perubahan yang terjadi di dunia yang memaksa lahirnya permasalah-permasalah yang semakin banyak maka dan juga demi tercapainya maksud masyarakat sekitar untuk mendapatkan legitimasi hukum yang jelas maka Masjid Al Azhar memiliki lajnah Ifta, Bagian Pengurusan Fatwa. Siapapun dapat mengajukan pertanyaan perihal agama pada Masyayikh yang selalu sedia menjadi sumber hukum yang dapat dipercaya. Meskipun  Al Azhar sendiri memiliki lembaga khusus Fatwa yang bersifat lebih umum yaitu Dar-l-Ifta, lembaga fatwa milik Al Azhar ini kerap menjadi acuan berbagai negara dalam menentukan hukum dalam setap permasalahan.

Dengan ini peran Masjid Al Azhar semakin terlihat di masyarakat. Hal ini tentunya semakin menampakkan peran sesungguhnya masjid, yaitu sebagai asas dari ketakwaan tadi (At Taubah 108). Masjid tidak hanya sebagai simbol tempat peribadatan namun juga menjadi simbol peradaban.

Masjid Warisan Arsitektur Islam Yang Fenomenal
Seperti telah disebutkan diatas jika disebut Mesir, maka kita langsung membayangkan negeri seribu menara, tentunya menara-menara tersebut mayoritas merupakan menara masjid. Uniknya, semua masjid yang ada di Mesir memiliki ciri khas masing-masing. Yang paling menonjol adalah gaya arsitekturnya. Setiap Dinasti yang berkuasa memiliki gaya arsitektur yang membedakannya dari dinasti kerajaan lainnya.

Begitupun Masjid Al Azhar, masjid yang dibangun pada masa Dinasti Fathimiyyah ini telah beberapa kali mengalmi perluasaan dan peremajaan. Diantara perluasan besar adalah yang dilakukan adalah pada masa Turki Usmani  (April 1776), pada masa Amir Abdurrahman KuthKhuda. Perubahan yang dilakukan cukup signifikan, yaitu sekitar setengah luas Masjid Al Azhar ketika itu. Maka tidak heran jika ukiran, dan kaligrafi yang menghiasi dinding masjid sangat bervarian.
Begitulah Masjid Al Azhar, wujudnya bukan sebatas lambang sebuah dinasti yang berkuasa pada zamannya, layaknya Masjid Ibnu Thoulun yang kini hanya seonggok bangunan besar yang bahkan untuk kegiatan sholat lima waktu saja tidak ada. Atau bukan hanya sebatas monumen sejarah kedatangan Islam di tanah Mesir layaknya mesjid Amru bin Ash. Masjid Al Azhar merupakan simbol keilmuan dan simbol peradaban yang hingga kini masih dapat dinikmati dan disaksikan.  

Masjid Simbol Keilmuan Islam Dunia
Inilah poin terpenting yang ingin penulis sampaikan. Tetapi, Mengapa dunia? Mungkin banyak yang mempertanyakan dan mepersoalkan. Dunia telah menjadi saksi bahwa Islam Moderat disebarkan melalui tiang-tiang masjid Al Azhar. Semua bisa dibuktikan melalui aktifitas yang berjalan sehari-harinya di Masjid Al Azhar. Dimulai dari aktifitas pembelajaran rutin yang diadakan oleh Masyarikh (Dewan Guru) Masjid, pelajaran-pelajaran yang diutamakan adalah pelajaran yang membangun intelektualitas murid.

Murid tak akan disodorkan dengan pelajaran yang memberatkan kadar pemahamannya, apalagi untuk sekedar mengetahui seluk-beluk permasalahan ikhtilaf. Guru kami di Al Azhar mengajarkan bahwa sangat tidak dianjurkan bagi seorang penuntut ilmu untuk memulai langkahnya dengan perbedaan pendapat. Sebaliknya, Al Azhar sangat menganjurkan muridnya untuk memulai memahami agama dari hal-hal kecil, dimulai dari matan-matan, buku-buku ringan dan hafalan Al Quran. Dari basis ilmu yang dasar ini perlahan penuntut ilmu akan meningkat sesuai dengan kemampuannya masing-masing.

Dilain sisi para imam yang memimpin agenda sholat lima waktu pun telah terseleksi dengan ketat. Dimulai dengan basis Qiraah yang dikuasai, hampir semua imam telah menyelesaikan Qiraaah Asyrah. Maka tak heran jika jama’ah akan disodorkan berbagai macam jenis qira’ah dalam setiap sholawat jahriyah (shubuh, maghrib, isya). Lantas para imam pun telah siap untuk mendengar keluh kesah para jamaah baik mereka tholibul ilmi ataupun masyarakat sekitar.

Selain itu Masjid Al Azhar sangat peka terhadap syi’ar-syi’ar keagamaan. Hampir disetiap perayaan hari-hari besar Islam pengurus Masjid Al Azhar akan mengadakan sebuah upacara ringan atau peringatan. Al Azhar tidak pernah mempermasahkan perbedaan pendapat tentang perayaan hari-hari tersebut. Karena disamping Al Azhar melakukannya atas dasar dan dalil yang jelas, dan juga Al Azhar meyakini bahwa syiar-syiar islam harus selalu dijaga untuk mengimbangi pengaruh dan arus buruk perayaan-perayaan lainnya.


Akhirnya penulis ingin mengutarakan bahwa tulisan ini bagai buih yang tak bernilai dibanding gulungan ombak kebaikan yang diberikan Masjid Al Azhar pada dunia. Sebagai buktinya, sudah tak terhitung lulusan Masjid Al Azhar yang mewarnai pemikiran dan peradaban islam dunia.  Sementara Universiatas Al Azhar? Universitas Al Azhar yang ada sekarang layaknya anak dari Masjid Al Azhar, namun asal tak mungkin terganti oleh apapun dan siapapun walaupun begitu baiknya pencapaian cabangnya. Sekian Wallahua’lam.(ibnuidris)
Mengapa Harus Masjid Al Azhar? Reviewed by Albi Ramadhan on 15.19.00 Rating: 5

Tidak ada komentar:

All Rights Reserved by IKPM KAIRO © 2014 - 2015
Designed by Themes24x7

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.