Ini Pesan Atdik Usai Tahlilan dan Shalat Ghaib - IKPM KAIRO

Kamis, 13 Juli 2017

Ini Pesan Atdik Usai Tahlilan dan Shalat Ghaib



            IKPM Kairo- “Kematian adalah sebuah keniscayaan”, tutur Athar Afif, Ketua IKPM Kairo periode 2016-2017, dalam mengawali sekaligus membuka acara doa bersama dan shalat ghaib pada Rabu (13/7), untuk almarhum Fikri Abdullah, Andi Antrian, Hidayatus Sholikhin dan Ali Akbar—Alumni Pondok Modern Darussalam Gontor yang belum lama ini meniggal dunia akibat terkena musibah.

            Dalam sambutannya, Atase Pendidikan (Atdik) Kairo, Dr.Utsman Syihab, menyampaikan bahwa hubungan manusia di Dunia ini meliputi beberapa hal; diantaranya adalah hubungannya terhadap Allah, terhadap manusia lain, kehidupan, serta hubungannya dengan akhirat. “Sebagai orang muslim, kita semua harus bisa me-manage atau mengatur hubungan kita dengan semua aspek dimensi tersebut. Karena itulah hakikat dari sebuah kehidupan yang kita jalani”, ujar Dosen UIN Syarif Hidayatulla Jakarta tersebut.

Doc : Suasana Perkumpulan pasca diadakannya shalat ghaib dan doa bersama
            Sarjana Akidah Filsafat Universitas al-Azhar tersebut menjelaskan bahwa hubungan manusia dengan akhirat atau yang biasa disebut ‘ilāqatu jazāin wa mas’uliyyatin’, kerap mengajarkan pada manusia bahwa adanya accountability dalam sebuah kehidupan. Seorang muslim tidak hidup dalam kesia-siaan, bahkan ia hidup dalam sebuah tanggungjawab yang nantinya akan ia pertanggungjawabkan di Akhirat kelak. Dan kita tidak pernah tau kapan kita semua akan dipanggil untuk diminta pertanggungjawaban.

            “Hidup adalah sebuah ujian, jika baik maka akan berupa nikmat, dan jika buruk maka akan berupa cobaan. Karena ujian akan datang dalam berbagai bentuk. Allah pun mengingatkan dalam al-Quran : ‘Wa nablūkum bi al-Syarri wa al-Khairi Fitnah…’ (kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan). Maka apapun bentuk ujiannya, kita dianjurkan untuk bersabar”, lanjut alumni Gontor 1988 tersebut.

            Selain mereka yang sedang diuji dengan kepergian para alumni kita, menurut pak Utsman, ada mereka yang diuji dengan kecintaan terhadap anaknya. “Karena cintanya yang berlebih pada anaknya, banyak orang tua mengabaikan sebuah keadilan. Maka kita harus mengingat kisah nabi Sulaiman yang berkata : “Hadzā min fadli rabbi liyabluwanī a-asykuru am akfur” (Ini semua anugerah Tuhanku, apakah aku akan bersyukur atau kufur…)”, sembari mengingatkan.   

            Menurut Doktor Akidah dan Pemikiran Islam Universitas Malaya tersebut, jika kita mengamalkan konsep “iyyaka na’budu waiyyaka nasta’in”, maka seharusnya kita akan selalu bersyukur serta meminta kepada Allah Swt. Karena lemahnya diri kita. Keyakinan ini harusnya membuat kaum muslimin  lebih semangat dalam membangun visi misi hidup dalam dirnya, tidak seperti peradaban barat, yang hanya memuja aspek dunia.

            Diakhir pak Utsman menasehati untuk selalu bersyukur dengan segala nikmat yang telah diberikan oleh Allah. “Semoga semua pihak keluarga dari almarhum mendapatkan ketabahan dan bisa menerimanya, serta ditempatkan diSurganya kelak”, tutupnya. 

Tidak ada komentar: