Sepucuk Surat Untuk Alumniku di Kairo Mesir, Dari Kampung Damai - IKPM KAIRO

Rabu, 05 Juli 2017

Sepucuk Surat Untuk Alumniku di Kairo Mesir, Dari Kampung Damai



Sebenarnya sudah sejak lama aku ingin menuliskan ini, namun tetap ku pendam sampai kiranya kau sendiri yang menyadari bahwa hal ini penting untuk selalu kau pegang. Kudengar Mesir adalah negeri segala, negeri yang dikata apapun ada. Allah Swt sampai mensifati Tanah Barokah ini dengan berbagai biji-bijian yang banyak tumbuh subur disana.

Hanya saja kau pasti tahu, rakyat Bani Israil ketika itu ingkar, maka dihukumlah mereka dengan hanya boleh memakan dua macam makanan. Kau tahu, ternyata hal tersebut merupakan tanda-tanda berkah Mesir, Negeri Para Nabi. Kau mau ilmu disana tempatnya, kau tak memiliki materi untuk belajarmu? Tenang disana kau bisa berusaha kecil-kecilan untuk sakumu, atau jika kau suka menggalang sebuah gerakan disanapun tempatnya, semuanya ada. Tapi sekali lagi kau harus ingat jangan sampai kau bertingkah layaknya Bani Israil, berlebihan hingga diazab oleh Allah Swt.
 
Aku sangat bangga dengan peran dan sosok kalian di ranah mahasiswa Indonesia yang berada di Mesir. Apalagi kudengar kondisi masyarakat disana sangat kompleks, semua aliran dan golongan melebur jadi satu. Namun kubangga padamu kau bisa aktif bergerak dimanapun kau berada, ku yakin kau pasti mengingat pepatahku kan? Taharrak Fainna Fil Harakah Barakah. Semua lini kehidupan masisir kalian isi dengan pergerakan, memang kalian sangat tidak bisa diam. Jangan diam nak, kalau kau diam kau akan merusak, merusak dirimu teman dan lingkunganmu.

Selanjutnya, nak kau adalah duta Pondok Modern, kemana kau melangkah wajah pondok kau bawa, spirit kyaimu ada dalam setiap gerakmu, maka jaga dirimu jaga temanmu dan jagalah nama almamatermu disana, kau masih ingat bahwa Pondok perlu dibela, dibantu dan diperjuangkan kan? Tapi ingat nak, membantu pondok harus dengan cara yang baik, hingga usahamu bukan hanya membantu pondokmu tapi juga dirimu sendiri, sebaliknya nak kalau kau bantu dan bela hanya dengan caramu tanpa kau timbang dengan matang ketahuilah justru itu membahayakanmu.Teruslah  maju nak, arahkan kawan-kawanmu untuk lebih taat pada Allah Swt dan mencintai Nabi-Nya.

Sejak dalam kandunganku kau dan temanmu adalah saudara, ingat kan aku tidak pernah membeda-bedakan siapa pun dirimu, dari mana asalmu, siapa orang tuamu, dan apa saja jasamu pada pondok, dan kau tumbuh dalam keadaan seperti itu, bersaudara. Ku yakin dengan pergolakan mahasiswa disana kalian pasti menemukan gesekan yang membuat kalian tidak sejalan, itu biasa kau tidak mungkin mengubah semua elemen, setiap dari kalian punya kecenderungan masing-masing, jangan kau paksakan kehendakmu pada lainnya. Teruslah jaga persaudaraan diantara kalian jangan hanya karena masalah kecil lantas kalian bermusuhan ingatlah kalian terlahir dari satu rahim, rahim Pondok Modern.

Nak, terakhir kunjungilah pondokmu, kembalilah padanya sebagaimana kau kembali pada ibumu. Jika kau ada waktu, datang, berceritalah padaku tentang negeri itu, Negeri Para Nabi. Ceritakan padaku tentang ikhlas dan lemah lembut ulamanya, ceritakan tentang lautan ilmu yang terkandung didalamnya, ceritakan padaku juga tentang dinamika masyarakatnya, ceritakan padaku tentang kawan-kawanmu disana. Kembalilah nak, Ibu tak akan pernah melupakan anaknya.

Teruslah berada di garda terdepan dalam kebaikan, cintailah almamater dan Al Azhar yang kini kau berada dalam buaiannya. Keluarkan usaha maksimalmu hingga kelak kau temukan dirimu telah berbekal cukup untuk kembali ke Indonesia, Tanah Airmu.  Salam dari ku, Darussalam Kampung yang selalu damai.


Dari Ibumu.

Tidak ada komentar: