Top Ad unit 728 × 90

Home

Kajian Reguler Nun Center : Perkembangan Kodifikasi Hadis dan Ilmu Mustholah Hadis

Doc : Anggota kajian Nun Center sedang berdiskusi

Al-Qur’an merupakan firman Allah swt.  yang menjadi pedoman bagi seluruh umat manusia di muka bumi. Ia telah melalui proses penulisan dan pengumpulan  sejak masa kenabian hingga masa kekhalifahan. Lain halnya dengan hadits, yang melewati fase lebih panjang dari al-Qur’an untuk mencapai proses kodifikasi. Dimulai dari penulisannya di atas shahifat-shahifat atau lembaran-lembaran oleh beberapa sahabat, pengumpulan lembaran tersebut di masa tabi’in, hingga kodifikasi lewat  karya yang dapat kita nikmati hasilnya saat ini, seperti Sohih dan Musnad milik ulama terkemuka.

Namun disisi lain banyak golongan yang datang untuk menentang keabsahan  hadist yang telah sampai kepada umat islam dewasa ini, dikarenakan jauhnya masa penyusunan hadits dari zaman periwayatan Rasulullah yang dipahami sebagai masa kekosongan dan berpotensi besar untuk disisipi oleh syubhat.

Untuk mengetahui lebih mendalam sejarah penulisan dan penyusunan hadits serta meruntuhkan keraguan autentisitas terhadap hadits,  Anizul Muttaqin,  selaku pemakalah Kajian Reguler Nun Center mengangkat sebuah tema ilmiah menarik bertajuk  "Perkembangan Kodifikasi Hadis dan Ilmu Mustholah Hadis" pada kajian Sabtu, (19/8).

“Saya ingin menguatkan bahwasanya hadits telah ditulis bahkan pada zaman nabi Muhammad SAW",  papar mahasiswa Fakultas Ushuluddin Universitas Al-Azhar,  Kairo, di awal penyampaian makalahnya. Kajian  kali ini cukup berbeda, mengingat kajian tidak dilaksanakan indoor seperti layaknya kebanyakan kajian,  melainkan di Hadiqoh Azhar.

Sebelum lahirnya Islam, Bangsa Arab dikenal ummy atau buta huruf. Namun setelah Nabi Muhammad saw. diutus sebagai Rasul, budaya tulis menulis meningkat karena Al-Qur’an datang sebagai sumber agama yang lazim ditulis. Kedudukan hadits sebagai sumber kedua agama islam setelah al-Qur’an  menjadikan sahabat benar-benar mempelajari dan menjaga pengamalannya dengan menggunakan metode khusus. Bahkan beberapa sahabat secara pribadi telah menulis hadits-hadits Nabi di atas pelepah kurma, kulit kayu dan tulang-tulang hewan. Namun Rasulullah masih melarang penulisan dan penyusunan hadits untuk menghindari percampuran al-Qur’an dengan hadits dan dikarenakan kemampuan sahabat yang masih kurang dalam hal kepenulisan.

“Awal mula kodifikasi hadits terjadi pada masa khalifah Umar bin Abdul Aziz pada tahun 99H-101 H.  Hal ini begitu urgensi untuk dilakukan dengan pertimbangan hal ini sangat penting—mengingat telah  tidak adanya larangan penulisan hadits, karena hafalan qur’an pada zaman ini telah menjadi budaya dan penulisan al-Qur’an telah jauh satu abad sebelumnya.  Walhasil,  sudah dapat dibedakan secara langsung mana al-Qur’an dan mana hadits, disamping adanya pertimbangan akan kekhawatiran hilangnya nash hadits” jelas Anizul.

Lebih jauh, upaya kodifikasi hadits pada saat itu juga dilakukan oleh Muhammad bin Syihab Az Zuhri,  yang juga menerima instruktur dari Umar bin Abdul Aziz. Meskipun penyusunan hadits oleh Az Zuhri belum terperinci, banyak para ulama yang mengikuti jejak dan metode beliau. Di antara metode kodifikasi dan karya yang terkenal dalam bidang tersebut seperti masanid, ma’ajim, jawami’, metode berdasarkan pembahasan fiqh, keshahihan hadits,  tematik, kitab ahkam, majami’, dan lain sebagainya.

Sehingga tidak benar bahwasanya hadits yang ada di zaman sekarang tidak autentik, karena para sahabat dan tabi’in telah menjaga keabsahannya dari awal penulisan  sampai akhirnya dapat kita selidiki mana hadits shahih dan mana hadits palsu, karena telah ada disiplin ilmu yang merangkum kaidah tersebut. Adapun jauhnya masa kodifikasi dengan masa periwayatan, dikarenakan fokus nabi di saat itu tertuju pada aqidah dan akhlaq serta al-Qur’an sehingga beliau melarang penulisan hadits pada zaman beliau.

Kajian ini dibagi menjadi beberapa sesi ; pemaparan makalah, pertanyaan teks, pertanyaan konteks, dan ditutup dengan tambahan dan sesi kritik. Ikut Menerawang suasana diskusi kali ini, senior kajian Nun, Abdul Kholiq Muhsin, Lc, mahasiswa S2 yang sudah banyak bergelut dengan hadits. Peserta kajian pun sangat antusias dengan tema yang diangkat oleh pemakalah.

Pertanyaan yang bergulir tidak hanya sebatas apa yang tertulis pada makalah, namun pada hal-hal yang berkaitan erat dengan proses penulisan dan penyusunan hadits, seperti pertanyaan tentang asal muasal isnad, semangat kepenulisan bangsa arab terhadap kepenulisan ilmu-ilmu, ataupun tentang hadits da’wah yang berbentuk surat pada zaman rasul. Dengan berakhirnya kajian dengan durasi  7 jam kali ini, besar harapan bahwa kajian Nun dapat melebarkan sayapnya dan melahirkan cendekiawan-cendekiawan islam yang mewarnai peradaban.

Rep : Luthfiah Muflihah
Red : Bana Fatahillah



Kajian Reguler Nun Center : Perkembangan Kodifikasi Hadis dan Ilmu Mustholah Hadis Reviewed by fatahillahbn on 14.53.00 Rating: 5

Tidak ada komentar:

All Rights Reserved by IKPM KAIRO © 2014 - 2015
Designed by Themes24x7

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.