Adakan Rihlah Azhariyyah, IKPM Kairo Kenalkan Maba Tentang Keazharan - IKPM KAIRO

Minggu, 15 Oktober 2017

Adakan Rihlah Azhariyyah, IKPM Kairo Kenalkan Maba Tentang Keazharan


Dalam rangka pengenalan tempat-tempat u ntuk memperkaya ilmu di Mesir, Ikatan Keluarga Pondok Modern (IKPM) Cabang Kairo adakan “Rihlah Azhariyah” (15/10) yang mencankup ziarah Makam para ulama besar, Masjid al-Azhar, berbagai madhiyafah dan maktabah. Acara ini diikuti seluruh maba IKPM juga beberapa senior yang memandu perjalanan setiap kelompok. Al-Azhar, sebagai masjid yang didirikan pada tahun 972 H dan merupakan masjid tertua ketiga di Mesir  setelah Masjid Amr bin Ash dan Masjid Ibnu Tulun,  menjadi destinasi pertama dalam rihlah kali ini  

Dalam perkumpulan di Pelataran Masjid al-Azhar, Fikri Hakim, salah satu senior IKPM yang juga merupakan murid dari Syekh Hisyam Kamil al-Azhari, menyuguhkan pada Maba IKPM  berbagai hal terkait pengajian atau talaqi; dari bagaimana kita memilih syekh, manfaat dari talaqi, memilih guru dan lain sebagainya.

“Dengan mengaji kepada Syekh, kita akan mendapatkan berkah dari ulama, Karena Rasulullah Saw.  mengajarkan imu kepada sahabat, sahabat mengajarkan ilmu kepada thabi’in hingga sampai kepada para masyayikh saat ini. Itu sebabnya nafas yang kita hirup di bumi kinanah ini adalah nafas Rasulullah Saw.” ujar Fikri

Masjid Al-Azhar telah melahirkan banyak ulama yang dibincangkan oleh dunia saat ini, diantaranya adalah Imam Bajuri. Imam Bajuri adalah salah satu ulama besar bermadzhab Syafi’i yang  telah menulis Hasyiah atas syarh Fath al-Qorib yang mana menjadi panduan dan dasar pelajaran fikih di Indonesia. Qois Mawardi, salah satu pembimbing rihlah, menceritakan, saat Imam Bajuri belajar di Mesir selama kurang lebih dua puluh tahun, ia pun berputus asa karena merasa  tidak mendapatkan apa-apa. Saat menginjaki pintu keluar al-Azhar, ia melihat semut yang naik ke tiang sampai sembilan belas kali lalu jatuh lagi. Namun pada usahanya yang kedua puluh, semut tersebut sampai ke atas. Dengan melihat fenomena tersebut bangkit dan berkobarlah semangatnya kembali.   

Alumni Gontor tahun 2013 tesebut menjelaskan bahwa di Mesir bukan syekh yang mencari murid, melainkan murid yang mencari syekh. Menurutnya, jika ingin mendapatkan banyak ilmu dari syekh, maka  kita harus sering datang ke majlis dan bermulazamah. Dari situ Syekh akan sering memandang kita dan mengenal, dan nantinya kita akan punya pandangan yang diberikan syekh sehingga memmudahkan kita dalam futuh dan menyerap ilmu. “Setiap ulama pasti ada kesalahan, tapi bagaimana kita menyikapinya. Apakah kita harus menyebarkan aib ulama tersebut kepada orang lain? tentu tidak, kita harus diam tanpa membicarakan kesalahan ulama”, ujarnya

Di Mesir harus berani untuk lelah menuntut ilmu, jangan putus asa, jika kita malas, lebih baik di rumah, membaca buku, jalan-jalan, tetapi saat pulang ke Indonesia tidak mendapat sesuatu yang bermanfaat. Al-Azhar bukan lembaga yang mudah, semua masih tradisional. Karena kita sebagai mahasiswa kita harus sering mengunjungi tempat talaqi salah satunya di Madiafah. Kita datang ke tempat, baru memilih syekh yang cocok, dan sebisa mungkin kita hanya memegang satu syekh dan yang lain hanya menjadi tambahan.

            Usai perkumpulan di al-Azhar, seluruh camaba dibagi dalam beberapa kelompok untuk mengunjungi destinasi-destinasi sekitar al-Azhar, dari Madyafah, Makam dan maktabah. Adapun destinasinya adalah; Masjid Sayyidina Husein, Madyafah Syekh Said Imran ad-Dah, Madyafah Syekh Ismail, Raudhoh Naim, Makam Imam Badruddin al-‘Aini, Makam Imam Ahmad Ad-Dardiri dan Maktabah-maktabah yang dilewati ditengah perjalanan. Usai rihlah, mereka semua berkumpul di Sahah Indonesia.


Rep/Red : Naili/Bana 

Tidak ada komentar: