Top Ad unit 728 × 90

Home

Beberapa Cara dan Nasehat dalam Membeli Buku-Buku Turats



Oleh: Salman Abdurrubi Perwiragama

Imam as-Syatibi dalam kitab al-Muwafaqat menuliskan bahwa ada dua cara memperoleh ilmu. Pertama, dengan menerima pemahaman langsung dari para ahlinya ketika pembelajaran atau talaqqi. Kedua, dengan memahami dari membaca buku-buku ilmiah yang telah ditulis oleh para ahlinya. Dalam buku How to Read a Great Book, Mortimer J. Adler mengistilahkannya sebagai guru yang tidak hadir.

Menjadi mahasiswa yang sadar akan hal tersebut tentu akan memilih cetakan buku yang baik sebelum memulai membaca dan memahaminya. Maksud dari baik adalah minimalisasi kesalahan yang terjadi. Kemungkinan lain dari makna baik adalah berkualitas dengan arti; kertas bagus, font tulis yang jelas, lay-out yang menarik, deluxe cover, dan lain-lain. Namun apakah hal ini menjamin kemungkinan kesalahan yang minimal dari hilangnya huruf, perubahan diksi, dan sejenisnya? Ada kemungkinan lain dari makna baik yaitu, meskipun cetakan biasa-biasa saja, kebalikan dari kemungkinan pertama, namun cetakan ditahkik oleh seorang muhaqqiq yang ahli di bidangnya.

Buku-buku turats mempunyai jarak dan rentangan waktu yang panjang hingga menjadi buku-buku yang dijual di berbagai buku saat ini. Rentangan tersebut bermula dari tangan penulis asli kemudian ditulis ulang oleh orang lain dalam bentuk manuskrip. Kemudian setelah penulis asli meninggal, buku tersebut ditulis ulang oleh orang lain. Demikian seterusnya manuskrip ditulis ulang oleh orang yang berbeda di setiap masa hingga pada akhirnya dicetak dengan mesin offset, yang kemungkinan dicetak ulang dengan mesin cetak laser terbaru hingga sampai ke pasar dan toko-toko buku saat ini. Pada retangan tersebut kemungkinan-kemungkinan kesalahan banyak terjadi, diantara kesalahan penulis ulang –faktor internal-, hilangnya beberapa tulisan dari buku dikarenakan faktor eksternal, dan lain sebagainya.

Dalam buku Mi’yar al-Ilm, Imam al-Ghazali menyebutkan ada empat tingkatan perwujudan keilmuan, yaitu; wujud pada realita, wujud dalam pikiran, wujud dalam bentuk perkataan, dan wujud dalam bentuk tulisan. Maka apa yang dibaca dari suatu buku keilmuan itu, bukanlah ilmu itu sendiri. Sehingga apa yang dituliskan Imam as-Syatibi dalam cara memperoleh ilmu tidak akan terlepas dari aktifitas keilmuan mahasiswa saat ini.

Berdasarkan hal-hal diatas akan muncul pertanyaan, lantas bagaimana cara dan nasehat-nasehat memilih buku yang baik guna mengurangi kesalahan-kesalahan dalam membaca dan memahami teks-teks yang mewakili makna yang terkandung dari buku tersebut. Sehingga apa yang dipahami oleh pembaca, khususnya pelajar, sesuai apa yang diinginkan oleh penulis buku turats tertentu atau ahli ilmu tersebut?

Berikut jawaban dari Syekh Ahmad Husein al-Azhary, penulis buku al-Mathali’ fi Ādaab al-Muthali’ dan Ihya Sanad al-Ilm:

1. Pada dasarnya, dalam memilih buku-buku turats ilmiah diperlukan untuk bertanya kepada ahli yang menekuni bidang tersebut, dengan kata lain, pengalaman mereka yang telah bergelut dengan bidang tersebut lebih diutamakan dari pada tips, trik, serta cara-cara yang diberikan oleh orang lain.

2. Akan tetapi, ada beberapa hal atau nasehat yang mungkin bisa digunakan untuk memandu seorang pelajar untuk memilih buku-buku yang baik dan berkualitas, diantaranya:

a.  Cari tahu tentang penerbit – penerbit yang mencetak suatu buku tertentu sebelum membeli. Sebagai contoh, ketika ingin membeli buku Ihya Ulum ad-Din, carilah cetakan yang tertulis di daftar pustaka buku-buku ilmiah yang lain atau dengan cara serupa.

b.  Jangan bergantung kepada apa yang terkadang disarankan oleh penjual buku bahwa buku tersebut bagus. Kebanyakan toko buku selalu mengatakan bahwa buku cetakan yang ia jual memiliki kualitas yang bagus. Namun hal ini tidaklah selalu demikian.

c.  Seorang muhaqqiq buku sudah seharusnya menjadi orang yang ahli dan mutakhassis atau seorang spesialis dalam menekuni tema buku tertentu. Sebagai contoh, ketika ingin membeli buku ilmu Mushthalah al-Hadits, muhaqqiq ahli di bidang tersebut adalah Dr. Hasan Hito, dan lain-lain.

d.  Gunakanlah petunjuk dengan bertanya kepada beberapa penerbit di setiap cetakan, di sini, peran penerbit yang didirikan oleh para ulama jelas berbeda dengan penerbit – penerbit yang didirikan oleh para pengusaha atau bisnisman.

e.  Apabila ada cetakan terbaru diantara yang lain, lihat dan bacalah kata pengantar cetakan terbaru tersebut, apakah muhaqqiq menyebutkan cetakan sebelumnya dan telah melakukan beberapa usaha pembaharuan dari cetakan sebelumnya ataukah tidak? Seandainya tidak ada, maka hal tersebut menimbulkan ‘dugaan’ bahwa cetakan baru tersebut terdapat cacat di dalamnya.

f.  Berpeganglah pada cetakan-cetakan yang memiliki keterkaitan satu sama lain terutama buku-buku ensiklopedis yang banyak dirujuk oleh khalayak.

g.  Terkadang diperlukan untuk membeli beberapa cetakan berbeda untuk suatu buku tertentu dan melakukan interaksi dengan cetakan-cetakan itu seakan mereka adalah manuskrip dan bandingkan satu sama lain dalam teks-teks atau diksi-diksi yang dirasa ada masalah di dalamnya.

h.  Bacalah kata pengantar buku dengan teliti dan cermat, kemudian setelah itu cobalah untuk menerapkan apa yang ‘dijanjikan’ muhaqqiq buku dalam kata pengantar dengan hasil usahanya terhadap buku yang ia tahkik -Apakah sesuai yang ia janjikan?-

i.  Jauhilah -jangan sampai- membeli cetakan-cetakan curian, [ada pertanyaan: bagaimana mengetahui itu cetakan curian? Apakah ada ciri-ciri nya?]. Terdapat beberapa penerbit yang dikenal banyak mencuri cetakan buku, maka berhati-hatilah!

j.  Pastikan atau verifikasikan bahwa buku -yang akan dibeli- tidak ada kekurangan di dalamnya, cara mengetahuinya adalah dengan me-review [topic utama/kepala] dalam setiap bagian dan bab, kemudian lihat pula kalimat utama dari setiap paragraf dan mengikuti [alurnya].

Demikian apa yang bisa disampaikan secara ringkas, adapun masih terdapat hal-hal lain lebih banyak dari pada yang disebutkan di atas. Dan tetaplah selalu memprioritaskan hal utama, yang didahulukan sebelum nasehat-nasehat diatas, yaitu bertanya kepada ahli yang menekuni suatu bidang ketika ingin membeli suatu buku. Maka apabila anda ingin membeli buku ilmu kalam, bertanyalah kepada ulama ilmu kalam. Atau membeli buku usul fikih, bertanyalah kepada ulama usul fikih, dan sebagainya. Semoga Allah Swt memberikan taufik dan memberkati kalian semua, para penuntut ilmu. []
Beberapa Cara dan Nasehat dalam Membeli Buku-Buku Turats Reviewed by fatahillahbn on 09.31.00 Rating: 5

Tidak ada komentar:

All Rights Reserved by IKPM KAIRO © 2014 - 2015
Designed by Themes24x7

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.