Takrim Mutafawwiqin, Merintis Arus Baru; Azhari-Gontori - IKPM KAIRO

Jumat, 13 Oktober 2017

Takrim Mutafawwiqin, Merintis Arus Baru; Azhari-Gontori



                Ikpmkairo.com- Sudah menjadi agenda tahunan bagi Ikatan Keluarga Pondok Modern (IKPM) Cab. Kairo adakan acara Takrimul Mutafawwiqin untuk warga IKPM yang berprestasi dibidang akademis. Agenda yang diadakan pada Kamis (12/11) ini, mengangkat tema “Merintis Arus Baru; Azhari-Gontori” dan berlangsung di aula DAHA KMJ, Madinat Nasr, Hay Asyir.

                Di awal pembicaraannya, M.Rifqi Arriza, mahasiswa S2 al-Azhar Jurusan Tafsir, mengingatkan bahwasannya seorang Azhari bukan hanya belajar di perkuliahan, akan tetapi haruslah diimbangi dengan asupan talaqqi ataupun kajian. Menurutnya,  belajar di kuliah tidak sebanyak apa yang kita dapat ketika mengikuti talaqqi ataupun kajian, belum lagi sistem pembelajaran yang hanya dibatasi dengan muqorror atau diktat perkuliahan. Sebab yang dibahas di talaqqi mulai dari muqoddimah hingga ikhtitam buku. “Diktat itu hanya bersifat parsial, jadi pengetahuan kita hanya terbatas pada apa yang menjadi kurikulum perkuliahan” terang Rifqi.

                Alumni Gontor tahun 2003 tersebut selanjutnya menerangkan bagaimana langkah yang kita lakukan dalam dunia per-talaqqi-an. Talaqqi haruslah diimbangi dengan muthola’ah atau menelaah dan mudzakaroh atau mengkaji materi yang akan diikuti dan telah diikuti. Karena akan kurang bermanfaat jika hanya mendengarkan tanpa mengulang apa yang telah disampaikan oleh para masyayikh. Terlebih lagi jika dapat mengaplikasikan dalam sebuah forum kajian, hal itu akan menambah point plus dengan apa yang telah dipahami.

           “Dalam sebuah kajian, kita dapat beradu argumentasi dengan pemahaman teman-teman kajian, karena setiap orang mempunyai tingkat pemahaman dan fikiran yang berbeda”, tegas Rifqi.    
            
           Mengenai tema takrimul mutafawwiq, beliau menerangkan, bahwa sebagai alumni Gontor yang telah dididik secara mental,  selanjutnya di Al-Azhar kita dididik untuk menjadi seorang ulama. Maka, ketika syekh Ahmad Thoyyib ditanya tentang pemberian beasiswa kepada 50 santri Gontor, beliau berharap agar nantinya menjadi pemimpin yang bermental dan berilmu mumpuni.

Di akhir pembicaraan, beliau mengingatkan untuk mengatur waktu dan prioritas dalam memilih sistem pembelajaran yang ada, karena Azhar menganut dua sistem, yaitu jami’ yang berkenaan dengan talaqqi dan jami’atan yang berkenaan dengan kuliah, dan keduanya harus mengatur waktu dan prioritas.

                Sebelum penghujung acara, Muhammad Fatihul Muzakki, salah satu penerima penghargaan menyampaikan pesannya. Bahwasannya mutafawwiq tidak hanya cukup dengan predikat jayyid jiddan atau mumtaz, karena hakekatnya mutafawwiq itu mathlub atau diharapkan tapi bukan ghoyah atau tujuan. Sedangkan ulama-ulama terdahulu mereka tidak berpredikat jayyid atau mumtaz, namun mereka terkenal dengan keahlian dalam bidang ilmu tertentu, misalnya muhaddits, mufassir, dsb.
             
         Setelah pemberian materi, acara dilanjutkan dengan pemberiaan penghargaan kepada para warga IKPM yang berprestasi. Dan ada yang berbeda ditahun ini, untuk pertama kalinya, calon mahasiswa baru dari warga IKPM mendapatkan hasil Mutamayyiz pada ujian tahdid mustawa di Markaz Lughoh Syekh Zaid. Acara diakhiri dengan doa dan dilanjutkan dengan ramah tamah.


Rep/Red : Nurman/Bana

Tidak ada komentar: