Gontor; Refleksi Ekonomi Proteksi - IKPM KAIRO

Minggu, 05 November 2017

Gontor; Refleksi Ekonomi Proteksi



Oleh : Maulina Dewi R

 “Apa yang membedakan Hotel dengan Pondok Pesantren ?”. Pertanyaan ini kerap dilontarkan pak Kiai dalam penyampaian diktat kepondokmodernan saat deklarasi Pekan Perkenalan Khutbatul Arsy (PKA) di Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) setiap tahunnya, mengundang makna filosofis tersendiri bagi pendengarnya. Sebenarnya, apa yang membedakan antara pondok dan hotel?

Jika dibangun dengan megah, berdesain selektif, berarsitektur handal hingga dipekerjakannya pekerja bangunan berstandar internasional, dilanjutkan dengan menyebar iklan ke seluruh penjuru guna mengundang para pengunjung agar mencicipi fasilitas yang telah dirancang sejak lama tersebut, apa ini yang disebut pondok? Lalu, apa sebenarnya titik tempuh sebuah tempat maupun bangunan disebut sebagai pondok?

Pak Kiai juga menegaskan dalam selipan pidatonya bahwa pondok pesantren ada dalam jiwa seseorang yang haus ilmu, mendatangi seorang guru dengan modal tekad dan ambisi, bersimpuh meniti jejak figur yang dikaguminya. Tidak ditemukan istilah menjawab pada setiap petuah yang disampaikan, tidak ada pula kata menolak dalam segala bentuk perintah, karena ia percaya rida gurunya mampu mengantarkannya ke pulau impian. Daripada itu,  meski ruangan yang tersedia belum mampu memenuhi segala kebutuhan, tidak sama sekali mempengaruhi spirit menimba ilmunya.

Begitupula yang direfleksikan oleh sejarah Pondok Modern Darussalam Gontor yang jika kita buka kembali lembarannya, akan tergambar nuansa perjuangan dan pengorbanan yang dikerahkan para pendirinya. Dimulai saat beberapa orang laki-laki menghampiri kediaman K.H. Imam Zarkasyi -salah satu pendiri Gontor- untuk menimba ilmu. Karena keterbatasan, maka Pak Zar, sapaan akrabnya kala itu, menjadikan  rumah pribadinya sebagai madrasah tanpa dipungut biaya sepeserpun.

Seiring berjalannya waktu, usaha Pak Zar mulai berkembang, santri berbondong-bondong mendatangi kediamannya, hingga jumlah santri yang semakin banyak menyebabkan kurangnya fasilitas kamar mandi. Hal ini menggerakkan hati nurani istri Pak Zar untuk menjual satu-satunya mesin jahit miliknya, bahkan menjual perhiasan yang tersimpan dalam almarinya guna membangun kamar mandi santri. Ini dapat dijadikan bukti bahwa Gontor tidak serta merta berdiri kokoh.

Barulah di tahun 1926 M, Pondok Modern Darussalam Gontor diresmikan berdiri sebagai lembaga pendidikan islam yang bersistem asrama. Gontor  memiliki moto untuk selalu menopang tubuhnya diatas kaki sendiri. Ini direfleksikan dalam panca jiwa Pondok Modern, khususnya dalam nilai kemandirian yang diaplikasikan mulai dari sistemnya, nilai-nilainya, kurikulumnya, hingga perekonomiannya. Tidak bergantung kepada lembaga manapun, bahkan tidak juga pemerintah.

Dalam upaya resistansi dan peningkatan kualitas santri, pendiri Gontor menganut prinsip ekonomi proteksi. Dimana semua kebutuhan komunitas pondok dipenuhi oleh mekanisme berbagai unit usaha yang dikembangkan oleh pondok sendiri. Usaha mandiri yang didirikan pondok berawal dengan cara pengumpulan dana, dari setengah sen, satu sen, sebenggol, dan seterusnya. Adapula yang berupa ayam, kambing, padi, dan sebagainya. Sayangnya, usaha ini hanya berjalan beberapa tahun. Keuntungan tidak berpihak padanya dan kemalanganpun tidak dapat ditolak, karena binatang ternak yang sudah berkembang itu terjangkit penyakit.

Dalam masa perkembangan ini, usaha khizanah selalu mengalami pasang surut yang tidak menentu. Kendati demikian sang pendiri masih terus berusaha. Cita-citanya untuk mewujudkan madrasah umat tidak pernah padam. Usaha yang gagal dijadikan pedoman dan pelajaran yang baik, sehingga langkah-langkah baru terus dicari.

Pada tahun 1953 M, Gontor mulai mendirikan toko koperasi pelajar yang menyediakan seluruh kebutuhan santri sehari-hari. Dimana tulang punggung operasional unit usaha ini adalah para guru dan santri-santri yang notabene tidak diberikan hak royalti. Usaha ini bertujuan sebagai profit, unit usaha tersebut juga menjadi ajang latihan dalam bidang entrepreneurship. Mereka mengelola dengan penuh keikhlasan, kejujuran, dan keterbukaan. Sehingga kalimat “Administrasi yang rapi wajib (mutlak) untuk menjaga kepercayaan”, dijadikan slogan resmi yang terpajang di setiap dinding unit usaha.

Para pendiri dan pengasuh PMDG juga berusaha menekankan kepada santrinya nilai kemandirian dalam setiap wejangan. Misalnya, “Jangan bercita-cita menjadi pegawai, jadilah orang yang punya pegawai”. Ini disebutkan dalam pesan K.H. Imam Zarkasyi, yang terus ditanamkan pada santri hingga sekarang. Nasehat itu bagaikan doktrin bagi santri-santri Gontor agar mampu menciptakan lapangan pekerjaan sendiri.

Karena pelaku pengelolaan unit-unit usaha adalah santri dan para guru, maka hasil sepenuhnya juga ditujukan untuk santri dan guru, sehingga perkembangan yang pesat dapat diraih bersama. Dari prinsip kebersamaan inilah unit-unit usaha di Pondok Gontor disebut koperasi. Karena pada dasarnya, usaha ini merupakan usaha yang hasilnya untuk mencukupi kebutuhan bersama, yaitu santri, guru, pengurus, dan lain sebagainya dalam melangsungkan proses pengajaran dan pendidikan. Selain itu, agar dapat menunjang terlaksananya panca jangka Pondok Modern Darussalam Gontor yang sudah dirumuskan.

Pada mulanya, unit-unit usaha ini memang belum berbadan hukum. Tetapi berkat kerja keras dan kepasrahannya kepada Allah, dibentuklah sebuah koperasi yang berbadan hukum dengan nama “Koperasi Pesantren La Tansa” Pondok Modern Darussalam Gontor. Didirikan pada tanggal 29 juli 1996, nomor 8371/BH/II/1996. Berlokasi di Ds. Gontor kec. Mlarak kab. Ponorogo, Jawa Timur.

Mekanisme Koperasi Latansa semakin tahun semakin berkembang pesat dengan beriringnya perkembangan dan kemajuan pondok. Sejak berdirinya koperasi hingga sekarang, ia mampu menelurkan  cabang usahanya hingga mencapai 30 unit usaha dengan omzet puluhan miliar rupiah pertahun. Dari toko buku, toko olahraga, toko bangunan, percetakan, penggilingan padi, toserba, grosir, warung bakso, kedai fotokopi, apotek, pabrik es, jasa angkutan, penggemukan sapi, budi daya ayam potong, pabrik roti, kerajinan sandal, wisma darussalam, DCC , DDC , konveksi, es krim, TPST, pabrik air minum, dll. Semua unit usaha ini berada dibawah payung Koperasi Pondok Pesantren (Kopontren) La Tansa.

Meskipun  santri, guru dan pengurus diberi kebebasan untuk mengurus dan mengelola unit-unit usaha ini, tetapi mereka tetap berjalan dibawah bimbingan dan pengawasan Bapak Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor (sebagai pembina), ketua YPPWPM (sebagai pengawas) dan pengurus Kapontren La Tansa, sehingga sistem tidak dimonopoli sesuai dengan kehendak pribadi.




Tidak ada komentar: