Top Ad unit 728 × 90

Home

Pemetaan Ilmu Syariah dan Peran Manhaj al-Ilmi : Mengulas Singkat Kitab “At-Turuq Al-Manhajiyyah”



 Oleh : Bana Fatahillah 

           Dalam kitab Ta’lîm al-Mutaallim, Imam Zarnuji mengutarakan sebuah permasalahan besar yang mana menjadi cikal bakal dibentuknya kitab tersebut. Ia mengatakan, “Saat ini saya memperhatikan bahwasanya banyak dari para pelajar yang bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu namun mereka tidak sampai pada apa yang mereka tuju; baik manfaat dan hasilnya”. Keprihatinan ini akhirnya dijawab dengan kitab Ta’lîm al-Mutaallim tersebut yang berisikan sebuah solusi yang menuntun para pelajar agar sampai pada tujuan mereka.

            Memiliki keresahan yang sama dengan Imam Zarnuji, Syekh Musthafa Ridho al-Azhary, salah seorang ulama muda milik al-Azhar, membuat kitab bertema “Al-Turuq al-Manhajiyyah fî Tahṣîl al-‘Ulûm al-Ṣar’iyyah”, sebagai panduan bagi para pelajar sebelum melangkah lebih jauh pada luasnya keilmuan Islam atau yang sering kita sebut dengan ilmu syariah.  

Menurut penulis kitab di atas, definisi ilmu syariah dapat dilihat dalam dua sisi. Pertama, yaitu kumpulan hukum-hukum yang diturunkan pada nabi-Nya melalui perantara wahyu (majmû’at al-ahkâm allatî nuzzilat ‘an al-Nabiy min tharîq al-Wahyi). Kedua, yaitu sesuatu yang mengantarkan pada pemahaman hukum-hukum tersebut (wa mâ yuwaṣṣilu ilâ fahmi hâdzihî al-ahkâm). Dan inilah nanti yang akan membagi ilmu syariah tersebut pada dua bagian; ilmu maqâsid dan ilmu wasâil.

Dinamakan maqâsid, karena hal itu mencangkup pada tujuan yang mana dengannyalah diciptakan manusia, yaitu untuk beribadah dan mengesakan Allah (‘ibadah wa al-Tawhîd) yakni akidah, struktur dan keberlangsungan hidupnya di dunia (‘imarah wa al-Ta’mîr) yakni syariah dan penyucian diri (tazkiyah al-Nafs) atau tazkiyah. Adapun dinamakan wasâil, karena dengannyalah dapat mengantarkan pemahaman kepada ilmu maqâsid.

Bagian pertama mencangkup hukum-hukum kepercayaan (i’tiqâdiyyah), seperti ilmu akidah, lalu amalan (amaliyyah), seperti ilmu fikih dan yang terakhir tabiat (wijdâniyyah), seperti ilmu tasawuf. Adapun bagian kedua, yaitu ilmu wasail, atau ilmu yang mengantarkan kita pada pemahaman hukum dan tujuan tersebut, dapat kita bedakan menjadi empat. Ada yang memperkokoh keabsahan lisan, seperti ilmu nahwu; ketajaman dalam berfikir, seperti ilmu mantiq; ketelitian dalam suatu kepercayaan, seperti ilmu mustolahul hadis, dan intisari pada kesimpulan sebuah dalil syariah, layaknya ushul fikih.

Selanjutnya penulis menjelaskan makna judul yang tertera pada kitabnya. Kata “turuq” bisa diibaratkan peta yang menuntun perjalanan seseorang ketika menyusuri perjalanan darat, air ataupun udara. Jika  tidak mempunyai peta, maka seseorang  tidak akan tau kemana ia pergi. Sama halnya dengan para magister yang ingin memulai penulisan tesisnya, tentu yang pertama dilakukan adalah membuat khiṭṭah (outline). Seorang pelajar hendaknya memiliki sebuah peta yang dapat menemaninya dalam rihlah ilmiyyah, yakni saat kita belajar, yang mana itu adalah manhaj.

           Adapun Manhaj, Ibnu Faris dalam Maqâyîs al-Lughah mengartikan sebagai jalan yang jelas (al-Tharîq al-Wâdih). Perbedaan manhaj dan minhaj adalah, bahwasanya manhaj hanya sebatas jalan yang jelas, namun jika jalan tersebut dilalui oleh berbagai orang maka disebut minhaj. Manhaj milik Azhar ialah sebuah bangunan yang tersusun atas pondasi; akidah Asy’ari dan Maturidi, fikih empat mazhab dan tasawuf yang terhindar dari khurafat dan syirik, sebagaimana yang termaktub pada hadis Jibril yaitu Iman, Islam dan Ihsan.

Tugas dan peran manhaj adalah untuk memperluas nalar seseorang dalam melihat sebuah dalil. Maka disinilah penulis mengedepankan perbedaan ilmu dan maklumat yang menjadi inti dari pembahasan manhaj al-‘Ilmi. Menurutnya, ilmu ialah yang berupa metodologi dan piranti (manhaj wa adawât), adapun maklumat ia merupakan bacaan atau pengetahuan sepintas (qira`ah min hunâ ila hunâka). Diriwayatkan, Ibnu Abbas Ra. (ṣâhib al-‘Ilmi) pernah menjawab pertanyaan Nafi Ibnul Azraq (ṣâhib al-ma’lûmât) yang tidak percaya akan kisah Hud-hud yang dapat mengetahui air dibawah tanah. Ibnu Abbas menjawab; “Apabila datang kehendak, maka mata akan dibutakan dan tidak ada kekhawatiran (Idzâ jâ`a al-Qadr, ‘amiya al-Baṣar, wa dzahaba al-Hadzr)”, yang mana merupakan sebuah kaidah ilmu, bukan sekedar maklumat semata.

Dalam ilmu haruslah ada rukun-rukun yang harus terwujud hingga ia dikatakan ilmu, sehingga ia tidak dikatakan sebagai maklumat, yaitu; murid (thâlib), guru (ustâdz), buku (kitâb), metodologi pembelajaran (manhajiyyat al-Ta’allum), dan lingkungan belajar (al-bîah al-‘Ilmiyyah).

Manhaj al-‘ilmi dalam pandangan Islam dapat didefinisikan sebagai: cara pandang universal yang menghasilkan berbagai prosedur. (ru`yatun kulliyyatun yanbatsiqu anhâ ijrâ`ât). Dari definisi tersesbut dapat ditarik tiga komponen penting dalam manhaj ilmi; (i) cara pandang universal (ii) alat-alat untuk mendapatkanya (iii) pekerjaan-pekerjaan dalam memenuhi prosedur tersebut. Ketika dihadapkan suatu permasalahan atau nash, maka seseorang pelajar hendaklah melihat ke berbagai pandangan dengan menggunakan alat (berupa ilmu) dan pekerjaan-pekerjaannya hingga sampai pada suatu kesimpulan dan jawaban atas sebuah permasalahan. (selengkapnya lihat Al-Turuq al-Manhajiyyah, hal. 36)     

Untuk dapat menguasai alat-alat tersebut serta prosedur untuk pada sampai pada kesimpulan suatu masalah, seorang pelajar haruslah melangkah pada jalannya, yakni dari awal mereka melangkah. Pada fase ini, seorang pelajar hendaklah melalui setiap tingkatannya (mustawâ) dalam belajar; dari pemula (al-Mubtadi`în) pertengahan (al-Mutawassit) lalu tertinggi (al-Muntahî). Begitupun juga dalam kitab-kitab yang ia baca. Seorang mubtadi haruslah memulai dengan buku-buku atau pelajaran yang dikhususkan untuk para mubtadiin, sehingga nantinya tidak salah jalan dan dapat sampai pada tujuan yang diinginkan.

Dalam fikih, misalnya. Sebagaimana ulama-ulama mutaakhirin yang telah ber-khidmah pada guru-gurunya dengan membuat matan, syarh, dan hasyiyah, untuk menjelaskan maksud dari apa yang telah disampaikan oleh Imam Mazhab mereka, kita hendaknya juga memulai dengan kitab-kitab yang dibuat oleh mereka sebelum sampai pada kitab Imam Mazhab. Bukan langsung melompat pada kitab-kitab induk, seperti al-Umm milik Imam Syafi’i, bahkan langsung loncat pada al-Quran dan sunnah. Karena mereka membuat ini semua tidak lain dan tidak bukan agar kita dapat memahami kandungan isi al-Quran dan sunnah. Inilah mengapa pelajar mesti menyadari tingkatannya. Allah berfirman; wa’tu al-Buyûta min abwâbihâ.  

Seperti yang sudah dijelaskan diawal, manhaj al-Ilmi mempunyai peran penting dalam cara berfikir seseorang pelajar ketika dihadapkan suatu nash. Ia berperan untuk memperluas cara pandang dalam melihat dalil. Itu semua sangatlah berguna agar seseorang melihat sesuatu dengan kacamata kasih sayang (ain al-Rahmah), tidak saling menyalahkan atau menjatuhkan bahkan mengkafirkan karena berbeda pandangan dalam melihat nash. Inilah manhaj yang selalu diajarkan oleh al-Azhar al-Syarif sepanjang sejarahnya hingga saat ini. Wallahu A’lam bisshowab



           


Pemetaan Ilmu Syariah dan Peran Manhaj al-Ilmi : Mengulas Singkat Kitab “At-Turuq Al-Manhajiyyah” Reviewed by fatahillahbn on 09.40.00 Rating: 5

2 komentar:

  1. Halo,
    Ini adalah untuk memberitahu orang ramai bahawa Puan Henrietta Fernando, pemberi pinjaman pinjaman swasta telah membuka peluang kewangan kepada sesiapa yang memerlukan sebarang bantuan kewangan. Kami memberi pinjaman pada kadar faedah 2% untuk individu, syarikat dan syarikat di bawah terma dan syarat yang jelas dan difahami. Hubungi kami hari ini melalui e-mel di: (henriettafernandoloanfirm@gmail.com)

    BalasHapus
  2. Halo,
    Ini adalah untuk memberitahu orang ramai bahawa Puan Henrietta Fernando, pemberi pinjaman pinjaman swasta telah membuka peluang kewangan kepada sesiapa yang memerlukan sebarang bantuan kewangan. Kami memberi pinjaman pada kadar faedah 2% untuk individu, syarikat dan syarikat di bawah terma dan syarat yang jelas dan difahami. Hubungi kami hari ini melalui e-mel di: (henriettafernandoloanfirm@gmail.com)

    BalasHapus

All Rights Reserved by IKPM KAIRO © 2014 - 2015
Designed by Themes24x7

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.