Peran Wakaf dalam Perkembangan Madāris Fiqhiyyah - IKPM KAIRO

Minggu, 26 November 2017

Peran Wakaf dalam Perkembangan Madāris Fiqhiyyah


oleh: Salman Abdurrubi Perwiragama
(Mahasiswa Fakultas Syariah al-Azhar Tingkat 3) 

Wakaf merupakan persembahan murni dari agama Islam terhadap perjalanan peradaban manusia saat dunia belum mengenal arti asuransi dan jaminan sosial dalam peradaban modern ataupun yang datang sesudah Islam, sebagaimana yang dikatakan Prof. Dr. Raghib as-Sirjani. Hal ini adalah fakta sejarah, bahwa wakaf memiliki peran penting dalam perkembangan sosial masyarakat Madinah di masa Rasulullah Saw. Ibnu Sa’ad dalam al-Ishābah mencatat ada tujuh tanah perkebunan wakaf di Madinah, yaitu: al-A’waf, ash-Shafiyah, ad-Dallal, al-Muyatstsib, Burqah, Husni, dan Masyribah Ummu Ibrahim. Umar bin al-Khattab mewakafkan pendapatannya dengan mendistribusikannya kepada para fakir, sanak kerabat, pemerdekaan hamba sahaya, dan perjuangan di jalan Allah.

Tidak hanya dalam bidang sosial, perwakafan juga berperan penting dalam bidang pendidikan dan keagamaan dengan dibangunnya ratusan masjid wakaf. Sebagai contoh, Masjid Agung Umayyah peninggalan dinasti Umayyah di Damakus, Masjid al-Azhar peninggalan dinasti Fatimiyah di Mesir, dan masjid-masjid lain yang tersebar luas di berbagai belahan dunia.

Dalam bidang pendidikan, ratusan madrasah (madāris) wakaf juga kita temukan di berbagai daerah bekas peninggalan dinasti-dinasti kekhalifahan Islam. Madāris tersebut menjadi tempat pembelajaran ilmu-ilmu naqliyah dan akliah. Adapun madāris dalam kaitannya dengan perwakafan, memiliki sejarah perkembangan yang menarik untuk dibahas.

Madāris adalah bentuk plural dari madrasah. Istilah madrasah pada awalnya bukan berarti sebuah bangunan atau gedung yang digunakan untuk kegiatan belajar mengajar, sebagaimana yang dimaknai saat ini. Buktinya, pada masa perkembangan awal mazhab fikih terdapat dua madrasah utama; madrasah hadis di tanah Hijaz dan madrasah ahlu ra’yi. Keduanya bukanlah sebuah institusi yang berdiri secara badan hukum dan memiliki gedung, namun berwujud sekelompok ulama yang menganut suatu mazhab atau aliran tertentu dalam menyikapi suatu permasalahan.

Dalam Mausu’ah Tasyri’ al-Islāmy, Dr. Yusuf Muhammad Mahmud menyebutkan bahwa istilah madrasah itu sendiri dimunculkan oleh para sejarawan yang tergolong dalam khalaf.
Secara etimologi, dalam kamus al-Washith kata madrasah berarti tempat belajar dan mengajar. Adapun dalam kamus al-Ma’any, terminologi madrasah dimaknai lebih luas. Madrasah bisa berarti sekumpulan pemikir, yang mengikuti mazhab tertentu atau bersepakat dalam suatu pendapat, sebagaimana madrasah Hadits dan Ra’yi dimaknai di atas.

Dr. Hisyam Kamil juga menyebutkan pengertian yang mudah dipahami dari madrasah, “dimana ada syeikh atau guru yang mengajar, ada murid yang mendengar pelajaran langsung dari guru, ada kegiatan tulis menulis dan buku, yang ketiganya dilaksanakan dalam suatu kurun waktu dan tempat, maka semua itu adalah madrasah”.

Dalam perkembangannya, Dr. Ahmad Fuad Basya menyebutkan, madāris pada awalnya bernama makātib al-ṣibyān sebagai tempat belajar baca-tulis anak-anak yang diampu oleh para al-Kuttāb. Kemudian tercatat oleh Ibn Katsir dalam al-Bidāyah wa al-Nihāyah, sebuah bangunan di desa al-Kurkh (tahun 383 H) dijadikan tempat pembelajaran fikih. Bangunan ini oleh Ibnu Katsir dianggap sebagai madrasah pertama yang diwakafkan untuk para fuqahā’. Pembangunan madāris secara sistematis selanjutnya dilaksanakan pada masa dinasti Abbasiyah dengan berdirinya al-madrasah al-Nizhāmiyah di Baghdad pada tahun 485 H. Dikatakan terstruktur dan sistematis karena dikelola langsung oleh pemerintah dinasti Abbasiyah.

Dalam ranah ilmu fikih, tercatat beberapa madāris fiqhiyah yang menempati peran penting dalam penyebaran empat mazhab fikih. Menariknya, banyak diantara madāris fiqhiyah merupakan wakaf yang sangat berharga dari para penguasa dinasti dan para saudagar kaya raya. Maka peran pengelolaan wakaf dalam khazanah peradaban Islam memiliki saham yang sangat berarti dalam penyebaran mazhab fikih di abad pertengahan, bahkan dapat dirasakan pengaruhnya hingga saat ini.

Berikut adalah beberapa catatan sejarah tentang madāris fiqhiyah wakaf yang mewarnai khazanah peradaban Islam.

Dalam Rawa’i al-Auqaf, Dr. Raghib as-Sirjani menyebutkan bahwa madrasah al-Mustanṣiriyyah, Baghdad (dibangun tahun 631 H) adalah universitas unggul dan terbesar pada masanya. Yang mengagumkan adalah total pembiayaan yang terhitung untuk madrasah ini mencapai jutaan dinar dan dirham, sementara di sisi lain pasukan Tartar Mongolia menyerbu dan membumihanguskan Baghdad. Imam al-Hafidh Ibnu Katsir juga menyebutkan bahwa madrasah al-Mustanṣiriyyah diwaqafkan untuk pembelajaran empat mazhab fikih. Di setiap golongan terdapat 62 ahli fikih serta 4 pembantunya, dimana disediakan pula untuk semua yang berada di madrasah kebutuhan sehari-hari mulai dari roti, daging, manisan dan nafkah yang cukup.

Tercatat beberapa nama imam yang mengampu pembelajaran setiap mazhab, diantaranya Imam Muhyiddin Abu Abdillah bin Fadhlan untuk mazhab Syafi’I, Imam Rasyiduddin Abu Hafsh Umar bin Muhammad al-Farghaniy untuk mazhab Hanafi, Imam Muhyiddin Yusuf bin Syekh Abu al-Farj bin al-Jauziy untuk mazhab Hanbali, dan Imam Syekh Shalih Abu al-Hasan al-Maghribiy al-Maliki untuk mazhab Maliki.

Sementara di Mesir, saat dinasti Ayyubiyyah memerintah, tercatat Salahuddin al-Ayyubi mewakafkan sebagian hartanya di Kota Kairo. Ia menjadikan rumah Abbas bin al-Sallar sebagai madrasah fikih mazhab Hanafi. Selain itu juga terdapat madrasah Zain al-Najjar yang dijadikan sebagai madrasah fikih untuk mazhab Syafi’i. Sedang untuk mazhab Maliki tercatat nama madrasah al-Qamhiyah sebagai tempat untuk pembelajarannya.

Al-azhar, baik masjid maupun universitasnya, merupakan salah satu madrasah wakaf yang dapat kita rasakan manfaatnya secara konkrit saat ini. Semua data tentang pengelolaan wakaf di atas menjadi salah satu bukti nyata bahwa ideologi ekonomi Islam, dilihat dari segi manfaatnya untuk masyarakat luas, lebih baik dibanding ideologi ekonomi kapitalis, maupun ekonomi yang lain. []

*Tulisan ini dimuat dalam rubrik khazanah Majalah Latansa, Edisi 1 Dzulhijjah 1438 H.

Tidak ada komentar: