Restoran Manusia - IKPM KAIRO

Selasa, 14 November 2017

Restoran Manusia




Oleh: Fathan Fadlurrahman

Bukan hal baru memang Somad tidak mengambil gaji, hanya saja mengabaikan haknya atas hasil jerih payahnya selama satu bulan begitu saja sangatlah tidak wajar, bahkan dalam kurun waktu satu semester terakhir ia hanya mengambil sebagian kecil dari gajinya dalam sebulan. Sudah hampir dua tahun Somad bekerja di restoran berbintang itu, dan selama itu pula ia menolak untuk mengambil gajinya.

“Somad, Pak Bos memanggilmu di kantornya,” kata salah satu rekan kerjanya. Somad hanya tersenyum tipis sambil merapikan baju dan kemudian beranjak menuju kantor Bosnya.

“Somad, kemari dan duduklah!” terdengar suara pria berpawakan gagah yang biasa dipanggil karyawannya Pak Bos mengiringi suara pintu yang baru saja dilalui Somad.

Tanpa memberi respon lisan Somad segera mengambil sikap, duduk di satu-satunya kursi yang ada di ruangan itu selain kursi Bosnya, mengatur ritme nafasnya, dan sedikit menundukkan pandangannya yang memberi kesan hirarkris antara ia dan Bosnya.

“Saya ingin bertanya, kenapa kamu menolak gajimu lagi kali ini?” tanya Bosnya sambil menatap Somad keheranan.

Somad terdiam sejenak, “Saya sudah bilang ke Bapak, saya tidak berhak mengambil uang ini, Pak, ” jawab Somad singkat.

Masih dalam raut muka keheranan, tiba-tiba Pak Bos menghela nafas panjang dan menyandarkan punggung sekaligus rasa penasarannya ke kursi.

“Baiklah kalau memang jawabanmu masih sama,” kata Pak Bos sambil memasang tatapan kosong.

”Sekarang pulanglah ke rumah, besok kita buka pukul sepuluh pagi! Karena sekarang sudah malam dan waktunya untuk istirahat,” imbuh Pak Bos dengan tatapan yang sudah terisi bulatnya jam dinding yang menunjukkan pukul sebelas.

“Baik Pak, saya pamit dahulu!”

Jarum pendek pada jam dinding mulai bergerak perlahan, Pak Bos keluar dari tempat kerjanya beberapa saat setelah Somad keluar. Di perjalanan ia terus memikirkan jawaban dari Somad salah satu pegawai yang termasuk kategori rajin dibanding yang lainnya, mengapa ia selalu mengatakan bahwa uang gajinya bukanlah haknya.

Di bawah cahaya rembulan yang dikalahkan pijar lampu perkotaan, di salah satu sudut yang tidak mendapat kedua cahaya tersebut ia melihat Somad memberikan sesuatu kepada seseorang, ia hanya memperhatikan dari jauh tanpa mengetahui siapakah itu. Sejurus kemudian keduanya berjalan beriringan menyusuri gang-gang gelap, diikutilah Somad dari belakang hingga di ujung kegelapan ia sampai pada sebuah restoran di pinggiran kota, restoran yang tampak sangat biasa, tidak besar maupun kecil. Curiga dengan apa yang dilakukan Somad terlebih dengan mendeduksi informasi seadanya dari apa yang ia lihat dengan fakta bahwa Somad enggan mengambil gajinya, berbagai kemungkinan dapat dihasilkan. Ia putuskan menyelidiki.

Cukup lama mengintai, akhirnya ia melihat Somad berjalan keluar dari restoran itu. Sebagai seorang bos sudah selayaknya ia hafal betul keseharian Somad selama ini, setiap pagi Somad selalu datang lebih awal di antara pekerja lainnya. Setiap sore ketika tidak banyak pengunjung, selalu izin keluar dan kembali sebelum petang, dan jika tidak diizinkan pun tidak akan tampak raut muka marah ataupun kecewa, selalu pulang lebih malam di antara pekerja lainnya dan meninggalkan tempat kerja dengan keadaan bersih. Walaupun terdengar wajar namun ada sesuatu yang berbeda antara Somad dengan pekerja lainnya, perbedaan yang tak dapat diungkapkan dengan kata, tentunya selain keengganannya mengambil gaji.

Rasa penasaran Pak Bos memuncak sampai ke ubung-ubun, ia tidak sanggup menahannya lagi, ia putuskan untuk bermain sebagai Holmes dan menganggap Somad sebagai Moriarty-nya. Alih-alih memulai langkah pertama dan selanjutnya dengan perlahan tapi pasti, menyelinap, mengendap-endap di belakang restoran misterius tersebut mencari celah dan sebagainya, justru dengan percaya diri dia nyelonong masuk dari pintu depan.

“Akan sangat mudah untuk mengetahui keberadaan musuh ketika ia jelas-jelas melawan, namun akan menjadi sulit jika musuh yang nantinya akan menelikung dari belakang saat ini sedang datang sebagai kawan,” ujar Pak Bos dalam hati.

Setelah masuk alangkah terkejutnya, ia tidak mendapati seorang pun di dalam sana. Jam yang sudah menunjukkan lewat tengah malam membuat suasana semakin mencekam, ditambah lokasi restorannya yang berada cukup jauh dari pusat keramaian. Sambil menahan rasa takutnya ia mengambil tempat, duduk di salah satu meja yang ada. Diselimuti seribu pertanyaan, di tengah-tengah kebingungan itu tiba-tiba pandangannya tertuju pada selembar kertas yang tergeletak di atas meja, sebuah daftar menu dengan tulisan yang amat mencolok di covernya, “RESTORAN MANUSIA”. Ia terkejut setengah mati, keringat dingin mulai bercucuran dan “Gerentang!” terdengar suara perkakas dapur yang jatuh.

 “Siapa disana ?” tanya Pak Bos setengah teriak.

Ketika itu juga sudah berdiri di hadapannya seorang kakek tua dengan punggung agak bungkuk, rambut putih dan guratan-guratan di wajah yang bersama gelapnya malam menelan rona dan pancaran semangat kehidupan dari mukanya.

Kakek tua itu menatapnya agak lama sampai akhirnya ia mengucapkan sebuah kalimat dari mulutnya yang hampir sudah tak bergigi “Monggo Pak, silahkan ambil sendiri saja!”

Mbah, mbah siapa ? Mbah ngapain di tempat ini?”

“Saya Kijun, saya jaga malem di sini pak, kalo bapak pelanggan silahkan saja ambil sendiri !”

 “Oh maaf mbah sudah bikin salah sangka, sebenarnya saya ke sini cuman mau mencari tahu tentang Pak Somad mbah, pak Somad yang barusan keluar dari sini mbah!”

“Kalo pak Somad itu, pemilik restoran ini pak!”

“Pemilik restoran?”

Iya pak, jadi pak Somad lah yang sudah mendirikan restoran ini, walaupun restoran ini tidak terkenal namun restoran ini sudah banyak membantu kami para orang pinggiran dan tuna wisma. Dahulu kami hanyalah seorang pengemis, seorang fakir miskin yang tidak memiliki apapun, hingga pada suatu saat datang pak Somad memberikan kita makanan, mengajarkan kita banyak hal dan memberikan kita pekerjaan.”

Percakapan pun berlanjut antara Pak Bos dan mbah Kijun, ia menjadi tahu tentang apa sebenarnya di balik gelagat Somad selama ini, dan bahwa setiap pelanggan Restoran Manusia jika merupakan orang-orang yang tidak mampu membayar makanannya, mereka selalu datang lewat pintu depan dan kemudian langsung menuju dapur, mengambil makanannya sendiri dan keluar dari pintu belakang.
Terlalu asyik bercerita mereka tidak terasa tarhîm subuh sudah terdengar, dan saat itu Somad sudah berdiri tepat di depan mereka.

Assalamualaikum!” sapa Somad kepada Bosnya dan pegawai restorant.

Waalaikumsalam!” jawab keduanya secara bersamaan.

 “Somad pas sekali kamu disini, saya ingin bertanya kepadamu, sebenarnya saya penasaran sama kamu dan banyak hal yang membuat saya bingung, dari caramu bekerja di restoran saya, menolak uang gajimu, dan ternyata kamu memiliki restoran lain ditempat ini. Mengapa kamu melakukan semua ini?”

“Mungkin sekarang saatnya saya bercerita kepada Bapak. Pertama, saya ingin bercerita mengapa saya tidak ingin mengambil uang gaji saya. Sebenarnya hampir setiap hari saya memberikan makanan kepada pengemis dan fakir miskin di sekitar restoran bapak, saya sengaja datang pagi dan pulang malam agar tidak ada yang melihat saya memberikan makanan, karena saya takut merusak citra restoran bapak, itulah mengapa saya tidak mau mengambil uang gaji saya, karena uang itu sudah saya belikan untuk makanan para pengemis tersebut.”

“Lalu, mengapa kamu bekerja di tempat saya sedangkan kamu memiliki restoran?”

“Sebenarnya bukan saya pemilik restoran ini, namun restoran ini milik seluruh umat manusia. Semua makhluk di dunia ini berhak mendapatkan kehidupan, mereka yang memiliki uang dapat membeli apa yang mereka inginkan, tetapi sedikit dari kita yang memikirkan bagaimana saudara kita yang tidak memiliki apapun, baik itu makanan maupun tempat tinggal. Saya sengaja bekerja di tempat bapak hanya untuk memberikan makanan kepada para fakir di daerah sana, maaf pak apabila saya melakukan banyak kesalahan dalam bekerja di tempat bapak. Keinginan saya hanya ingin melihat mereka bahagia mendapatkan apa yang sulit mereka dapatkan, walaupun sebenarnya bukanlah saya yang memberikan mereka kehidupan, saya hanya menyampaikan titipan yang seharusnya milik mereka dan memberitahu bahwa ini semua adalah dari Allah Swt.”


Meneteslah air mata dari bos restoran bintang lima itu. Ia hanya terdiam, termenung, dan memikirkan apa yang tidak pernah terpikir olehnya. Sambil terisak ia mengatakan, “Kalau begitu, menurut kamu apa restoran saya juga bisa disebut restoran manusia? Atau justru restoran yang hanya fisiknya saja, fisik juru masak, pelayan, pembeli bahkan  bosnya yang berwujud manusia namun hilang kemanusiaannya?”

Tidak ada komentar: