Top Ad unit 728 × 90

Home

Menguak Tabir Yerusalem

Oleh : Fakhri Abdul Gaffar Ibrahim

” sementara aku masih hidup, aku lebih rela menusukkan pedang ke tubuhku daripada melihat tanah Palestina dikhianati dan dipisahkan dari Khilafah Islamiyah. Perpisahan adalah sesuatu yang tidak akan terjadi. Aku tidak akan memulai pemisahan tubuh kami selagi kami masih hidup.”
Sultan Abdul Hamid II

Tak ada tempat lain di muka bumi ini di mana masa lalu menjadi bagian yang begitu lekat dengan masa kini seperti di Yerusalem. Mungkin memang demikianlah keadaannya di setiap tempat yang sedang bersengketa khususnya Israel dan Palestina, yang merupakan akar krisis kedamaian saat ini. Ikatan emosi akan kota ini begitu lekat dalam benak umat Islam,Yahudi maupun Kristen, Bahkan orang Israel maupun Palestina yang paling sekular sekalipun menyebut kota itu suci.

Pernyataan Trump atas pengakuan Yerusalem (6/12)  dan berencana memindahkan kedutaan Amerika serikat dari Tel Aviv ke Yerusalem tak ayal menambah tensi politik, bukan hanya di kawaran region timur tengah bahkan secara global. Resolusi Majelis Umum PBB (21/21) seakan omong kosong sekalipun 128 negara mendukung dan 4 Dewan Keamanan Tetap mendukung, Pasalnya pada  Senin sebelumnya (18/12) AS menggunakan hak veto untuk menggagalkan resolusi Dewan Keamanan PBB yang digagas Mesir yang hendak menolak pengakuan AS atas Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel.

Tindakan itu hanya akan memperkeruh dan menambah catatan bagi negara barat sebagai pencetus konflik di kota ini, setelah sebelumnya pernah didahului oleh Kaisar Titus 70 M dari Romawi, Para tentara salib 1099 M, Kerajaan Inggris 1917. Walau tindakan itu seakan tidak masuk akal bahkan banyak masyarakat Amerika sendiri yang mengecam, namun Trump tetap kukuh dalam pendirianya. Dalam pidatonya mantan perdana menteri Malaysia tahun 2003 di Konfrensi OKI tahun 2003 menyatakan “But today the Jews rule this world by proxy. They get others to fight and die for them”. Kita tidak memungkiri ada kekuatan yang bermain dalam tindakan politik Amerika yang kontroversial ini.

Dunia Islam yang setelah perang dingin makin disorot buruk oleh barat sebagai biang krisis kedamaian, justru menorehkan catatan yang terbalik. Ketika Islam menyentuh tanah Yerusalem 638 M, khalifah Umar bin Khatab RA masuk ke kota ini dengan damai dan mengizinkan Kaum Yahudi untuk menziarahinya. Begitu pula 1187 ketika Salahudin membuka kembali Yerusalem tidak ada darah penduduk yang ditumpahkan. Sampai pada akhirnya Yerusalem berpindah kedaulatan tahun 1948 ke tangan Israel dan menjadi sumber konflik sampai hari ini yang tiada habisnya.

Satu Kota,Tiga Arti Suci
Bagi Yahudi Mitos eksodus merupakan faktor penting di balik lekatnya kata "suci" pada Jerusalem. Ketika Nabi Sulaiman mendirikan Kuil Pertama di Bukit Zion untuk menyimpan Tabut Perjanjian Musa ("kiblat portable" mereka ketika hidup nomad di Tanjung Sinai) lahirlah mitos lain bahwa bangunan itu adalah tempat bersemayamnya tuhan mereka, Yahweh. Pemahkotaan Yahweh di Kuil Bukit Zion, membuat Jerusalem disebut Kerajaan Tuhan.

Bagi Kristen Jerusalem, dalam kepercayaan adalah tempat kematian dan kebangkitan Yesus: kota inilah yang menjadi saksi kelahiran agama mereka. Sejak awal kedatangannya, Yesus sudah meramalkan Kuil Herod(Kuil kedua Yahudi) akan hancur tak lama lagi. Sebab itulah yang membuat Yahudi mengikarinya dan mencelakainya. Yesus adalah ancaman yang tak dapat diterima Yahudi. Kekaisaran Romawi di Jerusalem juga memandangnya sebagai pengganggu. Yesus pun dihukum mati. Dia disalib di Bukit Golgotha pada 33 Masehi.

Pada 70 M, Kuil Herod yang gagah dihabisi oleh tentara Titus. Selama Romawi berkuasa di Jerusalem, seluruh sisa-sisa peninggalan Yahudi dihancurkan. Di atas puing Kuil Kedua, dibangun patung Dewi Aelia, berhala kaum pagan Romawi. Di Bukit Golgotha didirikan Kuil Aphrodite dan Kuil Jupiter. Kota itupun dinamakan Aelia Capitolina.

Beberapa abad setelah itu, kehancuran kuil Herod dianggap sebagai kebenaran Yesus. Perlahan-lahan agama Kristen mulai berkembang dan mendapat basis kuat di Kekaisaran Byzantin yang mengambil alih kekuasaan Romawi atas Yerusalam. Constantine, Kaisar Byzantin pada abad keempat. Setelah dua tahun melakukan penggalian, pada 327 M mereka menemukan sebuah makam batu yang segera dinyatakan sebagai bekas kuburan Yesus. Pada saat yang sama, para pekerja juga menemukan bukit cadas kecil Golgotha, tempat penyaliban Yesus.

Selain penggalian, pendirian bangunan untuk pemujaan juga dimulai. Constantine mendirikan sebuah basilika yang indah luar biasa, beberapa meter di timur Golgotha. Bangunan ini dikenal dengan nama Martyrium, saksi bagi seorang martir (Yesus). Dengan ditemukannya makam dan berdirinya basilika, Kristen segera mengembangkan mitos mereka sendiri tentang tempat itu dan menjadi awal mula Yerusalem menjadi “suci” bagi umat Kristen. Aelia berubah menjadi kota dengan ciri Kristen yang kuat. Pusat suci kota itupun bergeser, dari Bukit Zion ke Bukit Golgotha, yang disebut Yerusalem Baru.

Berbeda dengan para penakluk sebelumnya, Islam datang ke Jerusalem 638 M dengan damai. Setelah tentara berhasil masuk kota, tak ada penghancuran bangunan, tak ada penyitaan, tak ada pembakaran simbol-simbol agama musuh, tak ada pembantaian. `Umar disambut oleh uskup Jerusalem, Sorophonius, dan diantar untuk melihat tempat-tempat suci di kota itu. `Umar masuk ke Kompleks Anastasis. Ketika masih berada di sana, waktu shalat tiba. Sophorohius menyarankan `Umar shalat di Anastasis. Umar menolak, khawatir itu dijadikan alasan kaum Muslim untuk mengambil tempat itu.

Ketika tiba di bekas kedudukan Kuil Sulaiman (Haram al-Syarif), `Umar mendapati lokasi itu telah dijadikan tempat pembuangan sampah kota, sebagai ekspresi kebencian penduduk Kristen Yerusalem pada Yahudi. Umar berinisiatif membersihkannya dan kemudian memilih tempat di ujung selatan plaza untuk mendirikan sebuah masjid sederhana. Haram al-Syarif begitu penting dalam umat Islam karena pernah menjadi Kiblat umat Islam dan berhubungan erat dengan peristiwa Isra' Mi'raj Nabi Muhammad .

Tabir Raibnya Yerussalem dari Umat Muslim
                Kekhalifahan Turki Utsmani merupakan kekhalifahan Islam terakhir yang menaungi Yerusalem. Hampir tidak ada konflik yang berarti ketika Turki Utsmani menaunginya. Namun sejak muncul keinginan Yahudi untuk mendirikan jews state yang digagas Theodor Herzl, ditandai dengan kongres Zionis pertama 1897 di Basel, mulailah Yerusalem menjadi sumber krisis di abad berikutnya yang tiada habisnya.

                Solusi jews state yang digagas Herzl merupakan bentuk upaya jalan keluar dari anti semitisme terhadap Yahudi di Eropa. Pada awalnya gagasan ini mendapat banyak tantangan dari kaum Yahudi sendiri. Namun dia dapat meyakinkan Lord Roschild akan hal itu dalam catatanya Herzl menulis pernyataanya dalam konggres Zionis di Bassel :

“ Jika aku ingin mendirikan negara Yahudi, dan jika itu aku nyatakan sekarang, mungkin aku hanya akan menemukan tertawan lima tahun kedepan , namun lima puluh tahun lagi semua akan melihatnya (Old New Land : 1941)

Tak cukup sampai disitu Herzl mendatangi Abdul Hamid II untuk meminta tanah Palestina. Karena gencarnya aktivitas Zionis Yahudi akhirnya pada 1900 Sultan Abdul Hamid II mengeluarkan keputusan pelarangan atas rombongan peziarah Yahudi di Palestina untuk tinggal di sana lebih dari tiga bulan, dan paspor Yahudi harus diserahkan kepada petugas khilafah terkait. Dan pada 1901 Sultan mengeluarkan keputusan mengharamkan penjualan tanah kepada Yahudi di Palestina. Pada 1902, Hertzl untuk kesekian kalinya menghadap Sultan Abdul Hamid II. Kedatangan Hertzl kali ini untuk menyogok sang penguasa kekhalifahan Islam tersebut.

Di antara sogokan yang disodorkan Hertzl adalah uang sebesar 150 juta poundsterling khusus untuk Sultan; membayar semua utang pemerintah Utsmaniyyah yang mencapai 33 juta poundsterling; membangun kapal induk untuk pemerintah dengan biaya 120 juta frank; memberi pinjaman lima juta poundsterling tanpa bunga; dan membangun Universitas Utsmaniyyah di Palestina. Abdul Hamid II menolak mentah mentah tawaran Yahudi maka dianggaplah sebagai ancaman. Sultan Abdul Hamid II menyatakan dengan tegas;

“Nasihati Mr Hertzl agar jangan meneruskan rencananya. Aku tidak akan melepaskan walaupun sejengkal tanah ini (Palestina), karena ia bukan milikku. Tanah itu adalah hak umat Islam. Umat Islam telah berjihad demi kepentingan tanah ini dan mereka telah menyiraminya dengan darah mereka. Yahudi silakan menyimpan harta mereka. Jika suatu saat kekhilafahan Turki Utsmani runtuh, kemungkinan besar mereka akan bisa mengambil Palestina tanpa membayar harganya.”Akan tetapi, sementara aku masih hidup, aku lebih rela menusukkan pedang ke tubuhku daripada melihat tanah Palestina dikhianati dan dipisahkan dari Khilafah Islamiyah. Perpisahan adalah sesuatu yang tidak akan terjadi. Aku tidak akan memulai pemisahan tubuh kami selagi kami masih hidup (lihat, Stanford  J.Shaw, The Jews of Ottoman Empire and The Turkish Republic.hlm,212)”
               
Maka setelah itu Sultan Abdul Hamid II mulai diposisikan sebagai bagian masa lalu,
Ditempatkan sebagai lawan dari jargon mereka, Freedom, Liberation dsb. Mereka menyebut pamerintahan Abdul Hamid II sebagai Hamidian Absolution. Gerakan Zionis di Kekhalifahan Turki Utsmani mencapai sukses yang sangat signifikan menyusul pencopotan Abdul Hamid II pada April 1909. Diantara empat perwakilan national assembly yang menyerahkan surat pencopotan adalah Emmanuel Carasso (Yahudi) dan Aram (Armenia).

        Tahun 1917 Bangsa Yahudi datang ke Palestina dibonceng tentara Inggris yang masuk wilayah Turki Ustmani. Lalu 3 Maret 1924 kekhilafahan Turki Usmani dihapuskan oleh Kemal Attaturk, dan Turki dirombak menjadi Negara national Republik Turki. Pada tanggal 14 Mei 1948, Israel memproklamasikan kemerdekaannya dan ini segera diikuti oleh peperangan dengan negara-negara Arab di sekitarnya yang menolak rencana pembagian ini. Israel kemudian memenangkan perang ini dan mengukuhkan kemerdekaannya. Akibat perang ini pula, 1967 Israel berhasil mencapai batas wilayah negaranya melebihi batas wilayah yang ditentukan oleh Rencana Pembagian Palestina. Sejak saat itu, Israel terus menerus berseteru dengan negara-negara Arab tetangga, sebab peperangan dan kekerasan yang sedang sampai saat ini.

 Kaum Zionis Yahudi di Turki Ustmani berperan penting dalam menyiapkan pemimpin-pemimpin baru bagi Turki Modern yang berpikiran nasionalis sekuler dan materialis. “. Dengan ideology seperti itu dengan cara pandang yang ter-Barat-kan (westernized), tentu tidak mengherankan Turki muda bersikap netral terhadap Zionisme dan membiarkan Palestina dicaplok oleh Yahudi Zionis (Lihat, Adian Husaini, Wajah Peradaban Barat).

Kaum Zionis Yahudi di Turki Ustmani berperan penting dalam menyiapkan pemimpin-pemimpin baru bagi Turki Modern yang berpikiran nasionalis sekuler dan materialis. Ini sebuah proses pendidikan dan mari bandingkan dengan kata-kata Snouck Hurgronje, dalam bukunya Nederland en d’Islam “Pendidikan dan pelajaran dapat melepaskan orang muslimin dari gemgaman Islam.

Maka bicara tentang negara jangan hanya berbicara tentang Hardwarenya, bukan sebatas wujud fisik dari bangun dari peradaban itu. Tapi juga Dengan mencermati secara serius Worldview(Weltenschaung) dari perdaban itu sendiri. Bagaimana perubahan arah pemikiran Turki Muda ketika itu merupakan hal yang cukup berpengaruh di balik tabir raibnya Palestina terutama Yerusalem dari Umat Islam.


               



Menguak Tabir Yerusalem Reviewed by Fakhri Abdul on 07.37.00 Rating: 5

Tidak ada komentar:

All Rights Reserved by IKPM KAIRO © 2014 - 2015
Designed by Themes24x7

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.