Bagaimana Menyusun Kitab Dengan Baik (?) - IKPM KAIRO

Selasa, 13 Februari 2018

Bagaimana Menyusun Kitab Dengan Baik (?)


          Oleh : Bana Fatahillah

          Salah satu adab seorang pelajar terhadap buku adalah, tidak meletakkannya tergeletak di bawah lantai tanpa alas apapun. Karena kita semua percaya bahwa buku adalah salah satu piranti bagi ilmu (alat al-‘Ilm), yang mana mempunyai kedudukan yang sangat tinggi. Dengan ini kita hendaknya meletakkan buku-buku secara tertata rapih pada tempatnya dengan pengklasifikasian yang baik. Namun yang menjadi pertanyaan adalah:

bagaimana meletakkan buku yang banyak ini dalam satu tempat dengan penyusunan yang baik; apakah diurutkan berdasarkan harga? tebal buku? cetakan yang bagus ? atau bahkan diurutkan sesuai tahun ditulisnya kitab?

            Dalam hal ini, Ibnu Jamaah (w. 733) menyisipkan sebuah pesan berisikan adab terhadap buku-buku –khususnya dalam meletakkan kitab dan mengklasifikannya– dalam risalah kecil berjudul Tadzkirah al-Sāmi’ wa al-Mutakallim fī ādāb al-‘ālim wa al-Muta’allim. Beliau berpesan pada seluruh pelajar untuk selalu menjaga adab dalam peletakan kitab berdasarkan kedudukan sebuah ilmu, kemuliaannya, ataupun penulis, serta kehormatannya. Susunan yang diberikan oleh Ibnu Jamaah adalah sebagai berikut:  

Pertama, letakkanlah Mushaf atau al-Qur`an di antara kitab-kitab yang ada. kalau bisa, ia diletakkan di tempat yang suci urutan teratas. Jangan sampai ia diletakkan dibawah kitab apapun.

Kedua, adalah kitab matan hadis, seperti Sohih Muslim, Sohih Bukhari atau semacamnya yang biasa disebut “kutub al-Sittah.

Ketiga adalah kitab-kitab tafsir al-Quran dan tafsir hadis, seperti tafsir Tabari, Ibnu Katsir, Kasyaf dan Syarh Sohih Muslim atau Sohih Bukhari.  

Keempat, adalah kitab Ushuluddin Kelima, Ushul Fikih Keenam, Fikih Ketujuh, Ilmu Nahwu, Shorof, Syiir, ataupun ‘Arudh.

            Dalam hal ini juga, kita bisa menginduk pada kaidah taqdîm wa at-Takhîr yang berbunyi, “Qaddim likhamsin; lizzamâni wa rutbatin, wa tasyarrufin, wa li’illatin, wa abîatin” (dahulukanlah sesuatu karena lima hal; zaman, derajat, kemuliaan, sebab dan tabiat), maka kita bisa menyusun sesuatu dari kemuliaannya (al-Asyraf) yang dalam hal ini adalah al-Quran, karena ia adalah induk dari semua ilmu pengetahuan. Baru setelahnya kitab-kitab yang tertera di atas.

            Selanjutnya Ibnu Jamaah menambahkan: “Jika ada dua disiplin ilmu yang sama kedudukannya, maka dahulukanlah kitab yang memiliki kandungan ayat al-Quran dan hadis yang lebih banyak. Jika masih tetap sama, maka pilihlah dari kemuliaan penulis kitab, dan jika masih setara juga maka yang lebih dulu menulis (zaman) dan jika tetap seperti itu, maka yang paling banyak sampai ditangan ulama dan para auliya untuk diajarkan.”

            Urutan ini bisa kita atur sendiri. Jika buku yang ada belum begitu banyak, maka mulailah dari kanan ke kiri (sesuai urutan yang ada di atas). Jika sudah mencukup satu rak, maka bisa diposisikan dari atas ke bawah, atau kanan ke kiri dan lanjut ke bawah begitupun setelahnya. Buku-buku lainnya -selain yang disebutkan di atas- yang merupakan penunjang dalam ilmu syar’i, bisa dimasukkan dalam golongan urutan di atas, seperti mantiq dan ulumul qur`an yang masuk dalam kategori ushuluddin, dll.

            Dan perlu diingat, ini semua adalah adab dalam bermuamalah dengan kitab. Yang mana kita ketahui, bahwa adab tidak berbicara tentang benar atau salah, melainkan tepat atau kurang tepat. Ketika kita tidak menyusun kitab-kitab seperti yang tertera di atas, bukan berarti kita salah atau bahkan berdosa, namun itu mengurangi adab kita pada kitab-kitab yang mana menjadi sebuah perantara pada ilmu atau ālat al-‘Ilm.

Jadi setelah melewatkan Cairo International Book Fair dan membeli buku yang sangat banyak, kita tidak meletakkan buku secara asal-asalan dan tau bagaimana cara meletakkan dan menyusunnya dengan baik dan benar, sebagaimana yang ulama sampaikan. Wallahu a’lam bis as-Shawāb.



Tidak ada komentar: