Dialektika Turats - IKPM KAIRO

Rabu, 14 Februari 2018

Dialektika Turats



Oleh: Sayidulqisthon*
Pasar teknologi yang begitu menjanjikan meningkatkan daya saing antar developer baik perangkat keras maupun lunak dengan mengeluarkan produk-produk terbarunya, sebagai konsumen sudah sewajarnya penulis tertarik dengan setiap yang baru. Produk baru, baju baru, rumah baru, pemimpin baru, pengantin baru, tahun baru. Hampir semua bergembira, bersuka cita dengan hal-hal baru, bahkan tenggelam dalam euforia. Di setiap pertemuan bersama kami, Dr. Ahmad Azhary sering mengatakan hal serupa. Bahwa di antara sebab media sosial memiliki candu tersendiri, adalah informasi terbaru atau up to date yang selalu disajikan (baik sekedar curhatan pribadi, iklan dan juga berita; benar ataupun hoax).
Berangkat dari kata “baru”, di antara padanannya  adalah kata “modern”. Dalam kajian filsafat, istilah modern mewakili titik ukur masa perkembangan filsafat barat. Dr. Hamid Fahmy mengungkapkan bahwa istilah modern ini disematkan pada zaman kejayaan Barat setelah Dark Age di Eropa (Misykat, hal. 65). Jika modern (red: baru) merupakan Barat, lantas istilah apa yang bisa mewakili Timur dengan segala budaya dan peradabannya? Mungkin anda tidak asing lagi dengan istilah turats atau turats Islam yang bisa juga diartikan secara harfiah sebagai tradisional. Akan tetapi sebagai sebuah istilah, turats (Islam) memiliki makna tersendiri yaitu segala hasil peninggalan generasi terdahulu yang sampai kepada umat Islam dalam rentang waktu seratus tahun lalu (Lihat Al-ariyq ilâ Al-Turâts, cetakan Dar el-Nahd Masr hal. 19).
Pembahasan turats Islam bukanlah hal yang benar-benar baru, sudah banyak karya ulama dan cendekiawan (muslim atau bukan) yang membahas turats Islam, baik dari golongan yang meneguhkan keabsahan turats Islam sebagai rujukan pembangunan atau dari golongan yang meneguhkan ke-tidak layak-annya. Ketika menginjakkan kaki ke dalam pembahasan turats Islam  ini, kita akan disuguhi berbagai dakwaan yang ditujukan pada turats Islam, seperti: bahwa turast Islam merupakan wujud kegagalan peradaban Timur (Islam), atau turats Islam merupakan sebab ketertinggalan Timur dari kencangnya kemajuan pembangunan Barat dan sebagainya.
Sayangnya, dakwaan-dakwaan seperti inilah yang kemudian cukup populer dan akan mendapatkan tempat tersendiri di benak “kawan-kawan saya” yang terjangkit virus cinta buta kepada pemikiran Barat. Karena dengan menjatuhan otoritas dan kuasa turats Islam, akan terjadi  vacuum of power, yang kemudian akan diisi oleh literasi dan produk-produk impor dari peradaban modern Barat. Namun banyaknya peminat saja tidak cukup untuk membuktikan bahwa dakwaan di atas adalah mutlak dan tanpa celah. Sebagaimana di pasaran operating system perangkat komputer, luasnya jangkauan pemasaran Windows belum cukup untuk membuktikan bahwa semua produknya berada di atas awan, karena dalam beberapa hal produk Macintosh atau bahkan Linux mampu mengungguli Windows.
Imâm Akbar Al-Azhar, Syeikh Ahmad At-Thayib (dengan rendah hati) menyebutkan dalam karyanya yang menjawab pandangan Dr. Hasan Hanafi tentang turats Islam bahwa seharusnya dalam tuduhannya terhadap turats tidak memukul rata dan memberikan pengecualian untuk ushul turats (seperti iman pada qaâ` dan qadar) pada kritikannya yang mengatakan bahwa turats merupakan sebab sebenarnya dari ketertinggalan dan kemunduran peradaban (Lihat Al-Turâts wa Al-Tajdîd, cetakan Dar al-Qud al-‘Araby hal. 19).
Syekh Ahmad At-Thayib menyatakan bahwa sebab dari hal ini adalah konsep dasar tentang turats dalam pandangan Dr. Hasan Hanafi dibangun dari penerapan turats oleh sebagian golongan, padahal sampel dari sesuatu bukanlah hal substansial dari hakikat sesuatu tersebut. “Padahal ini merupakan dasar yang digunakan dalam tuduhan (terhadap turats), juga merupakan titik perbedaan antara kami dan mereka,” ungkap Syekh Ahmad At-Thayib.
Metode yang digunakan Imam Akbar merupakan bentuk hikmah dari ayat:
ادع إلى سبيل ربك بالحكمة و الموعظة الحسنة وجادلهم بالتي هي أحسن )النحل 125:[16])
Yaitu dengan mempersempit ruang diskusi dan menariknya sampai ke ranah mendasar atau asasi (awwaliyyât) yang menjadi titik awal perbedaan antar pendapat. Sayangnya tidak semua orang cocok dengan jenis obat yang sama, pun demikian dalam hal ini, ada yang cocok dengan hikmah, ada lebih cocok dengan maw’ioh hasanah (jawaban retorik) dan ada pula yang lebih cocok dengan mujâdalah (jawaban dialektis). Hikmah ataupun maw’ioh hasanah nampaknya bukan obat yang tepat untuk “kawan-kawan saya” ini. Maka dari itu alangkah baiknya kita beranjak dari hikmah dan maw’ioh hasanah menuju mujâdalah,wa jâdilhum bi al-laty hiya ahsan”.
Dr. Ahmad Azhary mengatakan (dalam makna) bahwa jika memang maksud dan tujuan utama dari peruntuhan citra turats Islam (dengan mendakwa bahwa turats merupakan seburuk-buruk hasil tradisi intelektual manusia) adalah untuk menggantikannya dengan produk modern, untuk menjawabnya cukup lakukan serangan balik dengan senjata mereka sendiri, yaitu dengan menggunakan premis (muqaddimah) yang dijadikan dasar dari dakwaan, sebagai landasan untuk membangun jawaban.  
Sebelum memberikan jawaban, mari sedikit menganalisa dakwaan dengan mengurainya menjadi setidaknya dua silogisme (qiyâs manthiqiy): Pertama, turats Islam telah membelenggu kebebasan berfikir (muqaddimah ughra/premis mikro), dan setiap yang membelenggu kebebasan berfikir atau jumud merupakan hal yang buruk (muqaddimah kubra/premis makro), maka turats Islam merupakan hal yang buruk (natîjah). Dan sebaliknya pada silogisme kedua, pemikiran Barat tidak membelenggu kebebasan berfikir (muqaddimah ughra/premis mikro), setiap yang tidak membelenggu kebebasan berfikir merupakan baik (muqaddimah kubra/premis makro), maka pemikiran Barat merupakan hal yang baik (natîjah ).
Kemudian jawaban dengan metode mujâdalah atas dakwaan ini cukup dengan manyampaikan fakta-fakta yang kontradiktif dengan premis-premis dakwaan. Seperti fakta bahwa Mukhtar Ibnu Butlan al-Baghdadi (Yohanes), seorang filsuf sekaligus pakar kedokteran kristen lebih percaya dan menjungjung tinggi metodologi belajar bersanad yang diwarisi dari umat Islam terdahulu dan menjadi ciri khas tradisi keilmuan Islam daripada metode belajar autodidak, memahami secara mandiri langsung dari buku.
Ia menyatakan kalau saja dua murid Aristoteles, Theoprastus dan Eudemus tidak menerima ilmu secara langsung dari gurunya, mereka tidak akan memahami apapun dari bukunya (Lihat Risalah Fadhlu Man Laqiya ar-Rijâl ‘ala Man Darasa fî al-Kitâb dalam buku Ihyâ`u Sanad al-‘Ilmi). Inilah metode yang digunakan Nabi Musa as. untuk menjawab dakwaan Fir’aun bahwa ia memiliki kuasa atas hidup-mati seseorang sebagaimana Tuhan, “Tuhanku menerbitkan matahari dari timur dan membuatnya terbenam di arah barat, (kalau memang engkau memiliki kuasa sebagai mana Tuhan) datangkanlah matahari dari arah barat.”
Dengan begini setidaknya akan menutup celah “kawan-kawan saya” untuk berkilah, karena memang itulah tujuan dari mujâdalah. Dan dengan tertutupnya celah tersebut setidaknya akan menutup pula lubang jebakan logical fallacy (kesalahan berfikir), yang oleh Imam Ghozali diungkapkan sebagai celah masuknya bisikan setan untuk mengaburkan kebenaran.
Adapun dengan meneguhkan keabsahan turats sendiri tidak serta merta kata baru atau pembaharuan harus dijauhi sepenuhnya, Imâm Akbar sendiri mengungkapkan bahwa beberapa hal dalam turats selain yang asasi seperti Iman dan sebagainya  ada hal-hal kecil yang bisa menerima pembaharuan secara bertahap dan terstruktur. Karena sejarah pun mencatat bahwa perkembangan dan pembaharuan yang ada dalam turats Islam ber-sifat evolution (perkembangan perlahan nan terstruktur tanpa mengabaikan peninggalan dari umat terdahulu) bukan revolution (perubahan secara menyeluruh yang dilakukan dalam satu waktu dengan mengganti semua yang sudah ada dengan yang baru). Bahkan jika memang yang mampu kita fikirkan hanya hal-hal yang bersifat materi, perkembangan dunia IT mengajarkan bahwa internet yang kita nikmati terlahir dari ARPANET (jaringan keamanan Amerika Serikat) yang mengalami evolusi secara bertahap. Wallâhu a’lam bi as-awâb.
*Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Aqidah Filsafat Universitas al-Azhar, Kairo. 



Tidak ada komentar: