Top Ad unit 728 × 90

Home

Fathul Kutub: Telaga Keilmuan, Sarat Pendidikan



Oleh: Mochammad Eka Faturrahman*

“Apa tujuanmu datang ke Pondok Gontor?” itulah pertanyaan wajib yang diajukan kepada para calon santri ketika menghadapi ujian lisan pada tes masuk Pondok Modern Darussalam Gontor. Dari pertanyaan tersebut lahirlah berbagai macam jawaban yang terlontar dari mulut anak-anak lulusan sekolah dasar (SD) atau sekolah menengah pertama (SMP) itu.

Ada yang menjawab ingin mencari ilmu agar menjadi ulama yang hebat, ingin menguasai bahasa arab dengan baik dan benar, bahkan beberapa dari mereka menjawab dengan jujur bahwa mereka tidak tahu apa tujuan mereka karena mereka datang ke pondok ini atas paksaan orangtua. Namun bagi yang sudah diberikan bocoran, mereka pasti akan menjawab, “Saya mencari pendidikan dan pengajaran.” Lalu dengan sedikit saran agar menjawab hal tersebut dengan lantang akan membuahkan senyuman dan anggukan dari para penguji.

Pendidikan dan pengajaran adalah alasan paling tepat untuk masuk Pondok Modern Darussalam Gontor. Para santri dididik dan dikawal dua puluh empat jam selama sehari, segala kegiatan dari mulai bangun tidur hingga tidur lagi telah diatur sedemikian rupa. “Apa yang kau lihat, apa yang kau dengar, apa yang kau rasakan di pondok ini adalah bagian dari pendidikan,” adalah salah satu prinsip pendidikan di Gontor. Oleh karena itu, segala hal; baik suasana, pemandangan, interaksi sosial dan semua hal yang ditemui di pondok ini, semuanya telah dikonsep untuk mendidik para santri-santrinya.

Gontor dengan orientasinya pada pendidikan dan pengajaran, tidak semerta-merta membuatnya melupakan sisi akademis para santrinya. Berbagai macam kegiatan baik yang bersifat pokok seperti kegiatan belajar dikelas setiap harinya maupun kegiatan penunjang diadakan untuk meningkatkan keilmuan santri. Dan salah satu dari kegiatan penunjang keilmuan santri adalah kegiatan Fathul Kutub.

Apa itu Fathul Kutub?

Fathul Kutub adalah sebuah kegiatan tahunan yang diselenggarakan oleh KMI (Kulliyyah Al-Mua’llimîn Al-Islâmiyyah) sebagai pengatur kegiatan belajar santri, yang diperuntukkan untuk santri kelas 5 dan 6. Kegiatan yang dilaksanakan selama seminggu ini diadakan sebagai langkah awal untuk mengenalkan “kitab klasikatau yang lebih sering disebut “kitab kuning” kepada para santri. Acara ini pun menjadi sebuah wadah bagi para santri untuk mempelajari bagaimana membaca kitab klasik namun dikemas dalam metode yang modern. Kalaulah di pondok salaf pengajaran kitab ini dilakukan dengan metode weton (metode menyimak) atau sorogan (metode membaca individual) namun di Gontor penyampaiannya dilakukan dengan metode yang berbeda, yaitu dengan metode diskusi yang didalamnya terdapat kritisi dan solusi, atau biasa disebut bahtsul masaail.  

Namun sebelum para santri menelaah kitab klasik dengan metode tadi, mereka terlebih dahulu dijejali pembekalan materi-materi yang meliputi ilmu tauhid, ilmu fiqh, ilmu tafsir dan ilmu hadist agar menyadari hal yang akan mereka pelajari serta tujuannya. Setelah itu mereka akan melakukan pembahasan dan diskusi setiap harinya dengan tema-tema yang telah ditentukan dibawah naungan guru yang ditugaskan untuk membimbing para santri.

Acara yang telah ada semenjak tahun 1968 ini, disamping bertujuan untuk meningkatkan kualitas akademis santri lewat pengenalan pada kitab klasik, penerapan dan pengelolaannya pun tidak lepas dari unsur pendidikan yang diselipkan didalamnya. Lihatlah bagaimana langkah untuk mempersiapkan acara ini. Semua dilakukan oleh santri baik dari membersihkan balai pertemuan sebagai tempat berlangsungnya acara, menyusun kursi dan meja, mengambil buku dari perpustakaan, bahkan yang menyusun buku-buku tersebut sesuai dengan disiplin ilmunya pun santri itu sendiri. Hal tersebut melatih kemandirian serta membuang kemalasan dan rasa bergantung pada orang lain dalam diri santri.

Peletakan buku-buku klasik pun tidak sembarangan, buku-buku tersebut difokuskan ditengah balai pertemuan dan dibagi sesuai disiplin ilmu yang akan dikaji. Jadi ketika para santri memasuki balai pertemuan, mereka akan dihadapkan pada ratusan buku yang tersusun rapi pada lemari. Hal demikian mengisyaratkan kepada para santri bahwa apa yang mereka pelajari selama ini belumlah apa-apa. Seakan-akan buku-buku yang tersusun itu berkata, “Wahai para santri, sesungguhnya amatlah banyak buku yang belum engkau baca dan telaah. Amatlah banyak ilmu yang belum engkau salami. Maka bersikaplah rendah hati dan jangan merasa penuh atas ilmu yang kamu punya”.

Dan pada kegiatan ini pun, yang terdidik bukan hanya santri, namun juga para guru yang terlibat. Mereka dididik bagaimana mengayomi santri mereka, bersikap lemah lembut namun tegas di beberapa waktu, serta menyikapi santri yang lambat dalam memahami pembahasan. Dan di beberapa kesempatan mereka pun dituntut untuk bisa memotivasi para santri untuk terus semangat tatkala pembahasan dan diskusi terasa berat dan membosankan. Itu semua tak lain adalah pendidikan yang teramat mahal harganya lagi sulit ditemui di belahan dunia manapun.

Semua yang telah dipaparkan diatas hanyalah sebagian kecil dari apa yang  telah diberikan oleh Gontor. Tentunya disana masih banyak lagi nilai-nilai yang tersimpan dan belum tersingkap namun sejatinya telah dirasakan oleh mereka yang pernah menimba ilmu disana. Maka bagi mereka yang telah merasakan indahnya pendidikan Gontor dengan segala dinamikanya, tidak ada hal lain yang bisa diperbuat selain mengucap rasa syukur dan bangga bahwa mereka pernah menghabiskan sebagian besar masa muda disana.

*Penulis adalah mahasiswa Fakultas Ushuluddin Universitas al-Azhar. 





Fathul Kutub: Telaga Keilmuan, Sarat Pendidikan Reviewed by fatahillahbn on 08.58.00 Rating: 5

Tidak ada komentar:

All Rights Reserved by IKPM KAIRO © 2014 - 2015
Designed by Themes24x7

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.