Top Ad unit 728 × 90

Home

Membaca Buku Baik dengan Cara Terbaik





Judul : How to read a book
Penulis : Mortimer J. adler dan Charles van doren
Penerbit : simon & schuster
Tahun terbit: 2014
Tebal halaman: 419 halaman

“Membaca buku-buku yang baik berarti memberi makan rohani yang baik”
(Buya Hamka)


Oleh : Sijjidiatun Nisa Eljahsyi

            Semenjak revolusi industri pada tahun 1733 dengan penemuan mesin tenun oleh John kay, segala sektor kehidupan mulai dari pertanian, transportasi, manufaktur hingga ke ranah teknologi berkembang dengan pesat. Perubahan-perubahan ini juga menuntut adanya perubahan sosial, ekonomi dan kebiasaan masyarakat di dunia, dimulai dari Negri Britania Raya dan kini perkembangan tersebut telah menyebar diseluruh dunia.

Tidak terkecuali dengan teknologi informasi modern yang dimulai dari penemuan komputer oleh Charles Babbage (1822) , televisi oleh Michael Faraday (1831), dan kelahiran internet oleh Leonard Kleinrock (1969). Informasi yang dulu hanya bisa didapatkan dari surat kabar dan pembicaraan dari mulut ke mulut kini dapat diakses dengan cepat dan mudah. Hal ini berdampak pada semakin minimnya pembacaan masyarakat modern. Mereka lebih memilih untuk melihat televisi atau mengakses internet dan mendapatkan informasi dengan cepat tanpa banyak menemukan permasalahan yang ditemui dalam membaca seperti kesalahan memaknai kata, kalimat, hingga memaknai maksud penulis.

Faktanya, permasalahan dalam membaca ini muncul karena kurangnya metode yang digunakan dalam proses membaca serta kondisi yang diciptakan pada saat membaca kurang mendukung. Jika yang diciptakan dalam proses membaca suasana yang menyenangkan serta didukung dengan metode pembacaan yang sesuai dengan buku yang kita akan baca, kesalahan-kesalahan tersebut sangatlah minim keberadaannya.

            Memahami sebuah buku sama halnya dengan memahami sesama manusia, manusia yang diciptakan berbeda-beda tentu cara bergaul dengan masing masingnya juga berbeda. Dalam artian, setiap buku tentu mempunyai ciri, penyampaian dan cara pemahaman yang berbeda. Dalam langkah awal pemahaman isi kandungan buku, pertama-tama di dalam diri seorang pembaca setidaknya tertanam pertanyaan pokok:  apakah buku itu penting untuk dibaca? Dan apa gagasan utama dari buku ini?.

Setelah kedua pertanyaan tersebut terjawab dengan pengenalan secara sekilas, barulah kita mengetahui apakah buku itu perlu pemahaman dan pengkajian lebih dalam? Jika jawabannya adalah perlu maka, pembaca hendaknya mengetahui bahwa buku merupakan pewujudan dari realita, fikiran dan kata-kata penulis yang dituang dan dikemas dalam sebuah rangkaian kata guna memudahkan pembaca untuk sampai kepada realita dan fikiran penulis secara nyata. Maka dari itu, ada syarat yang dipenuhi sebelum membaca yaitu perbedaan tingkat pemahaman antara pembaca dan penulis (penulis harus lebih tinggi pemahamannya dari pembaca) dan kemudian pembaca memiliki usaha untuk dapat memiliki pemahaman yang setara atau setidaknya mendekati pemahaman penulis.

Setelah itu barulah muncul beberapa pertanyaan; Apa pesan yang ingin disampaikan penulis dalam bukunya? Bagaimana ia menyampaikan nya? Apakah yang terkandung dalam buku tersebut benar adanya, baik secara keseluruhan maupun masing-masing pembahasan?  Pertanyaan-pertanyaan ini yang nantinya akan berangsur-angsur terjawab selama proses membaca serta pertanyaan ini juga yang menjadi tolak ukur kesuksesan kita melalui tahap demi tahap pembacaan.

            Untuk membantu para pembaca dalam menapaki langkah–langkah membaca, Mortimer J Adler pemikir, ahli pendidikan, ahli falsafah dan ketua editor Ensiklopedia Britania menulis sebuah buku dengan judul “How to read a book” pada tahun 1940 yang direvisi ulang bersama rekan kerjanya Charles Van Doren pada tahun 1972. Penulisan buku ini bermula dari kekhawatirannya pada kualitas kemampuan membaca remaja di era itu yang tidak terlalu memuaskan. Dengan urgensi yang besar terhadap buku ini, kini karyanya telah banyak diterjemahkan dalam berbagai macam Bahasa diantaranya, Perancis, Swedia, Jerman, Spanyol, Italia, Malaysia dan Indonesia.

            Didalam buku ini dibahas empat tahapan pembacaan yang kesemuanya memiliki keterkaitan satu dengan yang lain, mulai dari tingkatan pembacaan pertama atau biasa disebut dengan pembacaan dasar yang dilalui mulai dari masa pembacaan kanak-kanak hingga dewasa. Tahapan ini dibagi atas empat fase perkembangan; fase pertama yang melibatkan panca indra untuk menangkap kata dari benda sekitar serta mengikatnya dalam ingatan, fase ini berlangsung dari pasca kelahiran hingga usia tujuh tahun. Fase kedua mulai membaca bacaan ringan yang mudah dan dapat difahami dari kata-kata yang telah tersimpan dalam ingatan pada masa awal. Selanjutnya perkembangan pesat terjadi pada fase ketiga yaitu dimana ia memiliki kosakata baru dan meluaskan bacaannya kebidang lain yang lebih rumit. Di fase terakhir pada tahapan pembacaan dasar ini, ia dapat menggabungkan gagasan-gagasan yang ia pahami dari berbagai macam buku bacaannya,  fase akhir ini biasanya berkisar pada umur 14 tahun.
           
Tahapan kedua disebut dengan pembacaan penelitian,  tahapan ini juga dibagi menjadi dua fase; pertama membaca sekilas, kedua membaca secara cepat dengan tidak terpaku pada kosakata yang belum dipahami. Keduanya bertujuan untuk mendapatkan gambaran umum dari buku yang kita pegang. Pada  tahapan ini pembaca mulai memahami maksud judul, prakata, serta indeks yang terdapat pada buku tersebut. Disini pula pembaca dianjurkan meninjau ulang kepada satu atau dua bab yang sekiranya penting.
           
Tahapan selanjutnya adalah membaca analitis dalam tahapan ini pembaca sudah mengklasifikasikan buku bacaannya, memahami struktur serta istilah-istilah penting penulis, memastikan gagasan-gagasan yang diusung penulis dan memberikan tanggapan terhadap permasalahan yang disuguhkan oleh penulis. Namun, berbeda dengan tahapan awal pembacaan yang mengandalkan keahlian pancaindra pembaca untuk memahami, disini ia banyak dibantu oleh buku-buku penunjang lain, pengalaman pribadi, kamus serta ensiklopedia.

            Terakhir adalah tahapan pembacaan sintopik atau pembaca melakukan perbandingan dengan beberapa bacaan yang telah ia baca menggunakan metode analitis. Dalam pembacaan sintopik pembaca bukan lagi memahami makna seperti yang terjadi pada tiga tahap sebelumnya, tapi ia lebih terfokus dalam pengambilan intisari dan sikap dan pandangan pembaca yang  diambil setelah membaca banyak sumber. Disini pula pembaca dianjurkan untuk menguraikan permasalahan-permasalahan yang terjadi pada beberapa sumber tersebut.

            Setelah membahas empat tingkatan pembacaan, Adler juga menambahkan ringkasan pembahasan berupa mind map dengan sedikit tambahan buku-buku lain yang ia tulis untuk menunjang pengetahuan pembaca, ia juga menuliskan indeks dan pertanyaan-pertanyaan di akhir buku serta menguraikan cara membaca dari beberapa cabang ilmu seperti sejarah, sains dan filsafat yang memudahkan pembaca untuk memahami isi dan mempraktekkannya. Akan tetapi, terdapat beberapa kekurangan yang terdapat didalam buku ini yaitu tidak terdapatnya ilustrasi cerita yang membantu pembaca menggambarkan metode yang ia paparkan dan tidak ada pembahasan untuk para buta huruf dan baru mulai pembacaannya pada usia yang sudah dewasa.

*Penulis adalah salah satu pegiat dalam Kajian Nuun Center IKPM Kairo

           

Membaca Buku Baik dengan Cara Terbaik Reviewed by fatahillahbn on 07.24.00 Rating: 5

Tidak ada komentar:

All Rights Reserved by IKPM KAIRO © 2014 - 2015
Designed by Themes24x7

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.