Ragam Penulisan Turats - IKPM KAIRO

Jumat, 16 Februari 2018

Ragam Penulisan Turats





Oleh : Bana Fatahillah*

                Budaya tulis menulis dalam Islam sudah ada sejak masa para sahabat. Rasulullah Saw. mampu menyulap Bangsa Arab  dari yang awalnya buta akan baca tulis, menjadi pribadi yang selalu haus akan membaca dan menulis. Semua perkataan yang terlontar darinya—baik itu perkataan beliau sendiri ataupun wahyu Allah (Kalâmullâh)—segera ditorehkan oleh para sahabat dengan berbagai cara; ada yang menuliskannya di atas lembaran-lembaran, kulit-kulit hewan, bebatuan, hingga batang pohon. Nabi pun hingga pernah melarang sahabat menulis perkataannya karena takut bercampur dengan firman Allah Swt. Namun itu semua belumlah terlaksana secara sitematis dalam bentuk pembukuan seperti sekarang.    

Selain keterbatasan sarana, dan belum terfikirkannya hal-hal sedemikian rupa, penulisan  sistematis belum dilaksanakan karena saat itu ilmu pengetahuan masih bermakna kepemilikan (malakah), yakni suatu sifat khusus yang melekat pada pribadi seseorang (ṣifatun râsikhatun fî al-Dzihn). Mereka tidak membutuhkan ilmu fikih, bahasa ataupun tasawuf, sebab itu semua sudah ada pada diri mereka. Para sahabat tidak akan faham istilah asbabu nuzul, nahwu, ushul fikih, fikih dan lain sebagainya, karena itu adalah istilah yang dibuat pasca kehidupan mereka. Adapun penulisan sistematis, yakni kutub al-Turâts, menurut Syekh Ali Jumah, baru dimulai saat dibentuknya berbagai disiplin ilmu pengetahuan, yaitu akhir abad ke-2 H hingga masa Syekh Ibrahim al-Bajuri (w. 1277 H.) (Al-Madkhal ilâ Dirâsah al-Madzhab al-Fiqhiyyah : 16)

Seorang ulama kontemporer asal Iraq bernama Dr. Abdul Karim Zaidan (w. 2014)  membagi masa keberagaman dan corak kepenulisan turats tiap masanya —yang secara zahir ditulis dalam bentuk pembagian masa perkembangan fikih— menjadi enam periode, yaitu: (i) Rasulullah Saw., (ii) Khulafaur rasyidin, (iii) setelah Khulafaur rasyidin sampai awal abad ke-2 H atau sebelum runtuhnya Bani Umayyah, (iv) awal abad ke-2 H sampai pertengahan abad ke-4, (v) dari pertengahan abad ke-4 sampai runtuhnya Baghdad oleh Tatar tahun 656 H (vi) setelah runtuhnya Baghdad sampai saat ini. (Al-Madkhal Li Dirâsah as-Syarî’ah al-Islâmiyyah : 101-102).

Karena belum adanya penulisan sistematis seperti turats pada masa Nabi dan baru dimulai pada akhir abad ke-2, maka keenam masa tersebut dapat diringkas menjadi tiga fase, yakni; (i) pasca khulafaur rasyidin hingga pertengahan abad ke-4 (ii) pertengahan abad ke-4 hingga runtuhnya Baghdad, (iii)  setelah runtuhnya Baghdad hingga saat ini. 

Pasca Rasulullah wafat, pembahasan fikih semakin bertambah dengan bertambahnya kejadian dan perkara, yang mana dari setiap kejadian tersebut dibutuhkan sebuah hukum; baik itu dari sumbernya (al-Qur      `an dan Sunnah) maupun hasil ijtihad. Pada fase inilah para mujtahid mazhab beserta para muridnya mulai meletakkan kitab-kitab fikih periode pertamanya sebagai buku induk setiap ilmu, seperti al-Mudawwanah milik Imam As-Suhnuh pada mazhab Maliki,  Al-Fiqh al-Akbar milik Abu Hanifah, Al-Umm milik Imam Syafi’i, atau Al-Jami’ al-Khallal milik Imam al-Khallal pada mazhab Hambali. Buku-buku ini diletakkan dengan tujuan untuk membentuk suatu disiplin ilmu tertentu atas hasil observasi mereka dari setiap permasalahan yang ada pada masanya, dan nantinya dipakai sebagai rujukan bagi para murid-muridnya.

Tidak hanya pada fikih. Pada saat itu dimulailah kodifikasi hadis-hadis menjadi satu kitab. Diantaranya adalah metode penulisan hadis dengan corak ṣohîh dan musnad; seperti yang kita kenal sekarang dengan Kutub al-Sittah, yaitu; Imam Bukhari (w. 256 H), Imam Muslim (w. 261 H), Abu Daud (w. 275 H), Imam Tirmidzi (w. 279 H), Imam Nasa’i (w. 330), dan Imam Ibnu Majah (w. 273). Dalam perkembangan ilmu bahasa Arab, Imam Sibawaih (180 H) meletakkan al-Kitâb-nya sebagai buku induk dalam Nahwu, Imam Syafi’i (w. 204) menulis al-Risâlah dalam Ushul Fikih, begitupun Imam Asy’ari (w. 324 H) yang merakit Ibânah fî Uṣûl al-Diyânah sebagai buku induk dalam Ilmu Kalam dan juga buku-buku lainya yang telah dirancang sedemikian rupa sesuai disiplin ilmu masing-masing.  

Berbeda dengan generasi diatas, pada periode selanjutnya mereka sudah tidak lagi meletakkan disiplin-disiplin ilmu dalam kitab induk tersendiri, melainkan lebih menelisik untuk mengembangkan apa-apa yang telah dibuat oleh guru-guru mereka. Mereka semua mencoba mengumpulkan beragam persoalan yang bersifat parsial (juz’iyyât) menjadi satu kaidah yang bersifat universal (kulliyyât), agar tidak terjadinya kontradiksi suatu hukum dengan hukum lainnya dalam permasalahan-permasalahan yang terus bertambah.

Dalam kaidah fikih, misalnya, awalnya kaidah fikih tidaklah disusun secara sistematis, melainkan hanya disebutkan oleh Imam Syafii dan Imam Abu Yusuf (murid Abu Hanifah)—tidak secara tersurat —dalam dua kitabnya al-Umm dan al-Kharrâj. Lalu datanglah ulama-ulama mazhab yang berusaha menggali kaidah-kaidah tersebut menjadi sesuatu yang tertata, seperti Imam al-Juwayni (w. 438) yang menulis sebuah kitab al-Furûq, kitab kaidah fikih pertama dalam mazhab Syafi’i. Langkah al-Juwayni kemudian diikuti oleh Ahmad al-Jurjani (w. 482) yang juga menulis kitab bernama al-Furûq, begitu pula dengan Muhammad Al-Jajurmi (w. 613) yang merakit kitab al-Qawâid fî al-Furû’ al-Syâfi`iyyah dalam kaidah fikih juga ulama mazhab lainnya. (Formulasi Nalar Fiqih : 42-45)  

                Dr. Abdul Karim menyebutkan bahwa diantara sumbangsih generasi ini adalah; (i) memberikan alasan (ta’lîl) tiap hukum yang telah diriwayatkan; karena tidak semua hukum yang diberikan Imam mazhab disertakan sebuah alasan, (ii) mengeluarkan sari pati berupa kaidah pada kesimpulan  hukum dalam suatu mazhab, untuk memperkenalkan metode ijtihad yang ditempuh pada sebuah mazhab tersebut, (iii) mengunggulkan (tarjîh) berbagai pendapat yang disampaikan oleh Imam; seperti apabila ada dua pendapat yang bertentangan serta menjelaskan sebab dari perbedaan (ikhtilâf) tersebut (iv) menata  fikih mazhab secara teratur. 

            Maka kita lihat nama seperti Imam Nawawi (w. 676 H) dan Imam Rafi’i (w. 774 H), yang sering disebut-sebut sebagai pemfilter seluruh kitab-kitab mazhab Syafi’i, bahkan Ibnu Hajar al-Haytami (w. 973 H) mengatakan bahwa seluruh buku-buku mutaqaddimîn belum dipercaya keotentikannya hingga diteliti dan diperiksa oleh Imam Nawawi dan Imam Rafi’i.  

                Pasca runtuhnya Baghdad, ilmu-ilmu sudah banyak yang menurun akibat banyaknya buku-buku yang dienyahkan. Dr. Abdul Karim mengatakan, generasi ini mencoba membuat sebuah kitab kecil dengan bentuk ringkasan namun menyimpan berbagai makna dari berbagai kitab, atau yang disebut dengan matn. Selanjutnya, matn tersebut perlu diperjelas baik dari penulis itu sendiri ataupun ulama yang datang setelahnya, maka dibuatlah Syarh hingga Hâsyiyah. Dalam mazhab Syafi’i, kita mengenal berbagai kitab matn, seperti; Ghâyah al-Ikhtiṣar (593 H.), Sofwah al-Zubad (844 H.), Safinah al-Najât (1271 H), Masâil al-Ta’lîm (918 H.), al-Sittîn Mas’alah (819 H.), dsb. Dalam Syarh, Ghâyah al-Ikhtiṣar, misalnya, ia diperjelas oleh berbagai kitab ulama Syafii, diantaranya al-Iqna’ (977 H.), Fath al-Qarîb al-Mujîb (917 H.), Nihâyah al-Tadrîb (890 H.) dan Kifâyah al-Akhyâr (829 H.).

Selain matn, syarh dan hâsyiyah, para ulama periode ini juga membuat kitab yang berisikan jawaban-jawaban atas pertanyaan masyarakat kepada ahli fikih seputar masalah hukum dalam kehidupan, yang dikenal dengan kitab al-Fatâwâ. Seperti al-Fatâwâ al-Bazâziyyah, milik Ibnu Bazzaz al-Kurdi (w. 827), al-Fatâwâ al-Hindiyyah, yang dibuat oleh ulama India untuk mengumpulkan pendapat mu’tamad mazhab Hanafi pada tahun 1069-1119 H, kitab al-Fatâwâ milik Ibnu Taimiyyah (w. 728), Imam Subki (w. 756 H), Fatâwâ al-Azhar, dsb. Sampai saat ini masih banyak yang menuliskan berbagai syarh dan hâsyiyah bagi kitab-kitab yang telah dibuat.

 Pembagian ini hanyalah bersifat mayoritas (aghlâbiyyah), karena secara fenomena (wâqi`iyyah) corak inilah yang dapat dipetakan dalam penulisan turats. Dari keberagaman fitur turats yang ada, seakan mengajarkan kita dua hal. Pertama, Allah Swt. memberikan setiap masanya sebuah permasalahan yang kelak bisa dipecahkan oleh hamba-Nya pada masa itu, seperti yang Ia firmankan; “Qul kullun ya’malu ‘alâ syâkilatihi.  Imam Syafi’i mungkin saja membuat syarh untuk al-Umm, bahkan pasti bisa, karena  ia adalah imam. Namun saat itu keadaan memaksanya untuk men-tadwin kitab induk sebagai rujukan, adapun penulisan syarh belumlah terfikirkan. Begitu juga ulama yang datang setelahnya, mereka ingin memudahkan generasi selanjutnya (kita saat ini) agar dapat memahami apa yang telah dibuat oleh gurunya, yakni dengan matn, syarh dan hâsyiyah.

Kedua, sebelum sampai kepada al-Qur`an dan sunnah, seorang pelajar hendaklah melewati  kitab-kitab milik mutaakhirȋn, seperti matn, syarh dan hâsyiyah, agar dapat memahami kitab milik mutaqaddimȋn, layaknya kitab-kitab induk mazhab seperti al-Umm, dan nantinya akan memahami kandungan dari al-Qur`an dan Sunnah, bukan langsung meloncat pada keduanya. Karena semua ulama membuat karyanya tidak lain dan tidak bukan untuk ber-khidmah pada al-Qur`an dan sunnah. Wallahu A’lam Bi al-Ṣawâb.

*Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Ushuluddin Universitas al-Azhar dan Pimpinan Redaksi Majalah Latansa 
                

Tidak ada komentar: