Seni Membaca Turats Bagi Para Penuntut Ilmu - IKPM KAIRO

Jumat, 16 Februari 2018

Seni Membaca Turats Bagi Para Penuntut Ilmu



Oleh : Vivi Nofiyantika*

Dr. Ali Jum’ah dalam bukunya al-Tharîq ilâ al-Turâts al-Islamiy menyebutkan bahwa salah satu manfaat dari memahami turats adalah mengetahui cara berpikir para salaf—mengambil manfaat darinya dan mengamalkannya.  Meskipun tidak dapat dipungkiri bahwa turats tidak hanya membawa manfaat pada generasi setelahnya, terkadang juga menuai beberapa kritikan.

Pernyataan ini dipertegas oleh Dr. Yusuf Qardhawy dalam bukunya Kaifa Nata’âmal ma’a at-Turâts, yang menyatakan bahwa turats tidak benar-benar terjaga dari kesalahan sebagaimana terjaganya pendapat dari Nabi Muhammad Saw.. Bahkan ia berpendapat “lâ ‘iṣmata li ghairi Rasûlillah” atau yang diartikan bahwa ‘iṣmat atau keterjagaan dari kesalahan hanyalah milik Rasulullah Saw. semata. Namun, tidak serta merta kita dapat menuang kritik tanpa dalil kepada turats para salaf, karena Rasulullah Saw. pun menjaga pemahaman Sahabat kala itu, sehingga meminimalisir kesalahan yang terjadi dalam pada zaman Sahabat.

Dalam majelis syarhnya terhadap buku “al-‘Awâṣim min al-Qawâṣim”, Dr. Hisyam Kamil mengatakan bahwa kesalahan jika terdapat pada manusia zaman sekarang adalah biasa, namun kesalahan yang dinisbahkan kepada Sahabat bukanlah biasa. Dari sini, kita dapat menarik kesimpulan bahwa perlunya seni dan mursid dalam memahami turats Islam. Hal ini juga merupakan salah satu usaha dalam menjaga isi pemahaman turats Islam, karena jika terdapat kesalahan dalam memahami turats, maka makna keontetikan teks turats pun akan terjatuh dari tujuan awal. Sehingga akan berimbas pada pemahaman generasi selanjut-selanjutnya yang salah, mengingat jarak mereka dari zaman Rasulullah Saw. terlampau lebih jauh dari saat ini.

Lalu, bagaimana kita dapat menjaga sekaligus mengambil manfaat dari turats, jika bukan dengan mewarisinya dari para ulama agar mendapatkan pemahaman yang benar, bukankah demikian?
 Mengapa? Dr. Ahmad Thayyib dalam “al-Turâts wa al-Tajdîd” mengatakan, bahwa ada perbedaan perbendaharaan kata, istilah dan gaya bahasa yang digunakan oleh ulama salaf yang tidak marak digunakan di zaman ini, yang kemudian menjadi salah satu dinding penghalang untuk memahami turats tersebut. Sehingga selain dari pada pentingnya mursid, keahlian dan seni membaca pun sangat dibutuhkan untuk menghindari kesalahpemahaman dalam membaca buku.  

Dalam hal ini, beberapa ulama mensiasatinya dengan menulis risalah tersendiri  yang berisi pedoman dalam membaca buku (adabu al-Muţâla’at), atau memasukkan kontennya dalam karya-karya mereka. Sebagaimana yang dikatakan Mortliner J. Adler

Mensiasati hal ini, Imam Hamid Al-Ghifari, salah satu penulis risalah tentang adabu al-Muţâla’at, membagi risalahnya menjadi 3 bagian, yaitu pembukaan, inti dan wasiat, yang akan penulis pusatkan pembahasannya pada dua bagian saja yakni ‘proses sebelum membaca (pembukaan) dan proses pembacaan inti’ saja.

Pembukaan adalah apa-apa yang perlu diketahui pembaca sebelum memasuki kegiatan membaca aktif. Sekurang-kurangnya pembaca harus dapat membedakan antara perkara yang bersifat konsepsi taṣawwuriy dan perkara yang bersifat proposisi taṣdîqiy, atau perkara yang sudah dapat dihukumi benar atau salahnya. Kemudian pembaca menghadirkan kemungkinan-kemungkinan atas perkara konsepsi tersebut, seperti memahami kosa kata, istilah pengarang dan gaya bahasa penyampaian, sebagai usaha penegasan maksud yang ingin disampaikan oleh pengarang dan bekal sebelum menuju ke pembacaan inti.

Setelah pembukaan, barulah kita masuk ke tahapan yang di sebut maqşid oleh Imam Hamid Al-Ghifari atau yang diistilahkan sebagai proses membaca analitis oleh Mirtliner J. Adler. Yaitu  tahapan yang dimulai dari pembacaan secara sekilas oleh pembaca dari awal buku hingga akhir. Kegiatan ini ditujukan untuk mempermudah pembaca dalam menyusun pola inti sari yang ingin disampaikan penulis. Hal Ini penting dilakukan sebelum pembacaan yang kedua secara lebih teliti. Dalam tahap ini, membedakan perkara-perkara konsepsi dan proposisi juga sangat diperlukan.

Selanjutnya, pembaca diharapkan bersikap analitis bahkan skeptis dari apa yang telah dibacanya. Proses membaca analitis ini dapat dimulai dengan memastikan istilah atau kata serta mengecek ulang makna yang ingin disampaikan penulis, karena penggunaan istilah dalam setiap bidang ilmu berbeda-beda, bahkan setiap zamanpun berbeda, sesuai dengan perkembangan bahasa yang terjadi saat itu—tidak sedikit kesalahan dalam memahami suatu ilmu dimulai dari kesalahpamahan tentang definisi ilmu itu sendiri yang berbeda-beda.

Selanjutnya memunculkan kemungkinan-kemungkinan yang berfungsi sebagai bahan pembanding untuk mengetahui maksud dan makna yang ingin disampaikan mu`allif. Sebagaimana yang diriwayatkan Imam Ibnu Abdul Birri al-Maliki atas perkataan Imam Khalil bin Ahmad yang menyatakan bahwa “al-‘ulûm aqfâlun wa al-su`âlâtu mafâtîhuhâ” yang berarti ilmu adalah sebuah gembok dimana pertanyaan-pertanyaan menjadi kunci pembukanya.
Mengapa kita harus bersikap kritis?. Proses membaca secara aktif akan menuntut lebih banyak usaha ‘memahami’ daripada pembaca pasif yang asal menerima informasi yang disediakan penulis, sehingga kritis dalam membaca jauh lebih unggul ketimbang pasif dalam menerima informasi begitu saja. Adler membantu kita untuk sedikit merumuskan pertanyaan awal, ia menyusunnya menjadi 4 format pertanyaan, yaitu: apakah yang dikatakan buku secara keseluruhan?, apakah yang dinyatakan penulis dan bagaimana ia menyatakannya?, apakah kandungan buku tersebut itu benar? dan apakah buku itu penting?. Keempat pertanyaan ini dapat dijadikan fondasi awal sebelum mulai pada pertanyaan yang lebih kritis lagi.

Selanjutnya pembaca mulai masuk dalam ranah pengambilan dalil, di mana pembaca diharap berhati-hati dalam memahami pengambilan dalil dan pandangan penulis. Karena, entah untuk memperkuat pemahaman atau justru mencari kebenaran pemahaman; pengambilan dalil menjadi hal penting tersendiri yang sangat perlu mendapat perhatian khusus oleh pembaca yang teliti.

Untuk mengurangi kesalah pahaman, pembaca dianjurkan untuk membaca berulang-ulang buku yang hendak dipahami, sebagaimana pengakuan Imam Muzani dalam kitab al-Majmû’ milik Imam Muhyiddin al-Nawawi, bahwa ia membaca kitab ar-Risâlah lima ratus kali, dan setiap kali bacaan ia selalu mengambil sebuah pelajaran yang baru. Membaca berulang kali juga mengasah otak untuk menghafal makna yang dibaca.

Tahapan setelahnya, pembaca dianjurkan untuk menguji kebenaran pemahamannya melalui proses diskusi kepada teman yang memiliki satu visi.. Dr. Ahmad Husein mengatakan bahwa gurunya mewasiatkan padanya tentang keutamaan belajar bersama dengan teman-teman yang satu visi adalah sama halnya dengan keutamaan pahala salat berjamaah dari pada munfarid.

Dalam meniti proses tersebut, jika masih ada yang belum dipahami, maka kita harus bertanya kepada ahli yang mumpuni (secara tatap muka), atau mencari dalil yang akan memperkuat pemahaman kita dalam proses pembacaan tersebut.  Imam Ibnu Asakir meriwayatkan dari Imam Syafi’i, ia berkata “Hakikat dari sebuah ilmu adalah al-tatsabbut (pengkokohan)”, ia juga berkata “Orang yang berakal mengajukan pertanyaan atas perkara yang diketahuinya dan yang tidak diketahuinya, agar mengokohkan (pemahaman) atas apa yang telah diketahuinya, dan pembelajaran atas apa yang belum diketahuinya.

Pengokohan pemahaman dalam hal ini menjadi signifikan, karena bisa jadi karena salah mengartikan satu makna istilah atau salah memahami struktur dan susunan dalil/argumentasi mu`allif justru berakibat fatal kepada keotentikan teks, dan validitas makna yang seharusnya ingin disampaikan penulis.

Imam Hamid al-Ghifari pun menyebutkan secara yakin, bahwa jika seorang pencari ilmu menerapkan cara-cara diatas dalam membaca buku, maka ia akan lebih mudah mencapai derajat at-tamayyuz atau bisa membedakan antara mana yang bisa diterima dan tidak. Disebutkan pula dalam buku al-Maţhâli’ fî Âdâbi al-Maţâli’  bahwa cara inilah yang dipakai dalam membaca karangan tersulit dan terakurat seperti karangan Imam Sa’duddin at-Taftazani.


Dari sini dapat kita simpulkan, bahwa membaca membutuhkan seni dan akhlak tersendiri untuk mencapai sebuah pemahaman yang utuh akan sebuah ilmu. Seni membaca sendiri tidak dapat diremehkan, karena ulama-ulama Islam pun membaca dan mengulang-ulang pelajaran disamping mengambil pelajaran dengan cara musyâfahah. Maka, seni membaca buku secara umumnya, dan turats secara khususnya dianggap wajib oleh penulis untuk diketahui para penuntut ilmu. []

*Penulis adalah pegiat dalam kajian Nuun Center IKPM Kairo dan Pimpinan Umum Buletin Manggala Mahasiswa Jawa-Barat

Tidak ada komentar: