Turats, Sejarah dan Perannya - IKPM KAIRO

Sabtu, 10 Februari 2018

Turats, Sejarah dan Perannya





Oleh : Albi Tisnadi Ramadhan*

Setiap peradaban manusia diatas bumi meninggalkan paling sedikit dua hal, peninggalan fisik dan peninggalan pemikiran. Peninggalan fisik dapat berupa bangunan bersejarah ataupun berbagai benda yang memiliki nilai sejarah dan peninggalan pemikiran tertuang dalam manuskrip karya umat-umat terdahulu, manuskrip itu bisa tertulis di atas kertas, pelepah, potongan kayu bahkan di atas tulang belulang.

 Islam sebagai salah satu peradaban manusia terbesar di dunia mencatat kedua hal tersebut. Tidak terhitung banyaknya peninggalan fisik umat Islam yang hingga kini masih bisa dipelajari, ditadaburi dan tentunya dijaga. Sebut saja tiga masjid utama Umat Islam, Masjid al Haram, Masjid an Nabawy dan Masjid al Aqsha.

Tak kalah penting dari peninggalan fisik, Islam termasuk umat paling produktif dalam meninggalkan pokok pemikirannya (manuskrip), dimana karya monumental tersebut tak jarang menjadi rujukan utama dalam sebuah cabang keilmuan, seperti Muqaddimah karya Ibnu Khaldun, dalam ilmu sosiologi, atau Al Qânûn fi al-Ţib karya Ibnu Sina dalam ranah kedokteran. Ranah keilmuan Islam mengenal peninggalan umat manusia berupa fisik dengan istilah âtsâr, sementara peninggalan manusia berbentuk pemikiran dikenal dengan istilah turats.

Tulisan singkat ini akan menggambarkan sedikit tentang peninggalan buah pikir para ulama Islam klasik (turats) serta peranannya dalam poros keilmuan agama Islam. Awal abad 20 adalah sejarah munculnya istilah turats dalam ranah keilmuan Islam. Sebelumnya, umat islam belum menggunakan penamaan ini, karena tentunya penggunaan istilah ini didasari berbagai hal. Tercatat bahwa yang pertama kali menggunakan istilah turats adalah seorang pemikir islam kenamaan asal Mesir, Ahmad Amin (W.1954 M). Sementara seorang pemikir Islam Mesir lainnya Zahid Al Kautsari (w. 1378 H), menggunakan istilah maurûst untuk mendefinisikan peninggalan pemikiran Islam. (Lihat al-Tharîq ilâ Turȃts, cetakan Dar el-Nahd Masr, hal 17).

Di dalam al-Quran, kata turats hanya didapati satu tempat yaitu pada surat Al Fajr (89/19). Para ulama tafsir menggunakan berbagai definisi dalam menafsirkan kata turats dalam ayat : وتأكلون التراث أكلا لماا, namun esensi dari penafsiran tersebut berkutat pada makna: harta peninggalan dari seorang yang berkecukupan untuk sepeninggalnya, atau dalam bahasa Arab disebut mîrâst. Sementara secara makna, kata turats terdapat dalam surat Fathir (35/32) ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ  , dari ayat ini terlihat bahwa al-Quran masuk dalam kategori  turats.

            Dalam Hadist Nabi Muhammad Saw., kata turats termaktub sebanyak satu kali pula, yaitu pada hadist Abu Hurairah, dalam Mu’jam al-Ausaţ karya Thabrani:

قصة الرجل اللذي قال للصحابة وهم فى السوق : أانتم هنا وتراث محمد يقسم فى المساجد ؟ فذهبوا فلم يجدوا الا اناسا يتلوم القران, فرجعوا اليه يقولون :ما وجدنا تراثا, قال وهل ترك محمد الا هذا القران؟

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Kisah seorang lelaki yang berkata kepada para Sahabat di Pasar: “Apakah kalian berada disini sementara turats Muhammad Saw. dibagikan di Masjid?”, maka para Sahabat bersegera menuju masjid dan tidak menemui sesuatu kecuali orang-orang membaca al-Quran. Lelaki tadi berkata, “Bukankah Muhammad Saw. hanya meninggalkan al-Quran ini?. 

Dimana dapat kita lihat bersama bahwa Hadis Abu Hurairah ini juga menuturkan bahwa al-Quran adalah bagian dari turats.

Secara bahasa kata turats berasal dari kata و- ر- ث yang bentuk fleksi maknanya adalah wirâts, namun terjadi penggantian huruf (ibdâl) didalamnya maka menjadi turats, yang berarti peninggalan berupa harta pada sepeninggalnya. Maka keduanya masih tergolong dalam turats, karena secara makna bahasa, kedua teks suci ini adalah peninggalan oleh Nabi Muhammad Saw. pada umatnya.

Sementara secara istilah, Syeikh Ahmad Thayyib menyatakan bahwa pada kata turats mengalami transformasi definisi. Syeikh Ali Jum’ah berpandangan, bahwa turats adalah hasil produksi umat manusia yang tertuang dalam lisan dan tulisan untuk umat Islam sebelum seratus tahun dari suatu zaman. Lain Bakr Zaki ‘Awadh yang berpandangan bahwa turats adalah produksi akal manusia (muslim) yang telah wafat, yang tidak berbenturan dengan al-Quran dan Sunnah dan tidak terikat oleh zaman tertentu. Kedua definisi tadi mengeluarkan  al-Quran dan  Sunnah dari cakupan turats.

Transformasi pemaknaan turats tentunya disebabkan maraknya intervensi terhadap turats Islam dari berbagai sisi, khususnya peradaban Barat. Dr .Muhammad Imarah dalam seminar Kuliah Pemikiran Islam, di IIIT Zamalek, Kairo pada (31/10) menjelaskan posisi turats Islam, metode berinteraksi dengannya serta peranannya. dan pembandingnya yaitu turats Barat, metode berinteraksinya dan peranannya pada kehidupan. 

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa metode interaksi turats Islam dan Barat tidak sama baik dari segi, keaslian, dan peranannya di masyarakat. Jika umat Muslim mengamini bahwa  al-Quran dan  Sunnah adalah suci dan terjaga dan sesuai dengan zaman dan waktu, tidak halnya dengan Barat, mereka meyakini bahwa setiap teks dapat senantiasa diubah, dan disesuaikan oleh zaman. Begitu selanjutnya, konsep pembaharusan teks yang terdapat dalam peradaban barat sangat berbeda dengan yang digunakan oleh Islam. Di Barat, konsep pembaharuan berbentuk menyesuaikan teks dengan zaman, bahkan menjadikan akal manusia sendiri sebagai timbangan untuk perbaikan. Dari peradaban ini lahirlah ideologi-ideologi yang kini mencoba merasuk dalam ranah keilmuan Islam seperti: Liberal, Plural, Atheis dan Gender.    

Sementara bagi umat Islam, mengambil pelajaran dari turats adalah sebuah keharusan, bahkan mempelajarinya merupakan syarat dari majunya peradaban. Pada ranah turats Islam, Jumhur ulama telah membaginya menjadi dua bagian, yaitu turâts muqaddas atau turats yang tidak dapat semena-mena dalam mengkajinya (al-Quran dan Sunnah), juga ada turâts ghoir muqaddas atau turats yang memberikan lapangan bagi setiap pemikir dan ulama Islam setiap zaman untuk dinamis dan tidak  hanya berkutat pada permasalahan suatu zaman terdahulu saja, melainkan aktif untuk menyelesaikan permasalahan kontemporer.

Para ulama telah mengemukakan alasan kuat bagi para penuntut ilmu khususnya, dan umat muslim pada umumnya, untuk menjadikan turats sebagai pijakan. Syekh Ali Jum’ah mengutarakan bahwa seorang ulama klasik dan karyanya merupakan pribadi yang paling besar interaksinya dengan lima unsur utama kehidupan, yaitu: benda, manusia, simbol, fikiran, dan kejadian, dalam naungan teks suci Islam ( al-Quran dan Sunnah). Hal ini yang menekankan bahwa teks suci tersebut yang menjadi poros dalam kehidupan manusia. Makna teks suci sebagai poros kehidupan adalah ketika bersinggungan dengan alam nyata, maka setiap kejadian yang timbul dijadikan sebuah representasi dari teks suci tersebut.(Lihat al Tharîq ilâ Turâts,  hal 21)
         
       Lebih jauh lagi, Syeikh Yusuf Qardhawy menjelaskan, dalam memahami turats berarti mempelajari peradaban umat terdahulu. Tentunya permasalahan akan terbatas pada tempat dan rentang waktu tertentu, maka dari itu perlu perluasan pandangan dan permasalahan sehingga bisa diterapkan pada masa kini. Sementara peradaban Barat yang memposisikan diri sebagai pembanding harus ditempatkan pada sebuah area yang tepat, karena metode pemahaman dan aktualisasi turats Barat sangat jauh berbeda. Kita ingin berfikir untuk diri kita sekarang, dengan akal kita, tidak dengan akal selain kita. Tidak dari para umat-umat yang telah wafat yang diantara kita dan mereka terbentang abad-abad (para ulama klasik), juga tidak dari peradaban yang hidup sekarang (barat) yang perbedaan kita dan mereka bagaikan langit dan bumi.” (Lihat, Kaifa Nata’âmal ma’a al-Turâts, hal. 6).

Secara umum, setelah memahami hakikat turats dan peranannya untuk umat, dalam berinteraksi dengan turats Islam terdapat tiga tahapan yang perlu ditempuh seorang penuntut ilmu. Pertama menggali dasar teks turats dan membaginya ke unsur-unsur permasalahan (qawâ’id) dikenal dengan istilah tahlȋl, kemudian memahami dengan lebih detail metode yang dipakai oleh ulama-ulama Islam klasik dalam menyelesaikan  suatu permasalahan di zamannya. 

Hal ini dikenal dengan istilah tajrid yaitu mengeluarkan unsur-unsur terluar dari sebuah perkara. Dan yang terakhir, adalah pengambilan kesimpulan yang digunakan untuk mengatasi problematika kontemporer berdasarkan teks-teks klasik Islam atau dalam Islam dinamakan isthinbâţ. Syeikh Ali Jum’ah mengingatkan kepada setiap pengkaji turats agar tidak terpaku pada permasalahan-permasalahan yang terdapat pada zaman mereka, akan tetapi perhatikanlah bagaimana mereka (ulama klasik) menggunakan akal mereka dengan tetap berpegang pada teks.

Sebagai contoh, seorang ahli Usul Fikih berfikir, bagaimana agama dapat memecahkan permasalahan? Maka ia berfikir dalam banyak permasalahan, kemudian kembali bertanya, apa yang melandasi setiap permasalahan? Maka terjawab dengan al-Quran dan Sunnah, kemudian kembali bertanya bagaimana meyakini bahwa  al-Quran dan Sunnah itu asli? Maka mereka membuat sebuah ilmu tausîq (Ilmu yang memastikan keaslian  al-Quran dan Sunnah), kemudian kembali bertanya bagaimana mencermati sebuah ayat? Maka sebuah ayat pasti ada yang qath’iyyud dilâlah dan zhanniyyud dilâlah. Kemudian kembali bertanya bagaimana jika teks terbatas dan permasalahan terus bertambah, maka perlu adanya konsep qiyas, kemudian kembali bertanya bagaimana bisa disatukan permasalahan lama dan baru? Dan apa yang dilakukan ketika kedua dalil bertentangan? Maka dijawab dengan tarjih, kemudian bertanya siapa yang berhak melakukan ini? maka terjawab seorang mujtahid yang paling berhak untuk melakukan fase-fase rumit ini.

            Contoh diatas adalah gambaran kecil dari tugas para ulama Islam. Selama para ulama Islam masih menjadikan  al-Quran, Sunnah dan turats Islam sebagi objek kajian, disitulah tanda berputarnya roda peradaban. Karena pada kenyataannya, peradaban Barat yang kosong dari makna perlahan ditinggalkan oleh penganutnya sendiri, tersisa para generasi penerus peradaban Islam yang berada di garda terdepan untuk menuntun umat sesuai dengan manhaj yang telah diridoi Allah dan Rasul-Nya. Wallâhu a’lam bi al-awâb.   


*Penulis adalah pegiat kajian Nuun Center IKPM Kairo dan Pimpinan Redaksi Media Informatika Mesir

Tidak ada komentar: