Top Ad unit 728 × 90

Home

Bukan Lautan Jilbab



Oleh : Sayyidulqisthon*

“Ini gerakan tidak main-main, ini lebih dari sekedar kebangkitan sepotong kain,” ujar Emha dalam salah satu naskah fenomenalnya, Lautan Jilbab. Dan sekarang kain itu tidak hanya sepotong, gerakan jilbab telah memasuki fase selanjutnya, dari jilbab menjadi cadar dan niqab. Apa itu cadar? Apa bedanya dengan jilbab, hijab dan himar? Apa hukumnya dalam matriks hukum Islam yang lima menurut 4 mazhab atau bahkan lebih? Jika anda mencari jawaban dari pertanyaan itu saya anjurkan tidak melanjutkan membaca tulisan ini. Dan untuk mencari jawabannya saya anjurkan merujuk ke buku dan literasi lain yang terpercaya bukan tulisan ini.

Perjalanan hijrah dari bertelanjang kepala menuju jilbab dan dari berjilbab menuju cadar nilainya tidaklah sama. Dalam bahasa lain bisa dibilang ibarat perubahan dari gelas kosong kemudian diisi air lalu ditambah gula. Dari ketiga fase tersebut manakah yang bisa menolong orang kehausan? Tentu saja yang ke-dua dan tiga. Dan jika secara bersamaan ada tiga gelas ditawarkan pada kawan kita yang kehausan tadi, sudah pasti pertama ia akan membuang gelas kosong dari daftar pililannya, dengan demikian tersisa dua pilihan untuknya. Dari sini ia bebas menentukan gelas mana yang ia pilih, berbeda dengan gelas pertama (yang kosong), membuangnya dari daftar pilihan adalah sebuah keharusan.

Memang tidak bijak menjadikan kenampakan fisik seseorang sebagai tolok ukur dan parameter ke-salihan apalagi imannya. Karena memang iman, sesuai poin yang disepakati para ulama kalam adalah keyakinan dalam hati. Namanya saja keyakinan, mana bisa diuji secara pragmatis! Dengan demikian niqab seseorang belum cukup untuk menyatakan kesalihannya berada di atas mereka yang hanya mengenakan jilbab saja, apalagi peci. Tampaknya sudah maklum adanya jika beberapa calon wakil rakyat tiba-tiba saja berpeci dan menyandang sorban pada masa-masa kampanye. Atau bahkan beberapa lainnya yang sudah menjabat (tapi belum berpeci), tiba-tiba berpeci ketika terjerat kasus dan muncul di televisi.

Lalu, bagaimana kita seharusnya menyikapi fenomena cadar dan niqab ini? Keputusan dan sikap baru bisa diambil jika permasalahn sudah difahami dengan benar dan utuh, pemahaman yang tidak utuh hanya akan mengakibatkan pengambilan sikap yang salah. Lho, kalau begitu kapan kita mau mengambil sikap? Pasalnya memahami permasalahan secara utuh tampaknya akan mengabiskan waktu yang tidak sedikit! Demikian lebih baik, dan dalam proses menyusun pemahaman yang utuh tersebut sikap sementara yang kita ambil adalah husnu dzan. Husnu dzan terhadap latar belakang seseorang mengenakan cadar, husnu dzan bahwa mengenakan cadar adalah jalan yang mampu mendekatkannya pada Allah, dan husnu dzan-husnu dzan lainnya.

Di antara hasil husnu dzan itu, penulis menemukan satu makna bahwa mereka yang mengenakan cadar memiliki kesadaran (bukan sekedar pengetahuan) lebih dalam tentang makna malu, al-haya`u minal iman. Dan dengan rasa malu itu ia bisa mengontrol tindakan dan tingkah lakunya, terlepas dari pertanyaan kepada siapa ia malu? Kepada Allah-kah atau orang lain?

Sangat disayangkan jika lagi-lagi kita melewatkan pelajaran dari fenomena cadar ini, jika lagi-lagi fenomena dan isu yang ada di depan kita hanya berakhir sebagai bahan obrolan dan buah bibir belaka, tanpa memberinya tempat di hati. Untung jika kita sempat memsukkannya ke kepala. Dan lebih disayangkan lagi jika kelak fenomena cadar ini sampai pada titik di mana cadar hanya menjadi bagian dari salah satu mazhab tata busana (fashion) tanpa adanya keterlibatan unsur ibadah.

Tapi meski demikian, kalau saja penulis adalah salah satu tokoh pemilik kekuasaan, tentunya fenomena cadar menjadi sangat perlu diwaspadai. Karena cadar menutup salah satu pintu kuasa saya, kuasa untuk mengawasi mereka yang berada di bawah kekuasaan saya sampai ke ruang-ruang pribadinya. Siapa tahu dari ruang pribadi tersebut lahir benih-benih pemberontakan yang akan menjatuhkan kuasa saya. Sayangnya asumsi kepemilikan kuasa itu ambyar oleh kesadaran bahwa kuasa sejati hanya milik Allah.

Sekali lagi tulisan ini bukan versi cadar dari Lautan Jilbab milik Emha, yang mampu menyajikan fenomena jilbab dari berbagai sudut pandang dengan bahasa budaya yang apik. Apalagi karya ilmiah para aktifis-aktifis diskusi dan seminar yang tulisannya sanagat bisa dipertanggung jawabkan di depan publik. Menghargai semua orang adalah keharusan, dan jika terpaksa harus membenci, maka yang dibenci adalah pilihan dan tindakan yang ia lakukan bukan ia sebagai subjek.

*Penulis adalah mahasiswa jurusan akidah filsafat Universitas al-Azhar

Bukan Lautan Jilbab Reviewed by fatahillahbn on 09.43.00 Rating: 5

Tidak ada komentar:

All Rights Reserved by IKPM KAIRO © 2014 - 2015
Designed by Themes24x7

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.