KH. Hasan Abdullah Sahal, Wajah Keislaman, dan Tantangan Zaman - IKPM KAIRO

Kamis, 01 Maret 2018

KH. Hasan Abdullah Sahal, Wajah Keislaman, dan Tantangan Zaman




Masih segar dalam ingatan. Dengan suara bergetar, sesekali berteman aliran air mata, sosok pengganti ayah itu menyampaikan pesan dan amanat saat pembekalan menuju alumni Gontor. Seakan melepas putra semata wayangnya yang akan meninggalkan tanah kelahiran setelah sekian lama dibesarkan dengan penuh cinta dan kasih. Puluhan purnama telah berlalu. Dan kali ini, seakan mengulang kembali memori yang pernah terekam dalam benak. Mata ini kembali menatap sosok yang sama, di gedung yang berbeda, di belahan bumi Allah lainnya. Sejatinya ada 580 jiwa warga IKPM yang terdata berjuang di negerinya El-Sisi ini.

Tak ayal, lautan hadirin memenuhi Sholah Kamil, Hay Sadis, pada Rabu (27/2) tak sabar melepas rindu dan kembali mereguk nasehat penuh hikmah. KH. Hasan Abdullah Sahal, pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, mengunjungi Negeri Piramid untuk kesekian kali setelah sebelumnya pernah merasakan bangku kuliah al-Azhar selepas menamatkan dunia perkuliahan di Madinah meski tak selesai karena harus memenuhi panggilan pondok.

Menjadi pembicara dalam dialog interaktif "Penanggulangan Isu Kontemporer di Indonesia", beliau menyampaikan realita mutakhir yang terjadi dalam dunia keislaman dalam wajah Indonesia, tetap dengan ciri khas pembawaan yang tegas, diselingi dengan kelakar yang membuat para audiensi tersenyum simpul bahkan tergelak. Beliau membuka bincang-bincang malam itu dengan kisah sejarah pesantren, sebuah institusi pendidikan yang hanya ada di Indonesia, bermula di Indonesia, ciri khas Indonesia, yang muncul karena adanya penjajahan.

Ditengah berkecamuknya perang, para ulama memang kalah perang secara fisik, tapi tidak dengan mental. Justru karena itulah pesantren berdiri. Perseteruan antara pesantren dan penjajahan tak usai hingga kini, bahkan hingga nanti. Saat ini bukan memerangi Belanda, tapi melawan antek - antek Belanda. Londo Gosong. Fisiknya saja yang khas Indonesia, tapi tidak dengan otaknya. Karena pada kenyataannya, orang asli Indonesia sendiri lebih kejam, lebih bengis, lebih ganas.

"Jika kamu ingin beribadah, pergilah ke Mekah dan Madinah. Jika hendak belajar pengetahuan dan peradaban Islam, pergilah ke Mesir. Tapi jika kamu hendak mendapatkan pendidikan dan disiplin, maka pergilah ke Gontor." tegas Ustadz Hasan. Kenapa Gontor masih diterima sampai saat ini? Karena masih mempertahankan identitasnya,identitas keislaman yang Gontori. Pondok pesantren bercirikan keislaman, keilmuan, dan kemasyarakatan. Selama tiga hal ini masih ada, maka pondok akan tetap tegak.

Kenapa Gontor masih bisa bertahan? Karena didalamnya ada kehidupan dan pergerakan. Kehidupan yang sakral kultural maupun struktural. Sudah banyak yang berusaha menghancurkan pondok. Dengan sedaya upaya mencoba membeli Gontor. "Para penguasa, pengusaha, semuanya! Mereka masuk Gontor, mereka harus berputus asa mempengaruhi Gontor. Diatas hanya Allah, dibawah hanya tanah. Pondok tidak boleh berada di bawah apapun kecuali Allah Subhanahu wa taala."

Dengan semangat menggelora, Ustadz Hasan menegaskan, tidak ada kata feodalisme dalam dunia Gontor. Semua sama semua rata. Tak ada beda anak kyai dan bukan kyai. Karena sejatinya mengganggu panca jiwa, mengganggu kemerdekaan. Belajar dari sejarah, kehancuran datang dari dalam, bukan dari luar. Gontor tetap baku, tetap pakem.

Takut hanya kepada Allah, berharap hanya pada Allah, jika tidak, maka kebersamaan tidak akan bertahan lama. Melihat wajah Islam dalam dunia Keindonesiaan, sangat memprihatinkan. Segala hal yang berbau keislaman diteror, organisasi masyarakat, partai politik, ulama, semuanya. Islam sengaja dibuat dalam posisi salah, kalah, dan mengalah. Dihancurkan dengan harta, tahta, wanita, kuasa, senjata, dan berita.

Untuk maju ke depan, bukan lantas menjual diri, identitas, bahkan agama. Tempa diri menjadi manusia kuat karena yang akan dihadapi langsung adalah kekafiran dan pemurtadan, ditantang penjajah dan penjajahan rasa modern. nikmati surga keislaman, surga kehidupan. tak perlu menunggu surga akhirat, berkumpul dengan orang-orang yang hidup sesuai dengan agama kita, sehingga kita semua termasuk dalam jiwa jiwa yang tenang sebagaimana disebutkan dalam firman Allah.

Jam tangan menunjukkan angka pukul 10 malam saat acara selesai dilaksanakan. Sudah cukup larut, tapi mendengarkan nasehat dari seorang bapak membuat diri tak keberatan. Malam itu ditutup dengan perfotoan bapak pimpinan dengan warga IKPM Kairo, dilanjutkan dengan tajammu' makan malam bersama di pelataran Sholah Kamil.

Rep: Farah
Red: Bana

Tidak ada komentar: