Sebuah Pesan dari Pribumi Tanah Jurjan - IKPM KAIRO

Sabtu, 17 Maret 2018

Sebuah Pesan dari Pribumi Tanah Jurjan





Salah satu tradisi ulama terdahulu ialah,  melakukan pengembaraan ke berbagai negri untuk mendapatkan ilmu dari bermacam guru dan ahli. Bukan satu atau dua saja, bahkan hampir seluruh ulama melewati kisahnya dalam menuntut ilmu lewat rihlah ilmiah ke berbagai kawasan. Kita pun tentu sering mendengar adigium yang menyuarakan tentang hal ini, seperti:
“Tidaklah orang yang berakal dan beradab berada disuatu tempat untuk beristirahat. Maka tinggalkanlah tempat asalmu dan berkelanalah” (mā fī al-Maqāmi lidzī ‘aqlin wa dzī adabin min rāhatin fada’i al-Awthāna waghtarib.) yang disuarakan oleh Imam Syafi’i.

Imam Syafi’i tidak sedang beretorika atau semacamnya. Ia pun sangat merasakan pentingnya sebuah pengembaraan dalam menuntut ilmu. Dari Palestina, Makkah, Iraq, Baghdad, hingga ke Mesir ia lewati demi sebuah ilmu yang baru. Jadi, wajar jika petikan tersebut keluar dari lisan seorang Imam Syafi’i saat itu.

Namun adigium tersebut tidak terealisasi pada Imam Abdul Qahir al-Jurjani, sang penggagas ilmu balaghah. Kata ‘penggagas’ disini tidak saya maksudkan bahwa ialah orang pertama yang meletakkan ilmu balaghah. Sebelumnya sudah banyak para pakar dan ahli bahasa yang membicarakan ilmu ini, seperti Jahiz misalnya. Namun Abdul Qohir al-Jurjani lah yang merapihkan berbagai perbincangan balaghah yang berantakan (hadīsan mukhtadoman) menjadi sistematis lewat dua kitabnya yang berjudul, “Dalāil al-I’jāz dan Asrār al-Balāghah.”

Penisbatan kata pribumi kepada Imam Abdul Qahir sangatlah pantas. Pasalnya ia adalah penduduk asli Jurjan, Baghdad, sepanjang hayatnya. Dalam banyak riwayat disebutkan bahwa ia lahir, belajar, mengajar, hingga wafat di bumi Jurjan. Dan hebatnya lagi ia hanya belajar dari seorang alim besar bernama Abu al-Husain, Muhammad al-Farisi, keponakan dari Abu Ali al-Farisi, seorang pakar nahwu dari Bashrah. Abu Ali adalah ulama yang disebutkan sebagai ahli nahwu setelah Imam Sibaweih pada zamannya, karena  mengetahui secara detail al-Kitab milik sang Imam.

Selain pakar dalam ilmu balaghah, Imam Jurjani pun mahir dalam ilmu nahwu. Genealogi intelektual miliknya (sanad) sampai kepada Imam al-Nuhaat, Imam Sibaweih. Gurunya, abu al-Husain Muhammad al-Farisi mengambil ilmu nahwu dari pamannya, Abu Ali al-Farisi. Abu Ali  mengambilnya dari Ibnu Sarraj, pemilik kitab al-Ushul fi al-Nahwi. Ibnu Sarraj mengambilnya dari Abu Utsman al-Mazini, sedangakan al-Mazini mengambilnya dari Akhfasy al-awsath, satu-satunya orang yang mempelajari al-Kitab secara langsung dari Imam Sibaweih, pemilik al-Kitāb yang juga sering disebut sebagai Qur`an al-Nahw

Sebagai saksi bisu yang ada, Imam Jurjani membuat risalah singkat dalam ilmu nahwu pada kitab yang bertajuk “Awaamil al-Mi`ah.” Buku nahwu ini berbeda dengan buku-buku nahwu milik ulama lainnya. Metode yang digunakan tidaklah menggunakan pembahasan “ma’muulaat”, seperti yang dilakukan banyak ulama seperti Ibnu Hisyam, Ibnu Ajrum, Ibnu Malik, Imam Hariri, dsb. Namun sang Imam menggunakan metode pembahasan ‘Aamil’, sehingga membuat kitab ini lebih tersusun rapih.

Meski seribu tahun telah berlalu, karyanya kini masih utuh dan masih memberikan manfaat bagi seluruh manusia. al-Azhar masih membuka majlis-majlis keilmuan menggunakan kitab-kitab miliknya. Ini membuktikan bahwa sumbangsihnya pada dunia keilmuan sangatlah besar.

Dalam tulisan ini saya tidak ingin menelisisk biografi sang arsitektur balaghah secara dalam. Dari pemaparan singkat di atas, sebenarnya ada sebuah pesan yang tersirat  dari kisah hidupnya. Meski tak banyak, setidaknya ada tiga pelajaran yang terselip dan dapat kita ambil bersama sebagai sebuah pelajaran.

Pertama, Sosok Imam Abdul Qahir menggambarkan bahwa untuk menjadi seorang yang dapat bermanfaat, kau tak harus pergi ke luar negri. Mereka yang kuliah di luar negri misalnya, belum tentu ada jaminan untuk berhasil. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang kuliah di Universitas internasional, namun justru tidak menghasilkan apa-apa saat kembali ke tanah air. Jika Jurjan dapat menjadi saksi bisu Imam Jurjani, lantas kenapa Indonesia tidak bisa menjadi saksi bisu kita semua dalam keberhasilan kita.

Ini bukan berarti kuliah di luar negri tidak bagus atau tidak penting, itu penting! Namun saat ini adalah bagaimana seseorang tidak terbelenggu dengan embel-embel “luar negri”, sehingga terlalu larut dan berprasangka bahwa tanah air kita tak berisikan apapun.

Kedua, Imam Jurjani juga menyiratkan pesan, bahwa belajar tak perlu banyak guru. lewat satu guru, jika kau tekun dan istiqomah maka itu akan lebih membekas dan berpengaruh besar. Ibnu Jinni menjadi murid dari Abu Ali al-Farisi selama 40 tahun, atau hingga Abu Ali wafat. Seorang pelajar yang sudah menelaah pesan Imam Zarnuji terkait mencari guru pasti sudah paham mengapa Imam Jurjani bisa duduk bersama gurunya selama hidupnya, karena itulah hakikat sebuah guru.

Yang terkahir, Imam Jurjani menggambarkan sebuah pesan secara implisit bahwa jika kau mendalami suatu disiplin ilmu, maka fokuslah! Dalaail al-I’jaz dan Asraar al-Balaaghah tidak akan menjadi buku induk dalam ilmu balaghah jika Imam Jurjani tidak memfokuskan dirinya pada ilmu ini hingga menuliskannya secara sistematis dan eksistensinya masih dapat dibuktikan di era modern ini. Siapapun kita, apabila mencoba fokus, istiqamah dan menekuni sesuatu, maka itu semua akan menjadikan kita orang berhasil di hari kelak. Wallahu a’lam bi al-Shawaab.
(Bana)

*Tulisan ini disari dari majlis Awaamil Miah bersama Syekh Konate Sidi Fauzi di Madraj Imam Nawawi, Universitas al-Azhar

Tidak ada komentar: