Top Ad unit 728 × 90

Home

Di Antara Cuplikan dan Pesan Dalam Isra’ Mi’raj



Oleh: Bana Fatahillah*
      
Sebelum membahas semua hal terkait persitiwa isra’ mi’raj, Syekh Shalih Jaffar, seorang Imam al-Azhar yang merupakan pendiri thariqah Ja’fariyyah, dalam kitabnya al-Sirāj al-Wahhāj fī Qisshati al-Isrā wa al-Mi’rāj mengingatkan

Sesungguhnya Isra’ dan Mi’raj adalah sebuah kejadian di luar kebiasaan manusia yang tidak mampu dijangkau oleh akal. Maka dari itu, keduanya adalah sebuah bentuk mukjizat dari Allah Swt  yang tidak akan mungkin didatangkan oleh manusia dalam bentuk yang sama, serta tidak mungkin akal untuk mencapainya”. (lihat Syeikh Shalih Jaffar, al-Sirāj al-Wahhāj fī Qisshati al-Isrā wa al-Mi’rāj)
            
Hal ini bisa kita serupakan dengan mukjizat Rasul lainnya. Dalam salah satu hadis, diriwayatkan bahwa Rasulullah dapat membelah bulan menjadi dua bagian, satu di atas gunung dan yang lain di bawahnya. Dan pada hadis lain, Baginda Nabi bisa mengeluarkan air dari jari-jarinya untuk dipakai berwudhu kala sahabat tak menemukan air. Ini semua merupakan mukjizat yang mana merupakan sebuah perbuatan di luar kebiasaan manusia dan nihil dari peran akal. Seseorang hendaknya tidak bertanya “bagaimana” kejadian itu bisa terjadi. Dari ini semua, Syekh Shalih berkata, “Maka qiyaskanlah kejadian itu dengan peristiwa isra’ dan mi’raj” (wa qis ‘alaihi al-Isrā wa al-Mi’rāj).

Tulisan singkat ini tidak ingin membahas  tentang kejadian lengkap peristiwa isra’ mi’raj, melainkan akan membahas beberapa cuplikan pada peristiwa isra mi’raj serta mengambil pelajaran dari pesan yang tersirat di balik peristiwa tersebut. 

Setibanya di Masjidil Aqsha, Rasulullah Saw. mendirikan shalat dua rakaat memimpin para nabi terdahulu yang berdiri di belakangnya sebagai makmum. Usai shalat dua rakaat, malaikat Jibril pun datang kepada Rasulullah menawarkan sebuah susu dan khamr. Dan ketika Rasulullah justru memilih susu dari khamr,  Jibril pun berkata: “Kau telah memilih minuman yang suci” (qad ikhtarta al-Syurbat al-Fithrah).

Imam Sa’id Ramadhan al-Buuti, dalam kitabnya Fiqh al-Sīrah mengatakan bahwa ketika Nabi memilih susu, yang mana adalah minuman yang suci, merupakan sebuah pesan tersirat bahwasanya Islam adalah agama yang suci, yaitu agama yang mana seluruh akidah, keyakinan dan hukum-hukumnya relevan sesuai dengan fitrah manusia. Ini semua karena di dalam Islam tidak ada suatu hal yang bertentangan dengan tabiat asal atau fitrah pada diri manusia. Dan inilah yang menjadi rahasia tersebarnya islam yang begitu pesat. (Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthi, Fiqh al-Siirah 

Peristiwa ini pun dilanjutkan dengan mi’raj. Dalam perjalanannya menuju Sidratil Muntaha, Rasulullah Saw bertemu dengan para nabi-nabi sebelumnya, yang mana menunjukkan bahwasanya ruh mereka masih hidup walaupun jasad telah tiada. Beliau bertemu Nabi Adam di langit pertama, Nabi Isa dan Yahya di langit kedua, Nabi Yusuf di langit ketiga, Nabi Idris di langit keempat, Nabi Harun di langit kelima, Nabi Musa di langit keenam, dan Nabi Ibrahim di langit ketujuh.

Dan yang menakjubkan adalah, bahwasanya penjaga langit tidak membukakan setiap pintunya kecuali setelah Jibril mengucapkan bahwasanya ia bersama Rasulullah Saw. Dari sini kita dapat berkesimpulan bahwa dengan mengingat Rasulullah atau bershalawat kepadanya dapat memudahkan setiap pekerjaan kita dan membuka semua kesulitan yang ada, sebagaimana pintu langit yang dibuka dengan namanya.   

Maka naiklah Rasulullah Saw bertemu dengan Allah Swt di Sidratil Muntaha. Saat itulah disyariatkannya shalat  oleh Allah kepada nabi Muhammad dan umatnya. Namun saat turun kembali ke langit, Rasulullah bertemu nabi Musa As yang menasihati bahwasanya umatnya kelak tidak akan mampu melaksanakan perintah tersebut, yaitu 50 shalat,  seperti apa yang telah ia rasakan pada Bani Israil. “Maka baliklah dan minta keringanan, sesungguhnya umatmu tak akan sanggup dengan itu semua (inna ummataka lā tathīqu dzālika farji’ ilā rabbika fa’aslhu al-Takhfīf liummatika), ujar Nabi Musa.  

Akhirnya, shalat yang awalnya disyariatkan sebanyak lima puluh, diringankan oleh Allah menjadi lima, seperti yang kita jalani saat ini. Allah Swt mengatakan pada rasul-Nya, bahwasanya  bagi siapa yang mengerjakan satu kali shalat, maka pahalanya adalah sepuluh. Maka apabila ia shalat lima waktu, ia mendapatkan ganjaran pahala lima puluh shalat. Dan Allah juga menyampaikan, barang siapa yang hendak berbuat baik dan belum mengerjakannya, maka dihitung satu pahala. Dan apabila dikerjakan mendapatkan sepuluh pahala. Adapun sebaliknya, siapa yang hendak mengerjakan keburukan namun belum dikerjakan, maka tidak dihitung apapun. Dan apabila dikerjakan, maka baginya  satu keburukan.  

Di penghujung buku tersebut, Syeikh Solih Jaffar membuat sebuah pembahasan terkait pelajaran yang bisa diambil dari isra dan mi’raj  dengan bab tersendiri yang  berjudul: “Di Antara Pelajaran Isra’ dan Mi’raj” (min durūs al-isrā wa al-mi’rāj).  Ia memulainya dengan sebuah riwayat yang menceritakan bahwasanya di tengah perjalanan isra', Malaikat Jibril menyuruh Rasul untuk berhenti dan menyuruhnya mendirikan shalat dua rakaat pada suatu tempat. (qāla Jibrīl linnabiy : inzil, shalli rak’ataini hāhunā).  

Usai shalat, malaikat Jibril bertanya, “Apakah engkau tau dimana kau sedang shalat saat ini?” Rasulullah menjawab, “Tidak”. Jibril pun menjawab, “Kau telah shalat pada pohon yang telah dipakai untuk beristirahat oleh Nabi Musa setelah memberikan air pada ternak milik dua anak perempuan Nabi Syuaib.” Lalu di tempat tersebut nabi Musa berdoa, “robbi innī limā anzalta ilayya min khairin faqīrun” (Ya Tuhanku sesungguhnya aku memerlukan sesuatu kebaikan yang engkau turunkan kepadaku).  Dari sini, Syekh Dardiri, penulis kitab al-Kharīdat al-Bahiyyah, dalam hasyiyahnya pada kisah isra’ mi’raj milik Najmuddin al-Ghiiti, mengatakan:

“Dari peristiwa tersebut dapat diambil kesimpulan bahwasanya mengambil barakah atau ngalap barakah terhadap peniggalan para Nabi dan orang-orang sholeh adalah hal yang diperbolehkan. Dengan dalil bahwasanya Nabi Muhammad Saw turun dari atas buraq untuk menghormati dan memuliakan sebagian tanah yang telah diduduki oleh Nabi Musa As.”  

Masih banyak kejadian-kejadian ajaib saat peristiwa isra’ mi'raj yang tidak bisa disebutkan satu persatu. Dan tugas kita semua adalah mengambil pelajaran serta mempercayainya dengan penuh keyakinan. Semoga kita semua adalah orang-orang yang percaya dengan peristiwa isra mi’raj dan bisa mengambil seluruh pelajaran yang ada. wallahu a’lam bisshowab.

*Penulis adalah mahasiswa fakultas Ushuluddin Universitas al-Azhar, Kairo.

Di Antara Cuplikan dan Pesan Dalam Isra’ Mi’raj Reviewed by fatahillahbn on 08.57.00 Rating: 5

Tidak ada komentar:

All Rights Reserved by IKPM KAIRO © 2014 - 2015
Designed by Themes24x7

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.