Isra Mi’raj: Antara Abu Bakar dan Aqidah Ahlussunnah - IKPM KAIRO

Kamis, 12 April 2018

Isra Mi’raj: Antara Abu Bakar dan Aqidah Ahlussunnah




In kāna qāla dzālika laqad shadaqa, innī laushaddiquhu ‘alā ab’ada min dzālika
(Abu Bakar As-Shiddiq)

            Seperti yang sudah dibahas dalam  tulisan sebelumnya, bahwa isra’ dan mi’raj  merupakan sebuah mukjizat yang tak mungkin dibuat oleh makhluk Allah lainnya dan tak dapat difikirkan oleh akal sempurna. Dalam malam yang begitu singkat, Allah telah memuliakan Rasul-Nya dengan sebuah rahasia yang sangat agung dan akan selalu diabadikan oleh seluruh umat muslim dipenjuru dunia.

Syaikh Solih Jaffar pun memberi peringatan keras akan ketidakmampuannya akal dalam menindak kejadian ini. Lihatlah, bagaimana mungkin akal  dapat menangkap gambaran sebuah buraq,  yang dapat menempuh perjalanan yang sangat jauh dalam sepersekian detik, tentu ini bukanlah hal biasa pada umumnya yang sering dilihat. Begitupun kejadian selanjutnya, seperti  bertemunya Rasulullah Saw dengan para Nabi disetiap tingkatan langit, pertemuan dan perbincangan Nabi dengan Allah Swt hingga disyariatkannya shalat lima waktu, juga kejadian lainnya yang terjadi pada isra’mi’raj, yang mana  merupakan hal yang tak bisa digapai oleh akal.

Salah satu caranya adalah mempercayainya. Dan jika tidak, maka apa perbedaan kita dengan kaum Quraisy dahulu yang tidak percaya dengan rasul sepulangnya ia dari isra’ mi’raj. Mereka tertawa, bertanya-tanya, bahkan mengecap Rasulullah sebagai pembohong dengan kabar isra dan mi’raj. Samapai dalam salah satu hadis, Rasulullah berkata, “Ketika orang-orang Quraisy mendustakan perjalananku ke Baitul Maqdis, saya berdiri di hijr Ismail, lalu Allah menampakkan Baitul Maqdis kepadaku hingga saya memberitahu pada mereka tentang tanda-tandanya dan saya dapat melihatnya” (HR. Bukhori) .

Namun berbeda dengan Abu Bakar. Konsistensi untuk selalu percaya pada utusan Allah hadir pada lubuk dirinya. Dalam kitab Fiqih Sirah, Imam Buthi menceritakan bahwa Abu Bakar bahkan mengatakan dihadapan kaum Quraisy bahwa dirinya akan benar-benar percaya pada peristiwa yang lebih jauh dari ini (isra’ mi’raj). Lebih jelasnya ia mengatakan, “In kāna qāla dzālika laqad shadaqa, inni laushaddiquhu ‘ala ab’ada min dzālika”, tegas Abu Bakar. (lihat Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthi, Fiqh al-Siirah). Inilah mengapa gelar “al-Shiddiq” disandingkan pada namanya yang menunjukkan kesetiaannya terhadap Rasulullah.

Sebagi Muslim, tindakan Amirul Mukminin tersebut haruslah dicontoh pada sikap kita dalam menerima setiap khabar yang datang pada Rasulullah. Apa yang telah sampai pada kita dari Rasulullah Saw adalah sesuatu yang benar dan tidak mungkin salah – karena salah satu sifat mustahil bagi para nabi dan rasul adalah berbohong (al-Kidzbu). Dalam praktiknya, Imam Ali Ra pernah mengatakan bahwasanya jikalau Agama itu hanya dengan akal, niscaya yang dibasuh dari bagian khuf adalah bawahnya bukan bagian atasnya. Dalam Busyra al-Karīm  imam Baisyan  pun mengatakan bahwa perintah Rasul untuk memakai penutup kepala saat memasuki kamar mandi tidak lain dan tidak bukan hanya untuk mengikuti perintah Rasulullah Saw yang termaktub dalam hadis.

Aqidah Ahlussunnah

Dalam Aqidah ahlussunnah, yang menjadi inti dari seluruh pembahasan isinya dapat kita bagi menjadi tiga bagian; (i) yang berkaitan dengan Tuhan (Ilāhiyyat), (ii) kenabian (Nubuwwāt), (iii) dan kabar dari wahyu (Sam’iyyāt/ghaibiyyāt). Ini semua dapat kita lihat pada literatur-literatur para ulama yang menulis dalam kitab dasar pada aqidah,  seperti  nazham aqidat al-‘awwam milik Imam Ahmad al-Marzuqi, Kubraa Yaqiiniyyat milik Imam Ramadhan al-Buthi, Aqidah Ahlussunnah milik Syaikh ‘Ali Jum’ah, Kharidat al-Bahiyyah milik Imam Al-Dardiri, dan kitab-kitab aqidah lainnya yang telah ditulis oleh ulama-ulama kita terdahulu.

Dalam kitabnya “Aqidatu Ahlu al-Sunnah” Syekh ‘Ali Jum’ah mengatakan bahwa al-Sam’iyyat merupakan segala sesuatu yang hanya dapat kita imani atau percayai melalui  kabar yang terpercaya (kullu mā lā sabīla ila al-īmān illā ‘an tarīq al-Khabar al-Yaqīni).  Beliau juga menjelaskan bahwa percaya pada hal yang ghaib adalah asas dari sebuah ketaqwaan dan jalan masuk untuk beribadah kepada Allah SWT.

Imam Buthi, Dalam Kubra Yaqīniyyat nya,  menjelaskan bahwa pembahasan ketiga, yaitu al-Ghaybiyyat atau al-Sam’iyyat tidaklah sama seperti pembahasan Ilahiyyat ataupun Nubuwwat, karena keduanya bukan hanya dapat diimani dengan khabar yaqini, melainkan dengan akal sehat dan penalaran.

Jadi yang merupakan contoh-contoh dari al-Ghaibiyyat adalah yang sampai kepada kita hanya melalui khabar yaqini, dan belum sempurna gambarannya, juga masih tertutup bagi kita semua. Seperti kabar tentang tanda-tanda terjadinya hari kiamat, dan apa-apa yang akan dilewati manusia setelah mereka wafat; mizan, shirat, jannah, naar, hisaab, padang mahsyar, dan lain sebagainya yang merupakan perkara-perkara yang tidak bisa diyakini dengan mendatangkan permisalannya sehingga dapat membayangkannya dengan cara qiyas. (Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthi, Kubrā Yaqīniyyāt)

Selain hal-hal di atas, isra’ mi’raj merupakan salah satu yang menjadi pembahasan dalam contoh al-Sam’iyyat. Ini bisa kita buktikan pada nazham Aqiidatul Awam  milik Imam Ahmad al-Marzuqi. Setelah membahas semua yang berkaitan dengan Allah dan Rasul, beliau mencatumkan beberapa bait tentang isra’ mi’raj sebagai penutup pembahasan pada nazham tersebut, yang mana juga menunjukkan bahwasanyaisra mi’raj termasuk dalam pembahasan al-Samiyyat.  

Pandangan ini pun dapat kita kuatkan dengan pendapat Imam Nasafi. Dalam kitabnya al-Aqaid al-Nasaafiyyah, beliau mengatakan bahwasanya seseorang dapat mengetahui sesuatu melalui tiga sumber, yaitu presepsi indra (idraak al-hawās), proses akal sehat (ta’aqqul) serta intuisi hati (qalb), dan melalui informasi yang benar (khabar sadiq). 

Dr. Syamsuddin Arif, Direktur Eksekutif Institute for Study Islamic Thought and Civilizations (INSITSTS), dalam makalahnya “Prinsip-Prinsip Dasar Epistemologi Islam” berpendapat bahwa khabar sadiq adalah sumber yang tidak kalah penting, yang mana merupakan suatu hal yang berasal dari dan bersandar pada otoritas. Sumber khabar sadiq, apalagi dalam urusan agama, adalah wahyu (kalam Allah dan sunnah Rasul-Nya) yang diterima dan diteruskan yakni ditransmit (ruwiya) dan ditransfer (nuqila) sampai ke akhir zaman. (Lihat Adian Husaini, Filsafat Ilmu).

Imam Nasafi membagi khabar sadiq menjadi dua, yaitu apa yang berdasarkan wahyu dan yang bukan. Gampangnya, dalam yang bukan wahyu, kabar tentang adanya presiden Soekarno pada zaman dahulu, misalnya, merupakan hal yang benar dan dipercaya. Karena kabar ini dikuatkan oleh banyak orang yang mana mereka semua tidak akan  sepakat untuk berbohong. Dalam yang berdasarkan wahyu, seperti contoh-contoh al-Sam’iyyat yang telah disebutkan dalam al-Quran dan hadis, begitupun isra’ dan mi’raj yang sedang kita bahas.

Jadi mudahnya, kita bisa mengatakan, “Kalau kabar yang bersumber pada manusia saja kita dapat mempercayainya, kenapa kabar yang bersumber langsung dari Allah SWT – yang maha mengetahui dan maha berkehendak, kita tidak mempercayainya”. Sama-sama hal yang gaib, namun berbeda sumbernya. 

Pelajaran yang dapat kita ambil dari sosok Abu Bakar adalah bahwasanya ia percaya dengan penuh kepercayaan pada Rasulullah Saw. Ia akan percaya pada semua yang disampaikan oleh Rasulullah. Begitupun kita, sebagai pengikut nabi Muhammad, kita haruslah percaya terhadap apa yang dikabarkan olehnya, baik berupa cerita, kisah, kabar hari akhir, maupun suatu hukum. Tentu ini semua dengan pemahaman yang baik terhadap teks-teks hadis nabi secara baik. Dari ini semua dapat kita katakan bahwa pandangan ahlussunah sangat selaras dengan tindakan yang diambil oleh Abu Bakar As-Siddiq. Tanpa mengurangi rasa hormat dan ta’dzim, bisa kita katakan Abu Bakar adalah sunni yaitu Ahlussunnah, meskipun pada saat itu belum ada perbedaan pandangan dalam aqidah. Atau kita balik, bahwa ahlussunnah sangat selaras dengan pemikiran para sahabat. wallahu a’lam bisshowab.





Tidak ada komentar: