Al-Azhar Wujudkan Toleransi Dunia - IKPM KAIRO

Selasa, 30 Oktober 2018

Al-Azhar Wujudkan Toleransi Dunia


Doc. Muktamar Oleh Al-Azhar 
Beserta Para Dewan Muslim Dunia

Kairo - Senin (22/10) Al-Azhar beserta para Dewan Muslim Dunia berhasil menghelat kembali muktamar yang diadakan setiap tahunnya. Dengan tujuan untuk menyelesaikan konflik-konflik yang terjadi antar berbagai negara di dunia. Adapun tema muktamar tahun ini adalah "Islam dan Barat, Keanekaragaman dan Integrasi." Tema ini tak lepas dari tinjauan para tokoh besar dunia atas isu-isu kontemporer terkait hubungan Islam dan Barat dengan polarisasi yang semakin komprehensif. Simposium yang dilaksanakan di Al-Azhar Convention Center (ACC) selama tiga hari tersebut, melibatkan 13 presiden beserta mantan perdana menteri Asia dan Eropa, serta tokoh-tokoh besar dari berbagai negara. Adapun salah satu tokoh besar negara Indonesia yang hadir dalam simposium, Prof.Dr.H. Muhammad Quraisy Shihab, M.A.

Pembukaan simposium yang bertepatan pada tanggal (22/10) terdiri atas tiga sesi. Sesi pertama, diisi oleh beberapa pimpinan besar negara serta diakhiri oleh Grand Syeikh Al-Azhar, DR. Amad Muhammad Ahmad Ath-Thayyib. Kemudian sesi kedua, pembahasan tentang Evolusi Hubungan antara Islam dan Barat. Dan sesi ketiga, tentang pembahasan ketegangan antara muslim dan Eropa. Jumlah sesi keseluruhan selama simposium yang terlaksana tiga hari ini adalah 8 sesi dengan berbagai tema pembahasan. Diantaranya 3 sesi sebagaimana dipaparkan sebelumnya serta 5 sesi lainnya yaitu, Nasionalisme, Popularitas, dan Status Agama. Demokrasi, Migrasi, dan Masa Depan. Dialog Agama serta Dialog Komunitas (23/10). Serta pada hari selanjutnya dengan tema Poin Kesepakatan dan Titik Perbedaan, serta Konten Metode Pengajaran Agama (24/10).

Dari hasil simposium yang terjadi selama tiga hari tersebut, terdapa tiga point penting dalam muktamar. Diantaranya:
Point pertama, Senin (22/10). Hakikat terjadinya konfilk antar Islam dan Barat bukan berasal dari dua pihak, melainkan dari rezim global yang mengatasnamakan agama dan moral. Dari sinilah timbul berbagai isu yang mengakibatkan hubungan antara Islam dan Barat memburuk. Padahal jelas dalam sejarah bahwa Islam memiliki kontribusi besar untuk kemajuan peradaban Barat. Maka tergugahlah para tokoh-tokoh besar dunia untuk segera menyelesaikan berbagai masalah yang terjadi. Al-Azhar dengan ajaran dan kurikulum pendidikannya telah berhasil membentuk para generasinya dengan pemikiran serta perilaku yang Azhari dan mampu bertahan di zaman kontemporer saat ini. Al-Azhar juga berhasil menciptakan kedamaian antar umat, sebagaimana diimplementasikan dalam muktamar. Dari muktamar inilah diciptakan titik terang berbagai permasalahan yang terjadi. 

Point Kedua, Selasa (23/10). Agama tidak menyeru pada fanatisme serta rasialisme. Karena dua hal inilah yang kelak akan menciptakan suatu kebencian serta diferensiasi antar umat beragama. Agama memiliki pengaruh besar khususnya dalam kehidupan bersama, bahkan permasalahan yang terjadi antar umat mayoritas bersumber dari agama. Meski Islam merupakan mayoritas penduduk di dunia ini, namun pada nyatanya angka yang terus meningkat di zaman ini adalah angka kemiskinan. Hal ini disebabkan karena kurangnya kemampuan serta kemauan oleh umat Islam untuk memasuki persaingan global di bidang industri serta teknologi.

Point Ketiga, Rabu (24/10). Pentingnya jembatan dialog antar Islam dan Barat. Berbagai arus intelektual oleh Barat, mencoba untuk mempromosikan Islam hanya sebagai ideologi saja dan bukan suatu agama. Dari sinilah didapatkan solusi bahwa semua orang harus menghormati multikulturalisme serta keragaman antar budaya, sehingga terciptalah kedamaian dunia. Ikatan antar nasional serta dogma menyebabkan penderitaan antara Islam dan Barat. Maka dari itu, dunia perlu membahas masalah-masalah yang terjadi dalam berbagai aspek.

Dari simposium ini, AL-Azhar, Dewan Muslim, seluruh tokoh besar di Dunia serta khalayak masyarakatpun berharap, semoga hasil pembahasan serta penyelesaian masalah isu-isu kontemporer antara Islam dan Barat dalam simposium ini dapat terlaksana, sehingga konflik antara kedua belah pihak dapat segera terselesaikan.

Rep: Rima
Red: Nurman



Tidak ada komentar: