Tuan Guru Bajang (TGB) : Partisipasi Pelajar di Luar Negeri mendukung Pembangunan Negeri - IKPM KAIRO

Jumat, 19 Oktober 2018

Tuan Guru Bajang (TGB) : Partisipasi Pelajar di Luar Negeri mendukung Pembangunan Negeri


Tuan Guru Bajang (TGB) Dalam Motivation Talk, Rabu (17/10)


Kairo – Rabu (17/10) Ketua Organisasi Induk Alumni Al-Azhar cabang Indonesia, Dr. TGB. Muhammad Zainul Majdi kunjungi Mesir untuk melakukan tugas penting yaitu meminta muwafaqoh amniyah untuk 1982 orang calon mahasiswa baru yang akan belajar di Al-Azhar. Dalam kunjungannya yang kurang dari 24 jam ini beliau sempatkan untuk bertemu dengan Masisir dan memberikan banyak arahan-arahan berharga yang akan menjadi bekal seorang Azhari di kemudian hari. Acara ini dihelat di aula KMNTB setelah sholat Maghrib tepat.

Diantara point-point dalam Motivation Talk ini beliau memaparkan dengan tiga point besar diantaranya, yang pertama, kita harus bersyukur karena telah diberikan kesempatan oleh Allah untuk belajar di Mesir, Negeri Para Nabi. Karena penyuburan pikiran di Mesir sangat baik walaupun saat disini tidak terasa tapi saat kembali ke Indonesia baru akan terasa. Oleh karena itu kepada para mahasiswa dan mahasisiwi untuk memanfaatkan waktu sebaik mungkin di Mesir ini. Untuk benar-benar mengisi, memenuhi akal pikiran dan hati dengan ilmu-ilmu dan hal-hal yang bermanfaat. Itu semua akan sangat berguna nantinya sekembalinya kalian balik dari Mesir.

Sebenarnya Al-Azhar telah mendidik kita, memaksa kita untuk hidup dalam keberagaman tetapi tetap mengetahui pondasi kita. Jadilah asy’ari atau maturudy. Boleh kalian membaca apa saja, mengkonsumsi pemikiran siapa saja yang ada di Mesir ini tetapi tetap dengan pondasi Asy’ariyah dan Maturidyah Ahlusunnah wal jama’ah. Ditengah pemikiran yang sangat dalam dengan gelombang yang sangat tinggi, kita memerlukan satu pegangan yang sering guru-guru kita sampaikan, bahkan saat pertemuan dengan Grand Syekh beliau menyampaikan bahwa agar kita mengokohkan, memperkuat dan menyebarkan pemikiran Asy’ari. Kenapa? Karena itulah yang mencerminkan moderasi Islam.

Point kedua yaitu kita perlu belajar dari pengalaman. Saat beliau mengunjungi Deputi Grand Syekh untuk mempercepat pemberangkatan anak-anak baru, Duta Besar berkata bahwa banyak mahasiwa indonesia yang ke Mesir malah untuk berbisnis, traveler. Sebenarnya pemerintah Mesir tau keadaan mahasiswa Indonesia yang ke Mesir. Juga banyak anak-anak Indonesia yang mengaji pemikiran-pemikiran yang menentang Al-Azhar, mengikuti orang-orang Mesir yang anti pemerintah. Ini merupakan urusan panjang. Depotasi itu menjadi catatan. Katanya mau belajar di Al-Azhar tetapi malah belajar yang lain. Maka dari itu TGB Muhammad Zainul Majdi mengajak para mahasiswa dan mahasiswi untuk bermuhasabah.

Kita menjadi tamu di Mesir dan harus mentaati peraturan dan dan menghormati a’rof atau budaya (sosio-kultural). Mesir merupakan ummu dunya, menerima semua yang datang. Kita juga melihat bahwa beasiswa kita selalu ditambah oleh Al-Azhar Indonesia. Apakah negara Mesir lebih kaya dari indonesia? Tidak, karena disitu terdapat karamah dan syahamah. Ibu yang baik untuk anak-anaknya. Kalau tidak bisa lebih baik dari yang baik yang diberikan, harus setara. Tapi jangan kita balas dengan hal-hal yang tidak baik. Mari menjadi tamu yang baik. Sesuaikan dengan baik, karena ini bukan hanya untuk kita, tapi untuk generasi setelah kita. Karena kelakuan kita hari ini. Akan berdampak pada adik-adik kita. Maka sikap kita harus diperspektifkan jangka tengah dan panjang untuk menjaga nama baik Indonesia. Agar kebaikan yang kita lakukan akan berpahala, mengalir dan agar mudah bagi kita untuk menuntut ilmu.

Point ketiga yaitu peran atau partisipasi mahasiswa alumni Al-Azhar khusunya. Kadang banyak dari kita yang berfikir akan menjadi apa saat pulang. Lupa dengan ilmu yang sudah didapat dari hikmah para ulama yang sanadnya tersambung sampai Rasulullah Saw. Apakah orang yang mempunyai ilmu yang bersambung sampai Rasulullah Saw tidak percaya bahwa Allah akan memberikan kebaikan kepadanya? Bangun kepercayaan diri. Kepercayaan diri akan terbangun saat kita mempunyai nilai-nilai kokoh dalam diri. Dalam keadaan normal bahkan tidak normal, kita sangat dibutuhkan.

Di Indonesia yang bisa menetralisir keadaan masyarakat saat ini adalah bantalan spiritualitas. Dan spiritual ini tidak terbangun dengan sendirinya. Dalam situasi apapun, peran dari orang-orang yang memiliki pemahaman-pemahaman keagamaan, apalagi jika pemahaman keagamaan yang didasari dengan skil-skil tertentu.

Alumni Mesir saat ini mempunyai kredibilitas ditengah masyarakat. Saat panggung-panggung keagamaan naik betapa manfaatnya panggung itu jika diisi oleh alumni-alumni Al-Azhar. Oleh karena itu, dalam kehidupan sosial, ada ruang-ruang yang tercipta, ada yang mengisinya dengan meniupkan optimisme bahkan ada juga yang pesimisme. Kita harus menghadirkan wacana keislaman dengan meniupkan optimisme. Isilah panggung-panggung di Indonesia dengan energi optimisme, mengarahkan masyarakat agar menjadi masyarakat yang lebih baik tanpa menistakan, meminggirkan dan menghakimi.

“Tidak usah terlalu khawatir dengan masa depan kita. Dalam kehidupan kita kadang-kadang terumitkan mau jadi apa nantinya. Serahkan semua kepada Allah Swt . kita sudah mengatur hidup dengan baik, tapi semua akan kembali kepada Allah. Karena sekuat-kuatnya kita merencanakan, jika ada sentuhan takdir, maka insyaAllah itu yang terbaik. Persiapkan dengan sebaik-baiknya, apapun amanah yang Allah beri nanti, kita sudah siap. Atta’widz dan mumarosah.

Di Indonesia banyak kajian yang diisi oleh orang-orang yang tidak berkompeten. Maka bersyukurlah, kita berada dalam asuhan, ,institusi yang besar bahkan sanad ilmunya jelas. Semangat tanpa pemahaman dan kepahaman itu bahaya. Di Indonesia banyak ranah pengabdian. Di Mesir siapkan diri baik-baik. Diskusi, saling membenturkan pikiran tapi tetap dalam konsteks yang benar dengan dalil, itu kesempatan yang luar biasa. Khazanah pemikiran yang memiliki dasar, itulah khazanah yang kita hormati. Tetapi khazanah yang tidak memiliki dasar bahkan yang menentang dari ajaran islam, maka kita tolak. Kita bisa mengembangkan keilmuan disini dengan dibantu oleh para Masyayikh dan inilah ulumu azhary syarif,” papar Doktor Jurusan Tafsir ini diakhir pembicaraannya.

Setelah acara motivation talk ini, Dr. TGB Muhammad Zainul Majdi langsung kembali ke tanah air. Semoga  petuah-petuah beliau akan mengalirkan dampak positif untuk para Masisir agar lebih bersemangat lagi menuntut ilmu dan bersiap untuk membangun Indonesia ke arah yang lebih baik.

Rep: Naili
Red: Fakhri

1 komentar: