Nurman Bakri – Inspirasi Tuk Raih Mumtaz di Universitas Al-Azhar - IKPM KAIRO

Senin, 12 November 2018

Nurman Bakri – Inspirasi Tuk Raih Mumtaz di Universitas Al-Azhar



Doc: Penyerahan Penghargaan dari Zeemaro untuk Ustadz Nurman bin Abdul Bakri

Ikpmkairo.com – Meraih mumtaz adalah mimpi setiap pelajar ataupun mahasiswa. Namun hal tersebut haruslah dirancang dengan usaha yang keras, metode belajar yang baik serta tawakal atas apa yang telah diusahakannya. Oleh karena itu, ‘Zeemaro’, angkatan kedatangan 2017 mencoba menghadirkan Seminar yang bertajuk ‘Metode Meraih Mumtaz di al-Azhar University’. Acara ini diisi langsung oleh pencetus metode ‘RABAB’, H. Nurman bin Abdul Bakri, yang dihelat di aula KPMJB, Jum’at (9/11).

Pada seminar ini kak Nurman, panggilan akrabnya, menyampaikan beberapa poin tentang cara meraih mumtaz. Adapun poin-poin penting yang disampaikan adalah sebagai berikut:

Pertama, Gontor mengajarkan kita menganggap pondok adalah ibu kita sendiri, wajib kita taati dan berbakti, sebagaimana Allah mengajarkan kita untuk menganggap Rasulullah Saw. adalah sosok ibu pengasih kepada umatnya, menyampaikan ajaran agama yang mulia, menjadi rahmat bagi alam semesta (sebuah tafsiran pemikiran dari lafadz: al-Nabi al-Ummiy).

Kedua, logo IKPM Kairo memiliki makna nasehat berharga, yaitu 4 sifat penuntut ilmu: sifat kuat dan sabar; sifat seekor unta, Sifat ‘Uluwwu al-Himmah; sifat langit, sifat al-Tsabat ‘ala al-Mabda; sifat gunung, serta sifat tawadhu’; sifat bumi.

Ketiga, dalam belajar harus ada metode, omong kosong orang yang mengatakan tidak rajin, tidak sering belajar namun mendapatkan nilai mumtaz. Betapa banyak orang bisa mendapatkan nilai mumtaz, namun sedikit yang mau berbagi rahasia itu, oleh karena itu, pada seminar inilah dimana tempat berbagi tips-tips meraih mumtaz.

Keempat, untuk dapat meraih mumtaz, salah satu metode yang dapat digunakan yaitu Metode ‘RABAB’. Metode ini adalah Reading (bacaan), Accurate (benar), Book (alat/ media), Analize (analisa), dan Behaviour (sikap).


Kelima, bertakwa tidaklah cukup dalam meraih prestasi, karena usaha maksimal harus dilakukan dengan benar. Apalagi tidak semua dari kita memiliki IQ yang tinggi hingga cepat menangkap dan menghafal pelajaran. Oleh karena itu dibutuhkan “tawakkul burung”, yang pergi dalam keadaan kosong dan pulang dengan paruh yang penuh simpanan makanan, hingga dalam membuat sarang yang dibutuhkan kesabaran dalam mencari dan menyusun ranting-ranting pepohonan. Dari segi penelitian linguistik, arti kata “tawâkul” dengan “tawakkul” sangatlah berbeda. Tawâkul berserah diri kepada Allah Swt. dengan apa yang terjadi tanpa diiringi dengan usaha yang maksimal, sedangkan tawakkul (dalam bahasa Indonesia, tawakal) adalah berusaha maksimal, berbuat dari awal jengkal hingga do’a ke langit terpental.

Keenam, kunci istiqamah: al-Mutâba’ah (sesuai dengan ajaran agama Islam yang moderat dan toleran), Mulâzamatu al-Jamâ’ah al-Shâlihah (selalu senantiasa dengan komunitas saleh), ‘Admu al-Thughyan (menghindari yang berlebih-lebihan walaupun dalam kebaikan), dan al-Murâqabah (senantiasa merasakan dalam pengawasan Allah Swt.). Jika dimasukkan dengan sifat istiqamahnya, artinya dengna niat untuk ikhlas dalam istiqamah maka jadi lima sifat. Karena hakikat istiqamah adalah istiqamah (bersikap lurus) itu sendiri.

Ketujuh, Ujian adalah penenetu berhasil tidaknya proses belajar. Kedelapan, membuat agenda harian, agar kegiatan sehari-hari terancang dengan baik. Ini adalah salah satu tujuan untuk mengatur waktu agar target belajar selama di Mesir tercapai dalam waktu yang terbatas.

Sebelum mengakhiri pemaparan singkatnya, beliau berpesan singkat mengenai betapa pentingnya fokus ketika belajar, “belajarlah sebelum belajar, belajarlah tatkala belajar, belajarlah setelah belajar”, tutup mahasiswa terbaik pada PPMI Award tahun 2008 ini. (Nurman Bakri & Nurman Haris)

Tidak ada komentar: