Inilah Pesan Penting yang Disampaikan Kandidat Doktor Aqidah Filsafat dalam Acara Takrim Mutafawwiqin - IKPM KAIRO

Jumat, 09 November 2018

Inilah Pesan Penting yang Disampaikan Kandidat Doktor Aqidah Filsafat dalam Acara Takrim Mutafawwiqin




Kairo - Rabu (10/11) menjadi hari yang penuh kesyukuran. IKPM Cabang Kairo helat acara Takrimul Mutafawwiqin dan Tasyakuran Temus dengan tema Mengokohkan Identitas Azhari Sebagai Santri dan Pahlawan Bangsa. Muhammad Aunul Abied Shah, Lc., M.A, selaku pemateri, merupakan kandidat doktor universitas Al-Azhar jurusan Aqidah Filsafat.

Adapun point-point yang disampaikan oleh beliau diantaranya, point pertama, Gontor mengajari kita bagaimana mendapatkan kesempatan dalam kesempitan. Rasakanlah dirimu itu tidak punya apa-apa, sulit menghafal, sulit paham kemudian tanya kepada temanmu yang pintar dan cari rahasianya lalu ikutilah caranya. Ini dalam kerangka kita belajar kebaikan kepada orang lain.

Point kedua, bersyukur, Allah telah memberikan kesempatan untuk menginjak bumi Kinanah. Kalau kita bersyukur, maka kita semangat untuk menggapai prestasi. Kalau kurang syukur, maka akan merasa cukup dan tidak akan berusaha lagi.

Point ketiga, sebagai alumni Gontor dan agar memahamkan orang lain dalam memahami Gontor, kita harus menanamkan orang lain untuk bisa membedakan antara Gontor dan alumninya. Kita harus punya nilai agar bisa berkiprah dan bermanfaat untuk orang lain.
Hidup itu perkara memilih. Yang penting ada variasi dalam hidup.

Point keempat, hal yang perlu dipertahankan oleh alumni Gontor, jangan tidur pagi. Agar kita bisa memenuhi hidup untuk diri sendiri. Karena setelah itu hak diri kita untuk orang lain. Bangun pagi, membaca, bikin ringkasan, membuat makalah dsb.

Kiat sukses dalam memahami pelajaran adalah  membaca buku yang akan dipelajarinya sebelum mulai pelajaran yang akan dipelajari. Saat membaca buku, kita bawa pensil, waktu membaca dan menemukan maklumat yang sama lalu ditulis dibuku referensinya apa lalu ditambahkan

Point kelima, oleh Gontor kita diberi kunci dan bagaimana bisa melihat rahasia dibalik pintu yang akan dibuka oleh kunci itu. Kita harus punya cita-cita tinggi, jangan rendahan.

Point keenam, oleh Allah kita tidak hanya dituntut untuk merencanakan dan berfikir tapi juga diamalkan dan ada rasa muraqabah oleh Allah, Rasulullah dan orang-orang sholeh agar tahu bahwa segala sesuatu ada pertanggungjawabannya. Semua ini dalam menjalankan misi perekat umat.

Point ketujuh, kita sebagai santri yang abadi.
Santri dibagi menjadi lima macam diantaranya santri tandur yaitu sebagai muallim, santri catur yaitu sebagai santri yang terjun di dunia politik, santri tutur yaitu sebagai muballigh atau penceramah, santri sembur sebagai orang yang dipercaya (kyai), santri muwur yaitu santri yang menjadi rujukan hukum dan kehidupan seperti penulis, dsb.

Point kedelapan, bisa menguasai berbagai disiplin ilmu dengan waktu yang sangat singkat dengan membuat perencanaan, dimulai dari perspektif diri. Apa yang sudah dipunyai dan belum punya. Kalau ingin menjadi Azhari yang bermoral dan ideal prioritas pertama adalah tidak mempunyai hubungan yang mengikat dengan lawan jenis. Harus bisa mengatur waktu.

Yang pertama harus dikuasai adalah ilmu alat yang bersifat ilmiah kemudian ilmu-ilmu umum lalu ilmu spesialis. Lihat ilmu yang harus talaqi atau baca sendiri. Harus tau cita-cita kita apa. Apa yang harus diambil di kuliah dan ditambal diluar. Dari pemikiran klasik sampai kontemporer harus dipelajari. Rancangan harus diikat agar semua bisa terkuasai. Taruhlah cita citamu setinggi langit, jangan ada yang menghalangi.

Point kesepuluh, kita bisa mempertahankan identitas Gontor dengan mendekatkan diri kepada Allah Swt, karena dengan itu kita selalu merasa bahwa santri. Bahwa Allah selalu ada, fii kulli lamhatin wa nafasin. Selama kita dekat dengan Allah Swt, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.


Disamping Muhammad Aunul Abied Shah Lc., M.A turut hadir pula  Mohammad Hendri al-Faruq sebagai senior IKPM yang telah melaksanakan temus tahun ini. Diantara pesan yang beliau paparkan adalah berkah dari silaturahmi dan doa kepada Masyayikh, orang tua, serta teman-teman yang berangkat umroh atau haji. Kalau berada di dekat Ka'bah, berdoa agar kita selalu dekat Rasulullah.

Ketika kita sebagai thalibul al-ilmi jadilah seorang seperti thalibul al-ilmi sesungguhnya. Al-ilmu fii as-shudur laa fi as-sutur. Ilmu ada di dalam hati dan yang disertai amal lalu bermanfaat. Kalau kalian ingin hidup dengan ulama yang sudah meninggal, maka dalami, selami, renungi kitab tersebut.

Dua hal yang penting bagi seorang penuntut ilmu, birrul walidaini yang masih hidup ataupun sudah meninggal. Perhatikan orang tua, bahagiakan orang tua, taat kepada orang tua. Selama orang tua masih hidup, bahagiakan. Ketika masih kecil kita disantuni, ketika sudah besar kita yang menyantuni. Yang kedua adalah silaturahmi, salah satunya dengan membantu sesama.

Demikian nasehat agung dari Muhammad Aunul Abied Shah, Lc., M.A dan Mohammad Hendri al-Faruq semoga bisa menjadi pacuan kita semua untuk lebih semangat belajar dan bisa mengabdi kepada umat dikemudian hari dengan ilmu Azhari yang mumtaz ilmu, hati dan akhlaq.

Tidak ada komentar: