Doktor Tafsir Universitas Darussalam Gontor, Sujiat Zubaidi: Mengasah Artikulasi Keilmuan, dan Mengembangkan Wawasan - IKPM KAIRO

Jumat, 21 Desember 2018

Doktor Tafsir Universitas Darussalam Gontor, Sujiat Zubaidi: Mengasah Artikulasi Keilmuan, dan Mengembangkan Wawasan



IKPM Cabang Kairo-Pada beberapa forum silaturahmi bersama warga IKPM Cabang-Kairo, Dr. Sujiat Zubaidi salah satu Doktor Universitas Darussalam Gontor Ponorogo Indonesia, menyampaiakan beberapa nilai mengenai geliat intelektualitas yang banyak menarik perhatian para mahasiswa mulai tingkat lisans sampai  doktoral baik domestik maupun mancanegara.

Kedatangannya ke Mesir guna mengikuti program pengambangan karir keilmuan, karier dan wawasan bagi mereka yang telah menyelesaikan studi S3, yakni Post-Doctoral; Fellowship Program for Islamic Higher Education yang disponsori oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Agama Islam Kementerian Agama Republik Indonesia selama 1 bulan di Mesir. Riset yang bertemakan Semantik Al-Qur’an dan Pengaruhnya terhadap Tafsir ini dibimbing secara intensif oleh Prof. Dr. Muhammad Daud, pakar liguistik al-Qur’an Universitas Kanal Suez. Baginya keikutsertaan dalam program ini merupakan bagian dari intellectual refreshing yang dapat memberikan added value, karena sejatinya intelektual kita perlu diasah dan dikembangkan secara simultan agar mampu berkontribusi positif bagi pengembangan keilmuwan dan wawasan, pungkasnya”.

Sebelumnya, ia mengikuti program yang serupa International Collaborative Research di Cape Town, dan Johannesburg, pada awal Desember 2015  dalam penelitian tentang Metodologi Studi Al-Qur’an di Indonesia dan Afrika Selatan, yang didanai oleh Kementerian Agama Republik Indonesia. Selanjutnya, Pada tahun 2017, ia juga menjadi pembicara dalam International Symposium tentang Positive Action, According to Bediuzzaman Said Nursi di Istanbul, Turkey pada Oktober 2017, kemudian dua bulan berikutnya mendapat undangan sebagai pembicara di “First International Creation Congress on the Light of Qur’an and Sciences” yang diadakan di Harran University, Sanliurfa Turkey.

“Sekarang yang nge-trend adalah studi – mulai S1 sampai S3- dengan beasiswa, walaupun orangtua mampu dalam sisi materi. mengapa? karena dalam program beasiswa pasti melalui seleksi ketat dan berkompetisi. Tentu lebih bernilai dan prestisius karena harus memenuhi sekian banyak kualifikasi administratif dan akademik. Pada tingkat selanjutnya, kita tertantang untuk dapat memenuhi kualifikasi tersebut. Tantangan itulah yang mampu memunculkan potensi diri, dan dengan motivasi yang tinggi akan dapat kita raih prestasi.

Saya berharap kepada kalian – peraih beasiswa AlAzhar di Bu’uts - lebih berprestasi dan lebih memiliki peluang-peluang yang bisa dimanfaatkan dan dioptimalkan. Karena, kata Hamka: “Guru yg baik adalah guru yang mengharapkan murid-muridnya lebih baik darinya, dan  murid yang baik adalah murid yang menghargai jasa gurunya”. Selain itu, kita juga harus menjadi pribadi yang ‘ablagh bil istibthon’, yaitu memahami dan introspeksi diri kita sendiri, karena hanya kita  yang bisa mengukur potensi masing-masing, ungkapnya”. Mengukur kelebihan dan mengetahui kekurangan, sebagaimana kita harus mampu mengetahui peluang dan menghikmaati setiap tantangan.


       Lulusan terbaik wisuda program doktor UIN Sunan Ampel Surabaya ini memberikan tanggapan pula terhadap mahasiswa/i umum yang sedang menimba ilmu di daerah Timteng, yaitu agar senantiasa turut serta dan selalu berupaya dalam meningkatkan dan mengembangkan intelektualitas dan memperluas wawasan berfikir untuk menjaga keiseimbangan antara keilmuan dan wawasan guna mengambangkan dan meningkatkan kemampuan artikulasi kita dari pemahaman keilmuan yang kita miliki. Cak Nur (Dr. Nurcholish Madjid) dalam orasi ilmiah pada wisuda sarjana perdana S1 di Gontor tahun 1991, pernah menyampaikan otokritik atas kekurangan alumni Gontor lulusan timur tengah. Mereka lemah dalam artikulasi atas ilmu yang dimiliki. Hal itu tercermin saat mengungkapkannya dalam bentuk tulisan dan lisan. Untuk itu, “antum semua harus mampu membalik keraguan dan asumsi minor tersebut dengan mengembangkan kemampuan keilmuan secara artikulatif dan aplikatif”, tegas beliau. Perbanyak menulis, baik di majalah maupun di jurnal yang bereputasi.


       Pimpinan rumah jurnal UNIDA Gontor ini menjabarkan, bahwa para pelajar di daerah Timteng harus mampu turut serta dalam mengkaji khazanah keilmuan klasik maupun mnodern kemudian diartikulasikan, dikaitkan dan diaplikasikan dengan baik dengan kehidupan. Sebagai contoh ketika berdikusi, seharusnya para mahasiswa Timteng dapat memberikan argumentasi yang real berdasarkan data yang akurat dan faktual sehingga artikulasinya mengenai suatu statemen dalam teks dapat dijelaskan secara kontekstual dengan kehidupan nyata.  Hal itu, sekaligus sebagai upaya konkrit untuk memunculkan potensi dari diri untuk meraih prestasi karena kita merasa tertantang agar mampu berkompetisi secara positif.

       Doktor Tafsir UNIDA Gontor ini menambahkan, “Merasa di zona aman itu bahaya, kalau kita merasa di titik aman bersegeralah keluar dari zona itu. Posisikan bahwa anda berada dalam kompetisi untuk meraih kebaikan. Fas tabiqu al-khairat.. Jadikan setiap teman anda sebagai competitor untuk meraih kebaikan. Semakin tinggi tantangan kita maka akan semakin memotivasi diri kita untuk memunculkan prestasi. Jika tantangan yang dihadapi semakin besar akan semakin menguatkan motivasi dan akhirnya melahirkan prestasi. Karena tantangan dan motivasi berbanding lurus sejajar.

       Iklim dan tantangan akademik perlu diciptakan, ditingkatkan dalam diri kita karena kita harus peka membaca persoalan. Di antaranya dengan menerapkan nilai-nilai preatatif dan motivatif dalam mahfudzat yaitu shuhbatu ustadz wa thulu zaman. Ustadz atau guru di situ harus kita posisikan sebagai sumber informasi dan tidak sebatas sebagai personifikasi. Kalua ustadz sebagai sumber informasi maka ia ada di mana-mana, ada di maktabah (red:toko buku atau perpustakaan), terlebih di era digital saat ini yang bias kita oprimalkan semua media sebagai sumber ilmu pengetahuan. Thulu zamân adalah konsistensi, sehari membaca setengah jam atau satu jam secara konsisten jauh lebih baik dan berdaya guna, karena Khairul a’mal dawamuha wa in qallat.

       Peluang sangat terbuka sangat luas, dalam menjaga dan meningkatkan kualitas keilmuan. Saat ini, pemerintah Indonesia memberikan dua opsi untuk menjaga linearitas keilmuan yang pertama bidang keilmuan yang ditekuni dari strata satu (S1) hingga strata tiga (S3) sama, yang kedua adalah dengan mengambil disiplin keilmuan yang dipilih saat di S3 yang ditekuni secara konsisten, mulai dari menulis disertasi, menulis karya tulis ilmiah berupa buku atau artikel di jurnal, dan juga dalam penelitian yang dilakukan pasca doktoralnya.


Rep: Mufliha Ramadhia
Red: Eka Fathurrahman

1 komentar:

@way2themes