Peta Pemikiran Islam Dr. Syamsudin Arif: Aliran Pemikiran Islam dan Tantangan Masa Kini - IKPM KAIRO

Senin, 11 Februari 2019

Peta Pemikiran Islam Dr. Syamsudin Arif: Aliran Pemikiran Islam dan Tantangan Masa Kini


IKPM Kairo – Selang beberapa hari setelah kedatangan Asep Shobari, Lc pada Selasa (5/2), IKPM Kairo merevitalisasi keilmuan dengan diadakannya diskusi ilmiah pada Sabtu (9/2) bersama Dr. Syamsuddin Arif, M.A, seorang Peneliti INSIST (Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization) dan Dosen Senior UNIDA (Universitas Darussalam Gontor). Substansi dakwah yang ingin disampaikan oleh Syamsuddin adalah Pemikiran-pemikiran Islam masa kini. Ia mengajak umat Islam, khususnya para pelajar untuk melek dan menganalisa lebih luas terhadap tantangan zaman dikalangan umat Islam, khususnya di Indonesia.

Alumnus Gontor 1989 itu memaparkan bahwasanya sejak abad ke-16 banyak dari umat muslim yang mengalami penganiayaan, pembantaian, penindasan dan serangan secara fisik oleh orang-orang Barat. Pada masa itu pula, bangsa Barat dapat  menguasai berbagai negara Islam khususnya di Timur Tengah. Adapun permasalahan umat muslim masa kini, diantaranya ekploitasi oleh bangsa Barat, proselitasi (permurtadan), dan sekularisasi. “Umat Islam terpecah-pecah oleh nasionalisme, akhirnya banyak umat Muslim yang merasa rendah diri, minder, ga pede lah istilahnya. Umat Muslim besar secara kuantitas namun berkurang secara kualitas,” tuturnya diawal acara.

Pemikiran merupakan anugerah dari sang Maha Pencipta, selalu hidup dan akan tetap hidup bahkan selalu berkembang. Seiring dengan berkembangnya zaman, berkembang pula lah pemikiran suatu bangsa. “Berbagai ideologi-ideologi keliru yang bercokol di dalam akar pemikiran umat Islam; Dualisme, Pluralisme, juga De-Islamisasi yang mencabang daripadanya; Sekularisasi, Orientalisme (Islam dalam vista-aspek Barat) dan Liberalisasi yang berujung dengan kekufuran Umat Islam,” ulas peneliti INSIST itu.

Diantara bukti yang paling jelas dan paling sederhana adalah Dualisme. Menurut Abu l-‘Ala al-Mawdudi bahwa dualisme memecahkan umat muslim menjadi dua kubu latar pendidikan yang berbeda; Graduates of Madrashas (pesantren, sekolah Islam, dll) dan Graduates of Colonial School (kampus umum) itulah mengapa banyak dari umat muslim yang lebih bangga dengan kampus-kampus internasional di Barat, lebih senang dengan ilmu-ilmu yang berkaitan dengan science, medicine dan technology.

Tidak hanya itu, dosen senior UNIDA itu juga membuktikan bahwa cendikiawan Barat tak mau kalah dalam memainkan perannya dalam meneliti hal ini. Terbukti, salah satu dosen di Universitas Edinburg, W.M Watt yang ikut mengemukakan pendapatnya tentang pengaruh Dualisme terhadap umat Islam masa kini.

“Sudah merupakan kewajiban kita untuk bersama-sama memikul tanggung jawab ini. Bukan berarti mereka yang melenceng terlepas dari tanggung jawab kita. Man lam yahtam bi amri al-ummati fa laisa minhum. (Barang siapa yang tidak memperhatikan permasalahan-permasalahan umat, maka ia bukanlah bagian darinya). Dengan menguasai taktik lawan, memahami peradaban Barat dan menguasai khazanah Islam, In Syaa Allah kita bisa melawan kembali musuh-musuh Islam,” jelasnya.

Terakhir, ia menutup dengan menganjurkan untuk memiliki majalah ISLAMIA, majalah ilmiah yang diterbitkan untuk membendung arus liberalisme.

Rep: Hanifah
Red: Naili

Tidak ada komentar:

@way2themes