AL-QURAN; HISTORIS TIGA PERIODE KODIFIKASI - IKPM KAIRO

Senin, 11 Maret 2019

AL-QURAN; HISTORIS TIGA PERIODE KODIFIKASI


Oleh : Maulina Dewi
Minggu, 23 Juli 2018

Pendahuluan
 Ketika orang Indonesia membutuhkan sesuap nasi sebagai makanan pokok untuk keberlangsungan hidup, maka mereka berjerih payah mendapatkannya dengan berbagai mata pencaharian. Sebagai penduduk baik yang hidup di negara beriklim tropis ini, seyogyanya mereka mengetahui, mengapa harus nasi yang menjadi santapan utama mereka, zat apa saja yang terkandung di dalamnya, bagaimana cara bercocok tanam dan mengolahnya, dan lain sebagainya. Begitu pula, seorang Muslim. Di samping ia memiliki kewajiban memenuhi kebutuhan pangan jasmaninya, ia juga membutuhkan asupan energi rohani pada setiap hembusan nafasnya. Allah SWT telah menurunkan al-Quran sebagai asupan rohani seorang Muslim yang harus selalu dijaga.

 Muslim sejati tidak akan berpuas diri menerima asupan gizi tersebut tanpa memahami zat-zat yang terkandung di dalamnya. Tentu ia akan mempelajari  apa itu al-Quran?, mengapa harus al-Quran?, bagaimana al-Quran diturunkan?, apa tujuannya diturunkan?, dan bagaimana proses penyusunannya hingga berbentuk mushaf yang mudah dibaca seperti sekarang?. Muslim yang baik juga tidak akan membiarkan dirinya mengikuti sejarah dengan taklid buta. Ia percaya bahwa menguasai sejarah adalah kunci kemajuan peradaban.

 Tidak sedikit dari musuh-musuh Islam menjadikan sejarah sebagai peluru atau senapan yang dapat memporak-porandakan bangunan Islam. Oleh karenanya, sebagai delegasi bangsa, kita sangat diharapkan bisa menamengi pertahanan Islam dengan perisai yang lebih kuat dari mereka. Sehingga pada kesempatan kali ini penulis ingin menyinggung sedikit pembahasan mengenai sejarah proses penyusunan atau kodifikasi al-Quran.

Format Kodifikasi Al-Quran
 Kodifikasi secara etimologi memiliki makna himpunan berbagai peraturan menjadi undang-undang; hal penyusunan kitab perundang-undangan. Dalam pelaksanaan hal  ini, seorang penyusun harus memiliki potensi dalam menguasai kandungan undang-undang dan memahami problematikanya. Penyusunan tersebut dapat melalui dua proses yaitu penyusunan dengan format hafalan dan penulisan. Sebagaimana kodifikasi dalam bahasa arab yaitu al-jam’u mengandung dua makna, yaitu  hafalan dan penulisan.

 Pengodifikasian dalam format hafalan bermula pada era Rasulullah SAW. Yaitu pada saat Rasulullah SAW menerima wahyu dari Allah SWT melalui malaikat Jibril AS. Beliau bergegas untuk menangkap dan menghafalkannya agar tidak ada satu huruf pun yang terlewat dari ingatannya. Melihat kondisi dan situasi Rasulullah SAW seperti itu, Allah SWT menenangkannya dengan menjamin hafalan yang ditetapkan dalam benaknya. Jaminan tersebut tercantum pada ayat yang artinya:” jangan engkau (Muhammad) gerakkan lidahmu (untuk membaca al-Quran) karena hendak cepat-cepat (menguasai) nya. Sesungguhnya kami yang akan mengumpulkannya (di dadamu) dan membacakannya. Apabila kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaanya itu. Kemudian Kami yang akan menjelaskannya.”

 Setiap kali Rasulullah SAW menerima wahyu dari malaikat Jibril AS, beliau segera menyampaikannya kepada para sahabat untuk memperdengarkan dan mengajarkan kepada mereka ayat yang baru diturunkan. Sahabat sangat merespon perkara ini, sehingga mereka menjadikan al-Quran sebagai primadona kehidupan. Bahkan mereka berlomba-lomba dalam menghafalkan al-Quran serta memahaminya. Sistem yang mereka gunakan dalam menghafalkan al-Quran yaitu dengan talaqqi dan pendengaran secara langsung dari Rasulullah SAW atau melalui perantara sahabat lainnya yang telah mengikuti talaqqi dengan Rasulullah SAW. Tradisi hafalan melalui syafahi telah menjadi sandaran mereka. Karena hafalan yang berpacu pada literasi dapat menghilangkan rukun penting dalam pelafalan ayat-ayat al-Quran secara baik dan benar.

 Terdapat beberapa riwayat yang membahas mengenai nama-nama sahabat penghafal al-Quran. Diantaranya;
Pertama, Anas bin Malik yang mengatakan bahwasanya ketika Rasulullah SAW wafat hanya terdapat empat sahabat penghafal al-Quran, yaitu Abu Darda’, Muadz bin Jabal, Zaid bin Tsabit, dan Abu Zaid.
Kedua, Abdullah bin Amru bin al-Ash mengatakan terdapat empat penghafal yaitu Abdullah bin Mas’ud, Salim, Muadz, dan Ubay bin Ka’ab.
Pembatasan yang berjumlah tujuh atau delapan penghafal ini tentunya berlandaskan kriteria dan ketentuan tertentu. Mereka adalah sahabat yang benar-benar telah menghafalkan al-Quran, lalu telah menyetorkan hafalannya kepada Rasulullah SAW, sehingga sanadnya bisa sampai kepada generasi kita sekarang. Sebenarnya Pengahafal dari kalangan sahabat lainnya masih sangat banyak, tetapi mereka tidak memenuhi kriteria yang penulis sebutkan diatas. Sehingga riwayat menyimpulkan hanya terdapat tujuh atau delapan penghafal saja yang muktamad.

Motif Kodifikasi dan penulisan al-Quran pada era Rasulullah SAW
 Jika Allah SWT menurunkan ayat atau surah kepada Rasulullah SAW, beliau segera memerintahkan sahabat untuk menuliskan ayat-ayat tersebut. Penulisan ini dilaksanakan dengan bimbingan dan arahan langsung dari Rasulullah SAW dengan cara imla’.  Dalam pengarahannya, Rasululah saw mengatakan “letakkan ini dalam surah yang menyebutkan ini dan itu”.
Sarana prasarana untuk tulis menulis saat itu masih sangat sulit, sehingga Rasulullah SAW memudahkan para sahabat untuk menuliskan Al-Quran dengan material yang mudah didapat. Diantaranya: pelepah kurma, likhaf (batu halus berwarna putih), riqa’ (kulit), aktaf (tulang unta), aqtab ( bantalan dari kayu yang  bisa dipasang diatas punggug unta ), kayu kering, tembikar, dan lain sebagainya.

 Penulisan ini telah dimulai semenjak Rasulullah SAW menetap di Mekah. Beliau bersabda yang artinya, “ janganlah kalian menulis ( sesuatu ) selain al-Quran. Barang siapa yang menulis dariku selain tentang al-Quran, hendaknya segera dihapuskan”. Jika kita meneliti konteks perintah dalam hadis ini, maka kita akan menjumpai penyampaian hadis tersebut bersumber pada awal mula diperitahkan penulisan al-Quran. Hadis tersebut ditujukan kepada jemaah yang ingin menulis setiap ucapan yang dilontarkan Rasulullah SAW. Penulisan tersebut dinamakan penulisan periode Mekah. Dalil tersebut diperkuat dengan kisah mualafnya Umar bin Khattab. Kemudian penulisan ini berlanjut hingga hijrahnya Rasulullah SAW ke madinah. Dalam sejarah tercatat penulisan al-Quran lebih masyhur di madinah daripada di Mekah.

 Penentuan nama-nama  juru tulis Rasulullah SAW pada periode Mekah tergolong sulit diketahui. Sehingga sejarah ada yang menyebutkan nama-nama tersebut  dalam bidang umum dan adapula yang menyebutkan juru tulis Rasulullah SAW dalam bidang khusus.
Berikut beberapa riwayat yang menyebutkan nama-nama juru tulis tersebut :
Riwayat pertama mengatakan Juru tulis pertama dari kalangan sahabat yaitu al-Jalil Syarhabil bin hasanah. Dalam sejarah Syam mengatakan dialah sahabat pertama yang menulis untuk Rasululah saw. Label yang dikalungkan sebagai penulis pertama ini tidak mungkin terjadi kecuali sebelum Syarhabil  hijrah ke Habasyah. Dengan begitu dapat disimpulkan bahwa Syarhabil tidak menulis (apapun) selain naskah al-Qur’an. Karena Periode sebelum hijrahnya Rasulullah ke Habasyah belum ada masa penulisan surat-meyurat maupun perjanjian. Kemudian pendapat selanjutnya mengatakan Utsman bin Affan, Khalid bin Saidbin umayyah, Khobab bin al-Art, Handzolah bin al-Robi, dan Abdullah bin Sa’ad bin abu Sarah. Gelar Abdullah bin Sa’ad sangat masyhur sebagai juru tulis nabi karena sebuah peristiwa yang menimpanya.
Kedua, Beberapa nama yang terkenal sebagai juru tulis al-Quran adalah: Khalifah al-Arbaah, Muawiyah bin Abu Sufyan, Abani bin Said, Khalid bin Walid, Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit, Tsabit bin Qays dan lain sebagainya dari kalangan sahabat kibar RA.
Ketiga, Khalifah al-Arbaah, Khalid bin Said, Khalid bin Walid, Muawiyah bin abu Sufyan, Zaid bin Tsabit, Ubay bin Kaab dan lain sebaginya. Masih banyak sekali riwayat yang membahas nama-nama juru tulis, tidak perlu penulis sebutkan keseluruhannya.
Sehingga penulis dapat simpulkan bahwa penulisan al-Quran memang sudah terjadi sejak zaman Rasulullah SAW. Bahkan seluruh isi al-Quran telah selesai dituliskan sebelum beliau wafat. Dengan catatan, meskipun al-Quran sudah seluruhnya ditulis tetapi belum disusun dalam bentuk mushaf. Hal ini disebabkan beberapa faktor. Diantaranya:
Pertama, al-Quran diturunkan dengan cara berangsur-angsur, hal ini mempersulit penulisan. Kedua, terdapat ayat al-Quran yang diturunkan berupa surah yang panjang dengan perbedaan motif dan tidak sesuai urutan.
Ketiga, tidak ada faktor pendorong untuk penulisan berbentuk lembaran atau mushaf sebagaimana pada masa Abu Bakar al-Shidiq dan Utsman bin Affan. Selain itu keadaan muslim saat itu stabil, penghafal dan Qurra juga tersebar di mana-mana, dan aman dari segala fitnah.
Keempat, ayat-ayat yang telah diturunkan ada beberapa yang dihapuskan.
Kelima, urutan ayat dan suratnya tidak urut sesuai turunnya, melainkan ayat diturunkan sesuai dengan peristiwa dan kejadian.
Penulisan pada era Rasulullah SAW ini memiliki dua gaya, yaitu penulisan resmi dan penulisan khusus.
Motif Kodifikasi dan penulisan al-Quran pada era Abu Bakar al-Shidiq
Setelah Rasulullah SAW wafat, kekhalifahan berpindah ke tangan Abu Bakar al-Shidiq. Sejak hari pertama sebagai kepala negara, sahabat yang juga mertua Rasulullah SAW ini dihadang berbagai problematik yang menyalakan api Islam. Dari Musailamah al-Kadzab yang mengaku sebagai nabi, banyaknya orang-orang yang meninggalkan zakat, sampai tidak sedikit pula dari mereka yang murtad.  Hal ini benar-benar mengobarkan api perang yang dahsyat sehingga merenggut banyak nyawa para Huffadz dan Qurra’ pada perang Yamamah tahun 12 H.

 Dampak dari banyaknya sahabat yang terbunuh menyebabkan perpindahan haluan dari tulisan yang tersebar di bebatuan, pelepah kurma, tulang belulang, dan sebagainya lalu ingin dikumpulkan. Kekhawatiran akan punahnya para penghafal al-Quran di bumi telah menggeluti pikiran Umar bin Khattab. Ia mengajukan gagasannya untuk menginstruksikan dalam usaha pengumpulan ayat-ayat yang tersebar kepada khalifah masa itu, yaitu Abu Bakar al-Shidiq. Meskipun ide ini sempat ditentang oleh Abu Bakar al-Shidiq karena dianggap bid’ah, tetapi pada akhirnya disetujui menimbang urgensi penyelamatan umat Islam kedepannya.

 Abu Bakar al-Shidiq menunjuk Zaid bin Tsabit sebagai pengumpul sekaligus penulis ayat-ayat yang tersebar pada penghafal al-Qur’an (fi suduri al-Huffadz). Pilihan atas dirinya merujuk kepada kepribadian mulia yang ada pada diri Zaid. Dalam pengumpulannya, Zaid bin Tsabit berpegang teguh pada dua kesaksian; bersumber pada tulisan yang diimlakan dari Rasulullah SAW,  hafalan yang terjaga pada hati mereka dan telah mengikuti talaqqi dengan Rasulullah SAW . Sehingga ia benar-benar meyakini bahwa yang dikumpulkan adalah yang tertulis di hadapan Rasulullah SAW. Formatnya tidak berubah hingga penyetoran Rasulullah SAW yang terakhir dan belum dihapuskan bacaan ayat tersebut. Selain itu, ia juga merapikan urutan surah dan ayat-ayat, serta mencocokan hafalan dengan apa yang tertulis dari imlanya Rasulullah SAW.

 Pengumpulan ayat-ayat yang berupa literasi langsung diprakarsai oleh Abu Bakar al-Shidiq RA. Karena ia diumpamakan sebagai jaminan kaum muslim. Ia telah menghafal seluruh ayat-ayat al-Quran yang terpencar-pencar, bahkan tulisan ayat yang hilang. Sayyidina Ali bin Abi Thalib mengatakan bahwa Abu Bakar al-Shidiq adalah a’dzom al-Nas yang berhak mendapatkan pahala dalam pengumpulan al-Quran. Sehingga ia layak mendapat julukan sebagai orang pertama yang mengumpulkan kitab Allah SWT.

 Mode pengumpulan pada fase Abu Bakar al-Shhidiq  ini bertahan tanpa ada transfigurasi hingga ajal menjemputnya. Kemudian pada masa khalifah Umar bin Khattab masih dalam format pengumpulan yang sama hingga ia wafat. Lalu sampai suhuf tersebut jatuh ke tangan Ummu al-Mukminin Hafsah  binti Umar dan menyimpannya di dalam rumah. Suhuf tersebut tersimpan hingga saat  khalifah Malik bin Marwan berkuasa di Madinah lalu meminta suhuf tersebut, tetapi permintaanya ditolak. Ketika Hafshoh telah meninggal, Marwan bin Malik memerintahkan untuk membakar suhuf tersebut. Ia takut jika lembaran tersebut dilestarikan, Muslim kedepannya akan meragukan otentisitas al-Quran.
Adapun keistimewaan pengumpulan al-Quran pada masa Abu Bakar al-Shidiq sebagai berikut:
Pertama, penulisan dibatasi dengan bacaan yang belum dihapuskan dan memisahkan dari bagian yang tidak termasuk al-Quran.
Kedua, tidak akan diterima kesaksian ayat kecuali telah mencangkup persyaratannya; merupakan bagian dari al-Qur’an dan riwayatnya mutawatir.
Ketiga, al-Quran ditulis dengan seluruh elemen Ahruf Sab’ah.
Keempat, al-Quran telah diurutkan ayat-ayatnya sebagaimana yang kita baca sekarang, meskipun penyusunan surahnya belum diurutkan. Karena setiap surahnya ditulis dalam lembaran. Sehingga ketika digabung, maka urutan surahnya acak atau tidak berurutan.

 Dapat kita ketahui bersama bagaimana proses pengumpulan al-Quran  pada masa Abu Bakar al-Shidiq. Merupakan proses pengumpulan yang sangat teliti, disiplin, dan mencakup keistimewaan yang penulis sebutkan diatas. Lembaran-lembaran tersebut adalah naskah asli yang terpercaya, sehingga tidak ada lembaran lain yang muktamad selain lembaran milik Abu Bakar al-Shidiq. Memang terdapat sahabat juga yang memiliki lembaran bahkan mushaf yang telah ditulis di dalamnya ayat-ayat al-Quran, tetapi belum memenuhi syarat sebagaimana lembaran milik Abu Bakar al-Shidiq.


Motif Kodifikasi dan penulisan al-Quran pada era Utsman bin Affan
 Tongkat estafet kekhalifahan terus berlanjut hingga sampai pada tangan Utsman Bin Affan.  Pada saat itu, perluasan wilayah Islam semakin membentang. Banyak pendatang Muslim dari Arab maupun non-Arab. Sahabat telah berpencar ke penjuru dan pelosok negeri. Setiap daerah dari mereka membawa qiraat yang pernah didengar dari Rasulullah SAW. Sehingga muncul sengketa antar sahabat, yaitu perbedaan dalam bacaan al-Quran satu sama lain. Setiap pembaca menganggap bacaannya yang paling benar dan menyalahkan bacaan orang lain. Kian hari pertikaian semakin sengit, sehingga Utsman bin Affan gelisah dan takut akan menyebabkan minim kepercayaan terhadap al-Quran dan bacaannya.
Pada tahun kedua kepemerintahan Ustman bin Affan, pasukan perang Islam dari Syam dan Irak bertempur memerangi Armenia dan Azerbaijan. Saat tentara-tentaranya sedang duduk di sebuah masjid untuk membaca al-Quran, Hudzaifah bin Yaman (W 36 H) melihat banyak perbedaan dalam qiraat. Ia mendengar mereka saling melontarkan kalimat kasar yang menuding bacaan yang lain. Ia segera mengadukan kejadian tersebut kepada Ustman bin Affan agar segera menindaklanjuti perkara ini. Kemudian Allah mengilhami Ustman bin Affan untuk mengumpulkan para pakar sahabat dan memusyawarahkan solusi dari propaganda yang terus memanas.

 Perkumpulan Utsman bin Affan dengan para sahabat membuahkan solusi. Para sahabat akan segera menghapus mushaf-mushaf yang menjadi pegangan mereka dan menggantinya dengan mushaf yang satu sebagai rujukan seluruh manusia ketika muncul kembali perbedaan. Kemudian mushaf-mushaf mereka segera dibakar, dengan begitu kalimat akan menyatu, barisan akan bersatu dan terlepas dari perbedaan-perbedaan.

Undang-Undang Utsman bin Affan dalam penulisan Mushaf
 Penghapusan mushaf dilaksanakan dengan bimbingan Utsman bin Affan dan pakar sahabat dari Muhajirin dan Anshor. Mereka tidak akan menulis kecuali setelah disimak oleh seluruh sahabat dan ditetapkan bahwa hal tersebut  merupakan bagian dari isi al-Quran. Mereka tidak akan menghapus bacaan Rasulullah SAW pada setoran terakhir, begitu juga ayat atau bacaan yang telah dihapus pada setoran terakhir tidak akan ditulis. Dalam urusan ini, Utsman membentuk panitia kodifikasi al-Quran dengan menjadikan  Zaid bin tsabit al-Anshori dan Sa’ad bin al-‘Ash al-Umawy sebagai kepalan panitianya. Riwayat mengatakan bahwa panitia tersebut beranggota 12 orang dari Quraisy dan Anshor.
Panitia kodifikasi al-Quran akan menulis banyak mushaf. Ustman bin Affan berencana akan menyebarkan mushaf tersebut ke seluruh penjuru negeri Islam. Konsep penulisannya mencakup beberapa segi qiraat. Adapun huruf arab yang digunakan tanpa nuqoth dan harakat. Hal ini bermaksud agar mushaf yang tersebar mencakup ahruf sab’ah, sebagaimana al-Quran telah diturunkan dengan empat huruf tersebut.
Panitia tidak akan menulis kalimat dengan dua motif rasm secara bersamaan dalam satu mushaf. Ditakutkan masyarakat muslim akan memahami bahwa lafal tersebut diturunkan berulang kali dalam satu qiraat. Mereka juga tidak akan menulis kalimat dengan dua rasm; asli dan hasyiyah, agar masyarakat tidak memahami bahwa yang kedua sebagai pembenar dari yang pertama. Dan yang pertama adalah yang salah.

 Jika panitia berbeda pendapat mengenai sesuatu yang berkenaan dengan penulisan al-Quran, Utsman bin Affan memerintahkan untuk merujuk kepada lisan Quraisy. Karena al-Quran diturunkan dengan lisan mereka. Contohnya pada saat mereka berselisih dalam penulisan kata “التابوت”,  Zaid berkata: “التابوه  ”dengan Ha’, dan menurut Quraisyiun: “التابوت” dengan ta’. Kemudian perdebatan ini diadukan kepada khalifah. Ia memerintahkan untuk menulisnya dengan ta’. Artinya perbedaan tersebut dikembalikan kepada lahjah Quraisy.

 Kodifikasi al-Quran masa khalifah Utsman bin Affan memiliki keistimewaan, yaitu:
Pertama, penulisan dibatasi satu huruf, yaitu huruf Quraisy.
Kedua, pembatasan terhadap hal-hal yang sifatnya mutawatir. yaitu, yang ada pada penyetoran Rasulullah SAW terakhir dan bukan bacaan yang telah di hapuskan.
Ketiga, penyusunan dan urutan ayat dan suratnya sebagaimana yang diketahui sekarang. Keempat, penulisan terlepas dari nuqoth dan harakat serta dari hal-hal yang bukan bagian dari al-Quran.

Penyebaran Mushaf-mushaf Utsmani ke penjuru negeri
 Dalam bahasa arab Mashahif merupakan bentuk plural dari mushaf. Berbeda halnya dengan suhuf yang merupakan plural dari shahifah. Penamaan istilah “Mushaf” telah dikenal sejak zaman Abu Bakar al-Shidiq. Riwayat mengatakan Abu Bakar bermusyawarah dengan sahabat setelah pengumpulan al-Quran. Sebagian dari mereka ada yang mengajukan nama untuk kumpulan lembaran tersebut dengan nama “Sifar”. Tetapi mereka tidak menyukainya. Sebagiannya memberi nama “Injil”, namun tidak disepakati. Walhasil nama “mushaf” yang dipilih menjadi symbol untuk kumpulan lembaran ayat al-Quran tersebut.
Terdapat beberapa pendapat mengenai jumlah mushaf yang ditulis pada masa khalifah Ustman bin Affan, kemudian mushaf-mushaf tersebut disebarkan ke berbagai penjuru negeri. Diataranya;
pertama,  Imam Zarkasyi menyebutkan jumlah mushaf tersebut adalah empat. Mushaf tersebut disebar ke Kufah, Basrah, Syam, dan meninggalkan satu untuk dirinya.
Kedua, Abu Hatim al-Sajastani menyebutkan tujuh. Yang disebarkan ke Mekah, Syam, Yaman, Bahrain, Basrah , Kufah, dan satunya disimpan di Madinah.
Ketiga, Ibn  al-Jazary menyebutkan delapan. Disebarkan ke Basrah, Kufah, Syam, satu mushaf disimpan di Madinah. Satu mushaf sebagai simpanan dirinya, kemudian Mekah, Yaman, dan Bahrain.

 Pendapat paling kuat terkait jumlah mushaf Utsman  adalah lebih dari empat. Sehingga mushaf dapat disebar di setiap penjuru. Selain itu, karena adanya sebuah misi, yaitu penghapusan mushaf yang dapat meleburkan fitnah dan perbedaan . Setiap mushaf yang dikirim ke sebuah kota, Utsman bin Affan juga mengutus Qari yang akan mengajarkan cara membacanya. Hal tersebut karena mushaf terlepas dari nuqoth dan harakat. Ia mengutus Zaid bin Tsabit agar membacakannya kepada penduduk Madinah, Abdullah bin Saib kepada penduduk Mekah, Mughiroh bin Syahab al-Makhzumi kepada penduduk Syam, Aba abdul Rahman al-Salma kepada penduduk Kufah, dan Amir bin al-Qays kepada penduduk Basrah.

 Format  mushaf pada masa ini bermacam-macam. Utsman bin Affan dan panitia hanya menulis mushaf sesuai ijma’’ dan riwayat  bacaan yang mutawatir sampai kepada Rasulullah SAW. Mereka memperbanyak macam penulisan bertujuan agar mencakup semua qiraah yang mutawatir. Perbedaan macam mushaf tersebut terletak pada dua hal:
Pertama, jika tulisan lafalnya memuat dua kemungkinan macam qiraat yang berbeda atau  bahkan lebih, lafal akan ditulis dengan satu macam bentuk (tulisan) di dalam semua mushaf. Contohnya pada kata: ننشزها   dengan zai dan penulisan ننشرها  dengan ra’. Lalu فتثبتوا  dengan tsa’ dan ba’, dan فتبينوا, dengan ta’ dan ba’.
Kedua, tulisan yang tidak memuat berbagai kemungkinan qiraat yang berbeda. Pada permasalahan ini, konsep penulisannya berbeda bentuk (tulisan) antara satu mushaf dengan yang lainnya. di sebagian mushaf dengan satu bentuk (tulisan), dan satu bentuk (tulisan) berbeda dalam mushhaf yang lainnya. Contohnya, pada kata ووصى   dan وأوصى . Juga pada ayat تجري تحتها الأنهار  dan تجري من تحتها الأنهار   dan masih banyak contoh-contoh lainnya. Ayat tersebut ditulis pada satu mushaf dengan suatu lafal, dan pada mushaf lain ditulis dengan lafal yang berbeda.

 Kita bisa melihat bagaimana proses kodifikasi pada masa Utsman bin Affan lebih sistematis dan elagan dibandingkan dengan proses pengodifikasian masa Abu Bakar al-Shidiq. Segala hal dirancang begitu apik, teliti, dan penuh kehati-hatian. Dari pengrekrutan kepala panitia, anggota dewan, sampai kepada proses pembukuan suhuf menjadi mushaf. Lalu pernahkah kita berfikir dimana letak Mushaf elegan tersebut disimpan sekarang? Apakah masih ada dan bisa diketahui?.
Penulis kitab Manāhil al-Irfān mengatakan bahwa tidak ada dalil pasti yang menunjukkan letak  mushaf Utsmani sekarang. Yang ia ketahui bahwa Ibn al-Jazary sempat melihat mushaf penduduk Syam di zamannya. Ia juga melihat mushaf tersebut di Mesir.
Sedangkan mushaf dan kitab-kitab kuno yang berada di Mesir yang dikatakan bahwa mushaf tersebut merupakan mushaf Utsmani, ia meragukan akan kebenaran penisbatan mushaf tersebut kepada mushaf  Utsman bin Affan. Karena di dalamnya terdapat ukiran sebagai tanda pemisah antara surah dan penjelas ayat-ayat al-Quran. Padahal kita semua mengetahui bahwa mushaf ustmani ini terlepas dari nuqoth dan harakat.

 Syubhat terkait pengodifikasian al-Quran
Al-Quran masih dan akan terus menjadi sasaran musuh dan pembenci Islam. Bahkan mereka tidak ada henti-hentinya membidikkan tombak panah yang bisa menghancurkan tubuh muslim berkeping-keping. Mereka mempelajari ilmu-ilmu Islam, khususnya mengenai syubhat yang terselubung dalam disiplin ilmu al-Quran. Penulis akan paparkan sedikit dari banyak syubhat yang mereka jadikan sebagai senjata. Diantaranya:
Pertama, mereka megatakan: “Bagaimana pengumpulan al-Quran yang terjadi pada zaman sahabat telah mengucilkan posisi Abdullah bin Mas’ud, padahal ia termasuk golongan pertama dari sahabat yang masuk islam, sehingga ia membenci Zaid bin Tsabit karena ia yang terpilih sebagai penanggung jawab dalam pengumpulan al-Quran?.”

Mereka menggunakan dalih yang diriwayatkan oleh Ibn Abi Dawud dari jalan Ibn Mas’ud, ia berkata:
وقال: " يامعشر المسلمين كيف أعزل عن جمع المصحف ويتولاه رجل والله لقد أسلمت وإنه لفي صلب رجل كافر، وقال أيضا: أعزل عن المصاحف وقد أخذت من في رسول الله  سبعين سورة وزيد بن ثابت ذو ذؤابتين يلعب مع الصبيان.  "
Mumhamad  bin Muhammad Abu Syubah memaparkan bantahan untuk tuduhan syubhat tersebut. Ia menyebutkan bahwa perkataan Ibn Mas’ud tidak menunjukkan dilarangnya pengumpulan al-Quran dalam bentuk mushaf, bukan juga karena ketidaksetujuannya dalam pengumpulan tersebut. Dalam perkara ini, ia melihat bahwa dirinya yang lebih berhak mendapatkan tanggung jawab dalam pengumpulan al-Quran dari pada Zaid. Karena ia termasuk golongan pertama dari sahabat yang masuk islam. Ia mengatakan hal tersebut dalam keadaan emosi. Saat marahnya mereda, ia menyadari bahwa pilihan Utsman bin Affan dan beberapa sahabat atas Zaid bin Tsabit adalah pilihan terbaik. Sungguh ia menyesali dan malu atas apa yang telah diucapkan. Ia mengakui kehebatan dan keitimewaan dari pribadi seorang Zaid bin Tsabit, sebagaimana dahulu Abu Bakar al-Shidiq pernah memuji langsung atas perangai mulianya.
Kedua, mereka mengatakan: “Bagaimana al-Quran dikatakan bahwa esensinya mutawatir sedangkan Zaid bin Tsabit pernah mengatakan saat pengumpulan al-Quran pada masa Abu Bakar al-Shidiq:
“فقمت فتتبعت القرآن أجمعه من الرقاع والأكتاف حتى وجدت آخر سورة التوبة مع أبي خزيمة الأنصاري لم أجدها مع غيره “
Ia juga mengatakan saat penulisan mushaf semasa Utsman bin Affan bahwa ia kehilangan suatu ayat dari Q.S.al-Ahzab: 23, padahal ia pernah mendengar Rasulullah SAW membacanya. Ayat tersebut berbunyi:
من المؤمنين رجال صدقوا ماعاهدوا الله عليه فمنهم من قضى نحبه ومنهم من ينتظر وما بدلوا تبديلا
Ia tidak menemukannya kecuali pada diri Huzaimah al-Ansori. Dua riwayat ini menunjukkan bahwa dalam pengumpulan al-Quran juga bertopang pada sebagian riwayat ahadiyah, artinya hal tersebut telah melanggar ketentuan bahwa setiap elemen dari al-Quran adalah  mutawatir –dari perspektif umum maupun rincinya-.

 Bantahan untuk tuduhan tersebut adalah bahwa hal-hal yang diriwayatkan kepada kita mengenai al-Quran tidak menafyikan bahwa al-Quran seluruhnya mutawatir. Sebagaimana yang telah kita ketahui dalam konsep pengumpulan al-Quran bersandar pada hafalan dan tulisan. Tujuannya sebagai penguat otentisitas dan kesahihan al-Quran. Apapun yang panitia tulis mengenai ayat al-Quran adalah sesuai dengan yang ditulis di hadapan nabi Muhammad SAW. Lalu mengenai perkataan Zaid “ لم أجدهما”, maksudya ia belum menemukan kedua ayat tersebut dalam bentuk tulisannya. Sehingga dapat kitab simpulkan bahwa hal ini tidak menafikan bahwa keduanya telah dihafalkan oleh para sahabat sehingga intensitas al-Quran tetap mutawatir. Karena tawatur berkaitan dengan hafalan, bukan tulisan.



PENUTUP
 Pegodifikasian Al-Quran berlangsung selama tiga periode: yaitu pada masa Rasulullah SAW, Abu Bakar al-Shidiq, dan Utsaman bin Affan. Penulis akan paparkan komparasi proses kodifikasinya antar tiga periode tersebut. Kodifikasi era Rasulullah SAW berfokus kepada penulisan ayat, urutannya dan menempatkannya pada surah-surah. Penulisannya masih berceceran di pelepah kurma, tulang belulang dan lain sebagainya. Tujuan pengumpulannya unutuk menetapkan kesahihan pelafalan al-Quran, penjagaan ayat-ayatnya, dan ta’dzim terhadap kesuciannya. Pada masa ini lebih menekankan pada kekuatan hafalan.

 Kemudian pengodifikasiannya berlanjut pada masa khalifah Abu Bakar al-Shidiq RA atas gagasan yang diajukan Umar bin Khattab. Pengumpulan al-Quran dan penulisannya di letakkan dalam satu tempat dengan mengandalkan riwayat yang mutawatir. Tujuan pengumpulannya karena kewaspadaan dan ketakutan khalifah akan hilangnya al-Quran dengan meninggalnya para Qurra dan Huffadznya.
Sedangkan pada masa khalifah Utsman bin Affan, merupakan upaya penulisan dan penyusunan suhuf masa Abu Bakar  ke dalam suatu bentuk mushaf, lalu mengirimnya ke penjuru negeri Islam. Tujuan dari kodifikasi zaman ini adalah peleburan atas fitnah yang merajalela pada barisan Muslimin. Selain itu, untuk persatuan persepsi terhadap qiraah masyhur yang mutawatir. Sanadnya yang bersambung sampai kepada Rasulullah SAW. Penulisan al-Quran dan bacaanya juga difokuskan pada satu huruf Quraisy.
Wallahua’lam bishowab.

Tidak ada komentar: