Bagaimana mempelajari Sirah Nabawiyah terhadap beberapa petunjuk seperti yang telah disebutkan sebelumnya? - IKPM KAIRO

Selasa, 05 Maret 2019

Bagaimana mempelajari Sirah Nabawiyah terhadap beberapa petunjuk seperti yang telah disebutkan sebelumnya?



Oleh :Wildah Binashrillah, Akbar Yuzar dan Miftahul Rizqi Aulia
Sabtu, 11 Agustus 2018

Sebagaimana yang kita ketahui bahwasanya Muhammad saw diutus di bangsa Arab untuk membawa risalah kenabian dari Allah SWT. Sekaligus menjadi penyempurna atas  risalah para nabi sebelumnya, yang mana Rasulullah juga seorang penutup para Nabi. Juga yang perlu diingat bahwasanya Muhammad hanyalah seorang manusia biasa yang juga memiliki sifat-sifat sebagaimana hal nya manusia lainnya, hanya saja yang membedakan  Allah mempercayakan padanya sebuah wahyu yang harus disampaikan kepada ummat manusia. Dan sebagai pemberi peringatan untuk disampaikan ummat manusia. Hingga tidak ada satupun risalah yang Allah turunkan untuk Muhammmad ditambah ataupun dikurangi kecuali berdasarkan wahyu perintah Allah saja.
Adanya Rasulullah untuk ummat manusia bukan hanya bertujuan  sebagai ambisi politik, pemimpin negara, atapun seseorang yang memiliki pikiran akan suatu madzhab tertentu atau juga hanya seorang revolusioner. Melainkan, lebih dari pada itu untuk mempelajari seluruh kehidupannya. Apabila mempelajari Sirah Nabawiyah semata-mata untuk tujuan tersebut, maka secara logika ketika ingin mempelajri kehidupan seseorang maka kita juga perlu mempelajri seluruh kehidupannya secara keseluruhan.
Maka tidak diragukan lagi bahwasannya mempelajari Sirah Nabawiyah harus dari berbagai aspek juga karakteristik dalam kehidupannya. Tetapi juga tetap mengetahui seluruhnya berdasarkan bukti ilmiah disertai dalil-dalil yang menguatkan Sirah Nabawiyah tersebut. Akan tetapi akan menjadi sebuah kesia-siaan belaka apabila mempelajari Sirah ini dengan menyibukkan terhadap hal-hal yang mengedepankan urusan duniawi belaka.
Secara logika, apabila kita mempelajari kehidupan Muhammad saw haruslah mengetahui segala aspeknya : masa pertumbuhan, akhlak, kehidupan lingkunagan, kesabaran, muamalahnya terhadap teman juga lawannya dan pandangannya terhadap dunia dan segala gemerlapnya. Akan tetapi, hal yang perlu diingat pula kita mengambil poin ataupun tujuan mempelajari sirah tersebut, hingga kita yakin akan sebuah kebenaran akan adanya wahyu dalam Sirah Nabawiyah tersebut. Sehingga setelah adanya bukti ilmiyah terbut menjauhkan kita dari sikap fanatisme, tetapi mengetahui seluruhnya bahwa apaun yang dibawa dan disampaikan Rasul dalam rislahnya tersebut merupakan amanah besar dari Allah SWT bukan mengada-ngada belaka.
Akan ada banyak orang yang berada dalam kebingungan manakala mengetahui bagiamana Rasulullah bisa menaklukkan bebrapa tempat dan membuat sebuah peradaban yang mengundang takjub. Merubah suatu kebudayaan yang dulunya tidak ada sama sekali menjadi sebuah kebudayaan yang berubah drastis. Sebuah teka-teki besar bagi mereka yang tidak menempatkan Kenabian Muhammaddalam sebuah variabel. Berapa banyak pula yang mereka sibuk dengan pikiran mereka untuk menerka-nerka akan banyak kejadian sepanjang kehiduapan Rasusulullah yang di luar nalar dan mereka pikirkan secara logika saja.
Maka, jalan keluar atas ini semua adalah menjadikan semua pola pikir ini logis dan objektif dalam mempelajari Sirah Nabawiyah. Menjadikan keseluruhan kisah maupun peristiwa yang dialami Rasulullah dalam hidupnya seluruhnya berasal dari pertolongan Allah SWT. Maka apabila kita mempelajarinya, maka akan terselematkan dari pikiran buruk ynag jauh dari Islam dan membuat kita semakin yakin bahwasannya Muhammad saw adalah utusan-Nya. Dan akan terbebas dari kebingungan yang mnejebak pikiran kita sendiri. Maka, dengan adanya penjabaran ini telah jelas bagaimana harusnya kita mempelajari Sirah
Rahasia dipilihnya Jazirah Arab
Sebagai Tempat Kelahiran dan Peradaban Islam
Sebelum membahas Sirah Nabawiyah dan menjelaskan tentang Jazirah Arab, kita harus mengetahui terlebih dahulu hkmah Ilahiy yang menentukan pengutusan Rasulullah saw. Di dunia ini dan pertumbuhan dakwah Islam di tangan bangsa Arab sebelum bangsa lainnya. Untuk menjelaskan hal ini pula kita harus mengetahui karakteristik bangsa Arab dan juga kebiasaan mereka sebelum datangnya Islam. Juga bagaimana kondisi geografis Jazirah Arab beswerta posisinya dengan bangsa-bangsa lainnya.
Dahulu, sebelum datangnya Islam dunia dikuasai oleh dua negara yang berkuasa yaitu Imperium Romawi dan Persia, disusul selanjutnya oleh Yunani dan India. Beberapa bangsa tersebut memiliki kepercayaan yang sangat bertentangan dengan nilai-nilai yang bertentangan. Salah satunya yaitu Persia dengan Zoroaster yang dianut oleh Penguasa. Diantara falsafahnya adalah mengutamakan perkawinanseseorang dengan ibunya, anak perempuannya, juga saudara perempuannya. Juga beberapa penyimpangan akhlak lainnya yang tidak disebutkan.
Ada pula Mazdakia, yang menurut Imam Syahrustani berdasarkan filsafat lain yaitu menghalalkan wanita, ,ebolehkan harta dan menjadikan manusia sebagaimana masalah air, api dan rumput. Dengan adanya ajaran ini mendapatkan sambutan yang baik oleh kaum pengumbar hawa nafsu.
Sama halnya dengan imperium besar lainnya seperti Romawi, Yunani juga India yang berada dalam lautan kebejatan juga mtos-mitos yang sangat bertentangan dengan akhlak dan jauh dari kata kemanusiaan.
Sedangkan jauh dari itu semua, Bangsa Arab hidup dalam keadaan tenang dan jauh dari bentuk keguncangan seperti yang disebutkan sebelumnya dari bangsa-bangsa besar tersebut. Mereka tidak memiliki harta dan kemewahan sebagaimana yang bangsa Persia miliki. Juga tidak memiliki kekuatan milliter seperti Bangsa Romawi ynag bisa melakukan ekspansi ke berbagai negara. Bangsa Arab juga tidak memiliki filosofi ataupun ajaran-ajaran dengan berbagai mitos sebagaimana Yunani yang justru menjadikan mereka bangsa yang terjebak dalam khurafat atau menyimpang.
Karakteristik bagsa Arab sendiri bagaikan bahan baku yang belum diolah. Mereka masih memiliki fitrah asli sebagai manusia. Karena sebab itulah mereka hidup dalam kegelapan, kebodohan dan fitrah aslinya. Akibatnya, mereka menjadi sesat dengan fitrah mereka yang berada dalam ketidak tahuan, bahkan mereka tidak memiliki nilai-nilai kemanusiaan yang semakin menjauhkan mereka dari akhlak yang benar.
Allah SWT berfirman : “.. Dan sesungguhnya kamu sebelum itu benar-benar termasuk orang yang sesat.” (Q.S Al-Baqarah, 2:198)
Di samping itu, kondisi geografis jazirah Arab terletak diantara bangsa-bangsa yang mengalami pergolakan. Seperti yang dikatakan oleh Ustadz Muhammad Mubarak bahwa Jazirah Arab terletak di antara dua peradaban. Pertama peradaban Barat, juga peradaban yang penuh dengan khayalan seperti ummat India, China dan sekitarnya.
Setelah mengetahui kondisi bangsa Arab di Jazirah Arab sebelum Islam dan juga ummat-ummat sekitarnya. Maka dari sini kita bisa menjelaskan makna Ilahiyah yang Allah tentukan mengapa Jazirah Arab yang dipilih sebagai tempat diutusnya seorang Rasul penyempurna risalah kenabian yang bertujuan memerintahkan seluruh ummat manusia agar menyembah Allah SWT semata.
Dengana adanya beberapa faktor tersebutlah yang menjadikan Bangsa Arab mudah untuk diarahkan. Maka dari itu, Rasul diutus di Jazirah Arab karena potensi besar mereka yang siap menerima dakwah dan juga kebnaran akan Risalah yang dibawa Muhammad saw.begitu pula dengan adanya hikmah bahwasannya Rasulullah  dijadikan sebagai ummiyy (lingkungan yang ummiy) apabila dibandingkan dengan ummat-ummat lainnya. Maksudnya, tidak terjangkau dengan peradaban lainnya. Begitu pula dengan sistem pemikirannya yang tak tersentuh sama sekalli dengan filsafat-filsafat membingungkan yang ada di sekitarnya.
Ada beberapa hikmah lain bagi orang-orang yang mencari akan rahasia  tersebut :
 Sebagaimana yang kita tahu  bahwa Baitul Haram sebagai tempat berkumpul ummat Muslim, maka Allah menjadikannya tempat pertama kali bagi ummat manusia beribadah dan menjalankan syariat agama. Maka di temota inilah mengutus Rasul sebagai penutup para Nabi penyempurna risalah kenabian.
Secara geografis, jazirah Arab sangat kondusif digunakan untuk menyampaikan risalah kenabian. Karena sebagaimana yang telah disebutkan, bahwasannya terletak di bagian tengah ummat yang ada di sekitarnya. Posisi ini akan memudahkan untuk melakukan oenyebaran dakwah ke berbagai wilayah lainnya.
Merupakan kebijaksanaan Allah SWT, menjadikan bahasa arab sebagai bahasa dakwah. Karenanya Al-quran diturunkan berbahasa Arab sebagai jalan dakwah. Maka akan ditemukan bahwa bahasa arab memiliki keistimewaan dibandingkan dengan bahasa yang lain yang tidak memiliki keistimewaan sebagaimana Al-Quran.

Muhammad saw Penutup Para Nabi
Dan Hubungan Dakwahnya dengan Dakwah-Dakwah Samawiyah Terdahulu

Muhammad adalah penutup para Nabi, tidak akan ada Nabi setelahnya. Sedangkan hubungan dakwah Nabi Muhammad saw dengan Para Nabi terdahulu terletak pada prinsip penegasan dan penyempurnaan. Dakwah Para Nabi didasarkan pada dua asas. Pertama aqidah dan kedua Syariat dan akhlak. Seluruh aqidah yang dibawa Para Nabi sama, yaitu mengajarkan pad Tauhid. Karena esensi aqidah adalah iman kepada Wahdaniyah Allah. Beriman kepada hari akhir,hisab, neraka dan surga. Semuanya membawa satu hakekat yang sama. Tidak mungkin ada Nabi yang mengajarkan bahwa Tuhan itu lebih dari satu.
Sedangkan dalam perkara Syariat,ada beberapa penetapan hukum yang tujuannya untuk mengatur kehidupan masyarakat dan pribadi. Maka dari itu, terdapat beberapa perbedaan anatar syariat yang dibawa Nabi terdahulu dengan risalah yang dibaa oleh Nabi Muhammad saw. Juga adanya syariat ini disesuaikan dengan kondisi ummat yang hidup pada zamannya. Sedangkan syariat Rasulullah diperuntukkan bagi seluruh alam hingga tak berbatas zaman.
Sebagai satu permisalan, Musa as diutus oleh Allah kepada Bangsa Israil dengan membawa Islam. Akan tetapi tentu syariat Musa terhadap kaumnya berbeda dengan apa yang disyariatkan Rasul kepada ummatnya pula. Karena Bani Israel memiliki sifat dan watak yang lebih keras, maka syariatnya pun sangat berbeda, yang pastinya disesuaikan dengan kondisi ummat tersebut.
Maka, akan timbul pertanyaan lagi, mengapa orang-orang yang menganggap dirinya pengikut Musa as misalnya menganut aqidah yang berbeda dari aqidah Tauhid yang dibawa oleh para Nabi?? Mengapa pula ada orang-orang yang menjadi pengikut Isa as meyakini aqidah lain??
Jawabannya adalah karena mereka dengki, hal ini sebagaimana yang termaktub dalam Firman Allah SWT, yang artinya : “.. Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam, tiada berselisih orang-orang yang telah diberi al-Kitab, kecuali setelah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka..” (Q.S Ali Imran,3:19)
Dengan demikian, semua Nabi diutus dengan membawa Islam yang merupakan agama Allah SWT. Para ahli kitabpun mengetahui kesatuan agama ini. Mereka juga membenarkan bahwasanyya para Nabi diutus untuk saling membenarkan dalam hal agama yang diutusnya. Para Nbai tidak pernah berbeda dalam hal aqidah. Tetapi pada khirnya Ahli Kitab berpecah belah dan berduta karena adanya rasa dengki di antara mereka sendiri, sebagiman yang dijelaskan dalam Firman Allah tersebut.

Tidak ada komentar:

@way2themes