Diabolisme al-Sunnah al-Nabawiyyah Terhadap Prespektif Ideologi - IKPM KAIRO

Selasa, 05 Maret 2019

Diabolisme al-Sunnah al-Nabawiyyah Terhadap Prespektif Ideologi



Oleh : Lalu Mohammad Faldi Al Hamda
Senin, 25 Februari 2019

Latar Belakang
Sunnah al-Nabawiyah merupakan sumber ke dua dalam syariat Islam setelah Al Quran, dimana para ulama mendefinikan hadis menggunakan ungkapan yang berbeda namun dengan pola yang sama yakni apa-apa yang ada pada diri nabi Muhammad Saw entah dari perkataan, perbuatan, keputusan bahkan sifat yang terdapat dalam diri nabi Muhammad Saw baik sebelum hijrah ataupun setelah hijrah.
Seiring berkembangnya zaman dan masuknya Islam ke dalam kebudayaan suatu bangsa, hal ini tidak hanya memberikan dampak positif terhadap dunia Islam akan tetapi berpotensi untuk menginterfensi nilai-nilai kebudayaan dan mengikis sedikit demi sedikit nilai-nilai keislaman dan pada akhirnya menjadikan umat Islam ragu akan kebenaran dan keontetikan sunah sebagai sumber ke dua dalam syariat Islam.
Banyaknya oknum beserta kalangan yang mendambakan kehancuran Islam dan terpecah-belahnya umat muslim, maka pihak-pihak tersebut melakukan berbagai macam tipu daya dan propaganda penyerangan terhadap syariat Islam, terutama terhadap sumber rujukan yang dijadikan pedoman hidup bagi kaum muslimin sehingga klaim-klaim tersebut menuai kontrofersi di dunia keislaman, apalagi yang terjadi belakangan ini adanya tokoh-tokoh cendikiawan muslim yang kesannya berpihak terhadap golongan yang menyerang Islam, dan berdampak kepada kebuyaan suatu bangsa yang telah terislamisasikan.
Seperti yang telah dikemukakan diawal mengenai apa itu sunah, maka sunahpun tak lepas dari penyerangan, terutama terhadap gaya hidup islami yang sesuai dengan al-Sunnah al-Nabawiyyah dan pada akhirnya hidup dengan sunah menimbulkan kesan keterbelakangan dalam hidup di era globalisasi. Hal ini sebenarnya telah dipaparkan oleh baginda nabi besar Muhammad Saw dalam hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah :
عن أبى هريرة رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلّى الله عليه و سلّم : بدأ الإسلام غريبا و سيعود غريبا كما بدأ به غريبا فطوبى للغرباء. (رواه مسلم)
Artinya : Dari Abu Hurairah R.A : Rasullah Saw bersabda: “Islam bermula sebagai sesuatu yang aneh, dan akan kembali menjadi aneh, maka beruntunglah bagi orang yang dianggap aneh” (H.R.Muslim)

Dalam riwayat lain ditambahkan:
...قيل: يا رسول الله, و من الغرباء؟ قال: الّذين يصلحون عند فسد اللناس....إلخ (رواه أحمد)
Artinya: …(salah seorang sahabat berkata): “Wahai Rasulullah, dan siapakah mereka yang dianggap aneh?” Rasulullah Saw menjawab: “Yaitu orang-orang yang berbuat kebaikan ketika manusia sedang rusak-rusaknya. (H.R. Ahmad)
Berbagai intimidasi yang dialami kaum muslimin di berbagai daerah dan negara bahkan di Indonesia sekalipun media sosial Indonesia sempat menjadi heboh dalam beberapa waktu silam lantara adanya institusi pendidikan yang melarang pelajar-pelajarnya menggunakan cadar, dengan alasan cadar merupakan busana yang kerap dikanakan oleh para penganut Islam Radikal. Hal ini tidak hanya terjadi di Negara Kesatuan Republik Indonesia, namun juga terjadi di negara-negara Barat, khususnya negara-negara yang maju dan berkembang.
Pada kesempatan yang sangat penulis nantikan ini, penulis akan mencoba mengajak pembaca untuk sama-sama membuka cakrawala mengenai al-Sunnah al-Nabawiyyah dan bagaimana sebenarnya fakta yang terjadi di lapangan mengenai al-Sunnah al-Nabawiyyah.

Penegertian al-Sunnah al-Nabawiyyah
Bagi seorang pelajar, pengkaji dan peneliti hendaknya memberikan perhatian khusus kepada definisi sesuatu yang akan dikaji terutama dalam bidang ilmu agar memberikan sedikit gambaran khusus dalam alur konsentrasi terhadap suatu bidang tertentu yang akan dikaji ataupun diteliti.
Sunah memiliki definisi yang sangat banyak dari segi etimologi, diantaranya adalah: penopang, perjalanan tetap serta jalan yang lurus entah itu perjalanan yang baik ataupun yang buruk, penjelasan, agama Allah Swt, sebuah kebiasaan, sebuah kepatenan.
Adapun sunah dalam arti terminologi, para ulama mendefinisikan sunah sesuai dengan bidangnya; ulama hadis mendefinisikan sunah sebagai apa-apa yang dinukil dari Rasulullah Saw entah itu dari perjalanan hidup, akhlak, ciri-ciri, kabar pemberitahuan, perkataan, perbuatan baik itu yang telah ditetapkan dalam hukum syariat ataupun tidak. Ulama Ushul mendefinisikan sunah sebagai apa yang dikatakan, diperbuat dan diputuskan oleh Rasulullah Saw yang telah ditetapkan menjadi hukum-hukum syariat. Sedangkan ulama fikih mendefinisikan sunah sebagai  apa yang tidak sampai kepada derajat wajib didalam hukum syariat, atau dengan istilah lain adalah  sesuatu yang apabila dikerjakan mendapat pahala dan apabila ditinggalkan tidak mendapat dosa.

Diabolisme
Diabolisme merupakan proses dalam mengatributkan sifat-sifat buruk pada sesuatu, seseorang bahka suatu kelompok. Diabolisme diambil dari Bahasa Yunani kuno yaitu  Diabolos yang berarti Iblis. Maka diabolisme berarti sebuah pemikiran, watak, prilaku ala Iblis ataupun bentuk sebuah pengabdian kepadanya.
Iblis melakukan banyak upaya serta cara untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah Swt, apakah Iblis tidak mengetahui akan keberadaan Tuhan? Jelas tidak, Iblis sangat tahu akan keberadaan dan keesaan Tuhan, namun apalah guna pengetahuan tanpa ketaatan, itulah yang dilakukan Iblis sehingga ia keluar dari surga dan dilaknat oleh Allah Swt hingga hari kiamat. Sebagai mana firman Allah Swt :
قَالَ فَاخْرُجْ مِنْهَا فَإِنَّكَ رَجِيم . وَ إنَّ عَلَيْكَ لَعْنَتِى إلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.ؤ( سورة : ص : 77-78)
Artinya : Allah Swt berkata pada Iblis : “keluarlah darinya (surga) sesungguhnya engkau (Iblis) terkutuk. Dan bagimu adalah laknat-Ku hingga hari kiamat. (Q.S. Shaad : 77-78)
Maka sejak Allah Swt mengeluarkan Iblis dari surga lantaran tidak mau taat akan perintah Allah Swt untuk bersujud kepada nabi Adam As, Iblis melakukan berbagai macam cara diantaranya: merusak akidah umat manusia, mendistorsi syariat yang ada dalam Islam serta melakukan propaganda-propaganda membungkus keburukan seakan-akan terlihat indah dimata manusia. Diantara sekian banyak cara yang dilakukan Iblis, tiga cara inilah yang menjadi trending topik bagi Iblis dalam menyesatkan manusia.

Beberapa syubhat Seputar al-Sunnah al-Nabawiyyah beserta sanggahannya
Pihak yang mendambakan akan kehancuran Islam selalu gencar dalam menjalankan misi mereka salah satu caranya ialah dengan menimbulkan keragu-raguan di hati kaum muslimin akan keotentikan sumber-sumber agama mereka. Allah Swt telah menyebutkan keadaan seperti ini dalam al-Quran yang berbunyi:
وّلَنْ تَرْضَى عَنْك اليَهُود وَ لاَ النَّصَارَى حَتّى تَتَّبعَ مِلَّتَهُمْ....(سورة : البقرة :120)
Artinya: Dan Yahudi maupun Nasrani tidak akan pernah ridho terhadap kamu (Muhammad) sampai kamu mengikuti ajaran-ajaran mereka...(Q.S Al-Baqarah : 120).
Kata millah  diatas berarti ajaran-ajaran, jika saja ayat tersebut tidak menggunakan kata millah namun menggunakan kata diin maka sesungguhnya yang diinginkan para musuh-musuh Islam belum terrealisasi hingga saat ini, aka tetapi kata millah memiliki makna lebih spesifik daripada diin, ajaran tidak hanya berarti syariat agama tertentu, akan tetapi pandangan hiduppun dapat dikategorikan sebagai kata millah. Pada kenyataannya nestapa yang dialami oleh kaum muslim di sebagian belahan dunia kini berbeda, menegakan sunah seakan sebuah bentuk simbol dari keprimitifan dan keterbelakangan yang dimana pelakunya harus disingkirkan.
Realita diatas bermula dari sebuah pemikiran (syubhat) yang disebar luaskan oleh tokoh-tokoh cendikiawan dalam dunia akademisi yang berupaya memasukkan pemahaman-pemahaman untuk menimbulkan keraguan di hati umat muslim agar meninggalkan identitas mereka sebagai muslim yang ideal dan berusaha memasukkan gaya hidup ala barat demi meninggalkan gaya hidup islami yang berpotensi untuk menghilangkan ketaatan terhadap syariat Islam. Maka dari itu nabi Muhammad Saw bersabda :
من تشبّه بقوم فهو منهم (رواه أبو داود)
Artinya: barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk ke dalam golongan orang-orang (kaum) tersebut. (H.R  Abu Daud).

Adapun syubhat-syubhat tersebut antara lain:
Sebuah argumentasi dari Ignac Goldziher, yang mengatakan bahwa istilah sunah diambil dari bahasa Ibrani yaitu masynah yang bermakna sebuah kabar, ia mengatakan: “Bahwa Islam menjadikan konstitusi yang suci selain al-Quran yang didapat melalui ditulis dan didengar sebagaimana yang dilakukan oleh penganut agama Yahudi”.
Argumen ini kemudian ditepis oleh Dr. Imad al-Sayid al-Syarbini, beliau mengatakan: “Sebenarnya jika si peneliti menggunakan akal yang sehat, maka jelas akan menolak pendapat akan penyematan istilah sunah yang diambil dari kata masynah, dikarenakan faktor sebagai berikut: pertama,bahwa setiap huruf dari kedua kalimat tersebut tidaklah sama, maka secara otomatis kedua istilah tersebut memiliki makna danarti masing-masing. Kedua, karena dua kalimat diatas sudah sering digunakan dalam syair-syair bangsa arab jauh sebelum diutusnya nabi Muhammad Saw”. Maka klaim bahwa istilah sunah merupakan hasil copy paste dari ajaran agama Yahudi merupakan klaim yang tidak benar entah dari sudut pandang sejarah maupun sudut pandang istilah sastra bahasa.
Disisi lain seorang tokoh kontemporer bernama Muhammad Najib mengatakan: “Bahwa sunah merupakan hanya milik Allah Swt semata itulah yang disebut dengan istilah Sunnatullah, maka sangat tidak mungkin adanya sunah dari nabi, kalaupun ada, maka sama saja menyekutukan Allah dalam masalah kesunahan, itu sebabnya kita tidak membutuhkan sunah nabi, karena sunah hanya milik Allah semata”.
Syubhat diatas kemudia ditepis oleh Prof. Dr.Abdul Mahdi Abdul Qadir Abdul Hadi, beliau mengatakan: “Bagaimana mereka dapat mengatakan bahwa kaum muslimin tidak membutuhkan sunah sebagai hujah dalam agama, sedangkan sebagian perintah di dalam Al Quran bersifat universal dan belum terlalu spesifik, dan sunahlah yang menjadi penjelas bagi perintah-perintah yang ada didalam al-Quran. Seperti perintah sholat misalnya, dalam al-Quran hanya ada perintah untuk mengerjakannya, akan tetapi bagaimana pelaksanaannya dan kapan sholat itu dilaksanakan disinilah peran sunah untuk memperjelas perintah tersebut agar sholat menjadi baik dan benar. Allah Swt berfirman :
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فى رَسولِ اللهِ أسْوَةٌ حَسَنَةٌ (سورة : الأحزاب : 21)
Artinya: Sesungguhnya bagi kalian terdapat Rasulullah sebagai contoh yang baik. (Q.S: Al-Ahzab: 21)


Sebagaimana tokoh-tokoh yang telah disebut diatas, adapula  dari kalangan Syiah, Orientalis bahkan Atheis mengatakan bahwa sunah tidak dibutuhkan dalam hidup sebagai seorang muslim lantaran sunah merupakan hasil dari perkembangan peradaban bangsa Arab dalam kurun dua abad.
Dr.Imad Sayid al-Syarbini menanggapi masalah tersebut, dan mengatakan: “Ada dua poin yang harus diperhatikan dalam masalah ini. Pertama,banyak yang menyamakan antara larangan menulis hadis atau sunah dengan tadwin-nya, dimana banyak yang gagal paham antara penulisan dan juga tadwin, maka dari itu, sunnah sudah ada didalam hati kaum muslimin pada saat itu, akan tetapi mulai ditulisnya ketika zaman kekhalifahan Umar bin Abdul Aziz. Kedua, bahwasanya Umar bin Abdul Aziz ketika memerintahkan untuk mengumpulkn sunah dan hadis tidak sekedar memerintahkan tanpa berfikir panjang, akan tetapi melihat kebutuhan umat Islam pada saat itu yang membutuhkan sumber yang tertulis dari sunah.
Terlepas daripada itu semua, adanya sahabat nabi merupakan faktor yang sangat penting  dalam penyebaran hadis dan sunah, dari kulafa rasyidin beserta sahabat-sahabat yang banyak meriwayatkan hadis seperti Abu Hurairah Ra, Aisyah Ra dsb. Akan tetapi dari kalangan Syiah menolak pendapat tersebut dengan ungkapan bahwa: “Sesungguhnya Syiahlah yang menjadi penggagas pertama dalam pentadwinan hadis beserta sunah dikarenakan larangan dalam menulis dan mengumpulkan sunah terjadi di awal-awal abad permulaan Islam, tepatnya di era khulafau rasyidin.
Syiah mengklaim bahwa para sahabat telah mengkhianati wasiat Rsaulullah Saw akan kekhilafan Ali Ra, maka dari itu mayoritas dari sekte-sekte Syiah menolak keabsahan periwayatan melalui jalur sahabat kecuali melalui Ali Ra, dikarenakan Ali Ra merupakan pewaris Rasulullah Saw sepeninggalnya. Klaim yang demikian itu hampir dipegang oleh sebagian besar dari sekte Syiah kecuali Syiah Zaidiyah; yang mengatakan bahwa sah nya kekhalifahan Abu bakar Ra, Umar Ra dan Utsman Ra setelah nabi namun tetap mengedepankan keistimewaan sahabat Ali Ra diluar masalah pemerintahan. Dengan adanya demikian maka Syiah Zaidiyah merupakan sekte Syiah yang paling dekat dengan Ahlu Sunah wal jamaah.
Sebagaimana sekte Syiah, maka sekte Khawarij pun memiliki pendapat mengenai hadis dan sunah, dimana mereka meriwayatkan berbagai macam riwayat yang rancu terhadap syariat Islam seperti mengingkari hukum rajam yang sudah ditetapkan didalam sunah. Sebabnya dikarenakan mereka berlepas diri dari sahabat yang meriwayatkan hadis yang dimana sahabat ikut berkecimpung di dalam fitnah yang terjadi antara Mu’awiyah Ra dan Ali Ra.
Sedangkan Ahlu sunnah wal Jama’ah, berpendapat bahwa keabsahan sahabat dalam periwayatan hadis atau sunah merupakan suatu yang sudah mutlak tanpa adanya parsialisasi dan klasifikasi terkait entah itu sahabat yang ikut serta dalam peperangan antara Ali Ra dan Mu’awiyah Ra, ataupun tidak, selama ia merupakan salah satu dari pada sahabat nabi, maka keabsahan periwayatannya sudah mutlak.
Keadaan seperti inilah yang banyka dimanfaatkan oleh sekelompok oknum yang tidak senang akan kejayaan Islam serta berupaya merusak syariat Islam dari dalam tubuh Islam itu sendiri, dengan memafaatkan keadan umat Islam yang saling menyerang dan merasa diri paling benar, akhirnya membuka celah terdapatnya jalan Iblis dalam menyesatkan manusia dan menjauhkan mereka dari jalan Allah Swt.

Kesimpulan
Iblis merupakan makhluk Allah Swt yang angkuh, sombong, licik serta ingkar terhadap perintah Nya dan sudah menjadi janji Allah Swt bahwa ia akan kekal di dalam api neraka, kendatipun demikian Iblis sudah diberi kesenjangan oleh Allah Swt untuk mencari pengikut yang akan menemaninya kelak di api neraka, maka dari itu ia melakukan berbagai daya dan upaya dalam menyesatkan manusia untuk ingkar kepada Allah Swt.
Sebenarnya pertikaian antara haqq dan bathil sudah ada dan akan terus berlanjut hingga hari kiamat kelak, namun dikarenakan perjalanan zaman, maka tokoh diantara dua kubu tersebut terus berganti dan menggunakan istilah-istilah yang mengikuti zamannya. Semakin mendekati akhir zaman, maka perbedaan antara haqq dan bathil semakin tipis bahkan menggunakan bungkus Islami dalam menegakkan kebathilan demi mewujudkan cita-cita Iblis dalam merekrut pengikutya di neraka kelak.
Adanya banyak sekte dan golongan di dalam tubuh Islam sendiri menjadi salah satu wadah iblis dalam menjalankan misinya, dan salah satu objek yang dituju oleh Iblis untuk menyerang umat Islam dan menjauhkan mereka dari Allah Swt adalah dengan mejauhkan manusia terutama umat muslim dari sumber rujukan syariatnya, salah satunya adalah al-Sunah al-Nabawiyyah.
Maka hendaknya bagi kaum muslimin untuk berpegang teguh dan takkan pernah gentar dalam menjaga kemurnian syiariat ilahi yang disampaikan melalui al-Quran dan sunah, sebagaimana Iblis dan antek-anteknya yang tak pernah gentar dalam menjerumuskan manusia ke dalam lubang kesesatan dan kerak api neraka. Allahu Subhanahu wa ta’ala A’la wa A’lam.



Tidak ada komentar:

@way2themes