Dinamika Ulum al-Quran, Sejarah dan Perkembangannya - IKPM KAIRO

Senin, 04 Maret 2019

Dinamika Ulum al-Quran, Sejarah dan Perkembangannya


Oleh : Ni'amul Firdaus
Kamis, 8 Maret 2018

Pendahuluan

Al-Quran adalah Kalamullah yang di wahyukan kepada Nabi Muhammad SAW  dengan perantara malaikat Jibril. Al-Quran juga sebagai  mukjizat untuk umat Islam yang abadi dimana semakin maju ilmu pengetahuan, semakin tampak validitas kemukjizatannya. Al-Quran juga sebagai sumber ilmu yang merupakan dasar-dasar hukum dalam kehidupan manusia yang mencakup segala hal, baik dalam hal aqidah, ibadah, etika, mu’amalah dan sebagainya. Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam surat An-Nahl ayat 89 :

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَاناً لِكُلِّ شَيْئِ وَ هُدًى وَ رَحْمَةً وَ بُشْرًى لِّلْمُؤْمِنِيْنَ (النحل : ٨٩)

“Dan kami turunkan kepadamu Al-Kitab ( Al-Quran ) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri. (An-Nahl : 89)“

Umat Islam di wajibkan untuk selalu berpegang teguh dan menjadikan Al-Quran sebagai pedoman dan landasan hidupnya. Untuk itu, pengetahuan tentang sejarah perkembangan dan pengertian Al-Quran itu sendiri harus benar-benar dimengerti. Selain merupakan sumber utama bagi ajaran Islam, Al-Quran juga sebagai pedoman dan landasan hidup, sumber rujukan umat islam yang universal, baik menyangkut kehidupan dunia ataupun akhirat.

Ulum al-Quran adalah kumpulan sejumlah ilmu yang berhubungan dengan Al-Quran, baik dari segi keberadaannya sebagai Al-Quran maupun dari segi pemahaman terhadap apa yang terkandung di dalamnya. Dengan demikian ilmu tafsir, ilmu asbabun nuzul, ilmu rasmil Quran, dan ilmu-lmu yang berhubungan dengan Al-Quran menjadi bagian dari Ulum al-Quran. Maka dari itu, disini pemakalah akan memaparkan penjelasan tentang Ulum al-Quran itu sendiri, sejarah munculnya Ulum al-Quran dan perkembangannya, juga definisi Ulum al-Quran sebelum dan menjadi disiplin Ilmu.





Definisi Ulum al-Quran

Secara epitimologis, kata Ulum al-Quran berasal dari bahasa Arab, yang terdiri dari dua kata yaitu, “Ulum” dan “Al-Quran”.

Kata Ulum adalah bentuk jama’ dari kata ilmu, yang berarti ilmu-ilmu atau sejumlah ilmu. Ilmu secara bahasa dapat diartikan  sebagai pemahaman dan pengetahuan, yang mana memiliki maksud yakin.

Adapun perbedaan pendapat tentang definisi ilmu, berikut beberapa pendapat para ulama :

Pertama, menurut para Hukama’, ilmu  adalah hasil gambaran sesuatu yang di hasilkan dari akal, atau keterikatan jiwa dengan sesuatu menurut cara pengungkapannya.
Kedua, menurut Ulama Ilmu Kalam, ilmu adalah sifat atau karakteristik yang dimiliki oleh sesuatu yang bersangkutan dengannya, juga ilmu adalah sifat atau karaktersitik sesuatu yang memiliki perbedaan satu dengan lainnya yang tidak saling berlawanan.
Ketiga, ilmu menurut Syariah pada umumnya adalah pengetahuan tentang Allah SWT dan ayat-ayat Nya, dan perintah-perintahnya untuk para hamba Nya dan Ciptaan Nya.
Keempat, menurut Imam Ghazali dalam buku Ihya’ : Ilmu adalah pengetahuan tentang Allah SWT dengan ayat-ayat Nya dan dengan perintah-perintahnya kepada hamba dan ciptaan Nya, yang dimana memiliki suatu kekhususan sehingga banyak diketahui dalam berbagai perdebatan beserta kewajiban dalam masalah-masalah fiqh dan lain sebagianya.

Adapun para ulama lainnya mengatakan bahwa ilmu adalah tidaklah kecuali suatu keyakian yang khusus yang bergantung pada indera atau hal-hal itu sendiri.

Berdasarkan penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa makna dari ilmu adalah pengetahuan atau pemahaman, atau karakteristik atau sifat sesuatu yang dimiliki oleh hal itu sendiri. Secara terminologis, ilmu mempunyai definisi-definisi sesuai dengan latar belakang pendefinisi itu sendiri.

Lafadz Al-Quran, menurut bahasa ialah bacaan yang dibaca, dari kata قرأ – يقرأ .

لَا تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَ قُرْآنَهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ ( القيامة ١٦-١٨)

Al-Quran menurut istilah adalah wahyu Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantara malaikat Jibril, yang mengandung sifat mukjizat, tertulis di atas lembaran-lembaran, diturunkan secara bertahap, mendapatkan pahala jika membacanya, dan juga tidak ada keraguan di dalamnya.

Al-Quran adalah Kalamullah, ada yang mengatakan bahwa Al-Quran termasuk kalamu  nafsi, dan ada juga yang mengatakan bahwa Al-Quran termasuk kalamu lafdzi. Namun ulama ahlu kalam berpendapat bahwa Al-Quran termasuk kalamu nafsi saja, namun juga ulama ahlu ushul fiqh berpendapat bahwa Al-Quran termasuk kalamu lafdzi saja.

Adapun arti dari Kalamu Nafsi ialah kata yang keluar setelah apa yang ada dalam pikiran, sedangkan arti dari Kalamu Lafdzi ialah suara apa yang di dengar.

Setelah kita ketahui melalui penjelasan di atas, dapat kita ambil intisarinya bahwa definisi Ulum al-Quran menurut bahasa ialah ilmu-ilmu yang memiliki hubungan dengan al-Quran dan membahas suatu masalah sekitar tentang al-Quran, yang berlandaskan al-Quran itu sendiri.

Dan secara istilah, Ulum al-Quran memiliki arti yakni pembahasan-pembahasan secara  umum atau menyeluruh yang bersangkutan dengan Al-Quran yang dilihat dari segi turunnya, penertiban dan pengumpulannya, dan penulisannya dan penafsirannya serta kemukjizatannya juga nasikh dan mansukhnya.

Dan sekarang, bisa kita ketahui bahwa lafadz Ulum al-Quran mengandung makna umum yakni yang mana menjelaskan kepada kita bahwa dua lafadz tersebut saling berhubungan dan saling mensifati, yang mana menunjukkan kita kepada pengetahuan-pengetahuan dan ilmu-ilmu yang berhubungan dengan Al-Quran. Dan kemudian lafadz “ulum” tidak di tunggalkan atau sendiri, karena maksud disini adalah menyeluruh dan semua ilmu yang membahas tentang Al-Quran dari berbagai aspek yang di teliti.

Maka disini bisa diambil kesimpulan bahwa Ulum al-Quran itu tidak hanya satu ilmu saja, melainkan banyak macam-macam ilmu dan cabang-cabangnya yang membahas tentang ilmu rasmil utsmani, ilmu qira’at, ilmu ghoriibil Quran, ilmu i’jaz Al-Quran, ilmu nasikh wa mansukh, ilmu muhkam wa mutasyabih, ilmu I’rab al-Quran, ilmu Majaz al-Quran, dan masih banyak lagi macam-macam ilmu dari Ulum al-Quran yang pastinya berlandaskan atas Al-Quran itu sendiri.

Dan bisa dipelajari dari subjeknya : Al-Quran dari segi penafisrannya, dari segi penulisannya, dari segi bagaimana cara membacanya, dari segi kemukjizatannya ataupun dari segi majaznya, sehingga menunjukkan kepada kita bahwa Ulum al-Quran memiliki ilmu yang sangat banyak dan bermacam-macam

Ulum al-Quran sebagai “Seni atau Disiplin Ilmu“

Setelah kita bahas tentang makna Ilmu dan al-Quran, maka mengerucutlah pembahasan-pembahasan dan ilmu-ilmu ini, dan dikumpulkan asal-usul dan permasalahannya di dalam satu buku dengan judul “ Ulum Al-Quran “, yang mana sebelumnya tersebar di beberapa buku, kemudian di kumpulkan dan di satukan di satu tempat. Dan dengan ini bisa kita dapatkan makna dari seni ini adalah    (العلمي)  yang artinya penelitian ilmiah, bahwa Ulum al-Quran ini adalah : ilmu yang membahas hal-hal yang berhubungan dengan Al-Quran yang di kaji dari segi penurunannya, penertibannya, penulisan dan pengkodifikasiannya, cara membacanya dan penafisrannya, serta kemukjizatannya dan juga dari segi nasikh dan mansukhnya, muhkam dan mutasyabih nya dan lain sebagainya yang dibahas oleh ilmu ini.

Faidah Mempelajari Ulum al-Quran

Adapun beberapa manfaat yang bisa kita dapatkan dalam mempelajari Ulum al-Quran. Di antaranya sebagai berikut :
Pertama, membantu dalam mempelajari Al-Quran, memahaminya sebenar-benarnya pemahaman, mengambil intisari hukum-hukum dasar dan etika,
Kedua, mempersenjatai para peneliti atau murid yang mempeljari Ulumul Quran dengan senjata yang kuat da tajam, untuk melawan para musuh Islam yang mneyerang Al-Quran secara salah dan penuh kebohongan. Dan tidak diragukan lagi, bahwa membela Al-Quran dan mempertahankannya adalah kewajiban bagi seluruh umat Islam, terlebih lagi bagi Ulamanya, dan orang-orang yang menilitinya sesungguhnya mereka mendapatkan kemuliaan dan kehormaan yang sangat besar karena menjaga dan mempertahnkan kesucian kitab yang luhur ini.
Ketiga, memberikan keuntungan kepada peniliti atau murid yang mempelajari Ulum al-Quran, menambah maklumat-maklumat dan pengetahuan-pengetahuan, dan memberikannya nilai pendidikan yang tinggi dan luas mengenai al-Quran.

Sejarah dan Perkembangan Ulum al-Quran

Zaman Rasulullah SAW
Rasuallah SAW dan para sahabat mengetahui tentang al-Quran dan ilmu-ilmunya, pengetahuan mereka melebihi pengetahuan para ulama setelahnya. Namum pengetahuan para sahabat belum dikumpulkan menjadi satu disiplin ilmu, dan belum dikumpulkan menjadi satu buku, karena belum terlalu butuhnya para sahabat kepada pembentukan dan pengumpulan.

Sedangkan Rasullah SAW menerima wahyu dari Allah SWT secara langsung, dan Allah SWT memberikan rahmah kepadanya, dan menanamkan (al-Quran) itu di dalam hati Rasul dan menjadikan lisannya senantiasa untuk membaca al-Quran.

Kemudian Rasulullah SAW menyampaikan Wahyu Allah SWT kepada para sahabat, membacakannya di hadapan mereka dengan tenang dan tentram, agar para sahabat mudah untuk mengkuti dan menghafalkan lafadznya, serta memahami kandungan makna Al-Quran yang tersembunyi. Kemudian Rasulullah SAW menjelaskan dan mencontohkan isi al-Quran kepada para sahabat melalui perkatannya, perbuatannya, ketetapan-ketetapannya, dan dengan akhlaknya yang baik, atau dengan sunnah-sunnahnya secara menyeluruh. Seperti dalam Firman Allah SWT yang berbunyi :

 وَأَنزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ ( النحل : ٤٤)

“Dan telah kami turunkan kepadamu Ad-Dzikra ( Al-Quran ) agar engkau menjelaskan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka agar mereka berfikir“ (An-Nahl : 44)

Tetapi para sahabat pada saat itu, mereka adalah orang Arab asli, yang dapat merasakan struktur bahasa Arab yanh tinggi dan memiliki keistimewaan yaitu hafalan yang kuat, kecerdasan dan kemampuan untuk menangkap makna yang terkandung di dalam al-Quran. Sehingga mereka bisa memahami ilmu-ilmu al-Quran dari segi kemukjizatannya dengan kemurniannya dan keasliannya, dimana kita tidak bisa mencontoh seperti para sahabat pada saat itu.

Sebagian para sahabat pada masa itu terdiri dari golongan kalangan yang buta huruf, dan sangat sulit untuk ditemukannya alat tulis menulis pada saat itu, itulah salah satu halangan bagi para sahabat untuk tidak melaksanakan kegiatan tulis menulis.

Namun di sisi lain, Rasulullah SAW juga melarang para sahabat untuk menulis apapun kecuali selain Al-Quran. Seperti yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Said Al-Khudary :

حدثنا هداب بن خالد الأزدي حدثنا همام عن زيد بن أسلم عن عطاء بن يسار عن أبي سعيد الخدري أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: ( لَا تَكْتُبُوْا عَنِّيْ وَمَنْ كَتَبَ عَنِّيْ غَيْرَ القُرْآن فَلْيَمْحُهُ وَحَدِّثُوْا عَنِيْ وَلَا حَرَجَ وَمَنْ كَذَّبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ) رواه مسلم

“Berbicara kepada kami Hudab bin Khalid Al-Azdy, berkata kepada kami Hamam dari Zaid bin Aslam dari Atha’ bin Yasar dari Abu Said Al-Khudariy sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda : (Janganlah sekali-kali kalian menulis apapun dariku, dan barang siapa yang menulis dariku selain Al-Quran maka ia harus menghapusnya, dan ceritakanlah apa yang kalian dengar dariku karena itu tidak apa-apa, barang siapa yang berbohong secara sengaja maka hendaknya ia bersiap untuk mencari tempat duduk di Neraka) H. R. Imam Muslim“

Adapun kemampuan Rasulullah SAW untuk memahami Al-Quran tidak diragukan lagi, karena Nabi yang menerima Wahyu itu dari Allah SWT secara langsung yang mengajari segala sesuatunya. Dan dengan demikian, ada tiga faktor yang menyebabkan Ulum al-Quran tidak di tuliskan dan tidak di bukukan :

Kondisinya yang tidak terlalu membutuhkan kepada tulis menulis, karena kemampuan para sahabat sangat besar dan kuat dalam memahami kandungan Al-Quran, dan Rasulullah SAW bisa menjelaskannya
Sangat sedikit dari para sahabat pada masa itu yang pintar tulis menulis
Adanya larangan dari Rasulullah SAW untuk menuliskan kecuali Al-Quran.

Perintah larangan untuk menulis ini di dorong karena adanya kekhawatiran akan terjadinya pencampuran al-Quran dengan hal-hal yang selain dari al-Quran. Adapun para penulis pada zaman itu mereka adalah : Zaid bin Tsabit, Ubay bin Ka’ab, Muadz bin Jabal, Mu’awiyah bin Abi Sufyan, Khulafau Rasyidin, dan lain sebagainya.

Pada Masa Khulafau Rasyidin

Pada masa khalifah Utsman bin Affan RA, agama Islam sudah tersebar sangat luas. Dimana orab Arab mulai bergaul dan bertukar fikiran dengan orang non-Arab, dan terjadi perbauran antara penakluk Arab dengan bangsa-bangsa yang tidak mengetahui bahasa Arab. Keadaan yang demikian menimbulkan kekhawatiran sahabat akan tercemarnya bahasa Arab, bahkan dikhawatirkan akan terjadi perpecahan di kalangan umat Muslim itu sendiri tentang bacaan al-Quran yang menjadi standar baca bagi mereka.

Pada saat itu pula, Khalifah Utsman memerintahkan kepada seluruh ummat Islam untuk berpegang teguh pada Mushaf Induk,  dan menuliskan kembali untuk di sebarkan ke bebrbagai daerah-daerah kekuasaan Islam. Bersamaan dengan hal ini, Khalifah Utsman juga memerintahkan kepada para ummatnya untuk membakar mushaf lainnya yang ditulis dengan cara mereka sendiri. Untuk menghindari terjadi kekhawatiran tersebut, disalinlah kembali dari tulisan-tulisan aslinya sebuah Al-Quran yang di sebut Mushaf Imam . Dengan terlaksanaannya ini, maka Khalifah Usman bin Affan telah meletakkan suatu dasar Ulum al-Quran yaitu Rasm Al-Quran  atau  Ilmu Rasm al-Quran.

Di masa Khalifah Ali bin Thalib, terjadi perkembangan baru dalam ilmu Al-Quran. Karena banyaknya ummat Islam yang berasal dari bangsa non-Arab, kemunduran dalam bahasa Arab dan kesalahan dalam membaca bacaan Al-Quran, Khalifah Ali  RA menyuruh kepada Abu Al-Aswad Ad-Duwali  ( Wafat  63 H ),  untuk menyusun kaidah-kaidah bahasa Arab. Hal ini dilakukan untuk memelihara bahasa arab dari penyalah gunaan dan menjaga Al-Quran dari kesalahan pembacanya. Tindakan Khalifah Ali ini dianggap sebagai perintis bagi lahirnya Ilmu Nahwu  dan  Ilmu I’rab Al-Quran.

Kemudian datanglah masa kekhalifahan Bani Umayyah. Kegiatan para sahabat dan tabi’in pada masa ini lebih fokus kepada kegiatan menyebarkan ilmu-ilmu Al-Quran dengan periwayatan dan tatap muka, tidak dengan penulisan atau pembukuan. Tetapi kegiatan ini bisa di bilang sebagai masa pembuka dan persiapan dimana akan datangnya masa penulisan dan pembukuan Ulum al-Quran. Diantara para sahabat yang berjasa dalam periwayatan mereka adalah : Keempat Khulafa Rasyidin, Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud, Zaid bin Tsabit, Abu Musa Al-Asy’ary, Abdullah bin Zubair. Dan dari kalangan Tabi’in mereka adalah : Mujahid, Atha’, Ikrimah, Qotadah, Hasan Al-Bashry, Said bin Jabir, Zaid bin Aslam di Madinah, dan darinya anakknya Abdurrahman, dan Malik bin Anas dari Tabi’u Tabi’in. Dan mereka inilah yang di anggap sebagai peletak batu pertama pada  Ilmu Tafsir, Ilmu AsbabAn- Nuzul, Ilmu Nasikh wa Mansukh, Ilmu Gharibul Quran, dan lain sebagainya.



Masa Penulisan Ulum Al-Quran abad ke II dan III Hijriah.

Pada abad ke II Hijriah,  masa ini bisa dibilang sebagai masa penulisan ilmu-ilmu al-Quran, maka dituliskanlah buku-buku tentang ilmu-ilmu al-Quran, dan para sahabat di zaman ini berfokus kepada Ilmu Tafsir, karena Ilmu tafsir sendiri dikenal sebagai Ummul Uluum Al-Qur’ainiah ( Induk dari ilmu-ilmu Al-Quran ).  Dan para sahabat yang pertama kali menuliskan Ilmu Tafsir mereka adalah : Syu’bah bin Hajjaj, Sufyan bin Uyaynah, Waki’ bin Jarah, dan tafsir-tafsir mereka terkumpul dari perkatan para sahabat dan Tabi’in sebelumnya.

Pada abad ke III Hijriah, Ibnu Jarir At-Athobary (wafat 310 Hijriah), beliau adalah mufassir yang pertama kali membentangkan berbagai pendapat tentang Tafsir dan mentarjih sebagian dari sebagian lainnya, beliau juga yang mengumukakakn tentang I’rab dan Istinbath (pengambilan hukum dari al-Quran). Dan hinga sampai kini, perhatian para Ulama dan para sahabat terhadap tafsir masih berlanjut,  sehingga kita bisa menemukan banyak perkumpulan atau persatuan yang sangat menakjubkan, diantaranya ialah penggemar dan penyanyi, yang meringkas dan memperpanjang, dan ada yang pertengahan, dan muncul juga pada saat itu Tafsir bil Ma’qul dan Tafsir bil Ma’tsur,  Tafsir Al-Quran secara keseluruhan, Tafsir sebagian dari Al-Quran, Tafsir tentang Surat Al-Quran, Tafsir tentang Ayat-ayat Al-Quran, juga Tafsir tentang Hukum-hukum dan lain sebagainya.

Adapun di abad ke III Hijriah ini , beberapa Ulama mulai meletakkan ilmu-ilmu tentang Al-Quran, diantaranya :

Ali bin Al-Madany guru dari Imam A-Bukhari ( Wafat 234 Hijriah ) menulis tentang Asbab An- Nuzul
Abu Ubaid Al-Qosim bin Salam  ( Wafat 224 Hijriah ) menulis tentang Nasikh wa Mansukh

Pada Masa Abad ke IV dan seterusnya

Pada abad ke IV Hijriah ini, banyak para Ulama yang mencetus dan meletakkan ilmu-ilmu tentang Al-Quran, diantaranya adalah Ilmu Gharib al-Quran yang di tulis oleh Abu Bakar As-Sijistany, kemudian kitab Al-Haawy Fi Ulum al-Quran  yang di karang oleh Muhammad bin Khalaf  bin Al-Marzuban ( wafat 309 Hijriah ), kemudian Abu Bakar Muhammad bin Al-Qasim Al-Anbary yang mengarang kitab ‘Ajaib Ilmi Al-Quran, yang mana kita ini menjelaskan tentang keutamaan-keutamaan Al-Quran, turunnya atas tujuh huruf, penulisan mushaf-mushaf, jumlah surat dan ayat, dan kata-kata dalam Al-Quran.

Pada  abad ke V Hijriah, juga banyak dari ulama-ulama yang mencetuskan ilmu-ilmu baru tentang ulum al-Quran. Ali bin Ibrahim bin Said Al-Haufy (wafat 430 Hijriah), menulis dan mengarang buku dengan judul Al-Burhan Fi Ulum Al-Quran dan I’rab Al-Quran. Dan juga pada abad ini, lahir ilmu Amtsaal Al-Quran yang dikarang oleh imam Al-Mawardi (wafat 450 Hijriah)

Kemudian, pada abad ke VI Hijriah ini, disamping banyak Ulama-ulama yang melanjutkan perkembangan Ilmu-ilmu Al-Quran yang telah ada, lahirlah ilmu Mubhamat Al-Quran, yang di tulis oleh Imam Abu Al-Qasim Abdurrahman As-Suhaily (wafat 581 Hijriah). Kitab ini menerangkan dan menjelaskan tentang lafadz-lafadz pada Al-Quran yang belum jelas maksudnya, misalnya lafadz rajulun  (laki-laki), atau malikun (raja). Kemudian lahir juga Ibnu Jauzy (wafat 597 Hijriah) menuliskan bukunya Fununul Afnan Fi Ulumil Qur-an dan Al-Mujbataa Fi Ulumi Tata’allaqu Bil Quran

Abad ke VII Hijriah, Alamuddin As-Sakhawy (wafat 641 Hijriah) menuliskan karyanya Jamaal Al-Qurraa’. Kemudian Abdussalam (wafat 660 Hijriah) mengarang kotabnya Majaz Al-Quran. Dan juga  Abu Syamah (wafat 665 Hijriah) menulis tentang  Al-Mursyid Al-Wajiz Fiima Yata’allaqu Bi Al-Quranil Aziiz .

Lanjut ke abad selanjutnya yaitu abad ke VIII Hijriah, muncul beberapa Ulama yang yang menyusun ilmu-ilmu Al-Quran yang baru. Diantaranya ialah Badruddin Az-Zarkasyi (wafat 794 Hijriah) menulis da mengarang kitabnya tentang Al-Burhan Fi Uluum Al- Quran. Juga kemudian Ibnu Al-Qayyim Al-Jauziyah  (wafat 751 Hijriah), beliau mengarang kitabnya tentang At-Tibyan Fi Aqsaam Al-Quran. Ilmu ini membahas tentang  janji-janji Allah SWT di di dalam al-Quran.

Pada abad ke IX HIjriah, Juga Muhammad bin Sulaiman Al-Kafiaji (wafat 873 Hijriah),buku yang beliau karang adalah At-Tafsir Fi Qowaid At-Tafsir.  Imam Suyuthi memberikan komentar tentangnya : “belum pernah terjadi sebelumnya, dan penjelasannya mencakup dua hal : 1. Menerangkan tentang makna tafsir, ta’wil  dan Al-Quran dan surat serta ayat-ayat. 2. Di dalamnya juga menerangkan tentang syarat-syarat menafsirkan Al-Quran. Dan kemudian setelah itu menerangkan etika seorang guru dan murid.

Pada abad ini juga, ada ulama melanjutkan perkembangan ilmu-ilmu Al-Quran. Jalaluddin Al-Balquni (Wafat 824 Hijriah), menyusun kitabnya yang berjudul Mawaqi’ Al-Uluum Fi Mawaqi’i An-Nujum. Yang mana telah tersusun di dalamnya enam pembahasan pokok, yaitu :
Tempat-tempat di turunkannya Al-Quran, waktu dan bagaimana diturunkan
Sanad Al-Quran yang memiliki 6 macam : Mutawatir, Aahad, Syadz, bacaan Nabi Muhammad Saw, periwayat dan penghafal.
Dan dalam menggunakan sanad ada 6 cara juga : Waqf, Ibtida’, Imalah, Mad, hamzah tipis, Idghom
Dalam melafadzkannya ada 7 cara : gharib, mu’rab, majaz, musytarok, mutaradif, isti’arah, tasybih.
Dan menerangkan makna-maknanya yang bersangkutan dengan hukum-hukum Al-Quran
Dan menerangkan makna-maknanya yang bersangkutan lafadz-lafadznya
Dan dengan ini, lengkap sudah buku beliau, namun tidak termasuk di dalamnya macam-macam nama, dan sebutan-sebutan serta hal-hal yang belum jelas maksudnya atau mubham. Menurut Imam Suyuthi, Al-Balquni dipandang sebagai ulama yang mempelopori penyusunan Ulumul Quran yang lengkap. Sebab di dalam kitabnya terdapat 50 macam ilmu Al-Quran.

Dan pada abad ini juga, Imam Suyuthi juga mengarang kitab yang berjudul  At-Tahbir Fi Ulumi Tafsir yang mana kitab ini diselesaikan pada tahun 873 Hijriah. Kitab ini juga memuat 102 ilmu tentang Al-Quran. Namun Imam Suyuthi belum puas dengan buku yang pertama, kemudian beliau mengarang kitab lagi yang berjudul Al-Itqan Fi Ulum Al-Quran. Didalamnya di bahas 80 macam ilmu-ilmu tentang Al-Quran secara ringkas, padat dan sistematis. Menurut Imam Az-Zurqoni, kitab ini sebagai pegangan kitab bagi para peneliti dan penulis dalam ilmu ini. Setelah wafatnya Imam Suyuthi pada tahun 991 Hijriah, seolah perkembangan kegiatan karang-mengarang buku dalm ilmu ini sudah tidak terlihat lagi, dan tidak ditemukan penulis yang memiliki kemampuan seperti beliau. Keadaan seperti ini disebabkan akibat meluasnya sikap taqlid  di dalam ilmu-ilmu tentang Al-Quran.

Lahirnya Ulumul Qur’an sebagai Disiplin Ilmu

Lahirnya istilah Ulum Al-Quran sebagai salah satu ilmu lengkap dan menyeluruh tentang Al-Quran, menurut para penulis sejarah Ulum Al-Quran pada umumnya lahir pada abad ke VII Hijriah. Sedangkan menurut Imam Az-Zurqani istilah Ulum al-Quran lahir pada abad ke V Hijriah oleh Al-Haufi dalam kitabnya Al-Burhan Fi Ulum al-Quran.

Namun kemudian bila dilihat dari sejarahnya, Imam Ibnu Jarir At-Thobary sudah membentangkan ilmu tentang al-Quran pada abad ke IV Hijriah. Disini bisa di ambil kesimpulan bahwa istilah Ulum al-Quran sebagai suatu disiplin ilmu sudah ada pada abad IV Hijriah yang dirintis oleh Imam Ibnu Jarir At-Thabary (wafat 310 Hijriah ). Kemudian diteruskan dan dikembangkan oleh Imam Al-Haufi pada abad ke V dengan kitabnya Al-Burhan Fi Ulum Al-Quran. Dan kemudian diteruskan oleh Ibnu Jauzi (wafat 597 Hijriah)  pada abad ke VI. Setelahnya diikuti dan dikembangkan oleh Alamuddin As-Sakhawi (wafat 641 Hijriah)  pada abad ke VII. Kemudian pada abad ke VIII di lanjutkan oleh Imam Badruddin Az-Zarkasyi (wafat 794 Hijriah). Dan pada abad ke IX diteruskan oleh Al-Balquni dan Al-Kafyaji (wafat 873 Hijriah). Dan pada akhirnya, disempurnakan lagi oleh Imam Suyuthi pada akhir abad IX dan awal abad X. Pada periode akhir inilah sebagai puncak para ulama menulis dan mengembangkan pengetahuan mereka mengenai ilmu-ilmu al-Quran, sebab setelah wafatnya Imam Suyuthi kegiatan menulis tentang ilmu-ilmu Al-Quran sudah tidak mucul lagi sampai akhir abad XIII Hijriah.

Namun pada abad XIV Hijriah sampai sekarang ini mulai bangkit kembali aktifitas para ulama untuk menyusun kitab-kitab tentang Ulum al-Quran, baik yang membahas Ulum Al-Quran itu sendiri, atau membahas satu ilmu dari beberapa ilmu tentang Al-Quran.

Dari uraian-uraian di atas, bisa dipahami bahwa Ulum Al-Quran merupakan kumpulan berbagai ilmu yang berhubungan dengan Al-Quran. Kemudian, pengertiannya di kembangkan kepada kajian berbagai masalah yang beragam dengan standard ilmiah. Dengan kata lain, Ulumul Qura adalah suatu ilmu yang mencakup berbagai kajian yang berkaitan dengan kajian Al-Quran seperti, pembahasan tentang asbab an-nuzul,  pengumpulan Al-Quran dan penyusunannya, pembahasan tentang –akiyah dan Madaniyah, Nasikh dan  Mansukh, Muhkam wa Mutasyabih, dan lain sebagainya. Sehingga dari sini bisa dilihat bahwa pada dasarnya ilmu-ilmu ini adalah ilmu Agama dan bahasa Arab. Namun menyangkut ayat-ayat tertentu seperti, Ayat-Ayat Kauniyah yang menjelaskan bagaiman terjadinya rotasi perputaran pada Bumi dan Bulan. Karena itu, ilmu ini mempunyai ruang lingkup yang sangat luas dan di dalamnya selalu mengalami perkembangan.

Karena itu pula, wajar saja bila Imam Suyuthi berkata bahwa pintu ilmu ini senantiasa terbuka kepada setiap Ulama yang datang kemudian untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang belum diketahui oleh para Ulama sebelumnya karena faktr-faktor tertentu. Dengan demikian, ilmu ini dapat dibenahi dengan sebaik-baik perhiasan di akhir masa.


Risalah-risalah dan Kitab-kitab Ulum Al-Quran pada Abad Akhir

Pada masa ini hingga sampai saat ini masih banyak ulama-ulama yang meneruskan kegiatan tulis-menulis dan mengarang tentang Ulum Al-Quran. Salah satu contohnya seperti Syiekh Thahir Al-Jaza’iry dengan mengarang kitabnya yang berjudul At-Tibyan Fi Ulum Al-Quran yang terdiri dari sekitar 300 halaman. Dan buku beliau dapat di selesaikan pada tahun 1335 Hijriah.

Dan juga Syiekh Mahmud Abu Daqiqoh menulis sebuah catatan penting untuk pada murid-murid fakultas Ushuluddin yang mengambil jurusan dakwah. Dan Syeikh Muhammad Ali Salamah, beliau mengarang kitab khusus untuk murid-murid jurusan dakwah dengan judul Manhaj Al-Furqon Fi Ulum Al-Quran.

Dan juga ada beberapa penulis yang membahas tentang permasalahn-permsaahan seputar ilmu-ilmu al-Quran, di antaranya adalah : Syeikh Muhammad Bukhait, Syeikh Muhammad Hasanain Al-Adawiy, Syeikh Muhammad Kholaf Al-Husainy, mereka-mereka adalah yang mengarang kitab tentang turunnya Al-Quran sebagai tujuh huruf. Dan membahas hal lainnya, Musthofa Shodiq Ar-Rafi’i, beliau mengarang I’jaz Al-Quran. Dan juga ada di antaranya Syeikh Abdul Aziz Jawisy, beliau juga mengarang buku dengan judul  Atsar Al-Quran Fi Tahriri Al-‘Aql Al-Basyary,  yang bisa kita temukan bukunya di Dar Al-Ulum. Syeikh Abdul Aziz Al-Khauly, yang menulis buku tentang Al-Quran: sifatnya, nialinya, petunjuknya dan kemukjizatannya. Juga Syeikh Thantawy Jauhary, beliau mengarang buku dengan judul Al-Quran Wa Al-Ulum Al-‘Ashriyah .

Kemudian juga Syeikh Musthofa Al-Maraghiy, beliau mengarang kitab dengan judul Tarjamatu Al-Quran. Juga Syeikh Musthofa Shabry yang mengarang dan menulis kitab Mas’alah Tarjamatu Al-Quran. Kemudian juga kitab Manahil ‘irfan Fi Ulum Quran karangan Syeikh Muhammad Abdul Adzim Az-Zurqoniy. Kemudian juga Syeikh Ahmad Muhammad Ali, beliau menulis kitab dengan judul Mudzakirah Ulum Al-Quran.

Pandangan Orientalis Terhadapa Ulum Al-Quran

Perhatian ilmiah orientalis terhadap al-Quran bermula dengan kunjungan Petrus Venerabilis, kepala Biara Cluny, ke Toledo pada perempatan kedua abad ke-XII. Ia membentuk dan membiayai suatu team penerjemah yang ditugaskan menerjemahkan serangkaian teks Arab yang secara keseluruhan akan merupakan pijakan ilmiah bagi para missionaris Kristen yang berurusan dengan Islam. Hasil kerja team ini dikenal sebagai Cluniac Corpus, yang kemudian tersebar luas, tetapi tidak digunakan secara menyeluruh, hanya bagian-bagian yang memiliki manfaat langsung dan berguna dalam polemik yang dieksploitasi serta dikutip tanpa komentar.

Asumsi dasar para orientalis menggugat al-Quran dilatarbelakangi dua hal, pertama,  kekecewaan orang Kristen dan Yahudi terhadap kitab suci mereka. Kedua, disebabkan oleh kecemburuan mereka terhadap umat Islam dan kitab suci Al-Quran. Mayoritas cendekiawan Kristen sudah lama meragukan otentisitas Bibel. Karena pada kenyataannya Bibel yang ada di tangan mereka sekarang ini terbukti tidak asli. Terlalu banyak campur-tangan manusia di dalamnya, sehingga sulit untuk membedakan mana yang benar-benar wahyu dan mana yang bukan.


Sanggahan Mengenai Pemikiran Orientalis terhadap Ulum Al-Quran

Kajian orientalis terhadap Al-Quran tidak sebatas mempersoalkan autentisitasnya. Isu klasik yang selalu diangkat adalah soal pengaruh Yahudi, Kristen, Zoroaster, dan lain sebagainya terhadap Islam dan isi kandungan Al-Quran baik yang mati-matian berusaha mengungkapkan apa saja yang bisa dijadikan bukti bagi ‘teori pinjaman dan pengaruh’ tersebut seperti dari literatur dan tradisi Yahudi-Kristen (Abraham Geiger, Clair Tisdall, dan lain-lain) maupun yang membandingkannya dengan adat-istiadat Jahiliah, Romawi, dan lain sebagainya. Biasanya mereka akan mengatakan bahwa cerita-cerita dalam Al-Quran banyak yang keliru dan tidak sesuai dengan versi Bible yang mereka anggap lebih akurat. Ada beberapa hal yang perlu digarisbawahi dan diingat dalam menghadapi serangan orientalis, sekaligus membuktikan autentisitas al-Quran.

Pertama, pada prinsipnya Al-Quran bukanlah “tulisan” tetapi merupakan “bacaan” dalam arti ucapan dan sebutan. Baik proses turunnya maupun penyampaian, pengajaran dan periwayatannya dilakukan melalui lisan dan hafalan, bukan tulisan. Dari dahulu, yang dimaksud dengan “membaca” Al-Quran adalah “membaca dari ingatan”. Adapun tulisan berfungsi sebagai penunjang semata. Sebab ayat-ayat Al-Quran dicatat, atau dituangkan menjadi tulisan di atas tulang, kayu, kertas, daun, dan lain sebagainya berdasarkan hafalan, bersandarkan apa yang sebelumnya telah tertera dalam ingatan sang qari’/muqri’.

Kedua, meskipun pada prinsipnya diterima dan diajarkan melalui hafalan, Al-Quran juga dicatat dengan menggunakan berbagai medium tulisan. Hingga wafatnya Rasulullah  SAW, hampir seluruh catatan-catatan awal tersebut milik pribadi para sahabat Nabi, dan karena itu berbeda kualitas dan kuantitas-nya satu sama lain. Karena untuk keperluan masing-masing banyak yang menuliskan catatan tambahan sebagai keterangan atau komentar di pinggir atau-pun di sela-sela ayat yang mereka tulis. Baru kemudian, menyusul berkurangnya jumlah penghafal Al-Quran karena gugur di medan perang, usaha kodifikasi pun dilakukan oleh sebuah tim yang dibentuk atas inisiatif Khalifah Abu Bakr as-Siddiq r.a hingga Al-Quran terkumpul dalam satu mushaf, berdasarkan periwayatan langsung (first-hand) dan mutawatir dari Nabi SAW.

Orientalis juga salah-paham mengenai “rasm” al-Quran. Dalam bayangan keliru mereka, munculnya bermacam-macam Qira’at disebabkan oleh rasm yang sangat sederhana itu, sehingga setiap pembaca bisa saja berimprovisasi dan membaca “sesuka-hatinya”. Padahal ragam Qira’at telah ada lebih dahulu sebelum adanya rasm. Mereka juga tidak mengerti bahwa rasm Al-Quran telah disepakati dan didesain sedemikian rupa sehingga dapat mewakili dan menampung perbagai Qira’at yang diterima.

Penutup

Setelah banyak penjelasan dan uraian di atas, dapat kita simpulkan bahwa Ulum Al-Quran memiliki definisi makna yaitu yakni pembahasan-pembahasan secara  umum atau menyeluruh yang bersangkutan dengan Al-Quran yang dilihat dari segi turunnya, penertiban dan pengumpulannya, dan penulisannya dan penafsirannya serta kemukjizatannya juga nasikh dan mansukhnya.

Dan juga bisa kita ambil poin penting disini juga adalah bahwa Ulum Al-Quran mencakup beberapa ilmu yang membahas tentang Al-Quran, sehingga cakupannya sangat luas dan tetap berlandaskan kepada Al-Quran itu sendiri. Dan juga tidak kita lupakan, ilmu-ilmu tentang Al-Quran ini akan terus berkembang seiring dengan kemajuan zaman.

Munculnya Ulum Al-Quran sudah ada sejak dari zaman Nabi Muhammad SAW, kemudian, namun pada masa ini belum dimualainya kegiatan tulis-menulis. Kemudian  diteruskan pada masa Khalifah, dimana pada zaman ini, Khalifah Usman RA sudah memerintahkan para sahabat untuk menulis tentang Al-Quran. Dan kemudian juga dilanjutkan pada zaman Bani Umayyah. Dan setelah itu diteruskan oleh para Ulama-ulama Ulum Qur’an dab Mufassir dari abad ke III Hijriah sampai abad ke X Hijriah.

Dan setelah penjelasan dan uraian di atas tadi, bisa kita ketahui bahwa Ulum Al-Quran ini dapat disebut sebagai suatu ilmu yang lengkap dan menyeluruh pada abad ke IV Hijriah, dimana Imam Ibnu Jarir At-Thabary (wafat 310 Hijriah) kemudian diikuti dan di kembangkan oleh para ulama-ulama setelahnya sehingga menjadi suatu ilmu yang membahas tentang Al-Quran dan sekitarnya secara lengkap dan menyeluruh.  Wallahu A’lam Bi Showab.

Niamul Firdaus
Mahasiswa Al-Azhar Kairo Fakultas Ushuluddin





Daftar Pustaka


Abu Syahbah, Muhammad Bin Muhammad, Al-Madkhal Li Dirasati Al-Quran Al-Karim, ( Kairo : Maktabah Al-Sunnah 2014 )

Ahmad Al-Masir, Muhammad Sayyid, Manhaj Al-Furqan fi Ulum Al-Quran, ( Kairo : Maktabah Iman 2017 )

Al-Suyuthi, Jalaluddin, Al-Itqan Fi Ulum Al-Quran. ( Kairo : Maktabah Darussalam, 2013 )

Al-Qattan, Manna’ Khalil, Mabahits Fi Ulum Al-Quran,  ( Riyadh : Mua’ssasah Risalah 2014 )

Al-Zarqani, Muhammad Abdul Adzim, Manahilu Al-Irfan fi Ulum Al-Quran, ( Kairo : Maktabah Darussalam 2015 )

Ismail, Muhammad Bakar,  Dirasaat Fi Ulum Al-Quran,  ( Kairo : Dar Al-Manar 1999 )

Itr, Nur Ad-Din, Ulum Al-Quran Al-Karim, ( Kairo : Dar Al-Bashoir 2014 )





Tidak ada komentar: