KONSEP TURUNNYA AL-QURAN DENGAN TUJUH HURUF - IKPM KAIRO

Selasa, 26 Maret 2019

KONSEP TURUNNYA AL-QURAN DENGAN TUJUH HURUF



Oleh : Zulkifli Abd. Rahim
Kamis, 29 Maret 2018

 Menurut letak geografis, Bangsa Arab merupakan bangsa yang hidupnya di daerah yang bercuaca ekstrim serta keadaan tanahnya sebahagian besar terdiri dari Padang Pasir tandus, bukit dan batu, terutama bagian tengah. Sedang bagian selatan atau bagian pesisir pada umumnya tanahnya cukup subur. Kedaan ini menyebabkan mereka harus hidup terpisah-pisah diberbagai tempat yang memiliki sumber pengairan yang cukup, dan kedaan inilah yang menjadikan Bangsa Arab terdiri dari beberapa kabilah yang memiliki dialeg yang berbeda.

 Sejak zaman jahiliah, Suku Quraisy merupakan suku yang memiliki bahasa yang paling fasih, disebabkan daerah Makkah dan kakbah pada khususnya adalah pusat pertemuan semua Kabilah Arab saat melakukan ibadah haji atau sekedar berniaga. Salah satu kebiasaan Bangsa Arab jahiliah adalah saling bertukar syair-syair, diantara yang masih tersimpan hingga kini adalah tujuh syair yang tertempel di dinding kakbah. Dengan itu Kabilah Quraisy mampu menyerap bahasa semua kabilah dan menjadikannya bahasa yang paling fasih diantara kabilah lainnya.
Dengan keistimewaan Bahasa Quraisy inilah al-Quran diturunkan dengan Bahasa Quraisy. Dalam kurang lebih sembilan belas tahun pertama, al-Quran turun hanya dengan satu huruf,  yang kemudian saat islam telah tersebar luas ke daerah selain Arab maka al-Quran diturunkan dengan tujuh huruf. Dan para ulama banyak yang menyumbangkan defenisi tentang turunnya al-Quran dengan tujuh huruf.

 Dalam makalah ini, dengan izin Allah pemakalah akan mencoba untuk mengkaji segala hal yang berkaitan dengan turunnya al-Quran dengan tujuh huruf, bagaimana sebenarnya maksud hadis Rasulullah yang mengatakan bahwa al-Quran diturunkan dengan tujuh huruf ? dan manakah pendapat yang mendekati kebenaran tentang makna sab’atu ahruf ? dan dengan izin Allah pula akan disimpulkan oleh penulis di akhir makalah.

 Dalil-dalil tentang turunya al-Qur’an dengan tujuh huruf.
 Ada banyak sahabat yang meriwayatkan hadis tentang turunnya al-Qur’an dengn tujuh huruf, diantaranya adalah Ubay bin Ka’ab, Anas,  Huzaifah bin al-Yaman,  Zaid bin Arqam, Samrah bin Jandab, Sulaiman bin Shard,  Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud,  Abdurrahman bin Auf,  Utsman bin Affan, Umar bin Khattab,  Amru bin Abi Salamh, Amru bin al-Ash, Mu’adz bin Jabal,  Hisyam bin Hakim,  Abu Bakar,  Abu Jahm,  Abu Said al-Khudry,  Abu Thalhah al-Anshary, Abu Hurairah, dan Abu Ayyub. Imam al-Suyuthi menyebutkan dalam kitabnya al-Itqan setelah dijumlahkan keseluruhan sahabat yang meriwayatkan hadis ini ada 21 sahabat.

 Pada umumnya hadis tentang tujuh huruf ini sahih meskipun ada sebahagian yang daif atau lemah, semuanya berjumlah 46 hadis, bila ditinjau dari turuq sanad, 20 hadis diriwayatkan oleh Ubay bin Ka’ab, tujuh hadis diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud, empat hadis diriwayatkan oleh Abu Hurairah, tiga hadis diriwayatkan oleh Ummu Ayyub, dan juga tiga diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, dua hadis diriwayatkan oleh Umar dan anaknya Abdullah, Dan satu hadis dari Zaid bin Arqam, dan Abi Thalhah, dan Abu Jahim, Dan Abu Bakar, dan Ibnu Shadr, dan Ibnu Dinar, dan juga Abu Alayah. Setidaknya ada 34 hadis yang sahih, dan empat munqhathi’, dan sisanya delapan hadis daif.

 Dengan perincian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa tidak ada keraguan tentang kesahihan hadis tentang turunnya al-Quran dengan tujuh huruf, dan kesemuanya jelas menyebutkan demikian. Namun yang menjadi berdebatan di kalangan ulama’ adalah pengertian dan maksud dari “Sab’atu Ahruf". Terlebih lagi Rasulullah tidak pernah mentakwilkan makna tujuh huruf disini, mungkin saja karena sahabat semuanya telah paham dengan makana hdist tersebut, dan tidak pernah menanyakan artinya.

Berikut  beberapa hadis yang menerangkan tentang turunnya al-Quran dengan tujuh huruf :

 Pertama, Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas r.a. bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Jibril membacakan al-Qur'an kepadaku dengan satu hurut kemudian aku mengulanginya. (Setelah itu) senantiasa aku meminta tambah dan iapun menambahkanku sampai dengan tujuh huruf". Imam Muslim menambahkan: "Ibnu Syihab mengatakan: Telah sampai berita padaku bahwa tujuh huruf itu untuk perkara yang satu yang tidak diselisihkan halal haramnya" (H.R Bukhari Muslim).

 Kedua, Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim yang lafalnya dari Bukhari bahwa; Umar bin Khattab berkata: "Aku mendengar Hisyam bin Hakim membaca surat Al-Furqan di masa hidupya Rasulullah SAW, aku mendengar bacaannya, tiba-tiba ia membacanya dengan beberapa huruf yang belum pernah Rasulullah SAW membacakannya kepadaku sehingga aku hampir beranjak dari shalat, kemudian aku menunggunya sampai salam. Setelah ia salam aku menarik sorbannya dan bertanya: "Siapa yang membacakan surat ini kepadamu?". Ia menjawab: "Rasulullah SAW yang membacakannya kepadaku", aku menyela: "Dusta kau, Demi Allah sesungguhnya Rasulullah SAW telah membacakan surat yang telah kudengar dari yang kau baca ini".

 Setelah itu aku pergi membawanya menghadap Rasulullah SAW lalu aku bertanya: "Wahai Rasulullah aku telah mendengar lelaki ini, ia membaca surat Al-Furqan dengan beberapa huruf yang belum pernah engkau bacakan kepadaku, sedangkan engkau sendiri telah membacakan surat Al-Furqan ini kepadaku". Rasulullah SAW menjawab: "Hai Umar! lepaskan dia. "Bacalah Hisyam!". Kemudian ia membacakan bacaan yang tadi aku dengar ketika ia membacanya. Rasululllah SAW bersabda: "Begitulah surat itu diturunkan" sambil menyambung sabdanya: "Bahwa Al-Qur'an ini diturunkan atas tujuh huruf maka bacalah yang paling mudah!". Dalam satu riwayat lain disebutkan bahwa Rasulullah SAW mendengarkan pula bacaan sahabat Umar r.a. kemudian beliau bersabda: "Begitulah bacaan itu diturunkan"
Ketiga, Suatu ketika Utsman bin Affan berpidato di atas mimbar, lalu berkata aku bersaksi kepada Allah tentang seseorang yang pernah menedengar Rasulullah bersabda bahwa sesungguhnya al-Quran diturunkan dengan tujuh huruf, yang mana semuanya benar dan cukup, lalu Utsman berdiri dan para sahabat jug ikut berdiri, hingga tak terhitung jumlahnya dan sekaligus menjadi saksi bahwa Rasulullah memang pernah bersabda demikian, lalu Utsman berkata “Benar, aku jug menyaksikannya”

 Dari hadis-hadis yang membahas tentang tujuh huruf dapat disimpulkan bahwa dalil yang menerangkan tentang turunnya al-Quran dengan tujuh huruf iru benar dan harus kit yakini. Adapun letak perbedaan sahabat adalah bagaimana cara mereka membaca al-Qur’an yang masing-masing mereka dengar dari Rasulullah. Dan setidaknya dapat disimpulkan beberapa hal mendasar dari makana-makana hadis tersebut :

 Diturunkannya al-Quran dalam satu huruf pada awal kenabian masih terdapat kesulitan atas umat yang berbeda-beda lahjat dan bahasanya, dan juga disebabkan mereka umat yang ummy, dan juga adanya orang tua yang sulit melafalkan huruf yang dilazimkan tersebut.
Maksud diturunkannya al-Quran dalam tujuh huruf adalah mempermudah umat dalam membaca dan melafalkan al-Quran sesuai dengan lisan mereka.

 Setiap umat diperbolehkan membaca al-Quran dengan huruf mana saja dari tujuh huruf tersebut.
Sahabat berbeda bacaan hingga mereka mengadukannya kepada Rasulullah SAW.
Rasulullah SAW membenarkan semua bacaan mereka dan mengabari mereka bahwa Rasulullah sendiri yang mengajari demikian, serta memahamkan mereka bahwa seperti itulah al-Quran diturunkan.

 Semua bentuk bacaan adalah perbedaan kalam Ilahi, tidak dengan campur tangan manusia.
Adanya perbedaan bacaan tidak boleh mengakibatkan adanya pertikaian antara umat.

 Dengan demikian, pembahasan tentang turunnya al-Qur’an ini semakin mengerucut kepada satu pertanyaan “Apa yng dimaksud dengn  ahruf  Sab’ah menurut penafsiran para ulama’ ?”, yang dengan izin Allah akan dibahas pada judul-judul berikutnya.

 Bahasa dan lahjat Bangsa Arab
 Secara etimologis, sebagaimana yang tertera dalam Lisan al-Arab “lahjat” dapat diartikan طرف الشيء (ujung suatu benda) جرس الكلام (bunyi ucapan) الفتح الأعلي (terbuka seluas-luasnya). Sedangkan menurut kamus Al-Jauhari dapat diartikan sebagai “al-Lisan”.

 Adapun lahjat secara terminologi adalah sebuah perkumpulan siafat dan karakteristik bahasa yang berhubungan dengan suatu lingkungan tertentu, dan dimiliki oleh setiap individu yang berada di dalam lingkunga tersebut.

 Selanjutnya, Bahasa atau dalam bahasa arab disebut “Al-Lughah” dalam Lisan al-Arab diartikan sebgai “Takallama” sebagaimana termaktub dalam hadis
من مس الحص فقد لغا, أي تكلم...

 Sementara “Al-Lughotu” secara terminologi dikutip dari kalam Ibnu Jany :

أصواة يعبر بها كل قوم عن أغراضهم.

 Hubungan antara lahjat dan bahasa
 Ada beberapa hubungan antara lahjat dan bahasa yang juga ditinjau dari berbagai aspek, diantaranya jika ditinjau menurut ulama’ bahasa “Ulama’ al-Lughah” lahjat merupakan nama lain dari bahasa, dan juga memiliki sinonim yaitu “al-lahnu”.
 Berbeda dengan para Ashabu al-Ma’ajim, mereka berpendapat bahwa lahjat dan bahasa adalah sesuatu yang berbeda baik dalam arti maupun penggunaan. Seperti, “Lughotu Quraisy” dan “Lughotu Huzail” tidak dapat diartikan sebagai “Lahjat”.

 Maka dapat disimpulkan bahwa hubungan antara lahjat dan bahasa adalah hubungan al-khash dan al-‘āmm (arti umum dan khusus) yang mana bahasa lebih bersifat universal.

 Syarat sebuah lahjah
 Setiap bangsa memiliki bahasa dan lahjatnya masing-masing, bahkan setiap kabilah memiliki lahjat khusus yang digunakan dalam lingkungan tertentu. Apakah yang menjadi batasan sebuah lahjat dikatakan lahjat ?, dan apakah yang membedakannya dengan lahjat lainnya ?

 Pertama, adanya kalimat yang digunakan oleh dua kabilah atau kelompok yang memiliki makna satu, namum cara penyebutannya berbeda. Contohnya pada kalimat "ماء" (air) dalam lahjat Saudi menyebutnya  "موية"dan dalam lahjat mesir  "مية"dan lahjat syam  "مي"dan orang badui menyebutnya  "ما. Jika dikiaskan dalam Bahasa Indonesia, penyebutan kalimat “Ke mana” orang betawi menyebutnya “ke mane” dan orang melayu “Ke mané” dan orang papua mengatakan “Kè mana”, yang kesemuanya memiliki arti sama namun berbeda penyebutan.

 Kedua, adanya dua kalimat yang digunakan oleh dua kabilah atau kelompok yang cara penyebutannya sama nama berbeda artinya, yang dalam ilmu Lhughat disebut dengan “Ikhtilāfu al-dalalah”. Contohnya dalam kalimat "جليل" dalam bahasa Saudi dapat diartikan  "قليل" sementara dalam bahasa mesir dapat diartikan"شيء عظيم" . atau sebaliknya, ada dua bahasa berbeda yng memiliki maksud yang sama. begitu pula dalam bahasa jawa, kalimat “Manu’” digunakan untuk burung yang terbang, sedangkan “manu” dalam bahasa bugis artinya ayam.

 Ketiga, adanya suatu kalimat yang hanya dimiliki oleh kabilah tertentu, contohnya kalimat "حبحب"  dalam bahasa Syam yang artinya "البطيخ في الخليج"  dan juga kalimat"خربز" yang artinya  "الشمام في الخليج". Dan juga dapat kita jumpai dalam banyak bahasa daerah di Indonesia.

 Keistimewaan Bahasa Quraisy.
 Pemilihan Bahasa Quraisy sebagai bahasa Al-Quran bukan pilihan tanpa alasan. Karena Nabi sendiri berasal dari Quraisy. Masyarakat yang menjadi sasaran pertama dakwah, juga suku Quraisy. Seandainya bukan dengan bahasa Quraisy, mereka tidak akan mau ambil peduli, meski tingkat balaghahnya bisa menghidupkan sesuatu dan mematikannya.

 Dari segi kefasihan, para ahli bahasa Arab, perawi syair, dan ahli sejarah Arab, bersepakat bahwa bahasa Quraisy adalah yang terfasih dan terbaik di antara bahasa lain. Sisi kefasihan bahasa Quraisy salah satunya terletak pada terbebasnya bahasa mereka dari beberapa “cacat bahasa” yang dimiliki kabilah lainnya. Seperti pengucapan hamzah dengan ‘ain yang ada pada bahasa Bani Tamim, kaf dengan syin yang ada pada kabilah Asad, atau penambahan huruf sin setelah kata yang berakhiran kaf seperti yang dimiliki Kabilah Rabi’ah, dan lain-lain.

 Meskipun terfasih di antara semua bahasa kabilah dan suku di Arab, suku Quraisy masih melakukan seleksi bahasa. Setiap kali ada utusan yang datang, mereka memilih syair dan kosakata paling fasih yang dimiliki oleh para utusan itu. Dari banyaknya serapan kosa kata terbaik itu, mereka menjadi yang terfasih dari semua Bangsa Arab.


 Definisi “Ahruf al-Sab’ah”
 Tujuh Huruf berasal dari kata Bahasa Arab yaitu "سبعة أحرف" yang terdiri dari dua rangkaian kata yaitu “Sab’ah” dan “Ahruf” yang masing-masing memiliki arti kata.

 Kata “Sab’ah” yang secara etimologi dapat diartikan bilangan “Tujuh”, dan ada juga ulama yang berpendapat bahwa tujuh disini bukanlah sebuah bilangan, melainkan hanyalah sebuah simbol yang biasa digunakan orang arab untuk mewakili kesempurnaan sebuah bilangan, sebagaimana tujuh mewakili bilangan satuan, dan tujuh puluh mewakili bilangan puluhan dan demikian dalam angka ratusan.  Yang berpendapat demikan diantaranya  Abu Bakar al-Araby, dan Jamaluddin al-Qashim, Namun pendapat tersebut lemah disebabkan kalimat yang digunakan hadis sangatlah jelas dan tidak membutuhkan takwil, dan juga pendapat tersebut bertentangan dengan makna kandungan hadis di mana Rasulullah terus meminta ditambahkan hingga turunlah al-Quran dengan tujuh huruf.

 Kata “Ahruf” merupakah bentuk jamak dari kata “Al-huruf” yang secara etimologi, sebagaimana yang di nukil dari Ibnu Faris : Huruf  “Al-hāu” dan “Al-rāu” dan “Al-fāu” dapat menghasilkan tiga makna : حد الشيء, العدول, dan تقدير الشيء.
Pertama, arti kata “Haddu al-syai” dapat diartikan “Wajhun” atau “Tharfu al-syai” seperti حرف الصيف (ujung pedang) حرف السفينة (pinggir kapal) حرف الهجاء(suku kata).  Dan arti kata
Kedua, arti kata “al-Adṵl” artinya انحراف عن الشيء (melenceng dari sesuatu).
Ketiga, arti kata “Taqdĩru al-syai” dapat diartikan المحارف  dikatakan المحارف من هذا   seakan dia menakar sesuatu.
Dan makana yang pertama yang lebih tepat untuk digunakan.

 Adapun pengertian ahruf al-Sab’ah secara terminology adalah Turunnya la-Quran dengan tujuah huruf berdasarkan tujuh sisi bahasa dan Qirāat yang fasih. Namun pendapat ini masih sangat umum, oleh karenanya akan di bahas secara gamblang di sub bab selanjutnya, disertai dengan ragam pendapat ulama’ menegenai tujuh huruf.

 Ragam pendapat ulama mengenai makna tujuh huruf

 Pendapat pertama, yang dimaksud dengan tujuh huruf adalah tujuh bahasa dari bahasa Arab yang masyhur dalam satu kalimat, seperti kalimatهلم, أقبل, تعال, الي, نحوي, قصدي, قربي, yang ketujuh lafal ini memiliki makna yang sama.

 Pendapat ini banyak dianut oleh kalangan ulama salaf dan khalaf, diantaranya Sufyan bin Uyaynah, Ibnu Wahhab, Ibnu Jarir al-Thobari yang membela pendapat ini dalam muqaddimah tafsirnya, Thahawi, Imam al-Qurtuby, dan banyak lagi ulama’ lainnya.
Dan juga Ibnu Abdul Bar menegaskan bahwa pendapat ini adalah pendapat mayoritas ulama.

 Tujuh bahasa dalam satu kalimat atau ayat quran disini bukanlah berlaku pada semua ayat dalam al-Quran, melainkan jumlah maksimal yang digunakan dalam satu kalimat adalah tujuh bahasa yang sudah ditentukan dan dibacakan oleh Rasulullah.  Sebagai contoh dalam firman Allah SWT ﴾ ﴿ إِنْ كَانَتْ إِلَّا صَيْحَةً وَاحِدَةً فَإِذَا هُمْ خَامِدُونَ  dibacakan oleh ibnu mas’ud dengan "ألا زقية واحدة". Contoh lainnya, Abi bin Ka’ab membacakan surat al-Hadid ayat 13 : ﴿ لِلَّذِينَ آَمَنُوا انْظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِنْ نُورِكُمْ ﴾ dengan empat ragam bacaan  yaitu “مهلؤنا, أخرونا, أرجئونا “.

Pendapat kedua, yang dimaksud dengan tujuh huruf adalah tujuh bahasa yang tersebar dalam al-Quran. Sebagaimana yang dikutip dari perkataan Abu Ubaid “Yang dimaksud dengan tujuh huruf bukannlah setiap kalimat dalam al-Quran dibaca dengan tujuh bahasa, tapi tujuh bahasa ini terpencar dalam al-Qur’an, sebahagian menggunakan bahasa Quraisy, sebahagian lagi menggunakan bahasa Huzail, sebahagian lainnya dengan bagasa Hauzan, Yaman, dan lain sebagainya”

Pendapat ini berbeda dengan pendapat sebelunya yaitu al-Quran tidaklah menggunakan bahasa selain tujuh bahasa yang dibacakan oleh Rasulullah, dan diominasi oleh bahasa Quraisy, Pendapat ini dianut oleh Abu Ubaid al-Qashim bin Salam, Abu Hatim al-Sujistani, al-Azhari dalam kitabnya “al-Tazhib”, Ibnu Athiyah dan masih banyak ulama lainnya.

 Pendapat ketiga, arti dari tujuh huruf adalah tujuh sisi perbedaan yang terdapat dalam al-Quran. Pendapat ini dianut oleh Imam Abu al-Fadhil al-Razi yang juga sejalan dengan pendapat Ibnu Qutaibah (w.276 H) dalam kitabnya “Musykilu al-Quran”, beliau berkata “Sesungguhnya hadis Rasulullah SAW tentang turunnya al-Quran dalam tujuh huruf …., Dan saya telah mentadaburi beragam berbedaan di dalamnya maka kusimpulkan menjadi tujuh sisi perubahan..”  bahkan Pendapat ini sebenarnya adalah modifikasi dari pendapat Ibnu Qutaybah. Lalu Imam Al-Razi menyeleksi, mengurangi, dan menambah pendapat yang menurutnya lebih tepat.

 Adapun tujuh sisi perbedaan yang dimaksud oleh Imam al-Razi adalah sebagai berikut,

 Pertama, perbedaan isim dari segi mufrad, tasniyah, jamak, mudzakkar, atau muannas. Contohnya dalam ayat berikut :

﴿وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ﴾

Pada lafal “لِأَمَانَتِهِمْ” dapat dibaca “لِأَمَانَاتِهِمْ” yaitu dalam bentuk jamak, dan boleh juga dibaca  “لِأَمَانَتِهِمْ” dalam bentuk tunggal.

 Kedua, perbedaan fi'il dalam bentuk madhi, mudhari', atau amr. Contohnya dalam ayat berikut:

فَقَالُوا رَبَّنَا بَاعِدْ بَيْنَ أَسْفَارِنَا وَظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ فَجَعَلْنَاهُمْ أَحَادِيثَ وَمَزَّقْنَاهُمْ كُلَّ مُمَزَّقٍ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ﴾ ﴿

Dalam kalimat “بَاعِدْ” dibaca dengan kalimat perintah “Rabb” sebagai isim Munādā, dan juga boleh dibaca dengan “ربنا  بعد”  yaitu kalimat ibtida’ dan kalimat “Rabb” sebagai fāil atau boleh juga dibaca dengan “بعد” sebagai fiil mādhi.

 Ketiga, perbedaan i'rab.Contohnya dalam ayat berikut :

وَلَا يُضَارَّ كَاتِبٌ وَلَا شَهِيدٌ﴾  ﴿

Pada kalimat “يُضَارَّ” yaitu huruf “Rha” dibaca dengan harakat fatah juga boleh dibaca dengan harakat dhamma.

 Keempat, perbedaan dengan pengurangan dan penambahan. Contohnya dalam ayat berikut :

وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ﴾ ﴿

Dalam kalimat “تَجْرِي تَحْتَهَا” dapat juga dibaca “تَجْرِي من تَحْتهَا”  yaitu dengan penambahan kalimat “من”.

 Kelima, perbedaan dengan taqdim (mendahulukan kalimat) dan ta'khir(mengakhirkannya). Contohnya dalam ayat berikut :

﴿ وَجَاءَتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ بِالْحَقِّ ذَلِكَ مَا كُنْتَ مِنْهُ تَحِيدُ ﴾

Dalam ayat ini, boleh juga dibaca dengan “وَجَاءَتْ سَكْرَةُ الْحَقّ بِالْمَوْتِ” dengan menukar kalimat “Haq” dan kalimat “Maut”.

 Keenam, penggantian huruf. Contohnya dalam ayat berikut :

﴿ وَانْظُرْ إِلَى حِمَارِكَ وَلِنَجْعَلَكَ آَيَةً لِلنَّاسِ وَانْظُرْ إِلَى الْعِظَامِ كَيْفَ نُنْشِزُهَا ثُمَّ نَكْسُوهَا لَحْمًا ﴾

Dalam kalimat “نُنْشِزُهَا” boleh juga dibaca dengan “نُنْشرُهَا” yaitu dengan mengganti huruf “Za” dengan huruf “Ra” dan kedua-duanya mutawatir.

 Ketujuh, perbedaan bahasa atau dialek, seperti fathah, imalah, tarqiq, tafkhim, izhhar,idgham, dan sebagainya.
Contohnya dalam ayat berikut :

هَلْ أتَاكَ حَدِيثُ مُوسَى﴾ ﴿

Dalam kalimat “مُوسَى” dapat dibaca dengan harakat fatah dan juga boleh dibaca dengan imālah.

 Pendapat keempat, bahwa yang dimaksud denga tujuh huruf adalah tujuh macam hal, yang juga masih ada perbedaan antara para ulama.
Diantaranya ada yang berpendapat bahwa tujuh itu adalah ; Amru, Nahyu, Halal, Haram, Muhkam, Mutasyabih, Amtsal.
Ada juga yang berpendapat bahwa yang tujuh itu adalah ; Amr, Nahyu, Wa’du, Wa’id, Jadal, Qashas, Musl.

 Pendapat ini berlandaskan hadis Rasulullah SAW yang diyakini sebagai keterangan makna dari tujuh huruf, dan dikutip juga dari perkataan Abu Syamah mengatakan bahwa suatu kaum berpegang teguh kepada hadis Nabi  “Al-Quran diturunkan dengan tujuh huruf yang tujun huruf itu meliputi tujuh sisi dan ragam, yaitu nahyu, amru, halāl, muhkam dan mutasyābih, mereka berargumentasi berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Salamah bin Abi Salamah bin Abdurrahman dari Ayahnya : diceritakan oleh Ibnu Mas’ud, Rasulullah SAW bersabda : “Kitab sebelum al-Quran diturunkan melalui satu pintu dan satu huruf, sedangkan al-Quran diturunkan melalui tujuh pintu dan tujuh huruf yaitu nahyu, amru, halāl, muhkam, mutasyābih, dan amtsāl…’’.

 Pendapat kelima,  sebagaimana telah tertera dalam defenisi secara etimologi bahwa tujuh disini bukanlah sebuah bilangan, melainkan hanyalah sebuah simbol yang biasa digunakan orang arab untuk mewakili kesempurnaan sebuah bilangan, sebagaimana tujuh mewakili bilangan satuan, dan tujuh puluh mewakili bilangan puluhan dan demikian dalam angka ratusan.

 Pendapat keenam, mengatakan bahwa yang dimaksud denga tujuh huruf adalah tujuh qira’at. Pendapat ini dinasabkan kepada al-Khalil bin Ahmad.

 Sebenarnya pendapat yang menerangkan arti kata tujuh huruf ini sangatlah banyak, bahkan Ibnu Hibban mengungkapkan bahwa “Jumlahnya mencapai 35 pendapat, kesemuanya adalah pendapat ahli ilmu dan bahasa yang menakwilkan arti tujuh huruf, dan mereka saling berselisih satu sama lain.

 Pendapat yang dikuatkan, beberapa pendapat diatas adalah ragam pemikiran ulama dalam menafsirkan makna tujuh huruf dalam hadis Rasulullah yang menerangkan bahwa al-Quran telah diturunkan dengan tujuh huruf.

 Sesuai dengan cermat penulis, sebelum menyimpulkan pendapat yang dikuatkan, perlunya kita tarik poin-poin penting :

 Diantara semua pendapat, ada dua pendapat unggul yang banyak diikuti oleh kalangan ulama yang berkecimpung dalam bidang ini. Yaitu pendapat pertama yang mengatakan bahwa al-Quran diturunkan dengan tujuh bahasa, dan pendapat ketiga yang mengatakan bahwa tujuh sisi perbedaan yang terdapat dalam al-Quran, dan masing-masing dari dua pendapat ini memiliki argument yang cukup kuat.

 Beberapa pendapat yang lainnya tidak diunggulkan bukan tanpa alasan, pendapat kedua yang mengatakan bahwa al-Quran terdapat tujuh bahasa yang tersebar dalam al-Quran dan didominasi oleh Bahasa Quraisy ditolak dengan sebuah hadis yang menceritaka tentang pertikaian Umar bin Khattab dan Hisyam bin Hakim dalam satu bacaan, adapun pendapat yang keempat karena hadis yang menjadi landasan adalah hadis daif dalam segi sanad sesuai yang diungkapkan Abu Amr bin Abdul Bar bahwa Abu salamah tidak pernah bertemu dengan Ibnu Mas’ud, demikian dengan pendapat kelima lemah karna bertentangan dengan hadis, dan pendapat keenam daif sebagaimana diungkapkan oleh Imam al-Zarkasyi bahwa “ini adalah pendapat yang paling lemah…”, dan juga jika ditinjau dari segi sejarah qira’at jumlahnya bukan hanya tujuh namun lebih.

 Belum adanya titik temu untuk menggabungkan dua pendapat yang dikuatkan, melainkan setiap pendapat saling beradu argument, namun penulis akan mencoba memaparkan titik keunggulan setiap dari dua pendapat ini sebelum menguatkan salahsatu pendapat. Adapun keunggulan dan kelemahan dua pendapat ini diantrnya :

 Fokus  pertama : jika ditinjau menurut sejarah pemaknaan tujuh bahasa lebih tepat, bagaimana tidak ?, dalam kenyataannya para sahabat pada awalnya bertikai karena adanya perbedaan bacaan, hingga mereka tahu bahwa al-Quran diturunkan dengan tujuh huruf. Dan hebatnya semua sahabat langsung memahami makna tujuh huruf tersebut dan tidak pernah menjadi perdebatan hingga zaman Kahlifah Utsman bin Affan. Demikianlah al-Quran yang tadinya diturunkan dengan tujuh bahasa untuk memudahkan umat, menjadi sebuah pertikaian pada perang melawan Armenia, hingga adanya ijma’ untuk mengumpulkan mushaf  yang juga diberi rambu-rambu oleh Khalifah, bahwa sanya “jika kalian berbeda pendapat maka tulislah dengan bahasa Quraisy, sesungguhnya la-Quran turun dengan bahasa Quraisy”. Sementara menurut sejarah, Ibnu Qutaibah(w.276 H) sebagai pelopor pendapat ketiga yang disempurnakan oleh Imam al-Razi adalah hasil tadabbur yang juga memerlukan waktu yang cukup lama.

 Fokus kedua: jika ditinjau dari zat al-Quran itu sendiri yaitu mushaf utsmani, pendapat ketiga yang mengatakan bahwa tujuh huruf adalah tujuh sisi perbedaan dalam al-Quran boleh dikatakan benar, karena pada kenyataanya tujuh sisi tersebut ada yang dapat di temukan di dalam al-Quran, sementara pendapat pertama sebagai bahagian dari tujuh sisi jika bahasa diartikan dengan lahjat.

 Fokus ketiga, untuk menemukan titik temu pendapat yang diunggulkan, tidak cukup jika salahsatu pendapat hanya unggul dalam satu sisi saja, baik itu sisi zat al-Quran itu sendiri atau hanya unggul pada sisi sejarah dan tujuan kodifikasi mushaf.

 Perlunya ada satu pendapat yang menjadi titik fokus dan dianggap paling mendekati kebenaran, yang tentunya dengan istiqra’ yang cermat dan didasari dengan argument yang kuat.

 Dengan beberapa fokus di atas dan dengan adanya argumen kuat dari para ulama yang membelanya menjadikan pendapat pertama lebih kuat dari pendapat yang lainnya. Dan jika ditinjau dengan artian bahasa secara luas, pendapat pertama telah mencangkup tujuh sisi yang dimaksud oleh pendapat ketiga.

 Adapun beberapa alasan mengapa pendapat pertama lebih unggul jika dibandingkan dengan pendapat lainnya adalah sebagai berikut :

 Pertama, sebab turunnya al-Quran dengan tujuh huruf adalah latar belakang umat yang berbeda-beda lisannya dan sulit bagi mereka untuk mengucapkan bahasa lain yang bukan bahasa mereka. Maka al-Quran diturunkan denga tujuh bahasa dengan tetap memiliki makna yang sama sebagai rahmat dari Allah agar mereka mudah dalam membacanya.

 Kedua, turunnya al-Quran dengan tujuh huruf yang tadinya sebagai rahmat dari Allah menjadi sebuah masalah baru pada zaman Khalifah Utsman. Pada saat semua tentara muslim dari Irak dan Syam berkumpul dalam perang  Armenia , mereka menemukan bacaan mereka berbeda dengan yang lainnya, sehingga mereka saling menyalahkan dan hampir-hampir saling mengkafirkan satu sama lain. Masalah ini kemudia diangkat ke Khalifah Utsman dan dimusyawarakan, sehingga mereka sepakat untuk mengumpulkan al-Quran dalam satu bahasa yaitu Bahasa Quraisy. Kalaulah tujuh bahasa itu masih ada dalam kodifikasi Mushaf Usmani maka akan tetap bertikai.

 Ketiga, adanya isyarat yang cukup jelas dari Khalifah Utsman bin Khattab yang memerintahkan agar al-Quran ditulis menggunakan bahasa Quraisy, yang juga latar belakang kejadiannya adalah perbedaan bahasa Irak dan Syam di perang Armenia. Kalaulah al-Quran adalah tujuh sisi, tidak perlu menunggu bertemunya tentara Irak dan Syam untuk timbulnya pertikaian.

 Keempat, beberapa sisi perbedaan yang disebutkan oleh pendapat ketiga ada yang mencangkup di dalamnya bacaan yang Ahād, sementara tidak ada keraguan dan semua ulama sepakat bahwa apa yang ada dalam al-Quran semuanya mutawatir.

 Kelima, pendapat ketiga banyak membahas tentang sifat dari lafal tersebut seperti perbedaan dalam i’rab, tashrif, tafkhim, imālah, izhar, idgham, isymam, dan kesemuanya bukan perbedaan dalam lafal, melainkan hanya sifat dan bagaimana cara penyebutan.

 Dengan demikian, semakin jelaslah bahwa tujuh huruf yang tertera dalam hadis-hadis Rasulullah adalah tujuh bahasa. Meski demikian, ada saja desas-desus yang mecoba mematahkan teori ini. Berikut kami paparkan beberapa syubhat besertakan dengan jawabanya :

 Syubhat pertama, jika ada yang mengatakan “Dimana tepatnya dalam al-Quran kita dapat menemukan adanya ayat atau kata yang dibaca dengan tujuh bahasa dan memiliki makna satu ?”. jawabannya, “Teori arti kata bahasa ini bukanlah membahas tentang adanya tujuh bahasa dalam al-Quran yang sekarang, karena itu sudah dihapus pada masa Khalifah Utsman. Melainkan teori ini membahas tentang  takwil hadis Rasulullah yang mengatakan bahwa al-Quran itu diturunkan dengan tujuh huruf.

 Syubhat kedua, jika ada yang berkata “jika dalam mushaf hanya ada satu huruf, lalu kemana enam huruf lainnya ?, kenapa harus dihapus ? bukankah Rasulullah memerintahkan untuk membacanya dengan tujuh huruf ?”. Jawabannya “Benar jika Rasulullah memerintahkan demikian, dan umat tidak menghapus enam huruf lainnya. Melaikan kembali kepada tujuan adanya tujuh huruf adalah untuk memudahkan, dan setelah keringanan tadi menjadi sebuah perpecahan maka menjaga keutuhan al-Quran dan persatuan ummat menjadi preoritas. Maka bisa dikatakan secara tidk langsung ummat tidak menghapus enam huruf lainnya, namun umat hanya melaksanakan kewajibanya, yaitu menjaga al-Quran dan menjauhkannya dari segala pertentangan.

 Syubhat ketiga, jika ada yang berkata “Kalulah al-Quran diturunkan dengan tujuh bahasa maka bagaimana mungkin Umar bin Khattab berbeda bacaan dengan Hisyam bin Hakim, bukankah mereka sama-sama Quraisy ?”. Jawabannya “Turunnya al-Quran dengan tujuh bahasa bukanlah berarti setiap suku boleh mentakwilkan ayat dengan hawa nafsu mereka sendiri ke dalam bahasa yang mereka miliki, namun harus tetap sesuai dengan apa yang didengarkan oleh Rasulullah. Maka sangat mungkin Umar bin Khattab atua Hasyim bin Hakin mendengarkan dari Rasulullah yang bukan bahasa Quraisy dan langsung menghaflkannya.

 Syubhat keempat, jika aada yang mengatakan “Bagaimana mungkin apa yang ada dalam mushaf itu hanya satu bahasa ?, sedangkan banyak kita temui di dalamnya bahasa selain bahsa Quraisy, yaitu bahasa Yaman, Hauzan, dan lain sebagainya. Jawabannya “Secara teori, bahasa yang digunakan ada dua macam, yaitu bahasa asli dan bahasa serapan. Bahasa yang ada di dalam al-Quran adalah bahasa Quraisy baik itu bahasa asli ataupun bahasa serapan”.

 Syubhat kelima, jika ada yang mengatakan “Kalaulah al-Quran diturunkan dengan tujuh bahasa maka apa saja bahasa-bahasa itu ?. jawabannya “Ulama berbeda pendapat dalam menentukan tujuh bahasa ini. Diatara ragam pendapat disebutkan oleh Abu Hatim al-Sijistani bahwa tujuh bahasa tersebuat adalah ; Quraisy, Huzail, Tamim, Azad, Rabi’ah, Hawzin, Sa’ad bin Bakr. Dan ada juga yang berpendapat bahwa al-Quran secara umumnya diturunkan dengan bahasa kabilah Mudhor, yang mana bahasa ini termasuk di dalamnya ada tujuh dialeg yaitu Quraisy, Kinanah, Asad, Huzail, Tamim, dubah.

 Namun sejatinya kita tidaklah perlu memperdebatkan tentang macam-macam bahasa ini, sebab beberapa pendapat diatas dan juga pendapat lainnya ditentukan bukanlah sesuatu yang pasti, dikarenakan tidak adanya dalil yang sahih yang menerangkan secara detail. Dan yang perlu digarisbawahi adalah yang kita dapati sekarang dalam mushaf usmani adalah hanya satu bahasa, yaitu bahasa Quraisy.

 Ahruf sab’ah dalam kodifikasi mushaf utsmani.
 Adapun prespektif ulama tentang ahruf sab’ah dalam mushaf usmani juga berbeda-beda, dan ini merupakan hasil dari perdebatan panjang tentang arti tujuh hruf diatas, adapun beberapa pendapat tersebut sebagai berikut :

 Pendapat pertama, yang dikemukakan oleh Imam al-Thabari dan beberapa ulama yang setuju dengannya, bahawa mushaf Utsmani hanya terdiri dari satu huruf yaitu bahasa Quraisy. Dan Imam Ibnu Hajar al-Atsqalani “pendapat inilah yang diunggulkan”.

 Pendapat kedua, adalah pendapat para ulama mutakallimin yang berpendapat bahwa arti tujuh huruf adalah tujuh bahasa yang tersebar dalam al-Quran dan juga yang mengatakan bahwa tujuh huruf itu adalah tujuh qirā’ah.

 Mereka berpendapat bahwa dalam mushaf Utsmani masih ada ahruf sab’ah, dan para sahabat telah sepakat bahwa mushaf Usmani mencangkup semua kandungan suhuf Abu Bakar, termasuk tujuh huruf. Namun pendapat ini ditentang oleh Ibnu Jarir “Umat tidak pernah diwajibkah membaca al-Quran dengan tujuh huruf, dan tujuannya adalah sebagai keringanan, maka boleh saja jika dikembalikan kepada huruf aslinya jika keringanan tadi sudah tidak berjalan sebagai mana fungsinya”

 Pendapat Ketiga, dikemukakan oleh beberapa kalangan ulama salaf dan ada juga dari kalangan ulama khalaf  bahwa apa yang ada dalm mushaf Utsmani ini adalah sesuai dengan urdhatu al-akhirah, yaitu mencangkup tujuh huruf, dan pendapat ini didukung oleh kalangan ulama yang mengatakan bahwa arti dari tujuh huruf adalah tujuh sisi perubahan.

 Dapat ditarik kesimpulan, bahwa ulama yang memandang arti dari huruf adalah bahasa maka akan mengatakan bahwa dalam mushaf Utsmani hanya ada satu huruf, sebaliknya para ulama yang mengatakan bahwa arti dari huruf itu adalah sisi perubahan, maka akan mengatakan bahwa di dalam mushaf Utsmani masih terdapat tujuh huruf. Wallahu a’lam.

 Pandangan Syi’ah terhadap Ahruf Sab’ah
Dalam pembahasan turunnya al-Quran dengan tujuh huruf, para pembesar Syi’ah berbeda pendapat layaknya ulama Ahlusunah. Namun jika ulama Ahlusunah berbeda dalam maksud dari tujuh huruf itu sendiri tanpa meragukan kesahihan hadis, para pembesar kalangan Syiah justru memperdebatkan kesahihan hadis tersebut. Dari kalangan Syiah terbagi menjadi dua kelompok besar yaitu sebagai berikut :

Kelompok pertama, mereka beranggapan bahwa hadis tentang turunnya al-Quran dengan tujuh huruf itu benar, dengan bukti bahwa mereka mencoba untuk menakwilkan makna huruf  tersebut. Diantaranya adalah Abu Abdillah bin al-Mizan Nashrullah al-Zanjabi.

Kelompok kedua, dan pendapat ini adalah pendapat yang mendominasi dan banyak diikuti oleh kalangan Syi’ah. Mereka berpendapat bahawa semua hadis yang mengatakan bahwa al-Quran telah diturunkan dengan tujuh huruf itu tidaklah benar, sebab bertentangan dengan hadis Rasulullah yang diriwayatkan oleh Abi Ja’far, Bahwa Rasulullah SAW bersabda “Sesungguhnya al-Quran itu satu dan diturunkan oleh yang Maha Satu, adanya perbedaan adalah dari mereka yang menerima riwayat”.

Adapun alasan mengapa mereka menolak 21 hadis yang sahih dan menguatkan hadis dari Abi Ja’far yang juga bukan termasuk hadis mutawatir ini karena bagi mereka, asas pertama dalam agama adalah Rasulullah lalu setelahnya barulah al-Quran dan disusul oleh ahlubait.

Qiră’at dan ahruf sab’ah

Definisi qiră’ah.

Qiră’at secara etimologis adalah bahasa arab “قراءات” merupakan jamak dari “قراءة” yang merupakan masdar dari kalimat “قرأ” yang artinya “membaca”.
Adapun secara terminologis adalah “Suatu mazhab yang dijadikan rujukan oleh seorang imam dalam membaca al-Quran, yang berbeda dengan imam lainnya”.

Pengertian Qiră’ah sab’ah adalah tujuh mazhab yang dijadikan rujukan oleh seorang imam dalam membaca al-Quran, yaitu Abu Amr, Nafi’, Ashim, Hamzah, al-Kisai, Ibnu Amir, dan Ibnu Katsir.

Qiră’ah sab’ah bukanlah ahruf sab’ah

Beberapa kaum menganggap bahwa ahruf sab’ah adalh qiră’ah sab’ah, sebagaimana yang tertera dalam pembahasan sebelumnya. Namun pendapat ini sangatlah lemah, sebagaimana juga yang diungkapkan oleh Abu Syamah “Beberapa kaum mengira bahwa keduanya sama, padahal pendapat ini menyeleweng dari ijma’ ulama, melainkan itu hanyalah pendapat orang-orang yang kurang pengetahuan akan bidang tersebut”

Perlu diketahui bahawa jumlah qiră’at bukan hanya tujuh, melainkan sangat banyak, namun diantaranya ada yang mutawatir, ada juga yang ahăd, dan maudhu’. Layaknya hadis.
Adanya tujuh qiră’at yang masyhur tersebut merupakan ijtihad Ibnu Mujahid, yang juga diakui banyak kalangan ulama. Meski sejatinya ada qiră’at yang mutawatir dan tidak termasuk dalam kategori Ibnu Mujahid. Maka demikian, sangat salah jika ada yang menganggap bahwa tujuh huruf itu adalah tujuh qiră’at.


 Hikmah turunnya al-Quran dengan tujuh huruf.
Tidaklah Allah SWT memberikan umatnya suatu hal, kecuali ada hikmahnya. Diantara hikmah diturunkannya al-Quran dengan ujuh huruf sebagai berikut :

Pertama, mempermudah setiap kabilah untuk membaca al-Quran dengan lisan mereka, terutama mereka yang tak mampu baca tulis. Sementara itu merka dituntut untuk menjalankan syariat seutuhnya.

Kedua, sebagai rahmat untuk umat secara menyeluruh, sebagaimana Rasulullah diutus bukan hanya untuk orang Arab saja, al-Quran juga dirancang untuk dapat dibaca dengan mudah oleh seluruh manusia, termasuk a’jam.

Ketiga, menjadi pembeda dari kitab-kitab sebelumnya, yang mana kitab-kitab sebelunya hanya menggunakan satu bahasa. Sedangkan al-Quran turun dengan tujuh bahasa yang kesemuanya dari Allah SWT, bukan penafsiran atau terjemahan.

Keempat, adalah merupakan bukti kemukjizatan al-Quran dalam makna dan kandungan yang dimuat didalamnya.

Tidak ada komentar:

@way2themes