MASA KELAM EMBARGO KAFIR QURAISY TERHADAP MUSLIMIN DAN AKHIR DARI MASANYA - IKPM KAIRO

Selasa, 26 Maret 2019

MASA KELAM EMBARGO KAFIR QURAISY TERHADAP MUSLIMIN DAN AKHIR DARI MASANYA



Oleh : Ibnu Farhan Istiqlal, Ahmad Syahdi Viselari, Fitri Handayani
Kamis, 13 Desember 2018

 Awal Kemunculan Perjanjian Embargo Ekonomi dan Masa Kelam Umat Muslim
 Termaktub dalam beberapa riwayat yang berbeda daripada Musa bin Aqabah dari Ibn Ishaq dan selain dari mereka berdua menyebutkan bahawa pihak kafir Quraisy telah menyatukan kesepakatan untuk membunuh Rasulullah Saw tentunya dengan berbagai macam cara, salah satunya embargo ekonomi yang diakukan oleh orang-orang kafir Quraisy yang menyebabkan penederitaan kaum muslimin semakin berat. Bahkan, dampak dari pada peristiwa itu juga terasa oleh kalangan orang-orang musyrik dari kalangan bani Hasyim dan Bani Muthallib.

 Sementara penyebab yang memicu terjadinya peristwa ini adalah orang-orang muslim dan musyrik dari Bani Hasyim dan Bani Muthallib menghalangi perencanaan pembunuhan Nabi Muhammad Saw, yang dimana orang-orang muslim menjaga Nabi Muhammad dengan penuh ketaqwaan kepada Allah Swt. Sementara orang-orang Musyrik dari kalangan mereka, menjaga dengan ketakutan akan hinaan daripada suku-suku lain.

 Setelah pupus dari harapan untuk membujuk kedua Suku yang se-darah dengan Nabi Muhammad Saw itu, akhirnya kaum Quraisy mengemukakan perang dingin dengan mendzahirkan perjanjian akan “Embargo Ekonomi” terhadap orang orang muslim dan Bani Hasyim juga Bani Muthallib, dengan tidak akan menikahkan anak–anak mereka dan menghalangi perniagaan jual-beli untuk masuk ke daerah orang-orang muslim, Bani Muthallib dan Bani Hasyim.

 Tiga tahun lamanya, hingga peristiwa kezaliman itu menuju pada puncak yang begitu mengenaskan. Bahkan, dalam sebuah riwayat yang sahih dalam bukunya, Al-Imam Al ‘Allamah Asy-Syahid Sa’id Ramadhan Al-Buthi mengatakan bahwa tidak ada makanan yang datang kepada kaum muslimin hingga mereka hanya memakan kayu dan dedaunan pohon.

 Menarik sebuah perhatian penulis, adalah peran orang-orang musyrik dari kalangan Bani Hasyim dan Bani Muthallib yang juga turut menjaga dan tertimpa kekejaman suku-suku arab lainnya di Makkah untuk menentang dakwah Rasulullah. Jadi, sebenarnya orang-orang musyrik Bani Hasyim dan Bani Muthallib itu memadukan dua hal.

 Pertama, tetap berada dalam kemusyrikan dan kesombongan terhadap kebenaran yang dibawa Nabi Muhammad Saw. Kedua, melestarikan tradisi saling melindungi antar sesama karib-kerabat dari kejahatan dan kezaliman orang asing, kendati kerabat sendiri yang bersalah.
 Adapun bagi kaum muslimin, dengan meneladani kepribadian Nabi Muhammad Saw sebagai yang terdepan, ketabahan mereka untuk saling membela satu sama lain dibangun berdasarkan perintah Allah Swt, sikap lebih mengutamakan akhirat dibandingkan dunia, dan sikap lebih meremehkan dunia dibandingkan keridhoan Allah Swt.

 Beberapa pelaku ghazw al-fikr berkata, “Sebenarnya fanatisme Bani Hasyim dan Bani Muthallib lah yang ikut serta berada dibalik dakwah Rasulullah Saw. Fanatisme itulah yang selalu menjadi pelindung. Buktinya, ketika orang-orang musrik Quraisy menjatuhkan embargo terhadap kaum muslimin, mereka bersifat pasif.”
 Dalam pendapat ini Al-Imam Al-Allamah Asy-Syahid Sa’id Ramadhan Al-Buthi menolak keras dengan mengatakan bahwa pernyataan di atas jelas-jelas dusta. Alasannya, adalah wajar jika tradisi saling melindungi masih dipegang teguh oleh Bani Muthallib dan Bani Hasyim. Itulah Yang menjadikan kedua pihak ini bersedia menjaga keselamatan Muhammad Saw ketika “Tangan-tangan asing” berniat menyakiti keponakan mereka.

 Sebagaimana diketahui, tradisi saling melindungi yang sudah ada sejak zaman Jahiliyyah (al-hamiyyah al-jahiliyyah) ini menekankan betapa pentingnya membela keluarga dan kerabat tanpa memandang prinsip, bahkan tanpa mempedulikan anggota keluarga yang dibela benar ataupun salah. Jadi, fanatisme yang ditunjukan kedua pihak ini betul-betul fanatisme dalam arti sesungguhnya, bukan yang lain.

 Jadi, untuk apa sebenarnya mereka membela Nabi Muhammad Saw ? Mereka ikut merasakan penderitaan Rasulullah Saw dan para sahabat, namun dalam menghadapi kaum Quraisy yang selalu memperlakukan umat islam dengan buruk, orang-orang musyrik Bani Hasyim dan Bani Muthallib sebenarnya tidak pernah berharap perlakuan buruk itu akan mereda.

 Akhir Masa Embargo dan Pencabutan Perjanjian Oleh Pembesar Quraisy
 Kekejaman kaum musyrikin dalam peristiwa ini menimbulkan beberapa fenomena yang tidak ber-perikemanusian, diantaranya: Pertama, Kaum muslimin meninggalkan perumahan mereka dan hanya bertempat tinggal di syi’ab (lorong) milik Bani Muthallib. Kedua, kenaikan harga sandang dan pangan di berbagai macam tempat jual-beli. Sehingga orang muslim hanya akan pulang ke rumahnya dengan tangan kosong tanpa bisa membeli apapun, sementara mereka dalam keadaan yang dilanda kelaparan. Ketiga, kekurangan makanan yang sangat, mengakibatkan kaum muslimin sampai memakan kayu dan daun-daun pohon.

 Tiga tahun berjalan, embargo ini dikecam oleh beberapa orang dari kalangan bani Qushayy. Mereka menyatukan sepakat untuk membatalkan perjanjian embargo yang mereka sepakati sebelumnya. Sementara itu, Allah SWT mengirimkan pasukan rayap untuk memakan habis lembaran perjanjian embargo yang kejam itu. Hanya bagian yang bertuliskan lafal “Allah” yang tersisa.

 Rasulullah Saw. menyampaikan berita itu kepada pamannya, Abu Thalib. Abu Thalib berkata, “Apakah Tuhanmu telah mengabarimu tentang hal itu?” “Ya,” jawab Rasulullah Saw. Abu Thalib pun segera menemui orang orang Quraisy. Ia meminta meeka untuk menunjukkan lembaran perjanjian embargo.

 Sesaat kemudian, lembaran itu diambil dari dinding Ka’bah dan ditunjukkan kepada Abu Thalib dalam keadaan tergulung. Abu Thalib berkata, “Sesungguhnya keponakanku tidak pernah berdusta padaku. Ia berkata bahwa Allah SWT telah mengirimkan rayap untuk memakan lembaran perjanjian yang berisi kebusukan dan pemutusan silaturahim ini. Jika yang dikatakan benar, sadarlah kalian dan tinggalkanlah pikiran buruk yang kalian pendam. Demi allah, kami tidak akan menyerahkannya sampai orang terakhir dari kami pun kehilangan nyawa. Akan tetapi, jika yang dikatakannya tidak terbukti, kami akan langsung menyerahkannya kepada kalian. Kalian boleh melakukan apa saja kepadanya.” Orang-orang Quraisy berkata, “Baiklah, kami setuju.”

 Mereka lalu membuka lembaran yang masih tergulung itu. Semua mata tertuju padanya. Ternyata, setelah dibuka, semua tulisan suku Quraisy itu sudah hancur, kecuali lafal Allah, sebagaimana diberitakan Rasulullah Saw.

 Tetapi, alih-alih mempercayai ucapan Rasulullah Saw. , orang-orang kafir itu justru berkata ketus kepada Abu Thalib, “Ah, ini semua adalah sihir keponakanmu itu.” Kekufuran mereka semakin bertambah. Beberapa waktu kemudian, lima orang pemuka Quraisy tampil untuk menarik kembali embargo yang mereka berlakukan, yaitu Hisyam ibn Amr ibn Harits, Zuhair ibn Umayyah, Muthim ibn ‘adi, Abul Bukhtari ibn Hisyam, dan Zam'ah ibn Aswad.

 Orang pertama yang secara terang-terangan menarik embargo itu adalah Zuhair ibn Umayyah. Di dekat Ka’bah, dihadapan orang banyak ia berseru lantang, “Wahai penduduk Makkah, relakah kalian menyantap makanan dan mengenakan pakaian, sementara Bani Hasyim dan Bani Muthallib binasa karena tidak dapat berjual-beli? Demi Allah aku tidak akan duduk sampai lembaran pemutus (silaturahim) yang zalim ini dikoyak-koyak.”

 Lalu, keempat tokoh yang lain mengamini pernyataan Zuhair. Setelah itu, Muth’im ibn ‘Adi berjalan mendekati lembaran kesepakatan, lalu merobeknya. Dari Ka’bah, kelima orang tokoh Quraisy diikuti sejumlah orang, bergerak menemui Bani Hasyim, Bani Muthallib, dan masyarakat muslim lainnya yang masih berada di Syi’ab Bani Muthallib. Mereka datang untuk meminta mereka kembali ke rumah masing masing.

 Dengan ini, berakhirlah masa embargo ekonomi yang dilakukan oleh orang-orang kafir Quraisy. Sayang sekali, mereka sebagai para penentang dakwah Nabi Muhammad Saw. Belum mampu mencapai tujuan yang diinginkan, yaitu membunuh Nabi Muhammad Saw. Sungguh perbuatan yang keji.

Tidak ada komentar: