PERAN HADIS DALAM MENGGALI HUKUM SYARIAT - IKPM KAIRO

Selasa, 26 Maret 2019

PERAN HADIS DALAM MENGGALI HUKUM SYARIAT



Oleh: Fakhri Abdul Gaffar Ibrahim dan Andi Rafid
Kamis, 21 Maret 2019 

 Dalam interaksi antar sesamanya manusia membutuhkan aturan, kaidah serta norma dalam segala lini dan pilar kehidupan sosial. Maka dengan karunia dan kasih sayang Allah, Ia menciptakan peraturan-peraturan itu yang kita ketahui dengan istilah “syariat” untuk mengatur kehidupan manusia dari segi individu maupun bermasyarakat (sosial). Karena, jika aturan-aturan itu dibuat oleh tangan manusia, niscaya akan dibangun dengan asas hawa nafsu dan seenaknya.

 Cara Allah dalam mengatur syariat untuk manusia bermacam-macam. Dengan menurunkan ayat-ayat hukum di al-Qur’an yang menjadi mukjizat Nabi Muhammad Saw, atau dengan cara hukum tersebut keluar dari lisan, perbuatan, dan ikrar Nabi Muhammad Saw yang kemudian di-rawi-kan oleh para sahabat, tabi, tabi tabiin, hingga sampai kepada kita yang kita ketahui dengan istilah “hadis”.

 Tidak bisa dipungkiri, bahwa hadis merupakan sumber hukum ke dua setelah al-Qur’an. Kedudukannya sangat penting. Hadis sendiri bermacam-macam. Pengertian hadis berbeda menurut perbedaan ulama setiap fokus ilmu. Pengertian hadis menurut ulama hadis berbeda dengan pengertian menurut ulama fikih maupun ushul fikih. Hadis juga memiliki tingkatan yang berbeda-beda. Yang mana tingkatan ini sangat berpengaruh terhadap pemilihan hadis dalam penggalian hukum syariat.

 Pengertian hadis atau sunnah berbeda menurut setiap fokus ilmu.  Hadis menurut para muhadditsin (ulama ahli hadis) dibagi menjadi dua macam pengertian, yakni: pengertian yang terbatas di satu pihak dan pengertian yang luas di pihak lain.

 Pengertian hadis yang terbatas, sebagaimana dikemukakan oleh sebagian besar ulama hadis, ialah:
ما أضيف للنبي صلي الله عليه وسلم قولا أو فعلا أو تقريرا أو نحوها
“Ialah sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad Saw saw. Baik berupa perkataan, perbuatan, pernyataan (taqrir) dan yang sebagainya”.

 Pengertian hadis yang luas, sebagaimana yang dikemukakan oleh sebagian ahli hadis, tidak hanya mencakup sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad Saw saja, tetapi juga perkataan, perbuatan, dan taqrir yang disandarkan kepada sahabat dan tabiin pun disebut hadis. Dengan demikian hadis menurut pengertian ini, meliputi segala berita yang disandarkan kepada sahabat marfu, mauquf (disandarkan kepada sahabat), dan maqthu (di sandarkan kepada tabiin).

 Berbeda dengan pengertian menurut ulama hadis, Maka secara garis besar titik perbedaan antara ulama hadis, fikih dan ushul fikih adalah, ulama hadis berpendapat bahwa hadis mencangkup segala perbuatan nabi lain dengan ulama fikih dimana menurut mereka hadis difokuskan kepada semua perbuatan beliau selain hal-hal yang wajib. Sementara menurut ulama ushul fikih hadis lebih dititikberatkan pada semua yang disandarkan kepada beliau selain dari al-Qur’an dan setelah jadi Rasul Saw.

 Hadis memiliki posisi yang sangat penting dalam istinbat hukum syariat. Ia adalah sumber hukum ke dua dari beberapa sumber dalam peng-istinbat-an hukum. Ia menempati posisi ke dua setelah al-Qur’an. Semua ulama sepakat bahwa semua hadis yang diriwayatkan dengan sanad sahih adalah sumber hukum dalam Islam dan sumber hukum bagi semua imam mujtahid dalam menggali hukum. Sampai imam syafii menempatkan hadis sahih dan al-Qur’an dalam satu tingkatan, yakni al-Qur’an dan hadis saling melengkapi dalam penggalian hukum.

 Semua umat Islam wajib taat dengan apa yang diajarkan dalam hadis sebagaimana taat kepada al-Qur’an. Ada banyak dalil yang menunjukkan perintah untuk taat kepada hadis dan sunnah. Beberapa di antaranya:
وما ءاتكم الرسول فخذوه وما نهكم عنه فانتهوا
“Apa yang diberikan Rasul Saw kepadamu maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah”
يا أيها الذين آمنوا أطيعوا الله وأطيعوا الرسول
“Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul Saw (Muhammad)”
Sumber hukum syariat Islam ada sepuluh. Empat di antaranya ulama sepakat dalam pengambilannya menjadi sumber hukum, yaitu:
Al-Qur’an, hadis atau sunnah, ijmak, dan qiyas.  Enam di antaranya ulama berbeda pendapat, yaitu: istihsan, maslahah mursalah, istishab, urf (adat), mazhab sahabat, dan syariat umat terdahulu.

 Seseorang tidak akan mampu memahami makna hakiki dari al-Qur’an dan maksud Allah dari beberapa ayat-ayat hukum kecuali dengan merujuk kepada Rasul Saw yang diutus untuk menjelaskan al-Qur’an kepada manusia. Peran hadis terhadap al-Qur’an dalam istinbat hukum dapat dirincikan sebagai berikut:

 Pertama Hadis membatasi kemutlakan ayat alquran Seperti dalam ayat: “Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah”(Qs.al-Maidah 5:38).
 Perintah untuk memotong tangan orang yang mencuri di ayat masih bersifat mutlak. Hadis membatasinya yakni hanya pergelangan tangan, bukan tangan sepenuhnya. Dan dimulai dengan tangan kanan.

 Kedua, hadis memberikan rincian terhadap pernyataan alquran yang masih bersifat globalSeperti dalam ayat “Dan dirikanlah shalat , tunaikanlah zakat dan ruku'lah beserta orang-orang yang ruku” (Qs:al-Baqarah 2:43). Hadis datang menjelaskan tata cara pelaksanaan salat, syarat sah salat, jumlah rakaat tiap salat dan waktu-waktu salat. Begitu juga ibadah-ibadah lain seperti zakat, puasa, dan haji.

 Ketiga, hadis menspesifikasi ayat alquran yang bersifat umum, seperti dalam ayat “ padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba(Qs.al-Baqarah 275:2)”. Jual beli yang yang dihalalkan dalam ayat mencakup semua jenis jual beli. Hadis menspesifikasinya yakni hanya jual beli yang sahih (terpenuhi semua syarat dan rukunnya) yang halal bagi umat islam.

 Keempat, hadis memberikan penjelasan lebih lanjut terhadap ayat alquran yang bersifat rancu.
Seperti dalam ayat “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman, mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk(Qs.al-Ana’m 6:82)”. Ketika ayat ini diturunkan, para sahabat takut mereka masuk ke dalam kategori zalim seperti yang tertera dalam ayat. Bahwa zalim meliputi semua bentuk kezaliman. Maka Rasul Saw menjelaskan bahwa zalim yang dimaksud di ayat adalah syirik kepada Allah.

 Kelima, hadis menguatkan hukum yang ditetapkan alquran. Seperti perintah salat, membayar zakat, dan menunaikan haji yang sudah ditetapkan dalam al-Qu’ran. Hadis datang menguatkan perintah-perintah tersebut.

 Keenam, hadis mengumpulkan perintah al-Qur’an dalam satu kaidah
Seperti ayat-ayat yang mengharamkan kemudaratan. Dalam firman Allah:
(لا تضار والدة بولدكها ولا مولود له بولده)
(ولا تضاروهن لتضيقوا عليهن)
(ولا يضار كاتب ولاشهيد)
(ولا تمسكوهن ضرارا لتعتدوا)
 Hadis mengumpulkan semua kemudaratan yang dimaksud dalam ayat-ayat di atas dalam satu kaidah yang sesuai dengan hadis yaitu “tidak meniadakan bahaya dengan bahaya yang lain”  
لا ضرر ولا ضرار  .
 Ketujuh, memerinci penetapan hukum al-Qur’an yang masih murni. Seperti dalam ayat “Wahai orang-orang yang beriman, janagnlah kalian memakan harta-harta kalian di antara kalian dengan cara yang batil, kecuali dengan perdagangan yang kalian saling ridha(Qs.annisa 4:29)”. Hadis mengabarkan bahwa tidak semua jual beli yang terdapat kesepakatan antara dua pihak dihalalkan,yakni mengecualikan jual beli yang yang terdapat unsur tipu daya dan menzalimi harta orang lain diharamkan.

 Dari perincian di atas dapat kita ketahui bahwa hadis memiliki peran yang sangat besar sebagai sumber hukum ke dua setelah al-Qur’an. Begitu juga perannya dalam memerinci maupun mendampingi al-Qur’an sebagai dua sumber utama dalam hukum. Seandainya tidak ada hadis yang memerinci al-Qur’an, umat islam tidak kan sanggup untuk melaksanakan perintah-perintah dan larangan yang ada dalam al-Qur’an.

 Ibn al-Qoyyim menjelaskan bahwa umat islam wajib mengikuti sunnah walaupun ada beberapa yang hukumnya tidak ada di dalam al-Qur’an. Beliau membagi sunnah ke tiga bagian, yaitu:

 Pertama, sunnah yang hukumya sesuai dengan hukum di dalam al-Qur’an dari segala aspek. Kedua, sunnah yang menjelaskan dan menafsirkan hukum dalam al-Qur’an. Dan ketiga,  sunnah yang hukumnya tidak tertera dalam al-Qur’an.

 Hadis sebagai sumber hukum juga berbeda-beda menurut tingkatannya. Hadis mutawâtir di posisi pertama dan hadis masyhûr serta ahad di posisi ke dua. Kita sebagai umat islam wajib mengimani dan menaati hukum yang terkandung dalam hadis. Kita harus mengimani bahwa semua itu bersumber dari Nabi Muhammad Saw. Nabi Saw agung yang kita nantikan syafaatnya. Menaati beliau berarti menaati Allah.

 Kita harus bisa membedakan perbuatan Rasul Saw yang menjadi sumber hukum dan bukan. Bahwa tidak semua perbuatan beliau adalah sumber hukum bagi umat islam. Sebagai penuntut ilmu kita harus senang dan asyik mencari rahasia-rahasia dibalik istinbat hukum. Menghargai para perawi dan  ulama hadis yang telah bersusah payah dalam meriwayatkan hadis sehingga bisa dijadikan sumber hukum oleh para mujtahid.

Tidak ada komentar:

@way2themes