PERISTIWA TURUNNYA WAHYU, PELAJARAN DAN RENUNGANNYA - IKPM KAIRO

Kamis, 21 Maret 2019

PERISTIWA TURUNNYA WAHYU, PELAJARAN DAN RENUNGANNYA



Oleh: Syarif Hidayatullah, Rohmah Sari Dewi, dan Naili Izzah Ramadhani
Kamis, 29 November 2018


 Berkhulwah di Gua Hira’

 Ketika Nabi Muhammad Saw. berumur 40 tahun, beliau memiliki kecenderungan untuk mengasingkan diri guna beribadah dan berkhulwah di Gua Hira, sepanjang malam bahkan sampai melampaui batas. Hingga sekitar sebulan, beliau kembali ke rumah sebentar untuk mengambil bekal pengasingan beliau yang selanjutnya. Lalu kembali lagi ke Gua Hira. Seperti inilah yang beliau lakukan hngga datang wahyu kepadanya dipertengahan pengasingannya.
Sesungguhnya kecenderungan Nabi Muhammad Saw. untuk berkhulwah dan beruzlah di Gua Hira sebelum pengutusan baginda sebagai seorang Rasul mengandung makna yang sangat mendalam dan memberi implikasi yang begitu penting kepada seluruh penghidupan umat Islam dan agama Islam khususnya.

 Amalan ini membuktikan bahwa setiap muslim tidak akan sempurna keIslamannya kecuali jika ia melakukan pengasingan diri dari keramain dunia, menilai dan memperhatikan keagungan Allah. Meskipun ia telah melakukan ibadah-ibadah dengan berbagai macamnya. Sebagai himat Ilahi, sesungguhnya dalam diri manusia terdapat berbagai penyakit yang tidak akan dapat diobati kecuali dengan jalan mengasingkan diri, memperhitungkan dan menghisab diri sendiri dalam suatu waktu dan tempat yang sunyi. Penyakit-penyakit itu adalah; sombong, ujub, dengki, riya dan cinta terhadap dunia. Disamping pentingnya berkhulwah, juga harus diperhatikan bahwa berkhulwah bukan suatu hal yang wajib, seperti yang dilakukan para penyimpang yang memahaminya dengan cara berpaling sepenuhnya dari orang lain hingga mengabaikan dunianya.
 
 Turunnya Wahyu Kepada Nabi Muhammad Saw.
(Al Qur'an) adalah kitab yang sangat agung, diartikan sebagai kalam Allah Swt. yang diturunkan  kepada Nabi Muhammad Saw. Al Qur’an juga merupakan  wahyu yang turun sebagai mukjizat terbesar kepada Nabi Muhammad Saw. sekaligus sebagai tanda  kenabiannya. Diturunkan pada malam yang agung yaitu malam lailatul Qadar. Ini merupakan fase pertama turunnya Al-Qur’an, hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam surat Al-Qadr ayat 1-5 : “Sesungguhnya kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada lailatul Qadar. Dan tahukah kamu apakah lailatul qadar itu? lailatul qadar itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar”. Al-Qur’an menjadi sumber hukum Islam yang paling utama. Al-Qur’an sendiri menjelaskan bahwa isi dari Al-Qur’an adalah sebuah petunjuk bagi orang-orang beriman dan bertaqwa. Al-Qur’an juga sebagai pedoman bagi setiap manusia untuk mencapai kebahagiaannya, baik dunia maupun akhirat. Al-Qur’an disampaikan dengan jalan mutawatir dari Allah Swt. dengan perantara malaikat Jibril, dan membacanya merupakan sebuah nilai ibadah. Kemudian Allah Swt. persiapkan kekasih-Nya untuk menerima risalah yang sangat agung ini. Melalui proses yang cukup panjang Allah Swt. turunkan Al-Qur’an dengan beberapa tahapan, salah satunya melalui malaikat Jibril sebagai perantara. Ketika usia Nabi Saw. hampir mendekati empat puluh tahun, beliau banyak menghabiskan hari-harinya untuk mengasingkan diri. Rutinitas tersebut mulai beliau kerjakan setelah melalui proses perenungan yang cukup lama. Dengan membawa persediaan makanan yang secukupnya, seperti roti dari gandum dan juga air, beliau pergi ke gua Hira.
Selama menyendiri di gua tersebut, beliau menghabiskan waktunya hanya untuk beribadah, memikirkan keagungan alam di sekitarnya, dan kekuatan menakjubkan tak terhingga dibalik alam.

 Beliau masih merasa gelisah menyaksikan keyakian umatnya yang penuh dengan kemusyrikan. Sementara itu, beliau sendiri belum menemukan jalan yang jelas atau petunjuk yang bisa menhantarkan mereka kepada jalan yang benar. Kemudian, ketika usia nabi genap 40 tahun, tanda-tanda kenabian itu mulai tampak. Diantaranya terjadinya ru’yah shadiqah atau mimpi yang benar berupa fajar subuh yang menyingsing. Hal ini berlangsung hingga enam bulan.

 Tepatnya di bulan Ramadhan, Allah memberikan rahmat-Nya kepada penduduk bumi dengan memberikan kemuliaan kepada Nabi Saw. berupa pengangkatannya sebagai nabi. Adapun mengenai turunnya wahyu, sayyidah Aisyah r.a., menuturkan kisahnya sebagai berikut: “wahyu pertama yang dialami oleh Rasullullah Saw. adalah berupa ru’yah shalihah (mimpi), dan mimpi itu hanya berbentuk fajar subuh yang menyingsing, kemudian semenjak kejadian itu beliau lebih senang menyendiri, yang mana proses penyendirian itu beliau lakukan di gua Hira. Beliau beribadah beberapa malam sebelum kembali kepada keluarganya”. Proses itu terus dilakukan oleh beliau, hingga datang kebenaran kepadanya, yaitu saat beliau berada di gua tersebut, Saat itu Malaikat Jibril berkata kepada Nabi Muhammad, "إقرأ". Saat itu Nabi Muhammad merasa ketakutan dengan peristiwa itu.

 Selanjutnya Rasulullah menjawab, "ما أنا "بقارئ
Ada dua tafsiran mengenai hal ini. Yang pertama Rasulullah Saw berkata, "ما أنا بقارئ" Karena seperti yang kita tahu bahwa Rasulullah adalah seseorang yang buta huruf, dan tidak bisa menulis. Turunnya ayat ini karena merupakan suatu mukjizat. Juga tafsiran yang lain bahwa Rasulullah berkata, "ما الذي أقرأ"Apa yang harus aku baca? (Karena logikanya jika ada yang menyuruh untuk membaca pasti ada sesuatu yang dibaca, sedangkan saat itu tidak ada sesuatupun yang akan dibaca, karena Al-Qur’an sudah berada di dalam hati Rasulullah Saw).

 Hal ini bisa dibuktikan dengan ayat Al-Quran Surat Al-Qiyamah ayat Allah Swt berfirman: “laa tuharrik bihii lisaanaka lita'jala bih" Jangan engkau (Muhammad) gerakkan lidahmu (untuk membaca Al-Qur'an) karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya." (QS. Al-Qiyamah 75: Ayat 16). Inna 'alainaa jam'ahuu wa qur`aanah "Sesungguhnya Kami yang akan mengumpulkannya (di dadamu) dan membacakannya." (QS. Al-Qiyamah 75: Ayat 17).
Ada dua pendapat saat datangnya wahyu dari Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad Saw. Pendapat yang pertama berpendapat bahwa beliau takut dengan Malaikat Jibril.

 Sedangkan pendapat yang kedua Nabi Muhammad Saw. tidak takut dengan datangnya Malaikat Jibril, tetapi beliau takut dengan beratnya risalah, haibatu da'wah dan haibatu wahyi, haibatullah, wa haibatu al-Quran. Karena ini merupakan wahyu yang agung.  Dalam kitab Fiqih Siroh karya Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthy dijelaskan bahwa, Sewaktu Rasulullah  di dalam Gua Hira maka datang kepadanya malaikat lalu berkata, iqra’ (bacalah). Lalu Rasulullah berkata, ma ana biqari’i (aku tidak bisa membaca), Rasulullah berkata, “Kemudian Jibril menarikku dan dipeluknya aku kuat-kuat hingga terasa kepadaku kesungguhannya kemudian dilepaskan aku, lalu ia berkata: iqra’ ! (Bacalah). Maka aku berkata, ma ana biqari’ (Aku tidak bisa membaca), kemudian Jibril menarikku lagi lalu dipeluk erat hingga terasa kepadaku kepayahan kemudian itu dilepaskan aku dan dia berkata, iqra’ ! (Bacalah). Maka aku berkata, ma ana biqari’ (Aku tidak bisa membaca), kemudian Jibril menarikku lagi lalu dipeluk erat yang ketiga kalinya hingga terasa eratnya dan dilepaskannya aku, maka ia berkata:
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia. Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya. (Al-Alaq: 1-5).

 Pulanglah Baginda Rasulullah Saw. dengan ayat-ayat itu dan hatinya gemetar. Lalu bertemulah Rasulullah kepada Khadijah binti Khuwailid seraya berkata: (Selimutilah aku! selimutilah aku!) maka diselimutilah hingga hilang daripadanya rasa ketakutan, kemudian Rasulullah berkata kepada Khadijah setelah rnenceritakan peristiwa itu: “Sesungguhnya aku takut terhadap diriku, lalu Khadijah pun berkata kepada Rasulullah, “jangan begitu! Demi Allah, Allah tidak akan membuatmu sedih selamanya karena engkau sebenarnya mempunyai rahim (kasih sayang), dan engkau memikul beban, berusaha memberi terhadap orang susah, menjamu tamu dan menolong dalam musibah yang menimpa.”

 Kemudian pergilah Khadijah bersama Rasulullah menemui Waraqah bin Naufal Ibnu Asad bin Abdul Uzza yaitu anak paman Khadijah. Waraqah adalah seorang Nasrani pada zaman jahiliyyah dan pandai menulis kitab Ibrani. Maka disalinnya kitab Injil dengan bahasa ‘Ibrani atas kehendak Allah. Beliau seorang yang telah berusia tua dan buta. Khadijah berkata kepadanya, “Wahai anak pamanku! dengarkan anak saudaramu ini,” kemudian Waraqah bertanya kepada Rasulullah: “Wahai anak saudaraku, apa yang engkau lihat itu?” Lalu Rasulullah Saw. menceritakan apa yang dialami dan dilihatnya. Setelah itu Waraqah pun berkata kepada Rasulullah, “Inilah Jibril yang pernah diturunkan Allah kepada Nabi Musa. Sekiranya aku masih muda dan masih hidup ketika engkau diusir oleh kaummu.”

 Kemudian Rasululah bertanya, “Apakah mereka hendak mengusirku?” Lalu Waraqah menjawab, “Ya! karena tidak pernah datang seorang pun yang mernbawa risalah seperti yang engkau bawa melainkan ia akan dimusuhi, dan sekiranya jika aku melihat peristiwa itu aku akan menolongmu dengan pertolongan yang sungguh-sungguh.” Begitulah Allah Swt. mengatur, dan mempersiapkan kehidupan Rasulullah Saw. untuk mengemban amanah yang sangat besar ini, mengubah wajah dunia dan meluruskan garis sejarah. Pilihan nabi untuk mengasingkan diripun rupanya termasuk dari ketentuan Allah Swt. kepadanya, sebagai langkah untuk menerima tugas besar yang menantinya.

 Sebelum turunnya wahyu kepada Rasululllah Saw. yang pertama kali (surat al-Alaq ayat 1-5), melalui perantara malaikat Jibril, Rasulullah sesungguhnya telah mendapatkan wahyu secara ar-Ru’yah as-Sholihah. Apakah yang dimaksud dengan ar-Ru’yah as-Sholihah itu ? a-Ru’yah as-Sholihah yakni dimana Rasulullah bermimpi dalam tidurnya tepat sebelum terbitnya fajar. Sudah tidak diherankan lagi, sesungguhnya Rasulullah telah mengetahui dirinya adalah seorang nabi dan Rasul nantinya meski masih dalam usia anak-anak sekalipun. Mengapa demikian? Karena sesungguhnya pepohonan, batu, gunung dan semua makhluk di dunia ini selalu mengucapkan sholawat dan salam kepadanya. Ditambah lagi dengan beberapa petunjuk yang beliau dapatkan sebelumnya, salah satunya dari perkataan sang Rohib yang bertemu saat pergi berdagang bersama pamannya ke negeri Syam.  Dengan inilah Rasulullah Saw. mengetahui bahwa suatu saat nanti akan tiba dimana datangnya suatu wahyu kenabian kepadanya.

 Dijelaskan bahwasannya malam sebelum Rasulullah Saw. pergi untuk berkhalwat di gua Hira, Rasulullah Saw. mengalami ar-ru'yah as-sholihah dimalam harinya. setelah itu pergilah Rasululah Saw. ke gua Hira di saat pagi tiba. Dan disinilah awal pengangkatan Rasulullah Saw sebagai panutan umat akhir zaman.

 Adapun tata tertib turunnya wahyu (maratibul wahyu) :
1. ar-Ru’yah as-Shodiqoh. Yakni pertama kali Rasulullah mendapatkan wahyu. Dan biasanya terjadi di malam menjelang shubuh.
2. Didatangi oleh malaikat di dalam jiwanya dan hatinya tanpa sepenglihatannya. Rasulullah Saw. bersabda: Sesungguhnya malaikat Jibril memasuki dirinya, tidak akan mati jiwa tersebut melainkan malah menjadi sempurnanya rezkinya, maka bertaqwalah dan perpantaslah dirimu saat kamu meminta. (HR..Ibnu Abi ad-Dunuya wa al-Hakim).
3. Datangnya malaikat seperti bunyi loncengan bel. Dan bunyi itu sangat keras (bahwasannya, ini merupakan wahyu yang paling berat). Diibaratkan sampai sayap (malaikat) beterbangan seperti dedaunan dan terjadi disuatu hari yang sangat dingin. (HR. Bukhori dan Ahmad Bayhaqi)
4. Dilihatkan malaikat kepadanya atas kehendak Allah Swt, dan memiliki 600 sayap. Ini terjadi dua kali kepada Rasulullah Saw. sebagaimana dijelaskan dalam surat anNajm.
5. Langsung didatangkan oleh Allah Swt. dari atas langit, seperti perintah diwajibkannya shalat.
6. Kalam Allah Swt. langsung kepada Rasulullah Saw. tanpa adanya perantara malaikat, seperti kalam Sayyidina Musa as. 7. Percakapan bersama Allah Swt. tanpa adanya penutup ataupun perantara.

 Dan sesungguhnya dari maratibul inilah memperjelas kebesaran Nabi Saw.
Pelajaran dan Renungan
Peristiwa turunnya wahyu ini merupakan dasar utama yang memberi implikasi atau keterlibatan terhadap seluruh hakikat aqidah dan syari’ah islamiyyah. Memahami serta mempercayai dengan penuh keyakinan merupakan titik permulaan untuk mempercayai segala apa yang telah dibawa oleh Nabi Muhammad Saw. seperti memberi kabar tentang ghaib dan suruhan syari’at.

 Hakikat wahyu adalah jenis tunggal yang memisahkan antara manusia yang berfikir secara logis dengan otak pemikiran yang bersifat serba kemanusiaan dengan manusia yang menyampaikan segala sesuatu yang telah diturunkan oleh Tuhannya tanpa merubah, mengurangi dan menambah.  Oleh karena itu, orang-orang yang memiliki keraguan terhadap Islam mencoba menimbulkan persoalan-persoalan tentang wahyu yang diturunkan karena mereka meyakini bahwa objek hakikat wahyu itu merupakan sumber kepercayaan dan keyakinan orang Islam terhadap apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw. dari Allah Swt. Kalaulah mereka dapat menyuntikkan jarum keraguan terhadap hakikat wahyu tadi juga mendoktrin mereka segala syari’at dan prinsip kepercayaan Islam adalah ciptaan dan rekaan Nabi Muhammad Saw. sendiri, maka tidak diragukan lagi dengan mudahnya menjadikan orang Islam itu mengingkari sebagian dari kepercayaan dan hukum.

 Untuk mencapai tujuannya, penyerang ideologi ini akan berusaha menganalisa wahyu itu sesuai kehendak hati mereka sendiri dan mencoba memisahkan dari hakikat kebenaran wahyu itu. Ada juga yang menuduh Rasulullah bahwa beliau menyembah berhala. Ada juga yang menuduh Nabi Muhammad Saw. mempelajari Al-Qur’an dan prinsip ajaran Islam dari Pendeta Bahira dan ada pula yang menuduh bahwa Rasulullah itu seseorang yang terganggu urat sarafnya atau telah diserang penyakit jiwa. Andaikata kita memperhatikan kepada tuduhan-tuduhan dan tafsiran-tafsiran yang tidak masuk akal ini, maka tampaklah kepada kita bahwa manusia tersebut tidak boleh menerima apa yang telah diturunkan Allah kepada Rasulullah berupa wahyu, dan ini justru akan menjauhkan diri Umat Islam dari Nabi Muhammad sebagai Nabi.

 Kita dapat memperhatikan jelas segala kebenaran wahyu itu dengan hadist Imam Bukhari mengenai penurunan wahyu.
 - Kenapa Rasulullah dapat melihat Jibril dengan mata kepalanya sendiri? Mengapa wahyu tidak disampaikan dibalik tabir saja?
 Kenapa Allah meresapkan perasaan takut dan kebimbangan di dalam hati Rasulullah ketika menerima wahyu itu? Bukankah sebenarnya diresapkan perasaan tenang dan tenteram ketika itu karena ini merupakan tanda sayangnya Allah terhadap RasulNya? Mengapa Rasulullah  merasa takut bahwa yang mendatanginya di Gua Hira dulu adalah jin, dan belum pasti bahwa yang mendatanginya adalah malaikat utusan Allah Swt?
 - Kenapa turunnya wahyu terputus beberapa saat? Peristiwa ini telah menyebabkan Rasulullah resah dan cemas hingga beliau pergi mendaki bukit sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al-Imam Bukhari.

 Ini adalah beberapa pertanyaan mengenai bentuk wahyu yang pertama kali diturunkan. Bagi orang yang berfikir untuk mendapatkan jawabannya akan mendapatkan beberapa rahasia dan hikmah-hikmah yang terang lagi nyata, yaitu orang-orang liberal dan golongan orientalis yang menganggap bahwa wahyu ini adalah hasil renungan dan fikiran Nabi Muhammad akan bertemu dengan hakikat yang paling nyata.  - Nabi Muhammad Swt berada di Gua Hira’ dan melihat dengan mata kepalanya sendiri. Lalu Malaikat Jibril berkata kepadanya, “Bacalah!” Ini supaya memahami bahwa wahyu itu bukanlah suatu perkara di dalam jiwa atau batin, melainkan yang sebenarnya ialah menerima suatu hakikat yang tidak ada hubungannya dengan dorongan jiwa. Malaikat Jibril telah memeluk baginda Nabi seerat-eratnya sebanyak tiga kali dan melepaskannya  sebanyak tiga kali, kemudian Malaikat Jibril menyeru kepada baginda Nabi, “Bacalah!” sebanyak tiga kali juga merupakan penegasan dan gambaran hidup tentang wahyu yang datang dari luar bukanlah rekaan khayalan Nabi Muhammad Saw.

 Nabi Muhammad Saw. merasa takut dengan apa yang telah didengar dan dilihat, sampai beliau telah berhenti dari ibadahnya dan bergegas pulang ke rumah dengan hati yang berdebar-debar. Peristiwa ini menegaskan kepada orang yang meragukannya bahwa Nabi Muhammad tidak mengharap-harapkan hendak menjadi pembawa Risalah yang akan disebarkan ke seluruh alam. Dan bukan pula wahyu itu untuk menyempurnakan apa yang telah difikirkan Rasulullah dalam fikirannya. Malah kedatangan wahyu itu kedatangan yang tidak disangka-sangka akan mempengaruhi kehidupannya.

 Soal ilham, jeritan batin dan jiwa atau renungan ke alam atas tidak akan diserang perasaan takut, kagum dan pucat badan. Tegasnya tidak ada titik pertemuan atau hubungan di antara renungan mencari ilham dan dibarengi dengan perasaan takut yang berturut-turutan. Kita sendiri pun lebih mengetahui bahwa perasaan takut dan menggeletar seluruh anggota badan disertai dengan pucat warna tubuh badan adalah perasaan-perasaan yang tidak boleh dibuat-buat atau dipura-purakan? Kalau hendak diandaikan bahwa Nabi Muhammad mencoba sedemikian maka ini suatu andaian (hypothesis) yang mustahil di mana perangainya telah begitu berubah corak dan satu keadaan kepada suatu keadaan yang terlalu berbeda dan berlainan.

 Nabi Muhammad Saw. tidak percaya bahwa yang mendatanginya, memeluk dan menyuruh baginda membaca di gua itu adalah sejenis jin. Ini dapat dilihat dari apa yang diceritakannya  kepada Sayyidah Khadijah. Nabi Muhammad berkata, “aku takut terhadap diriku,” tegasnya dari jin, tetapi Khadijah telah menenangi Nabi Muhammad dan memberi penenang  bahwa ini bukanlah rasukan jin atau syaitan karena baginda Nabi Muhammad berakhlak mulia dan berpribadi tinggi. Allah menenangkan jiwa Nabi Muhammad bahwa yang mendatanginya itu tidak lain adalah Malaikat Jibril yaitu malaikat suruhan Allah yang membawa pengkhabaran wahyu dan berita-berita Ilahi tentang pengutusan Nabi Muhammad Saw sebagai Rasul untuk manusia seluruh alam, tetapi hikmah Ilahi yang nyata adalah ingin memberitahu antara dua pribadi Nabi Muhammad yang paling nyata perbedaannya yaitu Nabi Muhammad sebagai manusia biasa sebelum pengutusannya dan Nabi Muhammad sebagai Nabi dan Rasul setelah pengutusan dan untuk menerangkan lebih lanjut lagi bahwa prinsip aqidah islamiyyah atau syariah islam belum pernah terfikirkan oleh Rasulullah Saw dan belum pernah tergambar di kepalanya mengenai da’wah itu.

 Suatu kehendak Ilahi yang telah mengilhamkan Khadijah agar membawa Nabi Muhammad untuk menemui Waraqah bin Naufal dan membentangkan perkara ini kepada beliau. Ini merupakan suatu sudut yang lain untuk memperkuatkan lagi bahwa apa yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad berupa wahyu pernah disampaikan kepada para anbiya’ lain yang terdahulu dan untuk menyingkap perasaan yang menakutkan, yang menyelubungi jiwa Nabi Muhammad Saw. dengan apa yang dilihat dan didengarnya.
 
 Mengenai pemberhentian sementara penurunan wahyu, kemudian disambung setelah enam bulan atau lebih itu mengandungi mu’jizat Ilahi yang mendalam. Para penyerang-penyerang aqidah (Islam) telah mencoba menganalisa wahyu yang diterima oleh Nabi Muhammad Saw itu dengan mengatakan bahwa itu bersumber dari renungan yang panjang yang bersumber dalam jiwa. Sebagai rahasia dan hikmah ilahi Malaikat Jibril yang ditemui oleh baginda di Gua Hira’ dahulu telah menyembunyikan diri untuk beberapa saat.

 Lantaran itu Rasulullah Saw diselubungi oleh perasaan was-was kemudian bertukar pula menjadi takut dan bimbang karena Allah telah melucutkan pemberian dan karunia wahyu serta pengutusan karena suatu kesalahan yang telah dilakukan oleh baginda sehingga terasa oleh baginda bahwa dunia ini sempit baginya. Hingga disuatu ketika, baginda telah melihat sekali lagi malaikat Jibril yang bentuk-rupanya telah memenuhi ruangan di antara langit dan bumi, “Hai Muhammad engkaulah utusan kepada manusia”. Perasaan takut sekali lagi menguasai seluruh diri Nabi Muhammad Saw. Dengan keadaan demikian baginda Nabi kembali ke rumahnya di mana Allah telah menurunkan ayat-ayat Al-Qur’an Surat Al-Mudatsir ayat 1-2 yang artinya: “Wahai orang yang berselimut (Muhammad). Bangunlah, lalu berilah peingatan!” Hadist mengenai penurunan wahyu ini merupakan satu-satunya senjata untuk merobohkan segala cemoohan dan serangan yang dibuat oleh seteru-seteru Islam terhadap penurunan wahyu dan terhadap keNabian yang dikaruniakan kepada Nabi Muhammad Saw. Dari sini maka dapatlah kita fahami sejauh mana dan betapa agungnya hikmat ilahi yang terkandung di dalam penurunan wahyu itu tadi. Boleh jadi seteru Islam akan kembali bertanya kalaulah wahyu itu diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. dengan perantaraan Jibril kenapa para sahabat yang lain tidak melihat?

 Sebagai jawabannya kita boleh mengatakan bahwa tanda wujud dan adanya sesuatu itu tidak semestinya dapat dilihat oleh kasat mata manusia karena tenaga dan penglihatan manusia itu terbatas. Sebagai kenyataan waqi’i menunjukkan kebenaran wahyu ialah penurunannya yang berturut-turut bukannya suatu petanda penyakit jiwa yang dialami oleh Nabi Muhammad Saw. seperti mana yang pernah dianalisa oleh seteru-seteru Islam. Di sini kita coba membuat kesimpulan tentang bukti-buktinya ini:

i. Terdapat perbedaan di antara Al-Qur’an dan Al-Hadist al-Sharif. Nabi Saw. telah menyuruh dan meminta para sàhabatnya agar menulis Al-Qur’an setelah diturunkan. Sebaliknya Hadist memadai dengan hafalan mereka, karena A1-Qur’an merupakan kalam Allah yang diwahyukan dengan makna dan perkataan dengan perantara Malaikat Jibril, sedangkan Hadist maknanya dari Allah Swt sedangkan lafadz dan tarkib dari Rasulullah Saw. Ini dilakukan supaya nas dan teks Al-Qur’an tidak bercampur aduk dengan nas hadist.

ii. Nabi Muhammad ditanya beberapa perkara dan tidak menjawab semua pertanyaan yang dikemukakan oleh para sahabatnya dengan waktu yang lama. Sehingga saat diturunkannya ayat Al-Qur’an sesuai dengan pertanyaan tadi, maka baginda akan menjawab pertanyaan tadi, kemudian dibacakan ayat-ayat Al Qur’an yang baru diturunkan.

iii. Seperti diketahui Rasulullah adalah seorang yang buta huruf dan tidak mungkin manusia itu dapat mengetahui peristiwa dan faktor sejarah dengan jalan “meditasi perantaraan” seperti cerita Nabi Yusuf, peristiwa menghanyutkan Nabi Musa di dalam sungai, dan cerita mengenai Fir’aun yang kesemuanya itu membuktikan bahwa Rasulullah buta huruf. Lantaran itu Allah Swt berfirman yang artinya: “Dan engkau (Muhammad) tidak pernah membaca sesuatu Kitab sebelum (Al-Qur’an) dan engkau tidak pernah menulis suatu Kitab dengan tangan kananmu; sekiranya (engkau pernah membaca dan menulis), niscaya ragu orang-orang yang mengingkarinya.”

ix. Sesungguhnya Rasulullah terkenal di kalangan kaumnya sebagai seorang yang amanáh selama empat puluh tahun. Lebih-lebih dengan diri sendiri baginda lebih teliti sewaktu menerima wahyu dan mengkaji secara mendalam agar tidak langsung berbau keraguan.  Sebagaimana dalam Surah Yunus 10:94  yang artinya, “maka jika kamu (Muhammad) berada dalam keragu-raguan tentang apa yang kami turunkan kepadamu, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca Al-Kitab sebelum kamu. Sesungguhnya telah datang kebenaran kepadamu dan TuhanMu sebab itu janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu ragu.” Seolah-olah ayat ini merupakan jawaban kepada kajian Rasulullah terhadap wahyu dan diriwayatkan bahwa Rasululah telah menegaskan setelah penurunan ayat ini dengan katanya, “aku tidak ragu tidak akan bertanya-tanya lagi.”

Tidak ada komentar:

@way2themes