SAAT RASULULLAH MEMULIAKAN SEORANG MUSLIMAH - IKPM KAIRO

Senin, 11 Maret 2019

SAAT RASULULLAH MEMULIAKAN SEORANG MUSLIMAH


Oleh: Saiful Islam, Dwi Sumardianti, dan Anggi Diah Putri
Kamis, 15 November 2018

 Dalam Islam, kehormatan adalah sesuatu yang wajib dijaga oleh setiap dari muslimin. Baik kehormatan dirinya sendiri, keluarganya, atau sesama saudara  seiman. Diantaranya adalah kehormatan wanita. Terlebih Islam sangat memuliakan perempuan. Hal ini dapat dilihat dari disyariatkannya hijab, pembatasan pergaulan muslim dan muslimah yang bukan mahram, dll. Semua itu tidak lain adalah untuk menjaga agar kehormatan muslim dan muslimah tidak terlukai dengan hal-hal yang hina.
Terdapat banyak kisah heroik Rasulullah bersama para sahabat dan tabi’in dalam memperjuangkan kehormatan muslimah. Diantara yang dapat kita ambil teladan adalah peristiwa di pasar Bani Qainuqa.

 Peristiwa tersebut terjadi pada awal-awal berdirinya Daulah Islamiyah di jantung kota Madinah Al-Munawwarah. Pada saat itu terdapat tiga kabilah besar Yahudi yang tinggal di sana. Kabilah-kabilah tersebut adalah Bani Qainuqa’, Bani Nadhir, dan Bani Quraizhah. Selain komunitas Yahudi di Madinah, jazirah Arab juga memiliki komunitas Yahudi yang sangat besar, yang juga bertetanggaan dengan Daulah Islam yang baru saja berdiri ini, tepatnya di Utara Madinah, di Khaibar.

 Sebagai kepala negara, Rasulullah membuat beberapa aturan untuk mengikat orang-orang Yahudi, hingga terbentuklah piagam Madinah, yang berisikan perjanjian antara Muhajirin anshar dan Yahudi. Berulang kali dan terus-menerus terjadi, orang-orang Yahudi mencoba menyelisihi perjanjian yang telah mereka sepakati. Mereka hendak memutuskan tali ikatan, mengadakan aksi, dan membolak-balikkan kalimat kesepatakan demi keuntungan mereka. Namun Rasulullah tetap memerintahkan para sahabatnya menahan diri untuk tidak mengangkat senjata menginvasi mereka. Mengingat posisi umat Islam di Madinah belum kuat dan belum strategis.

 Keadaan berbeda setelah kepulangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya dari Perang Badar. Moral para sahabat meninggi, persatuan mereka kian kokoh, dan keyakinan akan pertolongan Allah pun kian menghujam di dada-dada mereka. Umat Islam mulai dipandang di daratan Jazirah, mereka berhasil mengalahkan Mekah yang memiliki wibawa dan kedudukan di kalangan masyarakat padang pasir itu.

 Kebencian mereka terhadap muslimin pun semakin bertambah ketika kaum muslimin berhasil meraih kemenangan atas kaum kafir Quraisy dalam perang Badar. Mereka tidak menyangka Muslimin akan memenangkan perperangan itu. Namun, Rasulullah tetap menasehati mereka dan menyeru mereka kepada Islam. Namun hal tersebut justru semakin membuat mereka angkuh dan mengejek kaum muslimin. hal ini seperti yang dijelaskan oleh Ibnu Ishaq:
Salah satu perkara yang berhubungan dengan Bani Qainuqa’ adalah ketika Rasulullah Saw. mengumpulkan mereka di pasar Qainuqa’ dan bersabda, “Wahai orang-orang Yahudi, takutlah kalian kepada Allah Swt., seperti petaka yang telah menimpakaum Quraisy. Masuklah kalian kedalam Islam, karena kalian telah mengetahui bahwa aku benar-benarseorang nabi yang diutus. Kalian mengetahui hal itu dalam kitab suci kami, dan di dalam janji Allah kepada kalian.” Mereka berkata, “Wahai Muhammad, apakah kamu menganggap kami seperti kaummu? Janganlah tertipu hanya karena engkau menghadapi suatu kaum yang tidak memiliki pengetahuan tentang perang, sehingga engkau dapat mengambil kesempatan. Demi Allah, seandainya engkau memerangi kami, engkau pasti mengerti, bahwa kami adalah orangnya (yang pandai berperang).”

 Kebencian tersebut pun berujung dengan pengkhianatan Bani Qainuqa’ terhadap perjanjian yang telah disepakati antara mereka dan kaum Muslimin. Suatu hari ada wanita muslimah datang ke Pasar Bani Qainuqa’ untuk suatu kebutuhan yang ia perlukan. Di situ ia menemui seorang pandai emas. Tiba-tiba, orang-orang di pasar Qainuqa’ meminta perempuan itu untuk  membuka cadar yang dikenakannya. Tentu saja perempuan itu membela diri dan menolak. Akhirnya, ditempuhlah cara-cara licik. Si pandai emas mengikat ujung kain perempuan itu secara diam-diam. Ketika berdiri, kain yang ia gunakan terlepas. Orang-orang Qainuqa’ ramai menertawakannya. Dan, perempuan Arab itu menjerit-jerit menahan malu. Dalam pada itu, muncullah lelaki Muslim dan langsung menyerang si pandai emas hingga tewas. Karena ia orang Yahudi, maka orang-orang Yahudi yang ada di situ balik mengeroyok si Muslim sampai tewas.

 Respon Umat Islam Terhadap Bani Qainuqa’
Sampailah kabar tentang peristiwa ini kepada Rasulullah Saw., Segera beliau mengumpulkan para sahabat dan mempersiapkan pasukan. beliau memerintahkan agar Bani Qainuqa’ dikepung. Tidak menunggu waktu lama, pasukan pun mengepung perkampungan Bani Qainuqa’. Ya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memobilisasi pasukan untuk membela seorang wanita muslimah yang tersingkap auratnya dan membela darah seorang muslim yang tertumpah.
Ketika melihat kedatangan kaum muslimin, orang-orang Yahudi segera berlindung di balik benteng-benteng mereka. Setelah 15 hari pengepungan,  sampai akhirnya ketakutan pun kian merasuk ke dalam jiwa para Yahudi ini. Mereka menyerah dan tunduk kepada putusan Rasulullah Saw.

 Disaat itu, tampillah orang-orang munafik dengan gembong mereka Abdullah bin Ubay bin Salul, memainkan peranannya. Ia berusaha melobi Rasulullah agar berlaku baik terhadap orang-orang Yahudi yang telah berkhianat tersebut. Rasulullah tidak mengindahkan permintaan tersebut, namun Abdullah bin Ubay tetap memaksa Rasulullah untuk tidak menghukum Yahudi tersebut. Akhirnya Rasulullah memutuskan mengusir Bani Qainuqa dari madinah dan memutuskan vonis hukuman mati bagi orang-orang yang terlibat dalam peristiwa di pasar tersebut, yang melakukan tindakan keji, dan menyelisihi perjanjian. Orang-orang Bani Qainuqa’ pun kemudian keluar dari Madinah menuju Syam. Tidak sedikit dari mereka yang meregang nyawa di tempat yang baru.

 Putusan ini bukan hanya pelajaran bagi Yahudi atas perlakuan mereka mengganggu wanita muslimah dan menumpahkan darah umat Islam, akan tetapi sebagai hukuman atas gangguan-gangguan yang mereka lancarkan semenjak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menetap di Madinah. Mereka mencela Allah, Rasul-Nya, mengganggu para sahabat, menebarkan isu-isu yang memecah belah, dll.

 Begitu besarnya arti kehormatan wanita muslimah dan harga darah seorang muslim di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau siap menanggung resiko kehilangan nyawa para sahabatnya demi membela kehormatan muslimah.
Selain itu, Bani Qainuqa’ bukanlah orang-orang yang lemah, mereka memiliki persenjataan, pasukan, benteng, dan kemampuan militer yang mumpuni. Tapi tetap Rasulullah dan para sahabatnya hadapi demi seorang wanita muslimah.

 Namun hari ini, kita lihat banyak wanita muslimah suka rela mendedahkan auratnya dan suka rela merendahkan kehormatan mereka sendiri. Bahkan lebih aneh lagi, mereka marah apabila ada orang yang menghalangi mereka membuka aurat. Kata mereka menghalangi kebebasan, melanggar hak asasi, dan menghambat kemajuan, wal ‘iyadzubillah. Dari sini juga kita mengetahui betapa agungnya kedudukan wanita dalam Islam.

Tidak ada komentar:

@way2themes