SAKRALITAS DAN KEISTIMEWAAN RASM UTSMANI - IKPM KAIRO

Kamis, 21 Maret 2019

SAKRALITAS DAN KEISTIMEWAAN RASM UTSMANI



Oleh : Nurul Hasanah
Kamis, 5 April 2018

 Islam dan Sejarah Penulisan
 Bangsa Arab pada zaman dahulu dikenal sebagai bangsa yang umi. Tidak ada yang mempelajari tulisan kecuali hanya sedikit dari beberapa Orang Quraisy pada masa sebelum datangnya Islam. Adanya tulisan pada Bangsa Arab merupakan tanda-tanda kerasulan Nabi Muhammad SAW yang menerima wahyu berupa Al-Quran, karena tulisan memiliki peran untuk menjaga al-Quran dari kehilangan dan lupa, sehingga al-Quran bukan hanya terjaga dalam hati (hafalan) tetapi juga dalam bentuk tulisan. Dan peran lain yaitu untuk membantu dakwah Islam seperti penulisan surat yang dikirimkan Rasulullah SAW kepada para raja dan kaisar.

Firman Allah yang menunjukkan bahwa Rasulullah SAW diutus pada kaum yang umi ada pada surah al-Jumuah ayat kedua:
هُوَ ٱلَّذِي بَعَثَ فِي ٱلۡأُمِّيِّ‍ۧنَ رَسُولٗا مِّنۡهُمۡ يَتۡلُواْ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمۡ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ وَإِن كَانُواْ مِن قَبۡلُ لَفِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٖ
Para ahli sejarah bersepakat bahwa Kaum Quraisy tidak mempelajari tulisan kecuali melalui perantara Harb bin Umayyah bin Abdu Syams. Tetapi banyak perbedaan pendapat tentang kepada siapakah Harb mempelajari tulisan tersebut. Salah satunya seperti yang diriwayatkan oleh Abi Amru al-Dani bahwa Abu Harb belajar tulisan dari Abdullah bin Jad’an, kemudian Abdullah bin Jad’an belajar kepada penduduk Anbar, dan penduduk Anbar belajar kepada orang asing dari Yaman, sedangkan orang asing tersebut belajar dari al-Khaljan bin al-Mauhim yang mana sebagai penulis wahyu di zaman Nabi Hud AS.

 Pendapat ahli sejarah tentang siapakah orang yang pertama kali menulis juga berbeda-beda, sebagian ada yang mengatakan bahwa Nabi Adam AS adalah orang yang pertama kali menulis dengan Bahasa Suryani dan Bahasa Arab. Kemudian pendapat lain mengatakan bahwa Nabi Idris AS adalah yang pertama menulis dengan menggunakan pena. Dan ada pendapat yang diriwayatkan dari Ibnu Arabi, bahwa yang mempelajari Bahasa Arab dari Jibril AS secara benar dan fasih hingga sampai kepada Nabi Muhammad SAW adalah Nabi Ismail AS. Sedangkan Ibnu Abbas RA meriwayatkan bahwa Nabi Hud AS adalah yang menulis dengan Bahasa Arab, dan Nabi Ismail AS adalah orang yang pertama kali menyusun tulisan arab.

 Di kalangan para sahabat yang terkenal ahli dalam tulisan dari Kaum Muhajirin adalah Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Thalhah bin Ubaidillah, Abu Ubaidah bin Jarah, Muawiyyah bin Abi sufyan, Aban bin Said dan ‘Ala’ bin Ma’arri. Sedangkan dari Kaum Ansar adalah Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Sabit, al-Munzir bin Amru, Ubay bin Wahab dan Amru bin Said.

 Awal mula tulisan di Madinah yaitu ketika nabi berhijrah ke Madinah. Disana terdapat ahli kitab dari Kaum Yahudi yang tinggal diantara mereka. Kaum Yahudi tersebut yang mengajarkan anak-anak membaca dan menulis, namun ada juga sebagian orang dewasa yang turut belajar di dalamnya. Dari beberapa pemaparan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa tulisan telah ada di Arab sebelum datangnya Islam, tetapi orang yang mahir dalam hal menulis dan membaca sangatlah sedikit; karena sebagain besar dari mereka tak dapat membaca dan menulis.

 Diutusnya Nabi Muhammad SAW dengan membawa ajaran Islam sangat berperan dalam mengangkat derajat tulisan, ilmu dan makrifat. Bahkan lima ayat dari surah al-Alaq yang pertama kali turun di dalamnya juga terdapat ajaran membaca dan menulis. Dalam surah al-Qalam ayat pertama Allah pun berfirman: “Nūn. Demi pena apa yang mereka tuliskan”. Dan dalam al-Quran ditemukan kata qiraah (bacaan) dan kata yang berhubungan dengan kata tersebut hampir mencapai 90 kali, dan kata  kitabah (tulisan) mencapai 300 kali. Hal ini menunjukkan bentuk kemulian dari Allah untuk pena sebagai alat tulis dan kemuliaan untuk orang yang mengetahui tulisan tersebut.

 Selain itu dapat diketahui beberapa usaha Rasulullah SAW untuk memerangi kebutaan aksara pada saat itu. Seperti yang terjadi pada tawanan Perang Badar, 70 dari tawanan Perang Badar ini diminta untuk membayar tebusan dengan uang. Dan bagi yang memiliki kemampuan membaca dan menulis dengan baik maka tebusannya adalah mengajarkan pemuda Madinah membaca dan menulis. Rasulullah SAW mengetahui bahwa mengajarkan umat membaca dan menulis lebih baik daripada uang. Dan dengan pondasi seperti ini menjadikan umat lebih maju.

 Sejarah dan Pengertian Rasm Utsmani
 Al-Quran sudah tertulis keseluruhan pada masa Rasulullah SAW, meskipun masih terpisah-pisah pada pelepah kurma, lempengan batu, tulang keledai, kulit dan lain sebagainya, hingga al-Quran terkumpul menjadi satu yang disebut suhuf. Ketika turun sesuatu dari al-Quran kepada Rasulullah SAW, maka beliau memanggil sebagian penulis wahyu, kemudian memerintahkan mereka untuk menulis apa yang turun, dan menunjukkan letak tempatnya pada surah, serta menjelaskan bagaimana cara penulisannya, dan Rasulullah SAW belum wafat sampai al-Quran dihafal dan ditulis seluruhnya.

 Selanjutnya al-Quran ditulis dan dikumpulkan kembali pada masa Abu Bakar RA masih dalam bentuk suhuf. Bentuk rasm al-Quran ketika itu masih sama dengan rasm al-Quran pada zaman Rasulullah SAW. Kemudian Utsman bin Affan RA mengumpulkan suhuf-suhuf dalam bentuk mushaf-mushaf dengan menggunakan bentuk rasm yang sama dengan rasm al-Quran pada zaman Abu Bakar RA, hanya saja dalam mushaf Utsman bin Affan RA rasm al-Quran dibatasi dengan menggunakan satu huruf yaitu Huruf Quraisy. Hingga saat ini kita kenal rasm al-Quran tersebut dengan rasm utsmani.

 Pengumpulan mushaf pada masa Khalifah Utsman bin Affan RA disebabkan adanya perselisihan Umat Islam karena perbedaan bacaan al-Quran diantara mereka, sehingga Khalifah Utsman menbentuk lajnah yang menulis kembali al-Quran pada beberapa mushaf, kemudian mushaf-mushaf tersebut dikirimkan ke beberapa kota dengan mengirimkan seorang sahabat yang akan mengajarkannya.

 Banyak perbedaan riwayat tentang jumlah mushaf yang dikirimkan ke kota-kota. Seperti yang diriwayatkan Al-Sajastani bahwa ada tujuh mushaf yang dikirimkan ke kota berikut: Makkah, Syam, Yaman, Bahrain, Basrah, Kufah dan Madinah. Mushaf madinah disimpan sendiri oleh Khalifah Utsman bin Affan yang disebut mushaf imam. Riwayat lain dari Abu Amru al-Dani bahwa al-Quran yang dikirimkan ke kota-kota ada 6 mushaf, yaitu: Madinah, Makkah, Kufah, Basrah, Syam dan sekitar Irak.

 Riwayat lain yang paling rajih adalah dari Imam al-Suyuti, bahwa ada lima mushaf yang dikirim ke kota-kota beserta sahabat yang akan mengajarkannya. Yaitu: Zaid bin Tsabit diutus ke Kota Madinah, Abdullah bin al-Saib diutus ke Kota Makkah, al-Mughirah bin Syihab diutus ke Kota Syam, Aba Abdurrahman al-Silmi diutus ke Kota Kufah, dan Amir bin Abdu al-Qais diutus ke Kota Basrah.

 Kata rasm secara etimologis diartikan dengan pengaruh, yaitu pengaruh tulisan pada lafaz. Dan makna al-rasm al-Qurani atau rasm utsmani secara terminologis yaitu tulisan kalimat yang ada pada al-Quran dari segi macamnya huruf dan jumlah huruf pada setiap kalimat yang tertulis dalam al-Quran. Dan bukanlah yang dimaksud dari macam tulisan itu seperti khāt naskhi ataupun kūfī dan lain sebagainya, tetapi cara penulisan huruf dan kalimat pada mushaf yang sesuai dengan tulisan pada mushaf-mushaf yang dikirimkan ke kota-kota atas perintah Utsman bin Affan RA kepada al-lajnah al-rubā’iyah (lajnah penulis mushaf pada zaman Utsman bin Affan).

 Rasm al-Quran disebut dengan rasm utsmani karena dinisbatkan kepada Khalifah Utsman bin Affan RA, dan penisbatan ini bukanlah karena beliau menuliskan mushaf kembali dengan cara yang berbeda dengan penulisan di zaman Rasulullah SAW dan Abu Bakar, tetapi beliau yang menghapuskan mushaf-mushaf yang tertulis dengan berbagai macam qiraah kemudian menggabungkannya menjadi satu mushaf dan menyebarkan mushaf tersebut ke kota-kota. Khalifah Utsman bin Affan RA menuliskan mushaf tersebut dengan mengikuti rasm al-Quran pada mushaf sebelumnya.

 Kaidah dalam Penulisan Rasm Utsmani
 Ada enam kaidah dalam rasm utsmani  yang akan pemakalah uraikan sebagai berikut:
Pertama, al-hażfu atau peniadaan, yaitu ada beberapa huruf yang dihilangkan pada sebagian kata dalam rasm utsmani, seperti alif, ya, wau, ta, nun dan lam. Contoh pada huruf alif yaitu dihilangkannya alif setelah ya nidā’ (panggilan) dan setelah ha tanbihat, seperti يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ dan هَٰٓؤُلَآءِ. Contoh lain seperti dalam kalimat بِسۡمِ ٱللَّهِ, disebabkan karena sering digunakannya kalimat tersebut dan juga menunjukkan bahwa nama tersebut memiliki derajat yang tinggi dan utama.

 Sebab lain yaitu sebagai isyarat agar tulisan tersebut dapat dibaca dengan qira’at lain, dan juga sebagai ikhtisar sebagaimana dihilangkannya alif pada jamak al-muannats al-sālim dan al-mudzakkar al-sālim, seperti ٱلۡمُنَٰفِقِينَ وَٱلۡمُنَٰفِقَٰتِ وَٱلۡمُشۡرِكِينَ وَٱلۡمُشۡرِكَٰتِ. Namun ada kalimat yang tertulis berbeda dengan kalimat lainnya, seperti وَلَوۡ تَوَاعَدتُّمۡ لَٱخۡتَلَفۡتُمۡ فِي ٱلۡمِيعَٰدِ, yaitu tertulis dengan dihilangkan alif setelah huruf ain.

 Contoh pada huruf ya yaitu dihilangkannya huruf ya dibeberapa pertengahan kata, Seperti ٱلنَّبِيِّ‍ۧنَ dan وَٱلۡأُمِّيِّ‍ۧنَ .  dan dihilangkannya huruf ya dibeberapa akhir kata seperti ya pada dhamīr mutakalim dengan tujuan mencukupkan dengan kasrah sebelumnya, seperti dalam kalimat berikut:وَلَا تُخۡزُونِ فِي ضَيۡفِيٓ . Salah satu contoh dari huruf wau yang dihilangkan yaitu huruf wau dari akhir setiap fiil-fiil yang marfuk, seperti  kalimat: ’وَيَدۡعُ ٱلۡإِنسَٰنُ بِٱلشَّرِّ , وَيَمۡحُ ٱللَّهُ ٱلۡبَٰطِل , يَدۡعُ ٱلدَّاعِ. Adapun rahasia dihilangkan huruf wau pada fiil-fiil marfuk adalah sebagai peringatan terjadinya suatu pekerjaan secara cepat dan kemudahan bagi pelakunya.

 Contoh dari huruf ta yaitu dihilangkannya huruf tersebut dari beberapa kata baik di awal, tengah, maupun akhir. Di awal seperti  تَذَكَّرُونَ, kata aslinya  adalah تَتذَكَّرُونَ. Di tengah kata seperti فَمَا ٱسۡطَٰعُوٓاْ, kata aslinya adalah فَمَا ٱسۡتطَٰعُوٓاْ. Dan di akhir kata: ذَهَبَ ٱلسَّيِّ‍َٔاتُ عَنِّي, kata aslinya adalah ذَهَبَتِ ٱلسَّيِّ‍َٔاتُ عَنِّي. Penghilangan huruf ta disini yaitu dengan makna ‘cepat’, seperti yang dimaksudkan dalam kata تَذَكَّرُونَ yaitu mengingat secara cepat. Contoh dari huruf nun yang dihilangkan seperti pada dua kalimat berikut فَنُجِّيَ مَن نَّشَآءُ dan وَكَذَٰلِكَ نُ‍ۨجِي ٱلۡمُؤۡمِنِينَ. Contoh dari huruf lam seperti pada kata وَٱلَّيۡلِ dan ٱلَّذِي .

 Kedua, al-ziyādah atau tambahan, yaitu ada beberapa huruf yang ditambahkan pada sebagian kata dalam rasm utsmani, seperti alif, ya, dan wau. Contoh dari huruf alif yaitu ditambahkannya alif setelah wau pada ism ataupun hukum yang jamak. Seperti pada kata  بَنُوٓاْ إِسۡرَٰٓءِيلَdan أُوْلُواْ . Contoh setelah huruf ya seperti pada kalimat وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ. Contoh dari huruf wau seperti pada kata أُوْلُوا. 
Ketiga, Hamzah, kaidah hamzah dibagi menjadi beberapa bagian, pertama, ketika hamzah berharakat sukun dan berada di tengan atau akhir kata maka ditulis dengan huruf seperti harakat sebelumnya, contoh: ٱئۡذَن, ٱؤۡتُمِنَ, ٱلۡبَأۡسَآءُ…. Kecuali yang diistisnakan. Kedua, jika hamzah tersebut berharakat dan berada di awal kata kemudian bertemu dengan huruf tambahan maka ditulis di atas alif secara mutlak, baik fatah, kasrah ataupun damah. Contoh: أُوْلُواْ, وَأَيُّوبَ, dan lain sebagainya kecuali yang diistisnakan. Ketiga, jika hamzah terletak di akhir kata maka ditulis dengan huruf yang sesuai dengan harakat sebelumnya, dan jika sebelumnya sukun maka tertulis tanpa huruf, contoh:  سَبَإِۢ بِنَبَإٖ, وَلُؤۡلُؤٗا, وَٱلضَّرَّآءُ dan lain sebagainya kecuali yang diistisnakan.

 Pembagian hamzah yang terakhir adalah jika hamzah tersebut terletak di tengah kata, hamzah tersebut ditulis di atas alif jika berharakat fatah, dan sebelum hamzah tersebut adalah huruf yang berharakat fatah juga, contoh: سَأَلَ. Kemudian hamzah tersebut ditulis dengan huruf ya jika berharakat kasrah, fatah, atau damah, dan sebelum hamzah tersebut adalah huruf yang berharakat kasrah, contoh: بَارِئِكُمۡ, فِئَةٗ, سَنُقۡرِئُكَ. Sebagaimana dituliskan hamzah yang berharakat damah diatas huruf wau setelah huruf yang berharakat fatah, contoh: نَّقۡرَؤُهُۥ, يَكۡلَؤُكُم. dan lain sebagainya kecuali yang diistisnakan.

 Keempat, badal, yaitu mengganti suatu huruf dengan huruf yang lain. Seperti menuliskan huruf alif dengan huruf wau untuk memberikan tekanan, contoh: ٱلصَّلَوٰة , ٱلزَّكَوٰةَ dan yang lain kecuali yang diistinakan. Menuliskan huruf alif menjadi huruf ya, seperti يَتَوَفَّىٰكُم, يَٰحَسۡرَتَىٰ, dan lain sebagainya. Menuliskan huruf ha ta’nits menjadi huruf ta ta’nits di sebagian kalimat, contoh: وَمَعۡصِيَتِ ٱلرَّسُولِ,  شَجَرَتَ ٱلزَّقُّومِ, dan lain sebagainya.

 Kelima, al-fasl wa al-Wasl atau penghubungan kata dan pemisahannya. Seperti dalam kata ‘أن’ dan ‘لا’ menjadi أَلَّا, kecuali pada sepuluh tempat dalam al-Quran, diantaranya pada surah al-A’raf ayat 169: أَن لَّا يَقُولُواْ.  Kata إنما dalam al-Quran ditulis terhubung semua kecuali pada satu tempat yaitu pada surah al-An’am ayat 134: إِنَّ مَا تُوعَدُونَ لَأٓتٖ, karena ayat tersebut memiliki makna sebaik-baiknya tempat kembali bagi orang saleh dan seburuk-buruknya tempat kembali bagi orang yang berbuat kejahatan. Makna ما yaitu menunjukkan kebenaran adanya tempat kembali tersebut.

 Keenam, dua qira’at yang ditulis dengan salah satu tulisannya. Dalam kaidah rasm utsmani jika ada dua qira’at maka ditulis dengan salah satu tulisannya.  مَٰلِكِ يَوۡمِ ٱلدِّينِ, يُخَٰدِعُونَ ٱللَّه, dan lain sebagainya. Maka dengan rasm seperti ini maka boleh dibaca dengan mad ataupun pendek; karena keduanya merupakan qiraat mutawatir.

 Kaidah penulisan rasm utsmani yang telah disebutkan bukanlah kaidah yang tetap untuk seluruh kalimat dalam al-Quran, tetapi ada banyak pengecualian pada beberapa kalimat yang tidak sesuai dengan kaidah ini, karena apa yang diwahyukan tidak berhubungan dengan harakat ataupun tulisan tetapi makna dari kalimatnya, dan jika  yang diwahyukan berhubungan dengan harakat maka semua akan tertulis sesuai kaidah. Ada banyak kalimat dalam al-Quran yang memiliki qira’at yang sama namun berbeda dalam tulisannya, seperti dalam kalimat-kalimat berikut: لِصَٰحِبِهِۦ dan صَاحِبُهُۥ, سَعَوۡاْ dan سَعَوۡ, …. Dan lain sebagainya.

 Hukum Penyempurnaan Penulisan Mushaf
 Dhabt atau harakat secara etimologis adalah tercapainya tujuan untuk menjaga sesuatu. Harakat pada kitab yaitu jika menjaga dari ketidakpahaman. Dan secara terminologis adalah tanda-tanda khusus yang diberikan pada huruf yang menunjukkan fatah, kasrah, damah, tanwin, mad dan lain sebagainya. Bentuk sinonim dari dhabt adalah syakl, yang keduanya bermakna harakat.

 Al-naqtu (memberi tanda) yaitu memberikan tanda pada huruf. Naqtu al-mushaf yaitu memberikan tanda baca pada mushaf. Al-naqt dibagi menjadi dua bagian: pertama, naqt al-I’rab yaitu tanda-tanda yang diberikan pada huruf yang menunjukkan harakat fatah, kasrah, damah, tanwin, mad dan lain sebagainya. Kedua, naqt al-I’jam, yaitu tanda-tanda pada huruf yang membedakan huruf satu dengan yang lain.

 Permulaan masuknya huruf ke Arab yaitu dalam keadaan tanpa harakat dan sukun, dan Kaum Arab membaca al-Quran sesuai dengan tabiat mereka tanpa ada kesalahan tata bahasa dan kekeliruan, karena telah ada dalam diri mereka kefasihan lisan dan balaghah. Mereka tidak membutuhkan untuk mengetaui kaidah karena lisan mereka sudah konsisten dalam melafalkan huruf. Maka dari itu al-Quran di masa pertama turun tanpa adanya tanda baca, dan Kaum Arab menyandarkan bacaan mereka sesuai dengan yang dibacakan Rasulullah SAW dan riwayat.

 Setelah Islam semakin menyebar luas dan mulai bercampur antara Kaum Arab dengan non Arab pada masa Muawiyyah bin Abi Sufyan, maka mulailah muncul kesalahan tata bahasa dalam perkataan. Berawal dari ketakutan akan terjadi kesalahan bacaan dalam al-Quran, maka diperintahkan untuk memberikan tanda pada al-Quran tanpa merusak rasm utsmani untuk membantu pelafalan al-Quran yang benar.

 Ketika itu Umat Islam diperintahkan untuk menghafal al-Quran karena al-Quran merupakan dasar agama. Hingga muncul dikalangan Kaum Muslim ulama yang ahli dalam Ilmu Nahwu seperti: Abu al-Aswad al-Duali, Yahya bin Ya’mar al-Adawani, yaitu seorang hakim di Khurasan, dan Nasr bin Ashim al-Laitsi. Kemudian pada suatu hari, Abu al-Aswad al-Duali mendengar seseorang membaca al-Quran dengan bacaan seperti berikut: أَنَّ ٱللَّهَ بَرِيٓءٞ مِّنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ وَرَسُولُهُۥۚ, yaitu membaca kata وَرَسُولُهُۥ dengan harakat kasrah, yaitu yang berarti: “Allah telah berlepas diri dari rasul-Nya”. Kemudian Abu al-Aswad al-Duali pergi menghadap Ziyad di Basrah dan berkata: “Telah terjawab apa yang kamu minta”, karena pada saat itu Ziyad meminta Abu al-Aswad al-Duali untuk memberikan tanda baca berupa harakat dan sukun.

 Tanda baca pada saat itu berbentuk titik di atas huruf untuk fatah, titik di bawah huruf untuk kasrah, titik di tengah huruf untuk damah, dan dua titik untuk tanwin. Bentuk seperti ini berlangsung beberapa saat hingga semakin lama semakin berkembang dengan adanya tanda baca lain seperti tasydid dan alif wasl. Sampai pada suatu saat Abdul Malik bin Marwan memerintahkan untuk memberikan tanda baca yang membedakan antara huruf, ba, ta, dan sa. Kemudian dibuatlah tanda lain seperti yang kita ketahui sampai saat ini, yaitu harakat fatah, kasrah, damah, tasydid, dan yang lainnya hingga al-Quran berharakat.

 Harakat fatah, kasrah, damah dan lain sebagainya dicetuskan pertama kali oleh al-Khalil, yaitu dengan memberi tanda bentuk panjang luruf di atas huruf untuk fatah, dan bentuk seperti itu namun di bawah huruf untuk kasrah, kemudian tanda damah dengan wawu kecil di atas huruf, dan tanda-tanda lainnya. Pada abad ketiga hijriah harakat pada rasm mushaf diperbaiki kembali hingga adanya tanda tasydid, dan tanda lingkaran kecil pada alif wasl. Kemudian dari situlah berkembang adanya penulisan nama surat, jumlah ayat, dan tanda-tanda waqaf yang tertulis dalam mushaf.

 Awal mula adanya tanda-tanda berupa harakat dan segala sesuatu yang baru dalam mushaf, sebagian ulama ada yang memakruhkannya, karena ditakutkan adanya tambahan dalam al-Quran, perdapat ini berdasarkan dalil yang diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud “Bersihkanlah al-Quran dan jangan campurkan al-Quran dengan segala sesuatu”, kemudian al-Halimi mengatakan bahwa titik dan harakat itu diperbolehkan, tetapi untuk nama surat dan lain sebagainya tidak diperbolehkan. Namun setelah berlalu masa tersebut, maka mulailah diperbolehkan dan dianjurkan untuk menggunakan titik dan harakat, karena titik dan harakat berfungsi untuk mejaga dari kesalahan membaca dan penyelewengan.

 Keistimewaan dan Sakralitas Rasm Utsmani
 Sebagian Ulama mengakatan bahwa rasm utsmani merupakan ijtihadi dan bukan tauqifi, mereka adalah Abu Bakar al-Baqillani dan Ibnu Khaldun dalam muqaddimahnya. Abu Bakar al-Baqillani mengatakan, bahwa yang diwajibkan atas umat untuk menjaga yaitu al-Quran dan lafaznya. Maka tidak diperbolehkan adanya penambahan ataupun pengurangan dalam hurufnya. Kemudian harus membacanya sesuai dengan yang diwahyukan. Sedangkan tulisannya tidak ada kewajiban apapun atas umat, dan tidak diwajibkan juga untuk menulis sesuai dengan yang ada dalam al-Quran, kemudian diperbolehkan untuk meninggalkannya karena tidak ada dalil resmi yang mewajibkan baik dari sunah maupun ijmak.

 Bahkan merupakan sunah menuliskan tulisan mushaf dari segala sisi yang mudah, karena Rasulullah SAW memerintahkan hal tersebut dan tidak melarangnya. Maka dari itu tulisan pada mushaf berbeda-beda, yaitu dengan adanya tambahan ataupun pengurangan huruf. Kemudian diperbolehkannya menulis dengan khat kufi dan lain sebagainya, yaitu dengan menjadikan lam seperti kaf ataupun memanjangkan setiap alif. Dengan ini menunjukkan bahwa tulisan mushaf boleh ditulis dengan tulisan arab yang lama ataupun baru. Jika tulisan dalam al-Quran berbeda-beda hurufnya maka akan memudahkan umat, yaitu dengan mengikuti tulisan mana yang lebih mudah menurut mereka, sebagaimana mengikuti qira’at dan azan.

 Namun pendapat tersebut ditentang oleh jumhur ulama,  karena tulisan al-Quran yang ada hingga saat ini adalah tauqifi dari Nabi Muhammad SAW, yaitu dengan beberapa dalil berikut:

 Pertama, al-Quran telah tertulis secara lengkap pada zaman Nabi Muhammad SAW, dan nabi sendirilah yang mengimlakan kepada penulis wahyu dengan ditalkinkan oleh malaikat Jibril. Sebagaimana yang Rasulullah SAW katakan kepada Muawiyah: “letakkanlah tinta, pergunakan pena, tegakkan ‘ya’, bedakan ‘sin’, jangan kamu miringkan ‘mim’, buatlah bagus (tulisan) ‘Allah’, panjangkan (tulisan) ‘al-Rahman’, buatlah bagus (tulisan) ‘al-Rahim’, dan letakkan penamu pada telingga kiri, karena itu akan membuat kamu lebih ingat”. Ini merupakan keputusan yang Rasulullah SAW sampaikan kepada seluruh penulis wahyu.

 Kedua, kesepaktan para Qura’ dengan ditetapkan adanya huruf ya pada kalimat وَٱخۡشَوۡنِي dalam surah al-Baqarah dan dihilangkannya pada dua ayat dalam surah al-Maidah ayat ketiga dan ke-44 (وَٱخۡشَوۡنِ). Dan pada beberapa kalimat lain yang terdapat perbedaan antara yang satu sama lain dengan penghilangan, penetapan, penambahan, pengurangan ataupun penggantian. Dengan ini terbukti bahwa al-Quran Tauqifi sesuai dengan yang diimlakan oleh Nabi Muhammad SAW, karena jika tulisan al-Quran merupakan hasil ijtihad maka tidak akan ditemui perbedaan dan keserupaan yang demikian.

 Jika ada yang mengakatan bahwa ini bisa terjadi karena banyaknya penulis wahyu dan perbedaan kemampuan mereka dalam memahami huruf hijaiyah sehingga terjadi perbedaan seperti ini, maka dapat dikatakan kepada orang tersebut, jika terjadi hal seperti ini sudah pasti mereka (para penulis wahyu) akan berdiskusi untuk menyamakan tulisan tersebut, terutama ini menyangkut pondasi Islam, namun hingga saat ini tidak ada riwayat yang mengatakan bahwa mereka telah mendiskusikan tentang perbedaan ini.

 Seperti yang dinukilkan dari Ibnu Mubarak dari gurunya Abdul Aziz al-Dibag, bukanlah tulisan mushaf itu dari ide para sahabat atau orang lain, tetapi itu tauqifi dari Nabi Muhammad SAW; beliaulah yang memerintahkan untuk menulis al-Quran dengan bentuk tulisan yang kita ketahui saat ini, yaitu dengan tambahan atau penghilangan yang menunjukkan rahasia yang ada dalam setiap kata al-Quran, rahasia inilah yang Allah khususkan hanya al-Quran tanpa kitab samawi yang lain.

 Ketiga, ketika Rasulullah SAW wafat, para sahabat mengumpulkan al-Alquran pada suhuf dan mushaf-mushaf dengan tulisan yang sama, dan tidak ada satu orang pun dari sahabat yang menentang tulisan tersebut. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Tirmidzi dan Ibnu Majah, Rasulullah SAW bersabda: “Ikutilah orang-orang setelahku seperti Abu Bakar dan Umar”. Dalam hadis lain yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan Tirmidzi juga disebutkan, Rasulullah SAW bersabda: “Berpeganglah kalian dengan sunahku dan sunah Khulafa al-Rasyidin yang mendapat petunjuk, gigitlah ia (sunahku tersebut) dengan gigi geraham”. Dari hadis diatas Rasulullah SAW memerintahkan untuk mengikuti Khulafa al-Rasyidin, dan berpegang pada tulisan mushaf yang mereka jaga keasliannya hingga saat ini.

 Keempat, dalil dari ijmak, seperti yang diketahui bahwa al-Quran telah dikumpulkan dan ditulis pada masa Abu Bakar RA, kemudian Utsman bin Affan RA menghapuskan mushaf-mushaf dari suhuf yang telah dikumpulkan pada masa Abu Bakar RA, dan kemudian mengirimkannya ke kota-kota beserta sahabat yang mengajarkannya. Pekerjaan ini telah diridhai dan diterima oleh 12.000 sahabat, maka ini menjadi ijmak sahabat bahwa perkerjaan ini adalah benar dan tidak boleh melanggarnya. Ijmak ini juga menjadi sandaran para tabiin, para mujtahid, dan para imam qura’.

 Kelima, jika al-Quran ditulis dengan rasm qiyāsi maka akan terjadi perbedaan dalam tulisan pada mushaf, dan umat akan bingung dengan perbedaan ini sehingga mereka tidak bisa membaca mushaf yang satu dengan yang lain. Permasalahan seperti ini akan menjadi permasalahan yang terjadi ketika zaman Khalifah Utsman bin Affan, yaitu perselisihan karena perbedaan bacaan. Jika tulisan berubah-ubah maka lambat laun akan berpengaruh pada lafaz dan kalimat. Karena itulah hingga kini al-Quran masih tertulis dengan rasm utsmani.

 Jika tulisan al-Quran itu bersumber langsung dari Rasulullah SAW, lalu bagaimana dengan penulisan al-Quran dengan tulisan selain menggunakan rasm utsmani? Diriwayatkan oleh Asyhab: bahwa Malik mengatakan: “apakah al-Quran tertulis dengan huruf hijaiyah yang baru?” Maka dia berkata: “tidak, kecuali dengan tulisan mushaf yang pertama”, dan dikatakan pada bagian lain, bahwa Malik menanyakan tentang huruf dalam al-Quran seperti huruf wau dan alif: “Apakah kamu melihat perubahan pada alif dan wau dalam al-Quran?” kemudian dikatakan: “tidak”.

 Abu Amru mengatakan: bahwa tulisan alif dan wau dalam al-Quran merupakan tambahan yang tidak ditemukan dalam lafaz. Pendapat lain adalah dari Imam Ahmad adalah yang meharamkan perbedaan tulisan dengan mushaf Imam dalam huruf wau, ya, alif, dan lain sebagainya. Dan al-Baihaqi mengatakan untuk menjaga seluruh huruf hijaiyyah yang tertulis dalam al-Quran, dan tidak merubah yang telah tertulis karena di dalamnya terdapat ilmu yang banyak, hati yang jujur, dan amanah yang agung. Pendapat dari pemakalah sendiri adalah lebih utama jika menulis menggunakan rasm utsmani; karena perbedaan dalam penulisan rasm utsmani itu memiliki makna dan rahasia.

 Ulama bersepakat bahwa dalam rasm utsmani terdapat beberapa keistimewaan, diantaranya sebagai berikut:

 Pertama, rasm utsmani bisa digunakan dalam berbagai macam qira’at, karena rasm utsmani tanpa harakat dan titik, dan dalam kaidah rasm utsmani ada dua bentuk cara penulisan:
Jika terdapat dua qira’at atau lebih maka ditulis dengan satu tulisan yang mencakup semua qira’at tanpa harakat dan titik, dengan ketentuan tidak menerima qira’at yang riwayatnya tidak sampai pada Rasulullah SAW dan tidak sesuai dengan rasm utsmani.
Kalimat yang di dalamnya terdapat unsur penambahan atau pengurangan dan tidak mungkin ditulis dalam satu mushaf, maka ditulis sesuai dengan qira’at yang dibaca oleh masyarakat yang akan dikirimkan mushaf tersebut kepada mereka.

 Kedua, menggunakan beberapa bahasa yang fasih seperti bahasa Thayi’ dan bahasa Hudzail, seperti ha ta’nis yang ditulis dengan huruf ta. Contoh: إِنَّ رَحۡمَتَ ٱللَّهِ قَرِيبٞ مِّنَ ٱلۡمُحۡسِنِينَ, yaitu diperbolehkan waqaf pada huruf ta dengan menggunakan Bahasa Thayi’. Contoh lain pada surah Ibrahim ayat 34: وَإِن تَعُدُّواْ نِعۡمَتَ ٱللَّهِ لَا تُحۡصُوهَآ, yang berbeda dengan surah al-Nahl ayat 18:  وَإِن تَعُدُّواْ نِعۡمَةَ ٱللَّهِ لَا تُحۡصُوهَآ, ditulis dengan dua tulisan yang berbeda menunjukkan agar dapat dibaca dengan berbagai macam bahasa arab yang fasih.

 Ketiga, terhubung sanadnya sampai Rasulullah SAW. Karena jika al-Quran ditulis dengan rasm qiyasi maka manusia akan banyak mengambil dari hafalan para sahabat ataupun dari para imam qura’ ataupun cukup membaca dari mushaf kemudian menfatwakan sebagai hukum tilawah yang ditetapkan Rasulullah SAW. Dan tilawah al-Quran memiliki hukum khusus yang tidak mungkin diketahui kecuali dengan talaki yang sanadnya langsung terhubung kepada Rasulullah SAW. Inilah keistimewaan yang Allah khususkan untuk al-Quran.

 Keempat, menunjukkan harakat asli, seperti yang telah dibahas bahwa rasm utsmani  tanpa ada titik dan harakat, maka ditulislah harakat kasrah dengan huruf ya yang menujukkan kasrah, dan harakat damah dengan huruf wau yang menunjukkan damah. Seperti dalam kalimat berikut: وَلَقَدۡ جَآءَكَ مِن نَّبَإِيْ ٱلۡمُرۡسَلِينَ, dan سَأُوْرِيكُمۡ دَارَ ٱلۡفَٰسِقِينَ .

 Kelima, menunjukkan asal huruf, seperti ٱلصَّلَوٰة untuk menunjukkan bahwa huruf alif diganti menjadi huruf wau. Dalam contoh lain yaitu penulisan alif dengan huruf ya untuk menunjukkan jika asal huruf tersebut dari huruf ya. Contoh: وَٱلضُّحَىٰ, بِٱلتَّقۡوَىٰٓ,  فَهَدَىٰ. Namun jika asal huruf tersebut adalah huruf wau maka ditulis dengan huruf alif, contoh: ٱلصَّفَا, وَعَفَا.

 Keenam, menunjukkan makna tersembunyi secara dalam yang sulit difahami kecuali dengan pemahaman yang dalam serta bantuan dari Allah-sebagaimana yang dikatakan sebagian ulama. Seperti contoh: وَٱلسَّمَآءَ بَنَيۡنَٰهَا بِأَيۡيْدٖ , dituliskan dua huruf ya yang menunjukkan keagungan kemampuan Allah yang menciptakan langit, serta kemampuan-Nya tidak bisa disamakan dengan yang lain. Kembali kepada kaidah ‘penambahan struktur sebuah kata menunjukkan bertambahnya makna’. Contoh lain yaitu dihilangkannya huruf alif pada bagian kalimat yang diwajibkan penggunaan alif didalamnya. Contoh: وَٱلَّذِينَ سَعَوۡ فِيٓ ءَايَٰتِنَا مُعَٰجِزِينَ, pada kalimat سَعَوۡ  alif setelah wawu jama’ah dihilangkan menunjukkan bahwa usaha yang dilakukan adalah batil dan tidak dibenarkan. Contoh lain pada ayat:  وَجَآءُو بِسِحۡرٍ عَظِيمٖ, وَجَآءُوٓ أَبَاهُمۡ عِشَآءٗ يَبۡكُونَ, وَجَآءُو عَلَىٰ قَمِيصِهِۦ بِدَمٖ كَذِبٖ. Kata وَجَآءُوٓ ditulis dengan menghilangkan alif setelah wawu jama’ah dengan makna bahwa kedatangannya disini dari sisi yang tidak benar, atau lebih banyak kebohongan.
 Syubhat
 Ada beberapa syubhat yang terdapat pada rasm utsmani yang ditujukan untuk mencela rasm utsmani, diantaranya sebagai berikut:

 Pertama, syubhat yang diriwayatkan dari Said bin Jabir bahwa ia membaca وَٱلۡمُقِيمِينَ ٱلصَّلَوٰةَ, dan dia berkata bahwa itu lahn dari kitab. Dan sebagian orang mengira bahwa lahn berarti kesalahan tata bahasa. Maka menjawab syubhat tersebut adalah, bukan yang dimaksudkan dalam riwayat tersebut adalah kesalahan tata bahasa atau lahn, tetapi yang dimaksudkan adalah lughah atau bahasa dari kitab.

 Kedua, yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas yaitu:
Diriwayatkan bahwa Ibnu Abbas membaca ayat berikut: حَتَّىٰ تَسۡتَأۡنِسُواْ وَتُسَلِّمُواْ عَلَىٰٓ أَهۡلِهَا, dan Ibnu Abbas salah dalam menulis, yaitu menulis dengan: حَتَّىٰ تَسۡتَأۡذِنُواْ.
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas  bahwa ia membaca: أَفَلَمۡ يَاْيۡ‍َٔسِ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَن لَّوۡ يَشَآءُ ٱللَّهُ, sedangkan dalam al-Quran tertulis: أَفَلَمۡ يَاْيۡ‍َٔسِ ٱلَّذِينَ, saya mengira bahwa penulis sedang mengantuk ketika menulisnya.

 Diriwayatkan juga dari Ibnu Abbas melalui Said bin Jabir, bahwa Ibnu Abbas membaca ayat berikut: وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعۡبُدُوٓاْ إِلَّآ إِيَّاهُ dengan bacaan: وَوَصَىٰ yaitu mengganti dengan huruf wau dan sad. Atsar ini telah tertulis dengan riwayat yang banyak, bahkan ada yang menambahkan: “jika itu perintah dari Allah, maka tidak ada yang bisa menentang perintah Allah, tetapi jika itu wasiat, maka manusia bisa berwasiat dengannya”.
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas  bahwa ia membaca: وَلَقَدۡ ءَاتَيۡنَا مُوسَىٰ وَهَٰرُونَ ٱلۡفُرۡقَانَ وَضِيَآءٗ tanpa menggunakan huruf wau.

 Jawaban dari syubhat kedua adalah seluruh riwayat yang telah diriwayatkan tidak benar dan hanya dimasukkan ke dalam kitab-kitab para Imam yang dinukilkan tanpa ketetapan kebenaran atsar tersebut. Seperti yang dikatakan oleh Abu Hayan pada riwayat pertama, bahwa perkataan Ibnu Abbas tersebut adalah celaan pada Islam, dan Ibnu Abbas terbebas dari semua perkataan tersebut. Dari riwayat kedua adalah perkataan orang Ateis. Sebagaimana yang dikatakan Imam Zamakhsyari bahwa tidak ada kebatilan yang tampak ataupun tersembunyi dalam al-Quran, dan al-Quran diterima sebagai pedoman umat.

 Ibnu al-Anbari mengatakan bahwa semua riwayat yang disebutkan adalah riwayat yang lemah. Dan itu semua bertentangan dengan apa yang telah dilakukan oleh Ibnu Abbas, karena Ibnu Abbas membaca al-Quran sesuia dengan yang dibaca oleh Zaid bin Tsabit dan Ubay bin Ka’ab, mereka berdua adalah yang mengumpulkan al-Quran di zaman Abu Bakar RA, sedangkan Zaid bin Tsabit adalah penulis wahyu, maka tidak masuk akal jika bacaan Ibnu Abbas bertentangan dengan mereka.

Tidak ada komentar:

@way2themes