STUDI KRITIS HERMENEUTIKA - IKPM KAIRO

Selasa, 26 Maret 2019

STUDI KRITIS HERMENEUTIKA



Oleh : Zulkifli Abd. Rahim
Kamis, 7 Maret 2019

 Definisi Hermeneutika
 Hermenutika secara etimologi berasal dari bahasa yunani yaitu “Hermenuin” yang berarti tafsir dan penjelasan serta penerjemahan, yang ketika dipindah ke dalam ranah teologi seperti kondisi waktu itu, maka ditemukan bahwa bahasa wahyu ketuhanan yang tidak jelas sangat membutuhkan penjelasan tentang kehendak tuhan, begitu juga agar dapat ditranformasikan sesuai dengan kondisi kontemporer.

 Selain pendapat di atas, ada juga yang berpendapat bahwa hermeneutika diambil dari kata “Hermes” yang dalam metologi Yunani merupakan sosok yang bertugas menyampaikan berita dari para dewa dan bertugas menjelaskan maksudnya kepada manusia, dan dalam pendapat lain “Hermes” adalah Tuhan orang Mesir kuno Theht.

 Sementara menurut cendekiawan Muslim seperti Sulaiman bin Hasan bin Juljul dalam Thabaqat al-Athibba’, Muhammad Thahir bin ‘Asyur dalam penafsiran surah Maryam ayat 56, Sayyid Husain Nashir dalam “Knowledge and the Sacred”, dan masih banyak lainnya: semua berpendapat bahwa Hermes adalah Nabi Idris as. Adapun penamaan Idris ادريس boleh jadi karena beliau adalah orang yang pertama mengenal tulisan atau orang yang banyak belajar dan mengajar, Lafal Idris ادريسseakar dengan darasa درس yang berrti ajar mengajar. Ini berati bahwa Idris atau Hermes, adalah orang terpilih untuk menjelaskan pesan-pesan yang Maha Kuasa kepada manusia.
Dalam terminologi modern, sebagaimana yang diungkapkan oleh Gadamer (900-2002 M) adalah ilmu yang digunakan dalam rangka mencari pemahaman teks secara umum yaitu dengan memunculkan pertanyaan-pertanyaan beragam dan saling berkaitan seputar teks dari segi karakteristiknya dan hubungannya dengan kondisi yang melingkupinya dari satu sisi serta hubunganya dengan pengarang teks serta pembacanya dari sisi yang lain.

 Selain pendapaat di atas tentunya masih terdapat banyak definisi lain yang dapat menjelaskan perbedaan penggunaanya menurut para filsuf hermeneutika, seperti berikut ini.
Jhon Martin Caladinus (1710-1759 M) berpendapat bahwa ilmu-ilmu humaniora terpusat pada seni penafsiran. Dia menetapkan bahwa hermeneutika adalah nama lain dari seni itu. Yaitu seni yang mengandung sejumlah kaidah yang menyerupai logika dan dapat membantu penafsiran untuk menjelaskan kesamaran teks.

 Fredrich August Wolf (1785-1807) mendefinisikan hermeneutika sebagai pengetahuan tentang kaidah-kaidah yang membantu untuk memahami makna-makna tanda yang bertujuan untuk menguasai pemikiran pengujar atau penulis. Jadi, penafsir yang cerdas adalah yang mengetahui semua yang diketahui oleh pengarang.

 Fredrich D. Ernest (1768-1834) melihat hermeneutika sebagai seni memahami dan menguasai. Di sini hermeneutika bertugas sebagai kumpulan kaidah-kaidah metedologis yang menjaga seseorang dari kesalahpahaman, sebagaimana menurut dia bahwa penafsiran atas teks adalah terbuka untuk selalu disalahpahami.
William Dilthey (1833-1911M) melihat bahwa hermeneutika adalah ilmu yang bertugas menghadirkan metode-metode sains untuk ilmu humaniora.

 Peneliti modern Jerman Papner mendefenisikan bahwa hemenetika adalah peroyek pemahaman.
Secara umum, hermeneutika bertujuan menganalisis proses pemahaman modern sebagai sebuah fenomena dan mengungkapkan syarat-syaratnya. Adapun tujuannya secara khusus menurut aliran-aliran yang beragam adalah menyelesaikan problematika pemahaman terhadap teks-teks melalui teknik khusus dapat mengungkap makna asli teks dalam tradisi yang diwarisi atau sastra yang memiliki tren humanisme.

 Sejarah Perkembangan Hermeneutika
Jika ditinjau secara umum di dunia Barat (Kristen), hermeneutika digunakan pertama kali di kalangan sebagian cendekiawan Kristen Protestan sekitar tahun 1654 M, mereka itu adalah sekelompok orag yang tidak puas dengan penafsiran gereja terhadap teks perjanjian lama dan perjanjian baru. Tidak heran jika The New Encyclopedia Britannica menjelaskan bahwa hermeneutika adalah “The study of the general principle of Biblical interpretation to discover the truths and values of the Bible” yaitu studi prinsip-prinsip umum tentang penafsiran Bible untuk mencari kebenaran dan nilai-nilai kebenaran Bible. Para tokoh dan pemikir Kristen hampir sepakat bahwa Bibel secara harfiahnya bukan Kalam Tuhan, itu dibuktikan antara lain dengan adanya perbedaan pengarang yang otomatis melahirkan gaya penulisan yang berbeda-beda, bahkan informasi bertolak belakang antara satu dengan yang lain.

 Namun setelah ditelusuri lebih mendalam, dasar sejarah hermeneutika merupakan pembahasan yang sangat panjang. Terbentang dari filsafat klasik hingga sekarang. Kisahnya cukup panjang, berawal dari Yunani kuno berupa kode-kode simbolik. Kemudian akar hermeneutika pindah ke tangan orang-orang Ibrani (Yahudi). Philon of Alexandria merupakan tokoh yang memiliki peran penting dalam menggabungkan antara aliran simbolis dan filsafat Yunani.

 Kemudian hermeneutika berhasil merasuki gereja Kristen dengan tersebarnya dominisi metode alegorikal simbolis. Namun para Paus telah meletakkan beberapa kaidah dalam memahami Bibel dan menakwilkannya yang dikenal dengan kaidah augustinian atau boleh juga disebut sebagai teori hermeneutika empat tingkat Augustian, kaidah ini merupakan langkah yang baik untuk mengatur proses penakwilan namun yang dominan tetap saja tafsir alegoris simbolis, hingga kemudian katolik berusaha membatasi otoritas takwil keagamaan mereka hanya di tangan Paus. Hal ini memicu adanya perotes bahkan memicu munculnya atheisme modern yang juga dipicu oleh sebab-sebab lain yang terjadi dalam waktu yang bersamaan hingga rentang waktu mendekati abad ke 15.

 Pada awal abad ke-16 muncul revolusi melawan ekstrimisme Katolik oleh Martin Lether dan Jhon Calvin yang nantinya memunculkan takwil-takwil Protestan. Kedua tokoh ini masing-masing memiliki keunikan dalam kaidah tafsir yang meski secara teori ada sedikit perbedaan namun memiliki satu tujuan, yaitu untuk memberikan batasan-batasan terhadap takwil dan menjadikan hermeneutika sebagai seni yang mempunyai aturan-aturan, bukan sekedar pekerjaan tanpa batas. Serta membuka pintu takwil untuk selain Paus selama masih berjalan di atas kaidah-kaidah resmi yang dipegang oleh gereja.

 Pada abad ke-17 dan ke-18 yang dikenal dengan zaman modern dan akal manusia mulai beringsut dari kekangannya, para pemikir mulai berani menundukkan teks Bibel terhadap historis dan analisis linguistik yang liberal. Pada masa ini sangat dipengaruhi oleh filsafat pencerahan (enlightenment), gerakan ini memiliki metode verifikasi teks dan takwil yang hampir saja mnyentuh kesakralan dan substansi teks itu sendiri.
Pada mesa selanjutnya, muncul pemikiran baru yang dikenal dengan deskartestian (rasionalisme), digagas oleh Thomas Hobes (1588-1673 M) dan Baruch Spinoza (1632-1677 M) aliran ini bergerak menakwilkan lafal-lafal keagamaan secara bebas. 

 Hal ini berimbas negatif, seperti terjadinya pemberontakan atas gereja dan terjadinya pemberontakan atas keberagaman itu sendiri. Kejadian ini terjadi sepanjang dua abad ke-18 dan ke-19. Akibatnya, muncullah suara-suara lantang yang mengaungkan untuk menjauhi penafsiran yang subjektif serta menjaga rasionalitas dan objektifitas.

 Pada akhir abad ke-19 dan abad ke-20, hermeneutika berkembang menjadi seperti yang pemakalah rincikan secara global di atas. Dan karena yang dominan adalah jiwa kemerdekaan pada diri para pemikir Barat pada kala itu, maka di satu sisi sebagian mereka ada yang terlalu berlebihan sehingga mereka terjebak mengingkari segala sesutu yang religi dan sakral. Hermeneutika modern lahir dalam pangkuan filsafat rasionalisme dan pencerahan serta humanisme.

 Klasifikasi Ragam Hermeneutika dan Alirannya.
 Dikarenakan sejarah yang panjang dan keaneka-ragaman objeknya serta perbedaan pendapat pakarnya maka definisi hermenetika pun terbagi fokus ke dalam beberapa titik, ada yang mengatakan bahwa hermeneutika adalah ilmu penafsiran kitab suci atau penafsiran teks, ada juga merumuskan sebagai kaidah-kaidah pemahaman teks, atau metode menghindari kesalah fahaman dan lain-lain.

 Dalam pembahasan mereka, ada yang menekankan pada tujuan penulis teks, ada juga yang menekankan pada pemahaman penakwil teks, ada lagi yang menyatakan adanya makna tertentu dan final bagi sebuah teks, sementara yang lain membuka lebar-lebar pintu pemahaman penakwil atas sebuah teks tanpa adanya batasan.
Klasifikasi hermeneutika menurut periode sejarahnya.

 Sebelum terfokus kepada pemaparan aliran-aliran hermeneutika, ada juga yang mengklasifikasikan hermeneutika ini menurut sisi periode-periode sejarahnya. Mereka menyatakan bahwa secara umum periode tersebut terdiri dari tiga tahap.
Pertama, Klasik, para penganutnya memahami hermeneutika sebagai ilmu yang menjelaskan metode pemahaman yang benar terhadap teks serta cara-cara menyingkap kekaburannya. Aliran ini berpendapaat bahwa seorang penakwil dapat memahami tujuan pengarang teks dan substansinya selama menempuh metode yang sahih. Sepintas, cara kerja hermenetika klasik ini mirip dengan tafsir al-Quran, yaitu digunakan saat menemukan kesulitan dalam proses pemahaman makna setelah gagal memahaminya dengan cara biasa atau memahmi secara dzahir ayat. Walaupun secara mendalam ada banyak perbedaan antara hermeneutika dan tafsir al-Quran yang nantinya akan di paparkan pada pembahasan selanjutnya.
Kedua, Romansis, yang bermula dengan Friedrich Schleirmacher (1768-1834 M) yang menekankan dan meletakkan metode guna menghindari kesalahpahaman. Tokoh ini sangat berpengaruh terhadap pemikir-pemikir hermeneutika sesudahnya baik yang setuju maupun yang tidak setuju dengan alirannya. Dia juga dinilai telah mengalihkan hermeneutika dari penafsiran teks kegamaan secara khusus ke aneka teks lainnya. 
Ketiga, hermeneutika filosofi, disini yang dibahas lebih banyak adalah hal-hal yang berkaitan dengan hakikat pemahaman dan kondisi penemuannya tanpa membahas metode tentang makna pemahaman. 

 Semua aliran sebelum tahap ini memberi perhatian guna mencapai maksud pengarang atau adanya makna tertentu bagi satu teks, namun pada tahap filosofis para tokohnya tidak lagi memberi perhatian tentang benar atau salahnya pemahaman, akan tetapi membahas tentang “hakikat pemahaman”.
Aliran hermeneutika secara umum
Jika ditinjau secara umum, paling tidak ada empat aliran hermeneutika.

 Pertama, aliran Konvensional yang dipelopori oleh Friedrich Schleirmacher (1768-1834 M) dan Wilhelm Diltheiy (1833-1911 M). 

 Kedua, Moderat, aliran ini berpandangan bahwa penafsiran terus berkembang. Ia adalah dialog terus menerus antara penakwil dan teks, karena itulah maka tidak memungkinkan adanya pengetahuan tentang substansi atau pemahaman maksud pengrang, sebagaaimanaa yang dianut oleh kelompok yang pertama. Itu tidak mungkin karena penakwilan adalah penyatuan antara wawasan penakwil dan teks.

 Ketiga, aliran Ekstrim, menekankan bahwa kendati ada kesungguhan dan keluasan wawasan penakwil, namun sangat diragukan ia dapat mencapai makna asal dari teks untuk diamalkan, karena semua penafsiran bersifat kemungkinan dan relatif.
Keempat, aliran Kritis, menyatakan bahwa melalui pengamatan keritis, penakwil akan mampu menjadi lebih sadar dan dengan demikian dia akan lebih berhasil memelihara diri dari tumpukan pengaruh idiologi, budaya dan adat istiadat masyarakat yang mempengaruhi sang penakwil.

 Aliran hermeneutika kontemporer.
Seperti yang disebutkan oleh Ali Ridha Qaimi dalam sebuah penelitian berjudul Epistemologi Teks, hermeneutika kontemporer memiliki segitiga aliran yang masing-masing mewakili aliran hermeneutika pada umumnya. 

 Pertama, Hermeneutical Theory, yaitu hermeneutika sebagai metode dan ilmu pengetahuan yang khas Ilmu Budaya. Megikuti pembagian ilmu ke dalam dua bagian yaitu Humaniora dan Sains. Para pendukung aliran ini memandang bahwa hermeneutika adalah ilmu metode humanioralogi. Karena ilmu ini sangat mementingkan pemahaman fenomena dan segala hal yang berkenaan dengannya.

 Kedua, Hermeneutical Philosophy, sebagaimana yang telah dipaparkan diatas aliran ini sangat menentang kemungkinan perubahan bagi metodologi pemahaman. Filsafat hermeneutika menolak setiap usaha membangun metodologi bagi pemahaman makna. Hal ini dianggap sebagai bagian dari tren hermeneutika yang objektif, karena pemahaman tidak mungkin dibakukan dalam suatu kerangka metodologi tertentu. Bagi filsafat hermeneutika, setiap penafsir dan objek-objek kajian yang ia pelajari merupakan unsur yang saling melengkapi. 

 Ketiga, Critical Hermeneutics, aliran hermeneutika yang cukup berbeda dengan filsafat hermeneutika dan teori hermeneutika seperti di atas. Sebagai contoh kecil, pertanyaa, “Apakah makna teks memiliki makna kebenaran atau tidak?” belum dikenal baik dalam dua aliran di atas, teori hermeneutika menilai diskusi hal itu berada di luar metodologi dan epistimologi pemahaman. 

 Sementara itu filsafat hermeneutika mengesampingkan masalah tadi dan lebih fokus kepada peran budaya dan prakonsepsi penafsiran dalam memahami objek pemahaman. Dari sudut inilah hermeneutika kritis berperan mengajukan dan mendiskusikan persoalan tadi.

 Aliran tokoh-tokoh hermeneutika.
 Terlepas dari klasifikasi aliran sebelumnya, hermeneutika juga dapat dikelompokkan menjadi enam bagian dengan menyertakan tokoh-tokoh penting yang berpengaruh sepanjang zaman. 

 Pertama, Hermeneutika Simbolis dan Tipologis Philon of Alexandria adalah ikon yang penting di dalamnya.

 Kedua, Hermeneutika Dalam dan Aksioma Semesta Alam, Augustin, Martin Luther, Matias Flasius adalah tokoh-tokoh yang mewakilinya.

 Ketiga, Hermneutika Kritis, Denhaur, John, Calladinus, dan George Mayer adalah orang-orang yang menokohinya.

 Keempat, Hermeneutika Romansia, Sechleirmacher adalah tokoh terkemuka di dalamnya.

 Kelima, Hermeneutika Historis, F. Ast, John Droezn, dan William Dilthey adalah tokoh-tokohnya.

 Keenam, Hermeneutika Fenomenologi dan Eksistensialis, tokohnya adalah Edmund Hussrel, Martin Haidegger, Fraiburgh, dan Gadamer.
Rumus segitiga hermeneutika “Pengarang-teks-pembaca”

 Sebagaimana pemaparan di atas, rasanya terlalu rumit untuk menarik kesimpulan tentang pengklasifkasian hermeneutika dalam sebuah pembahasan disiplin ilmu yang baku layaknya klasifikasi metode dan corak ilmu tafsir al-Quran. Maka sebelum pemakalah beranjak ke pembahasan setelahnya, ada baiknya terlebih dahulu memberikan pemaparan secara umum tentang aliran-aliran hermeneutika ini, khusunya yang berhubungan dengan segitiga hermeneutika yaitu “Pengarang, teks, dan pembaca” 

 Pengarang
 Untuk menghimpun semua aliran hermeneutika yang telah pemakalah paparkan, dalam salah satu segitiga hermeneutika ini dibagi menjadi dua mazhab besar, yaitu segologan penakwil memuja posisi pengarang dan berusaha mencapai maksud pengarang, sementara golongan lainnya berpendapat “Pengarang sudah mati”.

 Di barisan mazhab pertama dipimpin oleh aliran Romansisme, kehadiran pengarang dalam teks ibarat roh yang sangat dominan. Dalam hal ini, beberapa hermeneut memberikan catatan khusus, diantaranya oleh hermeneut Amerika E.D.JR Hirsh dalam bukunya Validity in Interpretation mengemukakan bahwa “Kita tidak dapat berbicara tentang tekwil tertentu selama kita belum mengetahui tujuan seorang pengarang yeng mengerahkannya untuk menulis karangan tersebut.” Bahkan hermeneut Emillo Betti menekankan bahwa untuk mencapai sebuah makna yang objektif, maka di sana tidak boleh ada campur tangan seorang pembaca, yang dalam tanda kutip adalah campur tangan untuk memaksakan pemahaman pribadinya ke dalam teks.

 Adapun di barisan mazhab kedua adalah mazhab Strukturalisme dan teori-teori lain yang mendukungnya. Mereka mengukuhkan pendapat akan “Kematian sang pengarang”. Dan sebaliknya memberikan nilai teks yang tinggi karena tujuannya adalah mengungkap sistem yang menjadi fondasi sebuah sistem linguistik. Pendapat ini juga mendapat catatan khusus oleh salah seorang heremeneut kontemporer yaitu Ronald Barthnes, dia berpendapat bahwa pengarang sudah mati, dan pengarang yang mati tidak akan membawa kita kepada dasar atau tujuan teks apapun, tetapi mendorong kita untuk kehilangan ayah atau menganulir nasab pembaca kepadanya.

 Teks
 Layaknya segitiga pertama, teks yang merupakan anggota kedua rumus segitiga hermeneutika ini menimbulkan dua mazhab besar dalam aliran hermeneutika. Sebagian pakar yang berusaha membuat definisi-definisi teks terbagi menjadi dua kelompok yang saling berhadapan.

 Kelompok pertama beranggapan bahwa teks atau syair pada umumnya adalah struktur linguistik yang cukup untuk dirinya, yakni struktur yang tertutup pada dirinya sendiri, dan boleh berpindah teks tanpa membutuhkan sesuatu yang di luar sistem internalnya.

 Adapun di kelompok kedua berusaha untuk mengeluarkan teks dari ketertutupannya, sehingga teks mampu melampaui dirinya menuju lingkup dan faktor eksternal yang berpengaruh di sekitarnya.
Hermeneut Gadamer memusatkan pehatiannya pada teks yang tertulis, Karena tulisan memberikan kepada bahasa sebuah kemampuan untuk berpisah dari perbuatan yang membentuknya. Paul Riceour juga termasuk orang yang sangat memberikan kedudukan ada teks yang tertulis. Dia berkata “Kita hendaknya menyebut sebagai teks untuk setiap wacana yang sudah ditetapkan dengan media tulisan”. 

 Pembaca atau penakwil (hermeneut)
Kita akan beralih pada tema yang paling penting dalam aliran-aliran hermeneutika. Karena satu-satunya ranah yang paling aktif disini adalah pembaca. ketika sekelompok orang berpendapat bahwa peran maksud seorang penulis harus tetap “hidup” atau diunggulkan, itu berarti mereka meminta kepada pembaca untuk tidak menghidupkan opini-opini yang dipaksakan sesuai dengan keadaan eksternal. Begitupula sebaliknya, segolongan orang mengatakan bahwa “Pengarang telah mati’’ maka secara tidak langsung ia sedang meminta untuk menghidupkan opini-opini pembaca yang terpengaruhi oleh keadaan eksternal dan waktu yang berbeda dengan penulis.

 Bukan tidak berdalil, kelompok pertama mencoba membentengi pendapatnya. Sebagaimana yang digagaskan oleh Dilthey, ia percaya bahwa di sana ada sesuatu yang terhubung antara penerima dan teks sastra, yaitu “Eksperimen hidup”. Eksperimen hidup ini menurut Dilthey adalah sesuatu yang subjektif menurut penerima, tetapi ia dapat membatasi syarat-syarat epistimologis yang tidak dapat dilewati. Dengan arti lain, pembaca tergadai oleh syarat teks sehingga dia tidak bisa keluar dari teks.

 Sementara di kubu sebelah ada Barthes yang mengungkapkan pendapat bahwa pembaca itu ibarat angkasa kosong yang akan diukiri semua teks yang membentuk semua tulisan. Ia berargumen bahwa perpanjangan cakrawala teks tidak mungkin bersifat personal atau terbatas pada orang per orang.

 Paparan di atas berkisar tentang teori takwil (hermeneutika) barat di jalur historis dan pemikirannya. Juga sebagai gerakan yang karena ia adalah penting sehingga pada akhirnya menjadi sebuah teori atau ilmu, dan kemudian disebut “ilmu takwil atau hermeneutika”. Takwil pada generasi selanjutnya hidup dalam dialog yang tegang dengan teori-teori bentukan yang menutup sisi humanis sehingga kemudia mengkristal sejak tahun 60-an dalam bentuk teori yang masih menguasai dunia kritik sastra, yang dimaksud disini adalah teori resepsi.

 Disana ada kecondogan pada sekian banyak teori untuk meniadakan pengarang atau mematikannya seperti yang dikatakan Barthes, akan tetapi sebagian mereka seperti Hirsn masih mempercayai bahwa maksud pengarang adalah rujukan yang mendesak bagi setiap pemahaman dan takwil.
Pendapat-pendapat ini membawa kita kepada dialog antara pembaca dan pengarang dalam penakwilan teks yang merupakan hasil dialog tersebut. Seakan dia berusaha untuk membuat sebuah keseimbangan antara pembentuk segitiga hermeneutika (pengarang, teks, pembaca) antaranya ada yang mengunggulkan pengarang atas penakwil dan ada juga yang mengunggulkan penakwil atas pengarang yang nantinya berakhir pada teori ketertutupan teks atau keterbukaannya. 

 Selebihnya adalah beberapa manusia mengunggulkan teks dan mengalahkan penulis serta pengarang sekaligus. Namun ini sangat sedikit dalam ranah dunia kritik modern.

 Komparasi antara Hermeneutika, Tafsir dan Takwil.
 Sebelum memasuki studi komparasi, pemakalah mencoba memaparkan sedikit penggunaan tiga kalimat tersebut dari segi bahasa. Dalam tanda kutip bahwa penggunaan bahasa dalam banyak kalimat memang kerap kali menyeleweng dari artinya. 

 Hermeneutika, oleh sementara penulis arab, diterjemahkan dengan kata ‘ilm al-Ta’wil dan ada juga yang menemainya dengan ‘ilm al-Tafsir kerena memang secara umum fungsinya adalah menjelaskan maksud teks yang diteliti, namun agaknya penamaan dengan al-Ta’wiliyah lebih tepat karena tidak berat uraiannya. Sementara itu takwil dan tafsir merupakan kata yang muradif dalam makna segi bahasa yang paling masyhur, dan terkadang juga disebtkan takwil dan yang dimaksud adalah tafsir sebagaimana yang digunakan Imam Thabari dalam tafsirnya.

 Hermeneutika.
 Setelah menyelami lautan sejarah tentang hermeneutika dan aliran-alirannya, meski belum sampai ke dasarnya namun disana dapat ditarik bahwa aliran hermeneutika yang sampai kepada kita didominasi oleh mazhab mutaakhirin yang banyak dipengaruhi oleh filsafat atau secara garis besarnya adalah aliran “Kematian seorang penulis”.
Terlepas dari arti hermeneutika yang masih memposisikan tujuan penulis dalam penafsiran, dan tidak setuju denggan teori “kematian seorang penulis” setelah nanti akan dibahas juga secara terperici tentang penggunaan hermeneutika pada al-Quran. pemakalah akan mengalihkan titik fokus kepada aliran hermeneutika filsafat kontemporer.

 Jika ditinjau secara umum pemikiran hermeneutika filsafat telah memasuki ranah ketuhanan yang bersumber dari Talmut dan Bibel mereka. Bagaimana tidak, hermeneutika yang tadinya bertujuan menerangkan makna kalam tuhan berubah wujud menjadi sebuah kaidah ilmu yang tunduk kepada rumus-rumus buatan manusia (filsafat). Dampak terbesarnya adalah mencopot sakralisasi agama yang tadinya adalaah agama rabbâni menjadi agama thabî’i atau agama buatan. 
Desakralisasi agama ini terjadi bukan hanya pada agama yahudi, melainkan juga terjadi pada agama Kristen. Meskipun apa yang diselewengkan pada injil tidak sebanyak dengan apa yang ada di kitab Taurat atau yang mereka sebut dengan talmut. Adanya perbedaan antara kitab-kitab suci adalah dalil terbesar adanya penyelewengan arti bahkan teks. Ini dikuatkan oleh banyaknya pembesar agama mereka yang menyatakan secara jelas bahwa kitab tersebut telah diselewengkan demi kepentingan-kepentingan suatu kelompok.

 Adapun cara kerjanya sangat halus, diawali dengan meletakkan kaidah-kaidah yang cukup umum dan rasional, seperti mengganti kata “Tuhan” dalam teori hermeneutika menjadi lebih umum yaitu dengan kalimat “penulis” dan menyamakan teks agama dengan teks-teks yang lainnya. Setelah itu, dengan mudahnya mengatakan “penulis telah mati dalam teks agama sebagaimana matinya setiap penulis pada teks-teks yang lainnya”.

 Takwil 
 Secara harfiyah takwil dapat diartikan sebagai pengalihan makna satu kata kepada makna lain menurut sang penakwil. Adapun arti secara istilah adalah mengalihkan sebuah lafal dari makna râjih kepada makna yang marjûh dengan sokongan dalil-dalil yang berkaitan. Dalam studi komparasi ini, pemakalah akan memaparkan cara kerja takwil itu sendiri, dan pengaruhnya terhadap sakralisasi teks, yang dalam hal ini adalah firman Allah.
Berbeda dengan cara hermeneutika filsafat, seorang penakwil dalam menakwilkan sebuah ayat memulai dengan membacanya dan tidak langsung serta merta menuangkan pemahan pribadinya namun kembali kepada hadis Rasulullah SAW. 

 Sebagaimana yang tercantum dalam al-Quran Surah al-Nahl ayat 44       

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

Dari ayat di atas dapat dipahami bahwa tujuan diutusnya Rasulullah adalah untuk menyampaikan risalah dan menjelaskan kepada manusia tentang firman Allah SWT. Nyatanya, ada bayak hal yang pada dasarnya tidak bisa ditakwilkan kecuali kembali kepada penjelasan Rasulullah SAW.
Selanjutnya, jika belum ada penjelasan yang disampaikan Rasulullah dan para sahabatnya, seorang penakwil merujuk kepada orang yang paham kaidah-kaidah bahasa arab dan perangkat-perangkatnya. Atau mungkin ia menakwilkan sendiri ayat tersebut jika kiranya ia cakap dalam bidang bahasa dan terpenuhi syarat-syarat lainnya.
Dalam penakwilan, sangat menjaga keautentikan teks dan kesakralan penulisnya yang dalam hal ini adalah firman. Maka sangat memungkinkan ada lafal dalam al-Quran yang tidak dapat ditakwilkan, seperti perkara hari kiamat, turunnya Nabi Isa as. 

 Sesungguhnya hal-hal tersebut hanya Allah yang tahu kapan terjadi, manusia tidak tahu kecuali hanya tanda-tanda yang disampaikan oleh ayat lainnya dan Rasulullah SAW.
Hal di atas sejalan dengan khabar dari Sayiduna Ibnu Abbas “Dalam menafsirkan (menakwilkan) ayat ada empat sisi; makna yang dipahami oleh Orang Arab dari bahasanya, makna yang pasti dipahami semua orang, makna yang hanya diketahui ulama dan makna yang tiada yang mengetahui kecuali Allah”.

 Tafsir
 Secara harfiyah, tafsir dapat diartikan dengan “Menyingkap maksud suatu lafal yang muskil”, sementara menurut terminologi Islam adalah ilmu yang digunakan untuk memahami kitab Allah yang diturunkan kepada Rasulullah dan menjelaskan makna-maknanya serta menetapkan hukum-hukum darinya.

 Ada banyak ulama yang memberikan sumbangsih pandangan tentang tafsir dan takwil, diantaranya ada yang mengatakan bahwa keduaya adalah muradif, ada juga yang mengatakan bahwa tafsir berkenaan dengan riwayat sementara takwil berkenaan dengan dirayah, ada juga yang mengatakan bahwa hubungan keduanya adalah umum dan khusus, yaitu tafsir lebih umum dari takwil.

 Sebagaimana yang kita ketahui, Allah SWT tidaklah langsung berbicara dengan manusia untuk menyampaikn firman-Nya, namun Allah SWT mengirimkan rasul guna menyampaikan kepada manusia dengan bahasa yang dapat dipahami. Berbeda dengan kalam manusia, kalam Ilahi merupakan ayat yang di dalamnya ada muhkamat dan ada mutasyabihat, sehingga masih membutuhkan tafsir sebagai alatnya.

 Setidaknya ada tiga hal yang menyebabkan sebuah teks memerlukan sebuah penafsiran :
Kesempurnan sang penulis, ia mampu mengumpulkan banyak makna yang detail dalam sebuah teks.

 Terhapusnya sebagian pendahuluan yang mampu dijadikan timbangan untuknya, dan adanya kekurangan salah satu syarat yang menyebabkan ia bisa dipahami, atau dia berasal dari ilmu lain.
Lafal tersebut mengandung majas, musytarak dan dalâlah al-iltizâm.

 Al-Quran telah turun menggunkan bahasa Arab kepada Orang Arab Quraisy yang fasih, mereka paham lafal dan hukum yang terkandung dalam sebuah ayat. Kendati demikian mereka juga masih bertanya kepada Rasulullah SAW tentang ayat yang ambigu. Sebagaimana dalam surat al-An’am ayat 82.
 الَّذِينَ آَمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ
 Mereka bertanya kepad Rasulullah tentang arti الظلم dan Rasulullah SAW menjelaskan kepada mereka bahwa الظلم disini bukanlah zalim atau tidak adil, namun artinya adalah الشرك.
Sebagai umat yang hadir setelah wafatnya Rasulullah, tentunya kita membutuhkan peninggalan-peninggalan tafsir semasa hidup Rasulullah, dan kenyataannya kita juga butuh hal yang dulunya belum dibutuhkan di zaman Rasulullah. Dapat ditarik kesimpulan bahwa jika para sahabat saja dengan gelar mereka “sebaik-baiknya zaman” masih membutuhkan tafsir, maka kita di zaman ini jauh lebih membutuhkan tafsir. 

 Antara Takwil Hermeneutika dan Takwil Islami
Berbekal studi komparasi di atas, tidak heran jika tujuan pembahasan makalah ini akhirnya mengerucut kepada beberapa pertanyaan “Antara takwil dan hermeneutika, persamaan atau perbedaan?, bolehkah di terapkan dalam al-Quran?”
Kita akan berangkat dari kutipan berikut yang dapat memberikan ringkasan mengenai perubahan-perubahan yang terjadi dalam perjalanan takwil, “pada awalnya takwil adalah bentuk sitaksis yang menjelaskan lafal-lafal dan susunan-susunan yang klasik melalui lafal dan susunan yang demi menjaga maknanya yang relevan untuk segala zaman, takwil yang kedua ternyata sangat jauh masuk ke dunia majas, ia adalah takwil atas tanda-tanda yang telah menjadi asing di zaman mutaakhirin agar dapat menciptaan pertanda-pertanda baru yang mengantarkan kita secara langsung kepada pemikiran pemilik ucapan, bukan pada teks.”
Dari penjelasan diatas dapat dipahami bahwa ada dua aliran yang saling bergulat tentang hakikat makna, mereka adalah aliran konvensional dan aliran modernistik. Secara adil, pemakalah akan mencoba memberi pemaparan dua aliran besar ini, baik pada takwil Islami ataupun pada hermeneutika Barat.

 Aliran konvensional atau tradisional
 Aliran ini berusaha membakukan makna dalam semantik tertentu yakni menjadikan kokoh sehingga tidak mudah terperosok masuk ke wilayah majas. Dengan kata lain tetap dalam standar semantik bahasa, yaitu mengembalikan petunjuk pada asalnya.

 Sejauh ini, meteode demikian juga didukung oleh aliran hermeneutika Klasik dan Romansis. Sebagaimana yang telah dibahas penjang lebar di atas, yang masih bertujuan mengungkap makna sesuai tujuan penulis dan meletakkan teori yang bertujuan untuk menjaga kesalah pahaman atas kitab suci mereka.

 Sementara dalam takwil Islam dari sisi konvensional melihat bahwa yang asli adalah lafal asli dan tidak mungkin meninggalkan ini kecuali dengan dalil, yaitu tidak adanya pertentangan dengan tujun-tujuan agama. Pada titik inilah, melampaui lafal asli pada makna yang tersimpan menjadi sesuatu yang diperbolehkan. Ulama usul fikih telah memberikan kaidah tentang lafal, sebagai berikut.

 Yang hanya mengandung satu makna adalah al-nash.
Jika mengandung lebih dari satu makna secara sama, maka ia dinamakan al-mujmal.
Adakalanya lafal mengandung lebih dari satu makna, tetapi salah satunya lebih kuat. Makna yang kuat itu disebut zhahir dan yang lemah itu disebut sebagai muawwal. Tidak mungkin beralih dari zhahir ke muawwal kecuali harus berlandaskan dalil.

 Dan dalam hal takwil, diduga bahwa ulama yang pertama kali meletakkan kaidah yang diakui oleh jumhur ulama setelahnya adalaam Imam al-Ghazali, beliau menuliskan sebagai berikut.

 Pertama, setiap cendekiawan atau kelompok-kelompok muslim menakwilkan suatu ayat didasari keterpaksaan. Ini berlaku kepada siapapun, bahkan jika dia tidak suka untuk menakwilkan ayat.
Contohnya Imam Ahmad bin Hanbal ketika memberikan takwil kepada hadis Rasulullah SAW
قلب المؤمن بين أصابعين من أصابع الرحمن
Tidaklah beliau memberikan takwil kepada hadis tersebut keculi bertentangannya dengan kalam Ilahi.

 Kedua, untuk membedakan takwil yang diterima dan takwil yang tertolak bukanlah perkara yang mudah, oleh karenanya haruslah dilakukan oleh orang yang mahir dalam ilmu bahasa, teori bahasa, dan tahu penggunaanya dalam keseharian Orang Arab itu sendiri.

 Ketiga, semua umat Islam telah sepakat diperbolehkannya takwil jika ada ayat lain yang menunjukkan kemustahilan. 

 Keempat, mereka sepakat bahwa hasil dari tekwil tersebut tidak terlepas dari lima wujud yang di sampaikan Rasullullah SAW.

 Wujûd al-zâti, adalah wujud yang hakiki terlepas dari imajinasi akal dan wujud lahir. Ini adalah wujud yang tidak dapat digambarkan namun ia ada.

 Wujûd al-Hissi, adalah apa yang ada dalam pandangan mata namun tidak ada dalam kenyataanya. Ini seperti apa yang dilihat seseorang dalam tidur atau di lihat oleh seseorang yang sedang sakit keras.

 Wujûd al-Khayâli, adalah gambaran akan seuatu yang terlepas dari pandangan mata.

 Wujûd al-Aqli, adalah sesuatu yang memiliki bentuk, ruh, dan hakikat serta langsung seketika dipahami oleh otak saat melihatnya. Seperti tangn misalnya, diketahui bentuknya dan kegunaanya tanpa memprosesnya dalam wujud Hissi atau Khayali.

 Wujûd al-Syibihi, adalah wujud yang diketahui bukan dengan zatnya, dan bukan juga dengan hayalan, dan tidak juga terlihat. Wujud ini diketahui dengan hadirnya sesuatu yang lain. Ini seperti marah, marah diketahui juga wajah seseorang memerah misalnya.

 Kelima, seorang penakwil dibagi menjadi dua golongan, yaitu golongan orang-orang awam dan orang ahli dalam bidangnya, dan hak bagi yang awam adalah tidak mudah meletakkan sebuah bidah dan takwil yang menyalahi peninggalan sahabat dan tabiin, adapun hak bagi ahli takwil adalah tidak menakwilkan kecuali terpaksa serta tidak mengkafirkan satu sama lain.

 Keenam, diantara manusia ada yang terburu-buru menakwilkan dengan dasar perkiraan saja. hal seperti ini tidak boleh terburu-buru dalam mengkafirkannya, sebab ada dua objek dalam penakwilan sebuah ayat, yaitu berkenaan dengan usûl al-dîn da nada juga masalah furu’. Mereka yang manyalahi akidah atau usul maka wajib dikafirkan.

 Ketujuh, ada yang menakwilkan sesuatu bertentangan dengan nash yang mutawatir serta mengatakan bahwa yang mutawatir itu muawwal, sementara takwil yang disuguhkan itu tidak ada hubungannya dengan dasar bahasa melainkan hanya kepentingan pihak tertentu. Maka penakwil seperti ini di golongkan sebagai pembohong dan bisa sampai derajat kafir karena telah menolak teks yang mutawatir.

 Kedelapan, jika seorang penakwil mengingkari hal yang ahad maka ia tidak sampai derajat kafir.
Demikian yang diletakkan oleh Imam al-Ghazali tentang takwil islam yang disepakati jumhur muslim. Setelahnya ada banyak ulama yang meletakkan kaidah tentang takwil dan tidaklah jauh dari apa yang diletakkan oleh al-Imam.

 Aliran Modernistik
 Aliran kedua dalam teori penakwilan telah mengalami lompatan kualitatif dalam tradisi filsafat Jerman (abad ke-18 dan ke-19) yang mengadakan reorentasi paradigma dari “Makna” teks ke “Pemahaman” teks. Rasionalitas modern seperti yang dianut oleh mazhab protestanisme telah mengubah makna literal Bibel yang selama ini dianggap oleh mazhab resmi gereja sebagai “Makna historis” menjadi “Pemahaman historis” yang segala sesuatunya merujuk ke masa silam. Afiliasi suatu teks ke masa silam itu menyebabkan kehadirannya di masa kini menjadi bentuk kecurigaan, mengapa teks yang merespon kejadian masa lalu harus menjadi jawaban problrm kekinian? tidakkah lebih baik jika teks masa silam itu dienyahkan karena realitas yang terus berubah dari waktu ke waktu? 

 Rasionalitas Protestanisme itu telah menentang otoritas gereja yang selalu mengklaim arti Bibel yang sah, serta meneguhkan semangat liberalisasi simbol-simbol otoritas agama yang eksklusif dan tertutup. Akibatnya metodologi tafsir tradisional telah tergantikan dan disaingi metodologi yang lebih humanis dan memberi ruang kesadaran kritis atas keseluruhan sumber teks agama. Semangat liberalisasi dan humanisasi inilah yang ikut andil merobohkn tembok sakralisasi teks sehingga teks agama tak lagi sakral bahkan mengalami proses humanisasi.

 Di era baru inilah munculnya aliran hermeneutika filsafat yang telah dipaparkan sebelunya. Inti dari pemikiran aliran ini adalah “Kematian sang penulis” dan tersisa karyanya yang tidak lagi relevan jika digunakan saat ini. Ditinjau dari kacamata takwil hermeneutika, takwil pada aliran modernistik ini tidak lagi memiliki kaidah dan batasan tertentu, melainkan dibuka seluas-luasnya dan untuk siapaa saja.

 Selanjutnya jika ditinjau dari kacamat takwil Islam, telah berdiri madrasah Ihyâ wa Tajdîd al-Islâmi oleh Jamaluddin al-Afgani (1838-1897 M) yang bergerak dalam bidang takwil filsafat menurut Islam. Beliau sangat memposisikan takwil sebagai alat untuk menjaga sakralisasi sifat ilahi. Beliau berkata “Sebuah lafal atau teks ayat tidak mampu mengantarkan kepada keyakinan, selalu ada cela keraguan di dalamnya maka tiada jalan selain memberi dalil dan takwil agar sebuah teks mampu bergeser dari keraguan makna kepada keyakinan yaitu mendekati kebenaran. Dan jika takwilnya benar maka benarlah perihal yang lainnya”.
Penggunaan takwil pada era modernistik mulai bergeser kepada penakwilan ayat yang sekiranya bisa untuk ditakwilkan, dan jika ayat tersebut adalah dzâhir, maka tujuannya adalah membentengi pemikiran umat dari paham orientalis, dan memberikan kepuasan kepada mereka yang belum puas dengan dzâhir teks. Hal ini disepakati oleh ulama terdahulu seperti Imam al-Asy’ari “Dan jika takwil dimaksudkan untuk membatalkan syubhat, atau memuaskan orang yang bertanya-tanya maka itu boleh-boleh saja.”
Menurut Imam Muhammad Abduh (1849-1905 M), takwil itu digunakan jika ada sebuah teks yang bertentangan dengan akal “Semua ulama hampir sepakat bahwa jika bertentangan akal dan teks, maka yang didahulukan adalah akal” maka ada dua hal yang kita lakukan pada teks jika terjadi pertentangan.

 Menakwilkannya dengan kaidah bahasa yang benar, hingga maknanya sesuai dengan akal.
Jika tidak dapat ditakwilkan dengan jalan tersebut, maka harus diyakini bahwa hanya Allah yang tahu maknanya.

 Perbedaan antar Takwil Islami dan Hermeneutika Barat.
 Setelah semua penjelasan yang telah lewat kita dapat memberikan perbedaan-perbedaan antara takwil islami dan hermeneutika barat.

 Pertama, Takwil dalam tradisi keilmuan Islam mengakui dan tunduk pada kesucian teks dan keilahian sumbernya, terlebih khusus dalam teks-teks agama. Sedangkan hermeneutika barat memperlakukan teks sebagai murni fenomena bahasa, dan tidak mengakui kesucian teks yang menuntut perlakuan khusus.

 Kedua, takwil dalam tradisi keilmuan Islam mengakui jenis tingkatan lafal, dalam pengertian bahwa di atas jenis-jenis teks itu ada yang bisa menerima takwil yaitu dzahir, dan ada pula yang menunjukkan satu makna yang tidak dapat di takwil yaitu nash, sedangkan hermeneutika barat memukul rata semua jenis teks.

 Ketiga, takwil dalam tradisi keilmuan Islam menekankan makna yang tetap tidak berubah kecuali jika ada dalil lain yang mengharuskan takwil, dan makna takwil itu masih bisa diterima oleh lafal zahirnya serta juga sesuai dengan sirkulasi penggunaan bahasa dan adat kebiasaan yang lazim dalam syariah. Sedangkan hermeneutika di barat berarti perpindahan orientasi dari “makna” kepada “pemahaman” yang dapat berubah setiap saat sesuai dengan perkembangan pembaca teks.

 Keempat, takwil dalam tradisi keilmuan Islam adalah sesatu cara untuk membentengi norma keimanan terhadap dasar-dasar keyakinan agama. Ia juga metode yang baik untuk menghilangkan keraguan. Sementara sebaliknya hermeneutika barat adalah alat yang digunakan untuk merobohkan dinding agama dan menghilangkan keimanan.

 Penggunaan Heremeneutika dalam Studi al-Quran serta Dampaknya
Setelah memahami perbedaan hermeneutika dan takwil tentunya masih ada beberapa pertanyaan yang timbul, apakah boleh menerapkan heremeneutika pada al-Quran? Atau sampai manakah kita dapat menerapkan hermeneutika untuk al-Quran? Serta apa saja dampaknya jika menggunakan hermeneutika untuk menakwilkan al-Quran?
Bolehkah menggunakan hermeneutika pada al-Quran?

 Prof. Musthafa Malkiyan menjawabnya, “Banyak sekali yang ada dalam hermeneutika bisa diterapkan pada al-Quran, tetapi al-Quran berbeda dengan kitab-kitab yang lain, baik kitab keagamaan atau bukan. Adapun perbedaanya ada pada dua sisi.

 Pertama, semua lafal dan ungkapan al-Quran sesuai keyakinan umat Islam adalah dari firman Allah. Kualitas khusus ini tidak ditemukan pada kitab lain.

 Kedua, susunan yang sekarang tidak mencerminkan susunan turunnya dan kronologi historisnya.

 Kedua karakter ini menjadikan kita tak mungkin menerapkan kaidah-kaidah hermeneutika pada kitab al-Quran ini sebagaimana juga hermeneutika tidak bisa digunakan kepada kitab atau teks lain yang memiliki dua karakteristik tersebut”
Prof. Dr. Wan Mohd Nor Wan Daud, guru besar pemikiran Islam di Institut Internasional Pemikiran dan Peradaban Islam (ISTAC) di Malaysia, menyatakan “Sesungguhnya penafsiran al-Quran sama sekali tidak boleh disamakan dengan hermeneutika Yunani dengan cara apa pun atau hermeneutika Bibel menurut Umat Kristiani. Juga tidak sama dengan semua teori takwil kitab suci yang menyatu dengan peradaban atau agama lain. 

 Pasalnya, ilmu tafsir al-Quran diaggap sebagai sebuah ilmu yang membangun seluruh ilmu dalam belantara peradaban keislaman.”
Dampak penggunaan hermeneutika dalam menakwilkan al-Quran

 Di tengah semangat westernisasi zaman modern ini, didukung dengan paham liberal yang semakin meluas, umat Islam merupakan sasaran utama yang sangat empuk. Maka tidak ada jalan lain selain berusaha membentengi akidah dan mencoba mematahkan doktrin-doktrin dari Barat. Kendati demikian, setelah heremenutika berhasil masuk ke ranah Talmut dan Injil serta berhasil merobohkan tembok akidah mereka, Al-Quran pun menjadi sasaran. tidak sedikit pemikir Islam yang terperosok bahkan ada golongan yang dengan bangganya mengaungkan bahwa hermeneutika ini relevan pada al-Quran.

 Para pemuja teori ini mengajak untuk mengganti agama menjadi idiologi dan mengganti agama ilahi menjadi agama thabi’i. jJauh lebih miris ada yang mengatakan bahwa manusialah yang menciptakan Allah dalam pikirannya bukan Allah yang menciptakan manusia. Ada lagi yang menamai dirinya dengan sebutan “Faqîh al-ummah” ia dipanggil oleh salah satu menteri Saudi untuk mengerjakan ibadah haji (1426 H) ia berfikir untuk menolak ajakan tersebut hingga istrinya mengatakan kepadanya “Kenapa tidak kau anggap saja ibadah ini seperti sarasehan atau asosiasi?” maka ia terima panggilan tersebut.

 Sepulangnya dari haji ia menuliskan pemahamannya dengan berbagai dalil tentang haji, bahwa ia pergi haji tanpa ihram dan sejatinya ka’bah adalah bentuk penyembahan berhala zaman jahili yang ada di zaman ini serta tembok untuk melempar jumrah sama dengan berhala di masa lampau.

 Diantara produk-produk hermeneeutika yang sampai kepada kita di zaman ini, dan beberapa contoh penakwilanya adalah Takwil al-Bâthini yang dalam hal ini banyak digunakan oleh mazhab Ismailiyah.

 Secara umum takwil batini merupakan hasil penakwilan kelompok bâthini yang merupakan salah satu kelompok Islam yang sudah ada sejak dulu dan hingga kini masih ada, mereka merupakan bentuk nyata hermeneutika yang ada di Timur.
Corak penakwilan kelompok ini adalah menakwilkan zahir ayat kepada makna batin dan mengalihkan ayat suci kepada sebuah rumus buatan manusia untuk menentukan sebuah hukum syariah. Maka takwil batin pada al-Quran merupakan persamaan hermeneutika pada kitab turas Barat, mereka menakwilkan ayat al-Quran tanpa memperhatikan ayat muhkamat dan mutasyabihat, serta melupakan kaidah bahasa pada ayat muawwal. 

 Seentaraitu mazhab ismailiyah merupakan kelompok yang terang-terangan menggunakan takwil batini, dan makna batin menghapuskan makna yang zhahir sehingga hukum syariah batin mampu menggantikan posisi hukum syariah yang zahir yang dibawa oleh Rasulullah SAW. 

 Muhammad bin Ismail merupakan imam yang ke tujuh bagi mereka, beliau merupakan tokoh yang meletakkan pemahaman baru tanpa menghapus pemahaman lama yaitu syariat Nabi Muhammad. Beliau dianggap sekedar menambahkan dan memunculkan yang batin atau yang selama ini terpendam dari ajaran Rasulullah serta meletakkan akidah yang hakiki.

 Mereka mentakwilkan surah al-Baqarah ayat 35 berikut dengan pemahaman batin.
وَكُلَا مِنْهَا رَغَدًا حَيْثُ شِئْتُمَا 
Artinya adalah Muhammad bin Ismail dan ayahnya Ismail bin Ja’far.
Dan mereka menakwilkan ayat 
وَلَا تَقْرَبَا هَذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ الظَّالِمِينَ
Artinya adalah janganlah mendekati Imam Musa al-Kadzim bin Ja’far al-Shadiq.

 Tokoh-tokoh dan muallafat hermeneutika.
Diantara tokoh-tokoh Hermeneutika dalam studi al-Quran adalah sebagai berikut.

 Pertama, Dr. Muhammad Arkoun, mushaf Utsmani dalam pandangan Arkoun tidak lebih hanyalah produk kultural dari komunitas Islam yang sudah dimasukkan ke wilayah yang tidak terpikirkan (Unthinkinable), karena banyaknya proses-proses pemaksaan dari kekuasaan yang hegemonis. Arkoun mengusulkan proyek pengembangan pemikiran bebas (free thinking).

 Kedua, Dr. Nasr Hamid Abu Zaid, menurutnya teks ilahi telah berubah menjadi teks manusiawi sejak ia pertama kali turun kepada Nabi Muhammad, oleh karena itu teks al-Quran sama saja dengan teks-teks lainnya oleh sebab itu mengkaji al-Quran tidak memerlukan metode khusus.

 Ketiga, Dr. Hasan Hanafi, beliau melihat Ilmu Tafsir selama ini berpatokan pada periwayatan dan belum muncul sampai sekarang tafsir yang berpatokan pada realitas Umat Islam dan pembacaan terhadap kondisi masyarakatnya dalam teks-teks al-Quran. Berangkat dari sini manusia akan selalu ditekan napasnya di bawah tutup baja bahasa serta realitas historis, teologis, kerohanian, dan hukum perundang-undangan.

 Demikian juga tokoh-tokoh takwil batini atau yang diistilahkan dengan gambaran hermeneutika dari al-Quran sebagai berikut.

 Al-Kirmani (963-1021 M) dengan kitabnya Râhilah al-Aql . Ia menakwilkan bahwa di surga itu bukanlah nikmat hakiki yang dapat dirasakan jasad tapi hanya ruh atau dunia hayal.

 Abu Ya’qub al-Sijistani (945 M/334 H) dengan kitabnya al-Yanâbi’. Ia mengemukakan bahwa imbalan di akhirat itu dapat diketahui dengan rumus tertentu.

 Al-Nasiriyah merupakan salah satu kelompok Ismailiyah, dengan kitab mereka Ta’lîm Diyânati al-Nasiriyah. Dengan rumus tertentu mereka mengemukakan bahwa sejatinya ajaran yang benar itu ada tujuh tingkatan; salat, zakat, puasa, haji, ijtihad, do’a dan tawaduk.

 Abu Said Yamut bin al-Qasim dengan kitabnya Majmu al-A’yâd wa al-Dalâlah wa al-Akhbâr al-Mubhirah, di dalam kitabnya ini dituliskan bahwa 

 Ali bin Abi Thalib karramallâh wajhah memiliki sifat-sifat ilahi seperti Ahad, Shamad, lam yalid walam yulad dan Qadim.

Tidak ada komentar: