Tujuan dan Metedologi Sejarah Kepenulisan Sirah - IKPM KAIRO

Selasa, 05 Maret 2019

Tujuan dan Metedologi Sejarah Kepenulisan Sirah



Oleh : Firdha Rochima dan Fakhry Abdul Gaffar
Sabtu, 4 Agustus 2018

Tujuan mempelajari Sirah adalah memahami dan menyelami nilai Islam yang paripurna dari pribadi Nabi Muhammad Saw dan kita dapat menjabarkan tujuan dari mempejarinya yaitu, (i) Memahami pribadi Rasulullah Saw dari kehidupan dan lingkungan zamannya serta mempertegas bahwa pribadi paripurna Rasulullah Saw bukan sekedar pengaruh lingkungannya, Namun itu merupakan wahyu yang turun dari Allah Swt. (ii) Menjadikan pribadi Rasulullah sebagai contoh yang paripurna dalam kehidupan. (iii) Memudahkan kita dalam memahami Al-Quran. (iv) Mendapakan pemahaman yang utuh mengenai nilai-nilai Islam yang sesungguhnya. (v) Contoh nyata bagi para pendidik dan da’i.

Perkembangan Studi Sirah Nabawiyyah dan Kepenulisanya
Sirah Nabawiyah Dan Sejarah
Tidak dapat dipungkiri bahwa Sirah Nabi Muhammad Saw merupakan asas dari kepenulisan sejarah dalam dunia Islam. Karena peristiwa dan kejadian sejarah yang pertama ditulis oleh cendikiawan muslim adalah kisah hidup Rasulullah Saw yang disebut dengan Sirah. Namun Sirah tidaklah serupa dengan sejarah. Sejarah sendiri dari segi makna dan definisi bahasanya tidak jauh beda dengan definisi Sirah dan sejarah secara umum kajian yang mempelajari peristiwa penting yang sudah berlaku pada masa lampau yang dapat dijadikan iktibar dan pedoman untuk masa akan datang. Sejarah merangkumi sesuatu yang umum dan tidak dispesifikasikan kepada seseorang individu yang terlibat sebagaimana halnya dengan sirah. Sirah ditegaskan sekali lagi secara khususnya mengkaji tentang latar belakang kehidupan ataupun biografi Rasulullah Saw sedangkan sejarah hanya meneliti dan mengkaji peristiwa-peristiwa yang dianggap penting dan bermakna.
Aspek
Sirah
Sejarah

DEFINISI
Bermaksud perjalanan hidup
Syajarah ataupun syajaratun bermaksud pokok

BIDANG KAJIAN
Kajian tertumpu kepada perjalanan dan kisah hidup Nabi Muhammad Saw. Kajian juga menekankan sifat pribadi dan akhlak junjungan mulia Nabi Muhammad Saw serta cara baginda menjalani kehidupan keseharian yang boleh diteladani.
Kajian mengenai peristiwa-peristiwa yang dianggap penting yang berlaku pada masa lampau. Lebih berfokuskan kepada perkembangan peradaban ataupun tamadun sesuatu zaman yang boleh dijadikan iktibar dan pengajaran

SUMBER KAJIAN
Al-Qur’an, As-Sunnah



Primer, Sekunder, Lisan

SIFAT
Khusus mengenai kajian seseorang individu yaitu Rasulullah Saw
Umum mengenai peristiwa-peristiwa penting masa lampau

KEDUDUKAN FAKTA
Tidak boleh berubah karena terdapat peristiwa yang telah tercatat didalam Al-Qur’an dan As-Sunnah
Fakta boleh berubah dengan adanya sumber ataupun bukti yang lebih awal atau jelas dari sumber sebelumnya





Dalam Islam seni periwayatan kejadian dan peristiwa telah menjadi salah karakteristik khusus dalam tradisi keilmuan Islam yang membedakan dari peradaban lain. Sirah nabawiyah merupakan titik tolak bagi sejarah Islam. Generasi cendikiawan muslim di masa awal menilai bahwasanya Sirah Nabawiyyah dan sunah merupakan kunci utama untuk memahami Kitabullah, menjadi suritauladan, menambah keyakinan akan kenabian Rasulullah Saw dan I’jaz dari Al-Quran. Faktor-faktor tersebut menjadikan pendorong dalam menjaga dan meriwayatkan sirah seotentik mungkin sehingga menjauhkan dari kekeliruan dan penyimpangan makna. Tugas pokok para ulama dalam metode penulisan Sirah Nabawiyyah adalah tidak menulis satu kejadianpun dalam sejarah ini kecuali benar-benar telah teruji kebenarannya melalui timbangan ilmiah dalam kaidah ilmu Musthalahah Al-Hadits yang membahas seluruh sanad dan matan yang terdapat dalam sejarah tersebut, ilmu Al-Jarh wa ta’dil yaitu ilmu yang membahas biografi dan sifat-sifat perawi hadits. Para sejarawan masa awal adalah para periwayat hadist.
Perkembangan Kepenulisan Sirah Nabawiyyah
Penulis Sirah di fase awal merupakan muhadist, seperti Urwah bin Zubair (W.62 H), Iban bin Ustman (W.105 H), Namun hanya sedikit tulisan mereka yang sampai kepada kita, sebagian diriwayatkan oleh Ath-Thabari merupakan bagian dari apa yang ditulis oleh Wahab bin Munibah, tersimpan di Hemburg, Jerman. Kemudian, memasuki abad kedua hijriyah, mulai marak penulis yang mengupas sejarah putra Abdullah tersebut. Satu diantara penulis Sirah para Nabi yang paling masyhur pada abad kedua tersebut, Muhammad bin Ishak. Akrab disebut Ibnu Ishaq. Sirah Ibnu Hisyam merupakan cetakan yang terlengkap sampai kepada kita yang merupakan nukilan dari Sirah Ibnu Ishak. Mula-mula yang melakukan reproduksi dari Sirah Nabawiyyah adalah Ibnu Hisyam (w. 213 H). Ia menuliskan syarah atau penjelas dari apa yang telah ditulis oleh Ibnu Ishaq dan meringkas beberapa bagian yang sekiranya tak berkaitan langsung dengan Rasulullah Saw. Tak berhenti pada Ibnu Hisyam saja. Usaha reproduksi dari Sirah Nabawiyyah juga dilakukan oleh Abul Qasim Abdurahman as-Suhaili (w. 581 H). Ia membuat kitab syarah dari syarah Sirah Nabawiyyah yang ditulis oleh Ibnu Hisyam. Dalam perkembangan selanjutnya, Sirah Nabawiyyah berkembang dalam bahasa pengantar yang beraneka. Tak hanya dalam bahasa Arab sebagaimana aslinya, tapi juga diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa besar di dunia. Seperti halnya “The Life of Muhammad” yang ditulis oleh A. Guillaumi dalam bahasa Inggris. Bagaimanapun juga kepenulisan Sirah tetap berpokok pada beberapa sumber sepeerti Al-Qur’an, Sunnah Nabawiyyah, dan riwayat-riwayat terpercaya yang berkaitan dengan Sirah.
Metode Ilmiah dalam Penulisan Sirah Nabawiyyah
Sirah Nabawiyyah berangkat dari sejarah dan menyasar objek berbagai kejadian historis dalam rangkaian peristiwa kronologis. Metode apakah yang dipaka para penulisa Sirah dalam menyusun dan menulis karya mereka? Pada saat itu, mereka menggunakan metode yang dalam penulisan sejarah dikenal sebagai ”aliran objektif” karena para penulis Sirah Nabawiyyah tidak mengandalkan karya mereka semata untuk memotret kejadian dalam hidup sang Nabi, tetapi hanya untuk mengukuhkan informasi sahih darinya. Dalam melakukan hal ini, mereka menggunakan metode ilmiah yang tertuang dalam ilmu Musthalahah Al-Hadist, terutama berkaitan dengan sanad dan matn, dan dalam ilmu Al-Jarh wa ta’dil yang berkaitan dengan para perawi meliputi otobiografi dan catatan kepribadian masing-masing. Ketika menemukan sebuah kejadian yang dinilai benar-benar nyata berdasarkan kedua metode yang digunakan, mereka akan langsung menuliskan tanpa tambahan ide, pemikiran, opini, ataupun hal-hal yang berhubungan dengan kondisi mereka saat itu. Pada saat itu, mereka memandang keberhasilan dalam mendapatkan bukti kebenaran sejarah melalui metedologi yang digunakan merupakan “realitas suci” yang harus dipaparkan kembali apa adanya Meraka meyakini, memasukan opini dantendensi pribadi ke dalam Sirah Nabi Muhammad Saw merupakan pengkhianatan yang tak terampuni. Dengan metode ilmiah dan sudut pandang objektivitas terhadap sejarah itulah sirah Rasulullah Saw sampai ke tangan kita secara lengkap. Adapun berkenaan dengan upaya pengambilan hukum dari semua riwayat ini adalah kerja ilmuah di luar ranah penulisan sejarah. Kesucian sejarah harus tetap terjaga, tidak boleh terkontaminasi oleh apapun.
Pengaruruh Aliran Modern terhadap Metode Penulisan Sirah Nabawiyyah
Pada abad ke-19, dalam tradisi penulisan sejarah muncul berbagai aliran yang berbeda-beda. Selain aliran objektif (sering pula disebut sebagai “aliran ilmiah”), adapula aliran lain yang disebut “aliran individualis”. Freudlah ilmuan terdepan yang menyerukan diterapkanya aliran ini dan para penganut aliran ini menilai, tak jadi soal seorang sejarawan memasukan tendensi pribadi, ideology, keyakinan agama, atau pandangan politik dalam menginterpretasi berbagai peristiwa sejarah dengan segala konsekuensi hukum dan tokoh-tokoh yang berperan di dalamnya. Lebih jauh lagi, penganut aliran ini berpendapat, interpretasi subjektif seperti itu justru wajib dilakukan setiap sejarawan. Fakta menunjukan, aliran baru dalam penulisan sejarah  telah dijadikan dasar oleh sebagian orang dalam berbagai macam studi historis terhadapa Sirah Rasullah Saw.
Lahir dan perkembanganya metode ini dalam ranah kajian sirah tidak dapat dilepaskan dari pendudukan Inggris atas Mesir, dalam bidang pemikiran dan intelektualitas, umat islam saat itu selalu berkiblat ke Mesir. Satu-satunya jalan yang dapat ditempuh untuk melakukan infiltrasi terhadap kelilmiahan Islam melakukan inflitrasi terhadap Al-Azhar adalah dengan menyerang titik lemah umat islam, Titik lemah yang dimaksud adalah perasaan kalah yang ada di umat Islam saat mereka menyasikan Barat mengalami kemajuan luar biasa dalam aspek pemikiran, keilmuan , dan peradaban. Kemudian pemikiran penjajah disusupakan ke dalam dada sebagian pemikir Mesir dan menurut orang Barat agama dianggap sebagai sesuatu yang sama sekali berbeda dan terpisahkan dari ilmu pengetahuan, mereka mengampanyekan gerakan yang disebut reformasi agama yaitu dengan menyingjirkan semua perkara adi-alami yang dianggap tidak masuk akal dan tidak dapat diterima oleh ilmu pengetahuan modern.  Hal-hal yang berkaitan dengan kenabian, mukjizat , kejadian luar biasa, wahyu, dan misi kerasulan yang menjadi unsur utama dalam membentuk kepribadian Muhammad Saw justru dilupakan. Buku Hayat Muhammad yang ditulis Husen Haikal adalah contoh yang paling kongkret tentang penulisan Sirah Nabawiyyah dengan cara seperti itu.
Aliran Individualis di masa kini
Cara pandangan knini dipegang oleh generasi baru Islam yang maju. Mereka selalu berpengang pada untu dar kebenaran setelah para pendahulunya dimabukan hal-hal yang bersifat luarbiasa dari pemikiran bebas. Generasi baru ini telah sampau pada keyakinan bahwa yang disebut dengan mukjizat sebenarnya tidak akan mungkin disingkirkan dari kebeneran ilmu pengetahuan. Tidaklah keliru jika orang-orang menghormati akal dan realitas mengajukan syarat untuk diterimanya sebuah berita, baik yang mengandung informasi mukjizat maupun informasi yang bersifat biasa-biasa saja. Syarat yang dimaksud adalah berita itu harus sampai kepada Rasulullah Saw melalui jalur ilmuah yang bersih dan didirikan di atas prinsip oeriwatarabm sanad, dan kaidah Al-Jarh wa ta’dil. Jika itu dipenuhi, kebenaran berita tersebut patut untuk diyakini.
Oleh karena itu kebanyakan ilmuan akan terkejut ketika membca kembali pernyataan Husen dalam mukadimah Hayat Muhammad yang ditulisnya “Saya tidak akan menggunakan apa yang tertulis di dala kitab-kitab Sirah dan hadis karena saya lebih memlih untuk melakukan penelitian ini berdasarkan metode ilmiah”. Artinya, pembahasan Husen Haikal dalam buku itu tidak akan merujuk pada hadis Rasulullah Saw sekalipun yang terdapat dalam kita Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim, demi menghormati ilmu pengetahuan. Dengan kata lain ia menyalahkan metedologi yang supercanggih dan unuk yang diterapkan Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dalam periwayatan hadist. Sementara itu teknik “meraba-raba dalam gelap’ yang kemudian diberi nama “metode pandangan subjektif” justru di anggap sebgai penghormatan terhadap ilmu pengetahuan dan ini termasuk bencana besar bagi ilmu pegetahuan khususnya dalam penulisan Sirah Nabawiyyah.

Tidak ada komentar:

@way2themes