KONSEP TAFSIR ISYARI DALAM MEMAHAMI AL-QURAN - IKPM KAIRO

Senin, 01 April 2019

KONSEP TAFSIR ISYARI DALAM MEMAHAMI AL-QURAN


Oleh : Nurul Hasanah
Kamis, 28 Februari 2018

 Pengertian Tafsir Isyari
 Sebelum masuk dalam pembahasan tafsir isyari maka pemakalah akan menguraikan pengertian tentang tafsir isyari. Tafsir isyari terdiri dari dua kata, yaitu al-tafsîr dan al-isyârah. Pengertian al-tafsîr dari segi etimologi diambil dari kata fasara yang berarti menjelaskan sesuatu atau menerangkannya, dan dapat diartikan menampakkan, membukakan, dan merincikan. Sedang dari segi terminologi yaitu ilmu yang membahas tentang kalam al-Quran dari segi petunjuknya berdasarkan maksud yang dikehendaki oleh Allah sebatas kemampuan manusia.

 Dan pengertian al-isyârah dari segi etimologi yaitu masdar kata asyâra yang berarti memberi isyarat. Isyarat ini digunakan manusia untuk saling memahamkan dan mereka mengetahui maksud dari isyarat tersebut, kemudian mereka juga memahami hubungan antara isyarat tersebut dengan sesuatu yang mengisyaratkannya. Dan terdapat beberapa pengertian isyârah dari segi terminologi sesuai dengan pada ilmu apa digunakan isyârah tersebut, namun makna isyârah yang digunakan dalam tafsir al-Quran menurut Syaikh Badruddin al-Zarkasyi yaitu makna yang diperoleh dari ilham ketika membaca atau menadaburi al-Quran.
Maka definisi tafsir isyari adalah menakwilkan al-Quran bukan dengan makna zahirnya karena ada isyarat tersirat yang diberikan Allah kepada ahli tasawuf, dan makna tersebut memungkingkan untuk digabung dengan makna zahirnya.

 Sejarah Tafsir Isyari
 Sejarah awal munculnya istilah tafsir isyari yaitu melalui lisan tabi’ tabiin di abad kedua hijriah. Pada masa ini terdapat ahli zuhud, warak, dan takwa yang memiliki peran besar dalam memberikan nasehat ataupun berdakwah kepada manusia. Namun belum ada istilah kaum sufi untuk golongan mereka, dan hanya dikenal sebagai orang yang zuhud dan ahli ibadah.
Diperkirakan orang pertama yang mengetahui tentang tafsir isyari adalah al-Fudhail bin ‘Iyadh. Telah diriwayatkan darinya sebagian tafsir isyari, seperti pada surah al-Nisa’ ayat 29:
وَلَا تَقۡتُلُوٓاْ أَنفُسَكُمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِكُمۡ رَحِيمٗا 
Yang ditafsirkan sebagai berikut: “Janganlah kalian lengah terhadap diri sendiri, barang siapa yang lengah terhadap dirinya sendiri maka dia telah membunuhnya”. Makna ini merupakan dari tafsir isyari, karena jika dilihat dari zahir ayatnya adalah larangan untuk menjeremuskan diri kita sendiri kepada perbuatan yang dilarang Allah karena dapat mencelakakan diri kita.
Dan orang yang dikenal memiliki suluk yang kuat pada masa itu dalam tafsir isyari adalah Imam Sufyan bin Uyainah. Telah diriwayatkan banyak tafsir isyari darinya, bahkan dikatakan bahwa isyarat yang dikemukakannya adalah paling jelas diantara yang lainnya, diantara tafsirnya yaitu pada surah al-A’raf ayat 146: 
سَأَصۡرِفُ عَنۡ ءَايَٰتِيَ ٱلَّذِينَ يَتَكَبَّرُونَ فِي ٱلۡأَرۡضِ بِغَيۡرِ ٱلۡحَقِّ
Ayat tersebut ditafsirkan oleh Imam Sufyan bin Uyainah sebagai berikut: “Aku (Allah) telah mencabut dari mereka (orang yang sombong) pemahaman tentang ayat-ayat al-Quran”. Tetapi makna ayat tersebut secara zahir adalah: “Orang yang hatinya tertutup tidak dapat merenungi ayat-ayat Allah baik ayat al-Quran ataupun ayat kauniyah”. Seperti inilah para mufasir menerangkan isyarat yang terdapat pada suatu ayat. Disisi lain ada sebagian riwayat pada masa ini yang dipandang lemah dan batil, seperti riwayat yang dinukil dari Imam Ja’far al-Shadiq, karena  telah banyak kebohongan dilakukan oleh orang zindik dan bidah yang dinisbahkan kepada beliau sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Taimiyah.

 Di akhir abad kedua dan awal abad ketiga hijriah mulailah muncul istilah tasawuf yang dihubungan dengan orang-orang yang zuhud dan suka mengajarkan kebaikan kepada manusia sebagai jalan ibadahnya. Pada masa ini penafsiran yang tersebar melalui lisan mereka hanyalah sedikit sampai pada pertengahan abad ketiga, dan hanya terdapat beberapa penafsiran yang dinisbahkan kepada ulama pada masa ini seperti: Ibnu Abi al-Hawari, al-Haris al-Muhasibi, Abu Turab al-Tukhsyabi, Dzunun al-Masri, dan yang lainnya. Pada masa ini juga tidak terdapat pemahaman khusus menurut sufi yang berbeda satu sama lain, serta isyarat yang didapatkan dari al-Quran belum dikatakan sebagai mazhab terpisah dalam penafsiran.

 Pada Abad kedua dan ketiga hijriah inilah mulai bertambahnya mufasir yang mengunakan tafsir isyari kemudian diriwayatkan oleh yang lain, sehingga istilah tasawuf menjadi sebuah adat yang beredar diantara mereka. Ada yang meriwayatkan dengan isyarat yang jelas dan ada yang dengan riwayat tersembunyi, sebagaimana sebagian mereka semakin menjauhi isyarat tersebut dan mendalami takwil. Diantara mufasir yang terkenal pada masa ini adalah Sahal bin Abdullah al-Tustari, al-Junaid al-Baghdadi, Abu ‘Utsman al-Hairi, Abu ‘Abbas bin al-‘Atha’, Abu Bakar al-Syabili, dan yang lainnya. Munculnya isyarat dalam al-Quran dan tasawuf pada masa ini masih secara umum, dan sebagian orang-orangnya dikenal sebagai ahli isyarat seperti al-Syabili. Masa ini juga menjadi saksi awal munculnya penyusunan dalam tafsir isyari meskipun belum mencakup al-Quran secara keseluruhan namun telah mendalami setiap surah secara global, yaitu dengan adanya al-Tafsîr al-Tustarî yang disusun dengan metode Imam al-Tustari.

 Memasuki abad keempat hijriah tafsir ini hampir mencakup seluruh ayat al-Quran, kemudian mendorong seorang ulama untuk mengumpulkannya mulai dari awal munculnya tafsir ini hingga saat itu, yaitu dilakukan oleh al-Imam Abu Abdurrahman al-Salmi pada kitabnya Haqâiqu al-Tafsîr. Dikatakan bahwa hal terpenting dalam kitab ini yaitu pengumpulan dan mengurutkan rapi sesuai babnya yang dilalui dengan dua tahap: tahap pertama adalah mengumpulkan semua perkataan ataupun riwayat yang berhubungan dengan tafsir isyari, kemudian tahap kedua adalah tidak banyak menyebutkan tentang tafsir zahir. Dan hal-hal seperti ini belum ditemukan pada kitab-kitab tafsir isyari yang telah disusun sebelumnya.

 Kemudian tafsir ini melalui periode yang berbeda dengan periode sebelumnya, yaitu periode munculnya tafsir isyari secara lengkap, pada masa ini tidak melalui tahap pengumpulan saja tetapi juga memahami secara khusus tafsir isyari terdahulu. Seperti inilah yang dilakukan oleh  al-Imam Abu al-Qasim al-Qusyairi dalam kitabnya Lathâifu al-Isyârât. Tafsir ini telah melalui langkah baru dalam al-Quran, yaitu menafsirkan al-Quran secara keseluruhan yang bersandarkan kepada pemahaman dan ilham khusus dari Allah, maka Imam al-Qusyairi menjadi panutan dalam tafsir ini yang diikuti oleh ulama-ulama setelahnya. Salah satu ulama yang mengikuti beliau adalah Imam Ghazali, seperti dalam tafsirnya dalam surah al-Jin ayat 26-27:
عَٰلِمُٱلۡغَيۡبِ فَلَا يُظۡهِرُ عَلَىٰ غَيۡبِهِۦٓ أَحَدًا ٢٦إِلَّا مَنِ ٱرۡتَضَىٰ مِن رَّسُولٖ
Imam Ghazali berkata: “Ada lafaz tertutup pada ayat tersebut yang menunjukkan pada syariat yang benar sesuai dengan dalil, dan ayat tersebut bermakna: kecuali kepada Rasul yang diridhai-Nya dan orang-orang yang mengikuti Rasul dengan ikhlas dan istikamah, dan mengikuti apa yang Rasulullah SAW lakukan, seperti sabda Rasulullah SAW: “Berhati-hatilah dengan firasat orang yang beriman, karena dia melihat dengan cahaya Allah”, maka apa yang tidak mereka ketahui akan dibukakan oleh Allah.

 Tafsir ini juga melalui periode lain, yaitu periode tercampurnya antara tasawuf dan filsafat, para sufi mengambil dari pandangan filsafat baru dan mulai muncul istilah-istilah yang aneh dalam tafsir ini. Pada masa ini perkembangan tafsir isyari telah berubah bersamaan digunakannya rumus oleh kelompok al-masriyah di Andalus, yaitu kelompok orang yang memfokuskan pembahasannya pada mazhab sufi dengan dasar menakwilkan rumus pada al-Quran. Hingga banyak yang mulai mendalami cara penafsiran sufi dengan filsafat tersebut dan menafsirkan ayat menggunakan cara tersebut. Pada awalnya dimulai oleh Ibnu Qasi, Ibnu Sab’in, Ibnu ‘Arabi, dan yang lainnya. Mereka dikenal dengan menggunakan rumus-rumus yang tidak dapat dipahami kecuali oleh orang yang mendalami istilah-istilahnya. Pandangan mereka telah dipengaruhi oleh pemikiran filsafat yang aneh, kemudian mencoba untuk mengalihkan dan menyesuaikan pandangan tersebut dengan Islam, serta disandarkan kepada dalil-dalil akal dan mantik. Dasar carapenafsiran ini adalah adanya ‘âlam mitsâlî yang menyerupai alam nyata. Segala sesuatu yang ada di alam ini merupakan bentuk contoh pada ruh yang disebut ‘uluwiyat. Maka dengan berlandaskan hal ini mereka menafsirkan al-Quran dan memaksakan setiap lafaz untuk sesuai dengan filsafat mereka.

 Para ulama pada masa itu menentang kelompok yang menggunakan cara tersebut dalam menafsirkan al-Quran, kemudian mencegah tersebarnya tafsir tersebut. Diantara yang membentengi tersebarnya tafsir ini adalah dengan menyebarkan cara penafsiran sebelumnya yang lurus, yaitu cara yang digunakan oleh Imam al-Qusyairi dan para ulama yang mengikutinya. Serta munculnya madrasah syâdziliyah yang mengajarkan tentang suluk sebagai jalan yang dekat dengan isyarat. Dan menyebarkan cara penafsiran dari Abu Hasan al-Syadzili dan Ibnu ‘Athaillah al-Sakandari meskipun belum mencakup keseluruhan al-Quran, hingga banyak para mufasir yang mulai menggunakan cara ini kemudian memasukkan ke dalam penafsirannya. Periode dalam tafsir ini kembali membaik sampai memasuki masa al-Imam al-Mawardi, yang diketahui bahwa beliau adalah ulama yang pertama kali mencampurkan antara al-tafsîr bi al-ma’tsûrdan al-tafsîr bi al-ra’yi, dan beliau telah banyak meringkas dari perkataan mufasir sebelumnya dan memasukkan sebagian penafsiran ahli isyarat.

 Memasuki abad ketujuh mulai bermunculan penyusunan kitab-kitab tafsir yang didalamnya terdapat tafsir isyari, seperti al-Imam Fakhruddin al-Razi dalam kitab tafsirnya yaitu mafâtîhu al-ghaib, didalam kitabnya terdapat sebagian penafsiran dengan isyarat dan pendalaman jiwa meskipun tidak banyak, dan hanya diambil yang sesuai dengan pemahaman bahasa dan dalil ushul. contoh tafsir beliau dalam surah al-Baqarah ayat 22:
فَلَا تَجۡعَلُواْ لِلَّهِ أَندَادٗا وَأَنتُمۡ تَعۡلَمُونَ 
yang ditafsirkan: “Sesungguhnya segala sesuatu yang menjadikan hatimu sibuk kepada selain Allah maka ia telah menjadi sekutu Allah dalam hatimu”. Begitu juga yang diterapkan oleh al-Imam al-Qurthubi dalam kitabnya al-jâmi’ liahkâmi al-Quran, dan al-Imam al-Baidhawi dalam tafsirnya anwâru al-tanzîl fî asrâri al-ta’wîl. Hingga sampai pada masa Abu Hayan al-Andalusi yang memperluas pembahasan isyarat ini dalam kitab tafsirnya yaitu al-bahru al-muhîth. Seperti tafsirnya pada surah al-Baqarah ayat 54:
فَٱقۡتُلُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ
 yang ditafsirkan dengan: “Tundukkanlah hawa nafsumu”.

 Dan di abad kedelapan tafsir isyari semakin berkembang, yaitu memasuki periode penggabungan antara al-tafsîr bi al-ma’tsûr, al-tafsîr bi al-ra’yi dan al-tafsîr bi al-isyâri, dimana penafsiran mencakup dari segi bahasa, pendapat yang diterima, serta mencakup makna dari segi isyarat yang melalui lisan ahli tasawuf. Pada periode ini diawali dengan munculnya al-tafsîr al-naisâbûrî, kemudian diikuti oleh Ismail Haqi al-Turki dan Syaikh Ibnu ‘Ajibah al-Maliki, kemudian ditutup oleh al-Imam al-Alusi. Dan cara penafsiran seperti inilah yang dijaga sampai abad-abad setelahnya. Jika ditinjau melalui perkembangannya, maka ulama mengumpulkan beberapa kitab tafsir isyari yang paling penting, diantaranya adalah: tafsîr al-naisâbûrî, tafsîr al-âlûsî, tafsîr al-tustarî, dan lathâifu al-isyârat.

 Sebab Munculnya Tafsir Isyari :
 Pertama, awal munculnya tafsir isyari dimulai dari orang-orang yang zuhud dan para pendakwah, mereka berdakwah untuk kembali kepada Allah hingga menjadi kebiasan dan kesibukan mereka, mereka memulai dengan saling mengingatkan untuk memperbaiki keadaan dan daerahnya yang mana pendekatan ini digunakan sejak zaman kenabian untuk memulai dakwah.
Mereka menumbuhkan semangat umatnya dengan menggunakan dalil-dalil dari al-Quran dan sunah sebagai faktor pendorong dan ancaman. Mereka juga menafsirkan al-Quran untuk menjelaskan pelajaran ataupun nasehat. Meskipun diawal penafsiran tersebut masih sedikit, namun hal itu merupakan suatu yang akan mengasah tekad, mempengaruhi perasaan serta menguatkan semangat.

 Kedua, al-Quran merupakan pengaruh yang besar untuk mendukung kepercayaan bahwa al-Quran datang sebagai nasehat dan pelajaran. Maka para pembacanya bersegera dalam memahaminya untuk mengambil hikmah dan nasehat dari al-Quran, sebagaimana dalam al-Quran disebutkan pada surah Muhammad ayat 24:
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ ٱلۡقُرۡءَانَ أَمۡ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقۡفَالُهَآ
Al-Quran memusatkan peringatan kepada seluruh muslim agar mengambil pelajaran dan peringatan pada akhir setiap cerita yang terjadi pada umat sebelum mereka. Dengan demikian para sufi menyibukkan diri pada seluruh ayat-ayat al-Quran untuk mengambil manfaat pada setiap pelajaran dalam al-Quran. Mereka mengambil isyarat yang terdapat pada setiap ayat untuk mengetahui apa maksud yang Allah inginkan pada ayat tersebut, sehingga muncul dalam istilah para sufi bahwa tidak ada nasehat ataupun pelajaran yang terhapus dalam al-Quran, dan jika terdapat hukum yang dihapus maka masih dapat mengambil nasehat dan hikmah pada setiap rahasia di dalamnya.

 Seperti nasehat ataupun pelajaran yang mereka dapatkan pada ayat kisah dan tanpa melupakan konteks sejarah pada kisah tersebut. Kemudian pada ayat yang ditujukan atas orang kafir juga mencakup keadaan orang mukmin, yaitu sebagai isyarat bagi orang mukmin dan sebagai peringatan bagi orang kafir. Keadaan ini menjadikan mereka semakin banyak membaca al-Quran untuk menemukan isyarat pada setiap ayat, seperti dalam sebuah ibarat dikatakan bahwa al-Quran menaungi hati orang-orang yang merasa bahwa al-Quran tercurah pada hati mereka dan mereka membacanya bukan dengan hayalan ataupun hanya sekedar membaca tanpa memahami. Hingga akhirnya didapatkan tafsir basmalah pada awal surah, yang mana tafsir tersebut berbeda satu sama lain.

 Ketiga, keadaan para sufi dan segala hal yang diperhatikan dasar-dasarnya merupakan hasil dari perenungan diri serta mendalami segala perbuatan yang bersumber dari dalam jiwa. Mereka juga sangat memperhatikan bagaimana proses meningkatkan hati serta berfokus pada penyucian jiwa hingga menjadi kesibukan mereka. Kemudian mereka juga mendalami segala sesuatu dan setiap gerakan. Dengan demikian mereka menyesuaikan segala sesuatu dengan diri mereka kemudian mengambil darinya pelajaran untuk mempersiapkan diri yang sempurna dan bersih, seperti ketika mengambil pelajaran dari al-Quran. Sebab-sebab inilah yang menjadi unsur pokok munculnya tafsir isyari dan pertumbuhannya, kemudian dijadikan metode tafsir isyari.

 Keempat, sebagian orang menisbahkan kepada kelompok orang yang terpengaruhi oleh pemikiran aneh yang masuk pada Umat Islam, dan Umat Islam menggunakan dalam penafsiran mereka. Awal gagasan ini muncul ketika mereka mengatakan bahwa takwil diambil dari mazhab Filo, yaitu seorang Yahudi yang menyusun takwil Taurat, karena ia mengetahui bahwa banyak hal yang tertulis dalam Taurat adalah rumusan kepada sesuatu yang tidak tampak, bahkan takwil tersebut sudah ada lama sejak pendahulu Yahudi yang berada di Kota Alexandria sebelum Filo, seperti tafsir mereka tentang Nabi Adam dan Surga. Dan sebagian lain menisbahkan kepada pemikiran Plato yang mempengaruhi pemikiran Filo, kemudian tasawuf Islam mengambil asas pada pemikiran mereka ketika menafsirkan nas-nas al-Quran.

 Tetapi semua argumen tersebut tidak dapat diterima dengan sanggahan bahwa takwil yang dilakukan Kaum Yahudi terhadap Taurat bertentangan dengan makna zahirnya. Dan argumen yang dikemukakan oleh orientalis bahwa ahli tasawuf Islam mengikuti Plato adalah hal yang bertentangan dengan argumen lain yang mereka kemukakan sendiri, yaitu “Tidak cukup menjadi alasan jika muncul suatu pemikiran suatu filsafat, kemudian muncul pemikiran lain yang sama ataupun berbeda, bahwa pemikiran yang baru tersebut karena dipengaruhi pemikiran pertama”, bahkan pembelajaran kaum orientalis tentang hal ini terdapat berbedaan antara satu dengan yang lain.

 Hubungan Tasawuf dengan Tafsir
 Sebelum memasuki pembahasan tentang hubungan tafsir dan tasawuf maka pemakalah akan memaparkan secara ringkas pengertian tentang tasawuf. Pengertian tasawuf sangat beragam sesuai dengan tema pembahasannya, tetapi Ilmu Tasawuf sangat dikenal dengan ilmu batin, ilmu akhlak, ilmu suluk, ilmu akhirat dan lain sebagainya. Dan pengertian Ilmu Tasawuf menurut Syaikh Zakaria al-Anshari yaitu ilmu untuk mengetahui cara menyucikan jiwa, membersihkan akhlak, membangun lahir dan batin serta untuk memperoleh kebahagiaan yang abadi.

 Sedangkan menurut Dr. Judah Muhammad Abu Yazid al-Mahdi, tasawuf adalah mencapai kedudukan ihsan yang menjadi ruh bagi Islam, yaitu dengan penyucian diri dan meningkatkan pemahaman dalam Islam. Adapun orang-orang yang di dalam hatinya terdapat penyakit membantah tentang kebenaran tasawuf, dan menentang apa yang datang dari al-Quran dan sunah.

 Pembagian tasawuf ada dua, yang pertama adalah al-tasawuf al-‘amalî, yaitu tasawuf yang berlandaskan dengan zuhud dan perjuangan dalam ketaatan kepada Allah. Al-tasawuf al-‘amalî mencakup bagian pelatihan jiwa, berjihad dengan menjauhkan diri dari akhlak yang buruk serta membawa kepada akhlak yang baik dengan zuhud, sabar, ikhlas dan lain sebagainya. Hal terpenting yang menjadi karakteristik al-tasawuf al-‘amalî yaitu meninggalkan dunia untuk beribadah, seperti yang banyak dilakukan oleh para sahabat dan tabiin, diantaranya yaitu Salman al-Farisi, Abu Dzar al-Ghifari, Uwais al-Qarni, Hasan al-Basri, dan yang lainnya. Zuhud yang mereka lakukan yaitu meninggalkan yang tidak bermanfaat di akhirat dengan tetap mengikuti pada al-Quran dan sunah. Seperti dalam surah al-Qasas ayat 77:
وَٱبۡتَغِ فِيمَآ ءَاتَىٰكَ ٱللَّهُ ٱلدَّارَ ٱلۡأٓخِرَةَۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ ٱلدُّنۡيَاۖ وَأَحۡسِن كَمَآ أَحۡسَنَ ٱللَّهُ إِلَيۡكَۖ وَلَا تَبۡغِ ٱلۡفَسَادَ فِي ٱلۡأَرۡضِۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلۡمُفۡسِدِينَ

 Hal penting yang mereka fokuskan adalah beristikamah pada jalan menuju hidayah dari Allah dengan asas memperbaiki akhlak yang menjadi permata dakwah mereka. Mereka melihat bahwa memperbaiki batin dan membersihkan hati adalah hal terpenting untuk memperbaiki keadaan manusia. Seperti dalam surah al-Syasm ayat sembilan:
قَدۡ أَفۡلَحَ مَن زَكَّىٰهَا
Pembahasan ahli sufi tersebut mencakup masalah hati, dapat dikatakan bahwa Ilmu Tasawuf adalah Ilmu Psikologi Islam karena yang dibahas adalah pelatihan diri dan perbaikan akhlak. Dan tasawuf tidak terlepas dari syariat karena pada hakikatnya untuk menumbuhkan cinta pada Allah dan Rasul-Nya. Bentuk tasawuf yang seperti inilah yang diterima karena mengajak kepada Allah dan membersihkan jiwa dari keyakinan yang batil.
Pembagian tasawuf yang kedua yaitu al-tasawuf al-nadzarî, yaitu tasawuf yang berlandaskan dengan pembahasan dan pembelajaran. Al-tasawuf al-nadzarî dicetuskan oleh orang-orang yang menggunakan perasaan sufi dengan pandangan akal dan menggunakan istilah filsafat sebagai sandarannya. Secara singkatnya mereka adalah kaum sufi yang melihat al-Quran dari sisi pandangan mereka dan sesuai dengan yang mereka pelajari. Bukan perkara yang mudah untuk menemukan istilah sufi secara langsung dalam al-Quran yang sesuai dengan suatu pandangan dan ajaran, karena al-Quran diturunkan sebagai hidayah kepada manusia bukan hanya untuk menetapkan ataupun mendukung suatu pandangan. Tetapi inilah yang mereka lakukan ketika memahami al-Quran, kemudian menjelaskan makna al-Quran yang tidak sesuai dengan makna zahirnya serta keluar dari koridor syariat dan bahasa.
Seperti dalam penafsiran surah Maryam ayat 57 mengenai Nabi Idris as:
وَرَفَعۡنَٰهُ مَكَانًا عَلِيًّا 
yang diartikan dengan: “Tempat tertinggi pada alam ini adalah alam galaksi, yaitu orbit matahari yang menjadi tempat ruh Nabi Idris as. Sedangkan kedudukan tertinggi dimiliki oleh kaum Nabi Muhammad SAW seperti firman Allah dalam surah Muhammad ayat 35:
وَأَنتُمُ ٱلۡأَعۡلَوۡنَ وَٱللَّهُ مَعَكُمۡ 
maksud ketinggian pada surah Maryam ayat 57 adalah ketinggian tempat bukan kedudukan. Seperti inilah tasawuf nadzari yang membawa lafaz bukan kepada makna zahirnya. Dan dari penafsiran ini diketahui bahwa mereka menggunakan filsafat yunani tentang galaksi dan perbintangan untuk menafsirkan al-Quran.
Dan bukan hal mudah juga untuk mengetahui perkara gaib dan yang berhubungan dengan ruh seperti malaikat, jin dan jiwa manusia karena itu disebut sebagai ilmu mukâsyafah yang hanya didapat setelah perenungan diri. Perlu diketahui bahwa para sufi meninggalkan pembahasan tentang ruh dan perkara-perkara gaib serta mereka tidak mengibaratkannya. Tetapi kelompok orang-orang yang mencampurkan antara tasawuf dan filsafat telah mencampur pandangannya dengan pandangan batin, mereka juga mempelajarinya dari Filsafat Hindi dan Plato kemudian memasukkan filsafat tersebut ke dalam tasawuf.

 Hubungan antara tasawuf dengan tafsir dibagi menjadi dua:

 Pertama, pembahasan dalam tafsir sangatlah banyak, salah satu yang menjadi pembahasan mufasir yaitu tasawuf, dalam pembahasan ini dimasukkan pembahasan tentang akhlak, pembersihan diri, zuhud dari dunia dan penerangan hati. Semua hal ini ada didalam al-Quran. Kemudian para mufasir al-Quran harus mengetahui tentang bagian-bagian rahasia dibalik ikhlas, tawakal, ilham dan lain sebagainya agar tafsir ini menjadi lebih dekat kepada kebenaran bagi manusia dari segi zahir dan batinnya.

 Kedua, seorang mufasir haruslah dari golongan orang-orang yang bertakwa, wara’, jernih jiwanya dan bersih hatinya, karena semua sifat tersebut merupakan jalan untuk memahami al-Quran. Begitu juga dengan seorang sufi, semua sifat tersebut menjadi asas terbangunnya tasawuf. Maka banyak dari ulama yang mensyaratkan zuhud dan takwa untuk menjadi seorang mufasir. Adanya syarat tersebut kerena untuk menjaga al-Quran dari penambahan ataupun pengurangan, serta menjaga dari penafsiran yang bukan dari ahlinya. Bukan berarti al-Quran tidak boleh ditafsirkan kecuali oleh orang yang telah sampai pada makrifat dalam tasawuf, tetapi yang ditekankan adalah ikhlas, takwa, dan zuhud, dan untuk mencapai ilmu serta makrifat adalah suatu tambahan jika ingin memahami bagian khusus dalam takwil yaitu yang berhubungan dengan al-ayât al-mutasyâbihât.

 Karakteristik Tafsir Isyari
 Pembahasan dalam subbab ini mengenai pentingnya karakteristik yang ada dalam tafsir isyari, karena untuk menjaga al-Quran dari penafsiran yang diikuti oleh hawa nafsu. Dan karakteristik ini hanya digunakan dalam tafsir isyari, meskipun dalam tafsir isyari juga menggunakan syarat-syarat umum dalam tafsir. Diantara karakteristik tafsir Isyari yang perlu diketahui adalah:

 Pertama, adanya keselarasan antara makna isyarat dan makna zahir yang diambil dari segi bahasa. Dalam menafsirkan al-Quran harus bersandar pada makna yang diletakkan oleh pakar bahasa. Maka tidak mungkin dalam keadaan apapun untuk menerima makna yang bertentangan dengan lafaznya. Karena al-Quran diturunkan dengan Bahasa Arab dan lisan mereka, seperti dalam surah Yusuf ayat dua:
إِنَّآ أَنزَلۡنَٰهُ قُرۡءَٰنًا عَرَبِيّٗا لَّعَلَّكُمۡ تَعۡقِلُونَ 
dan juga dalam surah al-Syuara’ ayat 195:

 بِلِسَانٍ عَرَبِيّٖ مُّبِينٖ

Jika ingin memahami al-Quran maka tidak ada jalan lain tanpa memahami lafaz al-Quran yang menggunakan Bahasa Arab, karena lafaz sebagai penghubung untuk mencapai makna. Dan tidak mungkin al-Quran sebagai hidayah untuk manusia menggunakan bahasa yang tidak dapat dipahami ataupun mencakup makna yang tidak ditunjukkan oleh lafaznya. Dengan ini ulama berusaha untuk mempelajari Bahasa Arab lebih banyak karena tidak bisa hanya bersandar dengan akal untuk memahami makna bahasa tersebut. Maka hubungan antara lafaz dan makna merupakan hal yang penting untuk menjaga karamah al-Quran.

 Yang dimaksud dengan makna zahir yaitu segala sesuatu yang berhubungan dengan makna dari segi bahasa, dan tidak dapat dipahami kecuali dengan menggunakan kaidah bahasa, maka makna zahir diperoleh dengan pemahaman dari segi bahasa. Makna zahir juga dapat dimaksudkan dengan segala sesuatu yang terbesit dalam pikiran pertama kali. Sedangkan makna batin yaitu isyarat yang diperoleh oleh ahli suluk yang mendalami ilmu serta dibukakan pandangan terdalamnya oleh Allah, kemudian makna batin tersebut harus sesuai dengan makna zahir serta adanya bukti untuk kebenaran makna tersebut agar dapat diterima.

 Seperti yang kita ketahui bahwa makna isyari berbeda dengan makna zahir, dan tidak bertentangan dengan makna zahirnya, tetapi keduanya saling melengkapi satu sama lain. Jika terdapat sesuatu yang tidak sesuai dengan makna zahir maka makna tersebut tidak diterima selamanya, dan tidak diterima juga jika ada yang mengakui bahwa makna tersebut adalah maksud dari lafaz, tetapi makna tersebut adalah isyarat dari lafaz. Maksud dari kesesuaian antara makna zahir dan isyarat yaitu menerapkan makna isyarat bersamaan dengan makna zahir yang tersurat pada lafaz, dan tidak mengakui bahwa makna isyarat tersebut adalah satu-satunya makna, serta tidak menghilangkan atau mengurangi asumsi penggunaan makna zahir.

 Kedua, makna isyarat tersebut tidak boleh bertentangan dengan nas-nas syariat. Tidak bisa menjamin seorang mufasir terjaga dari kesalahan jika memahami al-Quran hanya dari segi bahasa. Karena dalam tafsir isyari para ulama telah sepakat bahwa ilham yang diperoleh harus sesuai dengan syariat dan dalil-dalil yang ada. Jika seluruh makna yang diperoleh bertentangan dengan hukum syariat maka makna tersebut tidak dapat diterima.

 Ketiga, makna isyarat yang didapatkan tidak membawa kepada makna yang tidak terkandung dalam nas al-Quran. Karena al-Quran dilihat dari lafaznya mencakup banyak makna dan ibarat dari hikmah serta rahasianya. Maka wajib untuk mengambil istinbat dengan sebaik-baiknya istinbat yang sesuai dengan syarat-syarat yang diletakkan untuk beristinbat. Dan sebaik-baiknya istinbat adalah yang dapat dipahami oleh manusia. Yang menjadi sebab adanya makna yang tidak terkandung dalam nas yaitu ketika mufasir al-Quran menginginkan makna dan istinbat yang benar, tetapi mereka tidak mempunyai makna untuk istilah pada zaman sekarang, kemudian mereka mengambil dalil dari al-Quran meskipun itu tidak sesuai ataupun tidak berhubungan, hal inilah yang menyebabkan mereka membawa lafaz kepada makna yang tidak terkandung dalam nas.

 Seperti yang telah diringkaskan oleh Imam Gazhali bahwa membawa lafaz kepada yang bukan maknanya dikarenakan beberapa sebab, yaitu:

 Terkadang makna tersebut digunakan bersamaan dengan suatu ilmu kemudian membutuhkan suatu ayat al-Quran untuk mendukung argumen yang dimiliki tersebut, meskipun pada dasarnya telah diketahui bahwa argumen tersebut bukan maksud dari ayat yang diambilnya.

 Terkadang makna tersebut digunakan bersamaan dengan tanpa pemahaman dari makna suatu ayat, kemudian menjadikan ayat tersebut agar sesuai tujuannya dengan mengikuti  pendapat dan hawa nafsunya.

 Terkadang seseorang telah memiliki maksud yang benar, kemudian mengambil ayat al-Quran sebagai dalil dan mengetahui bahwa itulah yang diinginkan. Seperti yang dilakukan oleh al-Qasi ketika merenungi tentang hati, dia berkata bahwa maksud dari surah Thaha ayat 24:
ٱذۡهَبۡ إِلَىٰ فِرۡعَوۡنَ إِنَّهُۥ طَغَىٰ 
dengan menunjuk kepada hatinya dan mengakui bahwa itulah yang dimaksud dengan Fir’aun.
Keempat, tidak menggunakan makna aneh yang tidak dipahami oleh orang lain. Dalam firman Allah surah al-Baqarah ayat 99 menjelaskan bahwa al-Quran sangat jelas maksud dan tujuannya,

وَلَقَدۡ أَنزَلۡنَآ إِلَيۡكَ ءَايَٰتِۢ بَيِّنَٰتٖۖ وَمَا يَكۡفُرُ بِهَآ إِلَّا ٱلۡفَٰسِقُونَ
Dan dalam surah al-Furqan ayat 33 juga disebutkan:
وَلَا يَأۡتُونَكَ بِمَثَلٍ إِلَّا جِئۡنَٰكَ بِٱلۡحَقِّ وَأَحۡسَنَ تَفۡسِيرًا
Maksud dari ayat tersebut yaitu bahwa tafsir al-Quran merupakan penjelas bagi manusia dan bukan sebagai penghalang dari penjelasan tersebut. Dan di dalam al-Quran pun tidak terdapat rumus yang hanya dipahami oleh al-imâm al-ma’shûm seperti yang dikatakan oleh ahli batin, sehingga mereka berpendapat bahwa orang awam hanya dapat memahami zahirnya saja dan kebenarannya hanya dapat dipahami oleh orang-orang khusus. Meskipun jika terdapat al-ayât al-musytabihât dalam al-Quran maka para mufasir tidak banyak meyakini bahwa itulah maksud sebenarnya dari ayat tersebut, tetapi kemudian mengembalikan kepada Allah, karena tugas mufasir adalah untuk menjelaskan makna al-Quran dan bukan untuk menutupi kebenaran.
Kelima, adanya bukti lain yang mendukung kebenaran makna tersebut, karena jika makna tersebut tidak memiliki bukti kebenaran atau memiliki bukti tetapi bertentangan, maka makna tersebut tidak bisa diterima.

 Pandangan Ulama tentang Tafsir Isyari
 Ada dua golongan ulama yang berpendapat tentang tafsir isyari, golongan pertama adalah yang memperbolehkan tafsir isyari dan golongan kedua yang tidak memperbolehkannya, kedua golongan ini mempunyai pandangan dan dalil masing-masing yang akan pemakalah bahas pada subbab ini.

 Golongan pertama berpendapat bahwa diperbolehkan mengambil isyarat dari al-Quran yang bukan dari pemahaman secara bahasa, yaitu yang tidak ketahui oleh semua orang kecuali orang yang telah dibukakan oleh Allah hatinya dan pandangannya yang dalam.Mereka mencoba memahami lebih dalam setiap ayat dan mengeluarkan makna yang tersembunyi dengan keadaan jernih batinnya dan suci hatinya. Mereka tidak mengingkari makna zahir dalam keadaan apapun, tetapi mereka menambahkan pengamalan dari makna yang zahir dengan mengamalkan makna batinnya. Isyarat yang didapatkan dari ayat tersebut juga tidak mengingkari hukum-hukum syariat, tidak keluar dari koridor kaidah bahasa arab dan syarat-syarat mufasir, serta tidak mengurangi ataupun menghilangkan asumsi makna zahirnya, tetapi makna tersebut harus sesuai dengan makna zahirnya dan memungkinkan untuk digabungkan makna keduanya. Dan dengan syarat seperti inilah tafsir isyari yang disetujui oleh kebanyakan ulama dengan dikuatkan dalil-dalil berikut:

 Pertama, dalam al-Quran terdapat ayat-ayat yang mengkritik orang yang tidak mau menadaburi dan memahami al-Quran.seperti dalam surah al-Nisa ayat 82:

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ ٱلۡقُرۡءَانَۚ وَلَوۡ كَانَ مِنۡ عِندِ غَيۡرِ ٱللَّهِ لَوَجَدُواْ فِيهِ ٱخۡتِلَٰفٗا كَثِيرٗا
Maksud dari ayat ini adalah bahwa dalam al-Quran terdapat makna tersirat dan tersurat, maka jika manusia mau menadaburi al-Quran maka tidak aka nada pertentangan dalam al-Quran. Dan tidak mungkin dapat menadaburi makna al-Quran tanpa memahami maknanya.

 Kedua, apa yang ditetapkan dalam al-Quran mencakup pada makna-makna dan rahasia yang dalam, makna-makna tersebut tidak bisa dipahami dari makna zahirnya tetapi dengan isyarat yang didapatkan dengan jalan makrifat dan pengetahuan dalam dari Allah kepada hamba-Nya. Seperti pada ayat 282 surah al-Baqarah menunjukkan bahwa untuk bisa memahami dan mengeluarkan makna dari lafaz al-Quran dapat dilalui dengan jalan takwa untuk mendekatkan diri kepada Allah:
وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۖ وَيُعَلِّمُكُمُ ٱللَّهُۗ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٞ
 Ketiga, adanya âtsâr dari sahabat yang menceritakan bahwa dalam al-Quran terdapat makna zahir dan batin. Âtsâr ini menunjukkan bahwa tafsir isyari bukanlah hal baru, tetapi sudah ada sejak turunnya al-Quran kepada Rasulullah SAW.

 Âtsâr yang pertama diriwayatkan oleh Abu Darda’, beliau berkata: “Tidak dapat dikatakan seseorang itu sangat fakih sampai dia dapat melihat al-Quran dari berbagai sisi”. Sebagian menafsirkan bahwa maksud dari âtsâr tersebut adalah melihat setiap lafaz dengan makna yang banyak tetapi makna tersebut tidak bertentangan dan tidak membatasi setiap lafaz dengan satu makna, atau dengan maksud lain yaitu menggunakan isyarat batin tanpa membatasi dengan makna zahirnya saja.

 Âtsâr kedua diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud bahwa beliau berkata: “Barang siapa yang ingin mendapatakan ilmu yang awal dan akhir maka dalamilah al-Quran”, yaitu menggali dan memikirkan makna dan tafsirnya. Sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ghazali: “Tidak sampai (maksud ayat) jika hanya dengan makna zahirnya saja”.

 Âtsâr ketiga yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Abbas ra. Beliau berkata: “Umar bin Khattab pernah mengajakku dalam sebuah majelis bersama para sahabat Nabi SAW, sehingga sebagian dari mereka bertanya: “Mengapa engkau masukkan anak kecil itu sedangkan kami juga memiliki anak kecil yang sama seperti dia?” kemudian Umar menjawab: “Sesungguhnya dia termasuk orang yang kalian ketahui”.
Suatu hari Umar mengundang mereka dan mengajakku bersama mereka dengan tujuan memperlihatkanku (kadar ilmu) kepada mereka. Umar berkata: “Apa pendapat kalian terhadap surah al-Nashr ayat pertama:
 إِذَا جَآءَ نَصۡرُ ٱللَّهِ وَٱلۡفَتۡحُ?” 
sebagian dari mereka menjawab: “Kita diperintahkan untuk bertasbih dan beristighfar jika datang pertolongan Allah pada kita”. Sebagian yang lain diam dan tanpa berkata apapun, kemudian Umar bertanya kepadaku: “Apakah seperti ini juga pendapatamu wahai Ibnu Abbas?” aku jawab: “Tidak” Umar berkata: “Maka apa pendapatmu?” aku menjawab: “Surah tersebut merupakan tanda dekatnya ajal Rasulullah SAW yang diberitahukan Allah kepadanya”. Kemudian Umar berkata: “Aku hanya mengetahui seperti yang kamu ketahui”.

 Keempat, pada riwayat dari para sahabat dan tabiin tentang pembahasan dalam fawâtihu al-suwar atau huruf-huruf pembuka surat. Sebagian mangatakan bahwa huruf-huruf tersebut mengisyaratkan tentang nama dan sifat. Seperti yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas tentang alif lam mim, bahwa alif dari Allah, lam dari Jibril dan mim dari Muhammad. Begitu juga periwayatan yang lain dengan maksud lainnya. Dan hasil dari ijtihad sahabat ini bukanlah yang dimaksudkan sebagai makna ayat sebenarnya, karena dalam al-ayât al-mutasyâbihât mereka hanya berijtihad sesuai kemampuannya dan untuk kebenaran dikembalikan pada Allah.

 Ulama yang memperbolehkan penafsiran dengan isyarat ini juga bersandar dengan kaidah umum pada ilmu tafsir, agar makna tafsir isyari tetap sesuai dengan dasar-dasar kaidah dalam syariat ataupun dalam bahasa. Setelah membahas tentang pendapat ulama yang memperbolehkan tafsir isyari, maka pembahasan selanjutnya mengenai pendapat ulama yang tidak memperbolehkan menggunakan tafsir isyari dengan pandangan sebagai berikut:

 Pertama, makna dalam tafsir isyari bertentangan dengan makna dari segi bahasa, karena makna tersebut bukan dari makna lafaz secara langsung ataupun secara majasi. Seperti yang diketahui bahwa al-Quran diturunkan dengan Bahasa Arab, maka untuk mengetahui maknanya dihukumi dengan Lisan Arab, dengan demikian jika terdapat makna yang tidak diiketahui oleh Bangsa Arab maka itu termasuk dalam perubahan dan penyelewengan al-Quran.

 Kemudian penyataan ini disanggah oleh ulama yang memperbolehkan tafsir isyari, bahwa mengembalikan makna ayat kepada ahli bahasanya memang sebuah keharusan, tetapi yang mengingkari makna zahir ayat adalah mazhab batini yang mengakui bahwa makna ayat bukan dari zahirnya, namun makna tafsir isyari tidak pernah mengingkari makna zahir dari ayat tersebut, dan jika didapatkan isyarat dari suatu ayat maka tidak pernah dikatakan bahwa makna dari ayat tersebut adalah isyarat yang didapatkan tersebut, tetapi itu hanyalah isyarat yang didapatkan dengan memahami nas al-Quran dan bukan dari segi bahasanya. Maka dalam tafsir isyari disyaratkan bahwa isyarat tersebut tidak boleh bertentangan dengan makna zahir yang diambil dari segi bahasa.

 Kedua, makna dalam tafisir isyari adalah makna batin yang diperoleh setelah penyelewengan terhadap lafaz al-Quran, dan dengan pengakuan untuk menerima makna zahir dan batin agar menguatkan pendapat mereka, maka dari hal ini kemudian banyak para ulama yang menjadikan tafsir batini baik yang bersumber dari batin ataupun dari isyarat sufi untuk menerima makna zahir. Karena tafsir batini juga menetapkan dan mengakui makna zahir, maka tidak ada perbedaan antara tafsir isyari dan tafsir batini yang keduanya bersumber dari batin. Dengan anggapan adanya hubungan antara tafsir isyari dan tafsir batini maka isyarat yang didapatkan juga bagian pentakwilan secara batin.

 Ulama yang memperbolehkan tafsir isyari menentang pendapat tersebut. Pengakuan adanya persamaan antara tafsir batini dan tafsir isyari adalah hal yang tidak benar, dan alasan bahwa tafsir isyari juga mengambil makna batin adalah alasan yang lemah karena terdapat perbedaan diantara keduanya. Jika ditakutkan bahwa takwil batin menyeleweng dari lafaz al-Quran maka itu tidak terdapat dalam tafsir isyari, karena tafsir batin hanya bersandar kepada makna batin dan tidak menganggap makna zahir, sedangkan jika mereka percaya terhadap makna zahir seperti pendapat ulama yang tidak memperbolehkan tafsir isyari tersebut, maka kepercayaan ahli batin terhadap makna zahir hanya sebatas pengakuan bahwa makna zahir adalah wasilah untuk memahami makna yang jauh (makna batin), tetapi mereka tidak pernah menganggap kebenaran makna zahir tersebut. Dan jika ditinjau dari segi tafsir isyari maka ahli sufi tidak pernahmenafikan makna zahir, bahkan mereka semakin kuat untuk bersandar pada zahir syariat agar tidak menyeleweng dalam penafsiran.

 Ketiga, makna isyarat dalam al-Quran tidak bersandar kepada suatu dasar ilmu, dan bukan dari al-âtsar yang harus diikuti karena bersumber dari orang yang paling mengetahui tentang tafsir, serta tidak mengikuti pendapat muktamad untuk berijtihad, tetapi makna isyarat tersebut hanyalah perasaan-perasaan yang ditemukan dan jauh dari pemahaman secara bahasa, akal, ataupun riwayat. Pendapat ini kemudian dijawab oleh ulama yang memperbolehkan tafsir isyari, bahwa para ulama tafsir isyari telah meletakkan syarat-syarat dan karakteristik agar menjaga dari pemikiran aneh yang tidak sesuai dengan syariat. Dan tafsir isyari juga harus sesuai dengan kaidah bahasa serta pandangan akal.

 Para ulama tafsir isyari juga mempelajari ilmu-ilmu lainnya untuk dapat menafsirkan al-Quran, sebagaimana yang dilakukan oleh Imam al-Alusi bahwa beliau selain mendalami tasawuf juga mempelajari fiqh, nahwu, balaghah dan ilmu lainnya, maka tidak benar jika ada pendapat yang mengatakan bahwa tafsir isyari tidak disandarkan pada suatu dasar ilmu. Seperti yang dikatakan oleh Imam Ghazali: “Wajib bagi seorang mufasir untuk mendalami al-Quran dari sisi bahasa, istiârah, penyusunan lafaz, nahwu, adat istiadat Bangsa Arab, hukum syariat, dan kalam sufi sampai tafsirnya mendekati kebenaran”.

 Keempat, makna isyarat tidak lain hanyalah hasil dari ilham dan kasyf, dan ilham bukanlah bagian dari sumber makrifat, maka ilham tidak bisa dijadikan sebagai hujah syariat dan tidak bisa untuk menafsirkan al-Quran. Ilham tersebut telah tercampur antara hayalan dan kebenaran, maka ilham ini tidak bisa dijadikan sumber penafsiran al-Quran. Pendapat ini dijawab oleh ulama yang memperbolehkan tafsir isyari, bahwa ilham memang bukan termasuk dalam sumber makrifat, tetapi ilham memiliki keterikatan dengan orang yang mendapatkan ilham tersebut jika sesuai dengan al-Quran dan sunah. Maka orang yang mendapatkan ilham tersebut harus istikamah diatas jalan syariat serta mengetahui segala sesuatu yang sesuai dengan syariat, kemudian dapat membedakan antara ilham yang dapat diterima ataupun yang ditolak, karena ilham tersebut datang dari Allah sebagai pengaruh dari iman, takwa dan amal sholeh. Seperti firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 282:
وَٱتَّقُواْٱللَّهَۖ وَيُعَلِّمُكُمُ ٱللَّهُ

 Kelima, makna isyarat dapat menyebabkan kesalahpahaman kepada orang awam yang tidak mengetahui tujuan tasawuf dengan baik, maka jika mereka mendengar tentang penafsiran ini akan mengira bahwa makna tersebut adalah makna yang Allah inginkan. Karena sebagian besar kitab-kitab tafsir isyari tidak menyebutkan makna zahirnya sehingga menyebabkan pemahaman bahwa itulah maksud dari kalam Allah. Kemudian pendapat ini dijawab oleh ulama yang memperbolehkan tafsir isyari, bahwa kaum sufi sangat berhati-hati sekali dalam menjaga isyarat tersebut, dan sebagian besar dari mereka menyebutkan tafsir zahir dari ayat, seperti apa yang mereka sampaikan pada pembukaan tafsirnya bahwa makna yang disampaikan bukanlah penafsiran melainkan isyarat atau makna tambahan dari makna asli. Kehati-hatian ini adalah upaya untuk menjaga dari kesalahpahaman.

Tidak ada komentar: