Al-Azhar Al-Syarif; 1079 Tahun Perjalanan Eksistensinya - IKPM KAIRO

Senin, 20 Mei 2019

Al-Azhar Al-Syarif; 1079 Tahun Perjalanan Eksistensinya


Doc. Buka bersama di masjid al Azhar di Milad ke-1079

Hiruk pikuk Ramadhan sore itu lain daripada biasanya. Lalu lalang ribuan orang dengan wajah khas masing-masing negara dapat kita temui saat itu. Sohn (lantai tengah masjid al-Azhar) tak lagi terlihat putih, lautan manusia yang akrab dalam cengkrama ukhuwah turut hangatkan suasana di kala suhu yang sudah memasuki musim panas. Selayang mata memandang, putih dengan sebagian merah warna peci kebesaran al-Azhar lah yang mampu terlihat di barisan panggung dan depan. Al-Azhar al-Syarif kembali ingatkan kita untuk kembali; kembali memahami al-Azhar dan tujuan kita untuknya.

1079 tahun, bukan angka yang sedikit. Selama itu pula al-Azhar telah berkiprah dalam dunia Islam umumnya dan Mesir khususnya sejak tahun berdirinya, 7 Ramadhan 361 H/ 21 Juni 672 M hingga saat ini, 7 Ramadhan 1440 H.

Sejarah telah menjadi saksi perjalanan al-Azhar. Masjid yang menjadi pusat kota Kairo pada Sabtu, 24 Jumadal  Ula 359 H (970 M) dibawah kendali Jauhar al-Shiqili saat kepemimpinan Mu’iz li Dinillah. Pada tanggal bersejarah itulah batu pertama masjid diletakan dan dimulai pembangunan masjid tersebut. Setelah 2 tahun 3 bulan selesai pembangunannya, pada 7 Ramadhan 361 H (972 M) al-Azhar diresmikan dengan ditandai Shalat Jum’at pertama. Bertolak dari catatan sejarah tersebutlah, usia al-Azhar hingga 1440 H/ 2019 M telah berkiprah selama 1079 tahun.

Pada masa Dinasti Fathimiyyah, al-Azhar menjadi masjid resmi bagi Daulah Fathimiyyah, mimbar resmi bagi dakwah keislaman serta rumus kerohanian. Bidang keilmuan pada masa tersebut hanya terfokuskan pada penyebaran madzhab Fathimiyyah (Syiah) dalam Fiqh, Falsafah, Tauhid, dan pelajaraan keagamaan lainnya. Adapun majelis ilmu pertama kali di Masjid al-Azhar diampu oleh Abu al-Hasan Ali bin Muhammad bin al-Nu’man al-Qairuwani. Pelajaran yang diajarkan yaitu Fikih Syiah dengan memakai kitab al-Iqtisar. Majelis tersebut  diadakan pada bulan Safar 365 H/ 975 M.

Pengajaran madzhab Syiah Ismailiyyah terus berlanjut hingga berdirinya Daulah Ayyubiyyah di Mesir pada 567 H di bawah kepemimpinan Sholahuddin Yusuf bin Ayyub. Saat itulah madzhab Sunni menjadi madzhab resmi bagi Daulah Mesir menggantikan Syiah Ismailiyyah. Akan tetapi, pada masa ini al-Azhar tidak dipusatkan menjadi pusat pengkajian dan kelimuan untuk mengikis perlahan lahan penyebaran dan pengaruh Syiah yang tersisa. Sehingga pusat keilmuan dipusatkan ke berbagai madrasah yang dibangun pada masa Ayyubiyyah. Seperti Madrasah Naasiriyah, Qumhiyah, Suyufiyah, dan Salahiyah.

Roda kehidupan berputar, hingga tiba waktu di mana Daulah Mamalik  menggantikan Daulah Ayyubiyah dalam memimpin Mesir. Pada masa Mamalik ini al-Azhar mengalami masa keemasan dan kemajuan. Para raja dan amir saat itu sangat memperhatikan al-Azhar dari sisi pembangunan, pembaharuan dan kelimuan. Seperti halnya pasca gempa yang mengguncang Mesir, tahun 702 H/ 1302 M yang mengakibatkan beberapa bagian dari masjid al-Azhar jatuh dan memerlukan pembangunan ulang.

Begitula pada masa Daulah Utsmaniyyah. Masa kemajuan al-Azhar masih terasa saat itu, baik kemajuan kelimuan atau pembangunan dan pembaharuan. Yaitu termasuk pengaruh dari masa sebelumnya, Daulah Mamalik. Pintu al-Azhar selalu terbuka bagi para pelajar dari seluruh penjuru dunia sebagaimana al-Azhar yang berperan sebagai tempat perlindungan umat dalam menuntut ilmu. Merupakan salah satu keberkahan al-Azhar, Mesir mampu menjaga warisan turats kelimuan Islam sekitar 3 abad lamanya.

Selain dalam bidang keilmuan, Utsmaniyyah pun turut memperhatikan pembangunan infrastruktur al-Azhar dan pembaharuannya sebagaimana perhatiannya terhadap para pelajar di dalamnya. Pembangunan terbesar yang dilakukan pada masa Utsmaniyyah dilakukan pada masa kepemimpinan khalifah Abdurrahman Katkhuda tahun 1168 H/ 1753 M. Yaitu perluasan al-Azhar, meliputi ruwaq-ruwaq belakang mihrab; yang terdiri dari 50 tiang dari marmer/pualam.

Adapun pada masa penjajahan Prancis atas Mesir, al-Azhar mulai mengalami tantangan. Tentara Prancis memasuki Masjid al-Azhar dengan mengendarai kuda dan menyebar di sohn al-Azhar lalu membuat kerusakan di ruwaq-ruwaqnya, merobek buku-buku dan mushaf serta menginjaknya. Semua perbuatan mereka mengotori kesucian sebidang tanah Allah yang suci.

Pada masa kelam inilah, al-Azhar memegang peran yang signifikan dalam mempertahankan tanah air dari rampasan tangan penjajah. Al-azhar berperan sebagai pusat perlawanan dengan merancang starategi melalui tangan para ulama al-Azhar pada Revolusi Kairo yang pertama tahun 1213 H/ 1798 M dan yang kedua pada 1214 H/ 1800 M. Dalam beberapa peristiwa tersebut dan peristiwa yang belum mampu penulis sebutkan lagi, al-Azhar menjadi benih pertama dalam pergerakan warga Mesir dan pengumpulan mereka untuk membela tanah air.

Dengan ini, al-Azhar turut mendukung pergerakan kenegaraan Mesir dalam perlawanan penjajahan
Selama perjalanan itu pula, sistem belajar-mengajar di al-Azhar menggunakan sistem talaqqi dalam bentuk halaqah-halaqah ilmiah. Dimulai sejak Dinasti Fathimiyah menguasai Mesir, kurang lebih 3 tahun setelah diresmikannya Masjid al-Azhar sebagaimana yang telah dituliskan di atas. Walaupun kepemimpinan berganti dari satu daulah ke daulah yang lainnya, al-Azhar tetap bertahan dengan sistem belajar-mengajarnya tersebut.
Talaqqi dari waktu ke waktu, tidak lepas dari ruwaq yang merupakan tempat tinggal dan belajar pelajar al-Azhar dari berbagai negara. Ruwaq telah ada sejak Dinasti Fathimiyyah, namun baru menjadi sistem asrama untuk pelajar sejak  era Mamalik. Ruwaq tersebut diklasifikasikan berdasarkan melalui 3 hal, yaitu negara, madzhab dan campuran. Sehingga sampai kepada kita saat ini berbagai nama ruwaq sebagai tempat diadakannya talaqqi.

Adapun saat ini, ruwaq yang menjadi tempat tinggal para pelajar dari berbagai negara telah diganti dengan sistem asrama yang dikenal sebagai Madinah al-Bu’uts al-Islamiyyah.
Pembangun asrama tersebut dimulai pada tahun 1954 dan mulai ditempati pada 15 September 1989. Hingga saat ini, sebagian pelajar asing dari berbagai negara tinggal di Madinah al-Bu’uts al-Islamiyyah. Hal tersebut menunjukkan perhatian al-Azhar terhadap para pelajar asing yang menjadi duta negaranya di Mesir dan yang kelak menjadi duta al-Azhar ketika kembali.

Dalam kurun waktu lebih dari seribu tahun tersebut, al-Azhar al-Syarif telah mengalami berbagai perkembangan dan perubahan selama perjalanan keilmuan dan benteng pertahanan umat Islam dan Mesir. Adanya sebuah perubahan tersebut menandakan adanya pergerakan. Begitu pula al-Azhar, melalui pergerakannya terutama dalam bidang kelimuan dan pertahanan umat Islam dan Mesir menunjukkan eksistensinya. Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam tulisan sebelumnya bahwa kebermanfaatan sesuatu di bumi ini merupakan sebab dari eksistensinya. Sedangkan yang lainnya akan tersampingkan karena belum mampu memberi manfaat seiring berjalannya zaman. Itulah sunnatullah.

“Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah ia (air) di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengambang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti (buih arus) itu. Demikianlah Allah membuat permumpamaan tentang yang benar dan bathil. Adapun buih, akan hilang sebagai sesuatu yang tidak ada gunanya; tetapi yang bermanfaat bagi manusia, akan tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan” (Q.S. Ar-Ra’ad : 17)

Ummu Maghfiroh

Tidak ada komentar: